Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Badai di Demokrat, PSSI, KPU dan MK. Dajjal berbentuk digital. Kapan berlalu ?

leave a comment »

Digital adalah era kita. Seperti pisau, anda bisa memegang bagian tajamnya ( berbahaya ) atau tumpulnya ( bermanfaat ) untuk meringankan pekerjaan. Anak di bawah usia 20 tahun, masih perlu bantuan orang tua untuk menentukan pilihan terbaik bagi masa depannya. Lalu, bagaimana kalau orang tua/ dewasa sudah tercemar 'racun' digital ? Mulailah berdoa dari sekarang, Indonesia jangan sampai terseret menjadi negara gagal. Berantas narkoba, korupsi, pornografi, tontonan kekerasan sampai ke akar-akarnya.( gambar : hyperlabs.net )

Dajjal. Digital. Terdengar mirip. Apakah digital adalah dajjal ? Emha Ainun Nadjib pernah mengulas di kumpulan esainya “Slilit Sang Kyai”. Apa memang dajjal sudah muncul ? Apa jurus kita menghadapinya agar selamat ? ( setidaknya akhirat ).

Afgan menyanyi dengan hati. Saya blogging dengan hati. Bunda Elly Risman, M.Psi ( Yayasan Buah Hati ) pun berdakwah dengan hati. Terkesima. Suaranya bergetar, menyungguhkan keprihatinan masa depan anak Indonesia. Ibu yang tulus, sekaligus hebat. Saya jadi teringat Siami ( ibu Alif ) yang diusir sebagian warga Gadel karena melaporkan contek masal di sekolah putranya. Mahalnya sebuah kejujuran. Saya teringat buku “Keluarnya Dajjal” yang saya beli di perpustakaan kompleks Sunan Giri tempo hari. Saya ingat game rilis terbaru ( penangkapan Osama ) yang diiklankan TV swasta. Saya ingat hasil searching keyword ‘gambar’ atau ‘painting’ di wordtracker kemarin membenarkan perkataan beliau ( Indonesia, nomor 4 dalam pencarian gambar porno di internet ).

Apa sih yang dicemaskan Bunda Elly ? Temuannya :  satu dari dua anak Indonesia sudah melihat gambar porno. Sebagian lagi ( umur 12 – 15 tahun ) sudah melacur ! ( dan menganggapnya biasa ). Ibu mana yang tidak gusar mendengar kenyataan ini ?

Anak sholeh di era digital ? Tahan pandangan, jaga kemaluanmu, nak.

Revolusi teknologi harus disertai revolusi pengasuhan, pesan Bunda Elly. Jika orang tua tidak belajar teknologi ( handphone, internet, dll  ), maka dajjal yang berbentuk digital bisa merampas anak dari masa depan dan kebahagiaannya ( dunia akhirat ). Siapa yang mendoakan orang tua ( meringankan azab kubur ) jika anak sudah terampas ? Bagaimana perampasan ( pemangsaan ) itu terjadi ?

  • Misscall. Anak yang diberi ponsel/ iphone/ blackberry bisa ditelpon nomor tak dikenal dan membuatnya penasaran. Anak akan dikorek keterangannya, sampai ketahuan kurang ayah, kurang ibu, kurang kakak, dsb, sehingga si pemangsa bisa berperan bak ayah, ibu atau kakak yang tak pernah dimilikinya. Ibu yang doyan nyerocosi anak sejak balita sampai remaja ( bahkan dewasa ) membuat anak berpaling mencari ibu ‘ideal’ dari orang yang baru dikenalnya. Tahu-tahu, si pemangsa sudah pindah ( tinggal ) 15 meter dari rumah si anak. Siap memangsa secara fisik. Saya ingat anak2  yang diperlakukan buruk oleh keluarganya, bisa menjadi mangsa empuk para predator jenis ini. ( ortu/ guru yang melarang anak menerima telpon dari orang asing, untuk mengantisipasi jerat manis tapi beracun dari para pemangsa ).
  • Dijual pacar. Anak umur 12 – 15 tahun sudah biasa pacaran. Siapa sangka ternyata dijerumuskan ke limbah maksiat. Pengguna Facebook yang tidak hati-hati bisa terperangkap bujuk rayunya. Sering kita mendengar kasus gadis2 hilang di media setelah mereka berkenalan di  FB.
  • Dijual teman. Diajak teman yang sudah duluan jadi pelacur. Dari delapan anak teman si korban, ternyata semuanya juga melacur.
  • Dijual tetangga. Iming2 ( bohong ) hadiah handphone, dapat uang banyak, dll, anak bisa diculik tetangga ( orang asing yang sudah mengincar lalu tinggal  dekat rumah korban, atau tetangga yang kepepet uang  ).
  • Dijejali tontonan yang tidak sesuai usianya. Tinggal di rumah saja, seraya dijejali video game juga berabe. Terlebih jika ortu tidak mengecek apa yang ditonton si anak. ( dengan alasan sibuk, tak tahu menggunakan handphone, komputer, internet, Ipad dan gadget lainnya ). Game orisinil ( bukan bajakan ) pada covernya tertera rating usia pengguna ( E = umur 3 tahun, biasanya kartun. E 10 = umur 10 tahun. T = 13 tahun. M = 18 tahun ). Game bajakan bisa terselip adegan porno dan kekerasan selama pemutarannya. Di koran, pernah dilaporkan ‘kecolongan’ semacam ini pada anak2 SD yang diteliti. Tontonan vulgar dan keras ini bisa didapat anak dari situs porno, warnet, handphone, BB, rumah teman, bahkan televisi. Sehingga sangat penting bagi ortu untuk bisa mengoperasikan gadget2 canggih tersebut agar bisa mengecek isi sms, mms, nomor telpon, game, dll, yang dikonsumsi anak.

