Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Seluncur di Cikapundung, mancing di Cidurian, pentas di Cigondewah. Siapa menyusul ? PSSI, then what ?

leave a comment »

Kualitas sungai menunjukkan kualitas warga kota. Bagaimana kalau Sungai Cikapundung akhirnya bersih, bisa diarungi dengan perahu karet dan riverboard ? Anak jalanan tidak berkeliaran di jalanan mengemis receh, tapi punya kegiatan menyenangkan dan terhormat di sungai. Sebagai operator riverboarding, atau kru di perahu arung jeram. Sekali kayuh, 2-3 pulau terlampaui. Anda bangga, punya sungai bersih ? Lega, anak2 marginal punya masa depan ? Thanks to : warga bantaran sungai, CRP dan pemkot Bandung. ( foto : citarum.org )

Cuma di Kota Bandung, orang bisa arung jeram, seloroh orang waktu itu. Sedih ? ( derasnya air di jalan raya sampai motor pun bisa hanyut terseret banjir cileuncang ). Itu dulu, sekarang .. ?

Dicky Septiana ( 15 ) tak lagi mengamen di perempatan Jalan Dago. Sungai Cikapundung lebih menarik hatinya setelah bisa diseluncuri. Operator riverboarding, cita-citanya kini. Kegiatan merebahkan tubuh di papan 1 x 0,5 meter untuk mengarungi sungai, dijalani Dicky bersama 50 anak jalanan lain. ( LSM ) Cikapundung Rehabilitation Program ( CRP ) mengampanyekan kepedulian pada sungai yang membawa limbah domestik terbanyak bagi induknya ( Sungai Citarum ) ini.

Angga Aziluhung, penggiat CRP melihat bakat terpendam 5 anjal ( anak jalanan ) untuk menjadi instruktur riverboarding. Tujuan CRP untuk menyinergikan kepedulian lingkungan dan manfaat sungai bagi manusia. Selama ini sampah plastik, limbah rumah tangga dan kotoran ternak menjadikan sungai, tempat sampah raksasa. Dilarang buang sampah sembarang tak lagi mempan. Maka, dibuatlah kegiatan menyenangkan yang melatih tanggung jawab menjaga sungai, kata Abah Kuncung, penasehat CRP.

Jadilah, riverboarding dan arung jeram digeluti 50 anjal plus 90 warga Kecamatan Cicadap dan Coblong. Rutenya : Dago Bengkok- Siliwangi sepanjang 2 kilometer. Masyarakat pun mulai ogah membuang sampah ke sungai, kuatir mengurangi kenikmatan mereka bermain.

(  Ingin mencoba arung jeram ? Tarifnya, Rp 125.000/ orang. Anda akan diberikan helm dan pelampung, juga didampingi skipper. Anak remaja setempat yang aktif di CRP menjadi kru di perahu terpisah atau riverboard, membantu membebaskan  sekiranya perahu tersangkut. Mendekati garis akhir, anda akan diajak singgah sebentar di tempat yang telah disediakan , menikmati minuman hangat dan penganan ringan. Arung jeram berakhir dekat jembatan di Jalan Siliwangi. Anggota komunitas CRP dan warga, membangun dermaga, menanam pohon, membangun septik tank sederhana dan merapikan daerah tempat perahu karet merapat, agar lebih sedap dipandang mata. Tertarik ? Ini dia, kontaknya :

Cikapundung Rehabilitation Program ( CRP )
( 022 ) 70057990
( 022 ) 92267708
Email: uyanbudisantoso@yahoo.co.id

Bosan sampah, erosi dan banjir. Ide cerdik : kalau ikan mati, warga gagal mancing.

Masyarakat bantaran Sungai Cidurian di kecamatan Cibeunying Kaler tak mau kalah. Bosan dengan banjir dan erosi yang mendangkalkan sungai, mereka mulai membersihkan sampah dan merawat kebersihan dinding sungai. Kegiatan favorit berikutnya : menebar puluhan ribu bibit ikan dan memancingnya jika ikan sudah besar.”Sederhana saja. Kalau kualitas sungai rusak, ikan mati dan warga tidak bisa menikmati hasilnya,” kata Unjang Zaenudin, camat Cibeunying Kaler.