Jaringan otak anak mulai tersambung pada usia 2,5 tahun. Tersambung sempurna usia 7 tahun. Sedangkan kematangan nalar ( directur di atas alis kanan untuk berpikir, merencanakan dan memutuskan ) baru sempurna di usia 20 – 25 tahun. Selama directur belum sempurna, ortu berperan sebagai ‘directur’ anak.  Idealnya, ortu jadi bapak/ ibu kepala ‘pesantren’ rumah. Anak sebelum usia matang, masih perlu dibimbing ortu dengan gaya yang disesuaikan dengan perkembangan usianya.

Directur menyusut, responder los, manusia jadi hewan. Look around.

Dajjal digambarkan ( hadis ) berambut lebat keriting, mata sebelah kirinya buta, ada tulisan kafir di dahinya ( hanya terlihat oleh mereka yang sholeh, setelah Dajjal mengaku tuhan ), berbadan besar kemerahan, memiliki surga neraka di tangannya ( yang Dajjal bilang surga adalah neraka, yang Dajjal bilang neraka sebenarnya surga ). Dajjal dibunuh oleh Isa as ( di daerah Babilud, Palestina ), setelah sholat di belakang Imam Mahdi. Pasukan Ya’juj Ma’juj yang mengepung gunung Thur ( dijaga para malaikat ), serempak tewas terkena penyakit hidung. ( foto : andhikaz )

Jika pengawasan tidak dilakukan apa yang terjadi ? Rangsang negatif ( porno, kekerasan, kejahatan ) itu akan los ke responder tanpa terfilter oleh directur sampai banjir dopamin. Seperti es krim yang menimbulkan rasa nikmat, tontonan negatif itu bisa membuat anak ketagihan dan menambah dosis game-nya. Jika bagian ini yang ‘dilatih’ terus maka directur-nya akan menyusut ( sel otak jika tak dipakai akan mati ). Jika nalar menyusut, maka manusia tak ada bedanya dengan hewan. Tak bisa membedakan baik buruknya perbuatan. Sehingga tawuran, kerusuhan, seks bebas, dll, mudah terjadi. Ketika otak menjadi perpustakaan porno maka anak jadi pelanggan porno seumur hidup. Kerusakan otak terjadi. Responder membesar, directur mengecil, lalu jadi hewan. Pada pecandu narkoba, endorphin alaminya dimatikan ketika ia menghisap bahan aditif dari luar. Seumur hidup ia dihantui narkoba.

( saran Warren Edward Buffett jika orang ber-income 1 jt USD ingin dapat 1 miliar USD, maka orang tsb harus ganti lingkungan. Lingkungan buruk bisa mencuri waktu dan tabiat kita, dan menjadikan kita orang gagal seperti mereka ).

Cara menghindarkan anak dari pemangsa :

  • Hadirkan Allah Swt di rumah kita.
  • Anak punya konsep diri yang kuat.
  • Anak dilatih berpikir kritis.
  • Plus doa dari orang tua.

Jauhkan keluarga dari api neraka. Jangan tinggalkan anak tak berdaya di belakang anda.