Jurus warga Sungai Cigondewah beda lagi. Seniman Tisna Sanjaya membarter 5 lukisannya dengan 600 m2 tanah di Desa Baturengat, Cigondewah Hilir, Kota Bandung. Daerah tersebut, tahun 1960-an adalah area persawahan dengan kualitas padi nomor wahid. Namun, 30 tahun kemudian, sawah beralih menjadi tempat penjemuran limbah plastik, penggilingan padi menjadi tempat pengolahan biji plastik, dan sungai menjadi saluran pembuangan limbah berbahaya. Menyedihkan.

Keuntungan dari industri yang tumbuh dibayar dengan kerusakan tanah, menurunnya kualitas air dan hilangnya ruang publik. Warga di sekitar sungai seperti dipaksa menyelamatkan diri dari melimpahnya polutan dan kerusakan. Tisna lalu menggelar acara Environmental Day bertema penyelamatan lingkungan dan identitas sosial, bersama seniman lain, mahasiswa dan masyarakat setempat. Beragam kegiatan seni dan sosial dilakukan di sepanjang sungai. Mereka mementaskan ruwatan air, mandi bersama dan teater air. Pesertanya, ada dari Singapura dan Latvia. Metode serupa ditampilkan Tisna di National University of Singapore ( Kompas, 6/5/2011 ).

Ayi Vivananda, wakil walikota Bandung, mendukung kegiatan mandiri ini karena sejalan dengan rencana pemkot Bandung merevitalisasi 14 anak sungai sebagai bagian dari “Gerakan Cikapundung Bersih”. Setelah warga berinisiatif, pemerintah pun mendukung dan menfasilitasi, arung jeram di Kota Bandung bukan lagi lelucon. Memang ada arung jeram di sungai, sekarang ( bukan di jalan raya ).

Menjamurnya mal di pusat kota, begitu terasa oleh warga di pinggiran. Ketika gunungan sampah menghampiri tanah dan air ( sungai ) mereka, dan mencemarinya. Karenanya, saya lebih memilih membeli makanan dan sejumlah barang keperluan dari usaha warga sekitar tempat tinggal. Seraya membawa kantong keresek sendiri, yang dipakai berulang kali. Mengurangi sampah, kata saya pada penjual. Mereka mesem2, seraya memasukkan kantong plastik baru kembali ke tempatnya. Pembeli yang aneh ! ( pikir mereka ).

Kongres PSSI, ricuh oleh rikiplik. Pilih dari 18 calon ketum, atau bubar ?

Regenass, direktur FIFA sedang menjelaskan kenapa GT dan AP tidak masuk bursa pencalonan ketum PSSI. Tapi, K-78 tetap tak terima. Hujan interupsi tak henti2 sampai kongres ditutup mendadak. Tidak kondusif lagi. Tak lama setelah kekisruhan terjadi, salah satu calon ketum mengatakan, mestinya K-78 dikonsolidasi dulu sebelum kongres dimulai. GT dan AP didekati, diberi pengertian sampai K-78 mau memilih dari calon ketum yang lolos verifikasi. Nasi sudah menjadi bubur. Bisakah dijadikan bubur ayam ? Ada kemauan, ada jalan. Tetap semangat ! ( foto : jpnn )

Rentang pemahaman ini juga terjadi di kongres luar biasa PSSI di Hotel Sultan ( 20/5/2011 ). Dalam kadar lebih parah, karena bangsa indonesia sampai dipermalukan. Saya juga pernah berurusan dengan makhluk2 rikiplik yang mementingkan diri dan perutnya semata. Ucapan preman berhamburan dari mulutnya di hadapan banyak orang ( pak Agum mengalaminya di hadapan jutaan pemirsa TV ). Saya lihat Direktur Keanggotaan dan Pengembangan Asosiasi FIFA, Thierry Regenass ( sempat diteriaki si rikiplik,’ sampai harus menjelaskan statuta FIFA pada orang FIFA !’. Aksi yang hebat, pikir rikiplik. Disorot TV lagi, wuihh  ) sempat tercengang, tak sadar kongres sudah berakhir. Benar2 ‘Indonesiana’, 6 jam itu. ( makin heboh, makin asoy ). Tak peduli, orang bilang ulah mereka kampungan.

Hari2 ini, ketua Komite Normalisasi PSSI, Agum Gumelar, sibuk melobi Reggenas dan FIFA ( 27 Mei, ke Zurich, Swiss ), agar tak menjatuhkan sanksi pada Indonesia. Kan, kongres sudah diusahakan dilaksanakan, meski tak membawa hasil. GT dan AP juga sudah diusahakan tak jadi calon ketum PSSI seperti arahan FIFA. Kalau Kelompok 78 lalu mengacau, ya apa boleh buat. Orang2 rikiplik memang gemar mengungkit-ungkit ‘jasa’ hingga segede gajah : ‘saya sudah sekian tahun di sepakbola, sedangkan anda .. bla, bla, bla’ ( otak mereka tak sampai menjangkau D, E, F, dst ( nasib sepak bola Indonesia, timnas, penjual kaos, pemotong rumput, pedagang kecil, sponsor dan pemain berkualitas yang akan merumput di Indonesia dan men-trigger kualitas pemain kita ) yang mesti dipikirkan, dari A, B, C thok ( salah satunya statuta yang diplintir seenak udel  ) yang mereka baca. Mungkinkah mereka melakukan manuver di kongres, agar GT dan AP yang mereka dorong2 dan ceburkan, mau menjamin ‘periuk nasi’ mereka tak lenyap setelah PSSI direformasi ? ( ada ‘harga’ yang harus dibayar ).

Tak terpikir, mereka bagian dari kegagalan masa lalu. Pemlintiran statuta PSSI bisa lolos dari hidung mereka selama bertahun-tahun. Kini, mereka menganggap diri  reformis, di luar mereka status quo. Kok, nyimut. ( ini mirip NII gadungan, menuduh orang di luar kelompok mereka, kafir ). Anggota Komite Normalisasi ( KN ) PSSI, Hadi Rudyatmo mengancam jika Indonesia sampai dijatuhi sanksi oleh FIFA ( dibanned ), maka ia ( juga APSI ) dan rakyat Indonesia akan menuntut Kelompok 78 secara hukum. Tik tok tik tok, batas 30 Mei dari FIFA kian dekat. Apa daya ?

Adhyaksa Dault ( mantan menpora, calon ketum PSSI yang mengundurkan diri ) menawarkan diri memediasi pihak2 terkait ( GT, AP, K-78, KN ) jika pemerintah ( kemenpora ) tidak bergegas menyelesaikan kemelut ini. GT dan AP bisa mengalihkan suara mereka ( pendukung/ K-78 ) ke 18 kandidat ketum yang sudah lolos seleksi. Lalu, dilakukan pemilihan ketum PSSI yang baru. Nah, kalau naga2-nya, K-78  akan berulah lagi. Tanpa ampun, rakyat akan membubarkan K-78. Once and forever !

(  APBD itu uang kami ( rakyat ), sodara2. Masing2 pemprov bisa mengajukan wakilnya yang baru ( yang santun dan beradab ) di acara pemilihan ulang tsb. Meyakinkan FIFA, AFC dan pengamat mancanegara, bahwa di negara demokrasi terbesar ketiga dunia ini, masih banyak peserta yang mampu bicara sopan dan intelek. Tak kalah cool dengan Mr Regenass and Mr Frank van Hattum. That will be nice for you, sir ?  ).

Written by Savitri

24 Mei 2011 pada 18:14

Ditulis dalam Ragam

Tagged with ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s