Nabi Muhammad, bersabda,”Sesungguhnya kiamat tidak akan terjadi sebelum kalian melihat 10 tanda sebelumnya.” Rasulullah Saw menyebutkan : 1. asap, 2. Dajjal, 3. makhluk melata, 4. munculnya matahari dari barat, 5. Turunnya Isa bin Maryam as, 6. Ya’juj dan Ma’juj, 7. gerhana di timur, 8.gerhana di barat, 9. gerhana di jazirah Arab, 10. api keluar dari arah Yaman yang menghalau umat manusia ke mahsyar mereka.”( HR.Muslim )

Untuk menghalau Dajjal ( raksasa pendusta ), baca permulaan surat Al-Kahfi ( Qur’an surat 18 : ayat 1 – 10 ).

Tertawanya mafia, gemasnya Akbar. Logika penjawab dan penanya.

Pengalaman memang guru yang terbaik. Segala elemen dan variabel peristiwa terkait bersamaan sehingga muskil dipalsukan. Mustahil dipelajari dari tumpukan buku setinggi menara sutet sekali pun. Ketika mantan komisioner KPU dicecar anggota panja mafia pemilu di ruang rapat komisi II DPR RI ( 30/6/2011 ), argumennya segera dipatahkan oleh keterangan ( lugu ) dari mantan staf, sopir dan seabreg saksi lainnya. Anehnya, ia masih bertahan dengan ‘fakta’-nya yang tidak logis, sampai Akbar Faisal ‘walk out’. Gemas. Sampai Budiman Sudjatmiko, ngomong ‘berilah penjelasan yang logis ( jujur ) supaya polisi tak kerepotan melapor pada atasan’. Lebih aneh, si eks ini wanita, berjilbab , dan masih bisa tertawa ! ( mentertawakan logika penanya yang menginvestigasi fakta bukan prosedur resmi yang dikuasai si eks ? ). She really breaks my heart.

Pengalaman saya berurusan dengan 3 orang yang diguna-guna dukun, ternyata tidak cuma menyita waktu saya pada masa lalu. Tapi, juga bisa berguna ketika menghadapi situasi mirip di masa kini. Dia bilang akan menjerat maling, tikus ( atau cewek ), saya tentu tahu akal bulusnya. ( dia berbohong pada banyak orang. Orang yang diseruduk ngeladeni ocehan-nya hingga lewat jam 2 pagi di sekitar kamar, tentu berhak ngeles menghindar. Emang, cuma dia yang punya mulut ? ). Dia bilang, akan ke Skotlandia, ke sana sini, dsb ( untuk menjebak target  ). Apa dia pikir cuma dia yang punya ‘otak’ ? Apa dikira, si target, bocah ingusan yang bisa diperdaya seperti kebo dicocok hidung ? Get real. Sekali berbohong, sangat pantas orang meragukannya. Apa pun ( semurah itu kata2 diobral, serendah itu harga dirinya. Laki2, kalau bukan kata2 yang bisa dipegang, apalagi yang berharga darinya ? ). Get lost !

Tidak tahukah dia, para penghuni sudah tahu dia menyelingkuhi istrinya ? Apa tidak terpikir, bagaimana hancurnya hati jika ibunya yang diselingkuhi si ayah yang genit dengan wanita lain ? Atau anak perempuannya diselingkuhi pacar yang nguber cewek lain ? ( terkena ‘karma’ ). Mantan pembantu dulu pernah menebar jimat sihir di lantai dan halaman ketika mengepel dan membersihkan rumah. Sandal, kontak mata dan tepuk bahu menjadi sarana memelet atau menjungkalkan target. Entah, penjilat atau tukang sihir yang menjadi  ‘penasehat’-nya sekarang, sehingga ia terus melakukan tindakan sia2 ini. Atau mukanya sudah setebal kulit badak. Tak tahu diri ( malu ), padahal orang2 sudah jijik dan terganggu dengan kebebalannya. ( siapa mau kamarnya diserobot masuk ?  ).

Ia mendadak sok akrab agar bisa wira-wiri di lantai 2, seraya menyemprot spray agar si target keluar. Manfaat koran selain untuk dibaca, bisa juga untuk menutup ventilasi ( menghalau siasat mabuk si tengil ). Beruntung, saya suka menyimpan koran.

Pengguna dan pelaku sihir, directur-nya susut. Bisa tobat ?

Sihir adalah perbuatan menyekutukan Tuhan. Dosa besar yang diganjar neraka jahanam. Apakah muslim membiarkan non muslim melakukan perbuatan terkutuk ini ? Si istri bisa meminta wali/ saksi nikah, ketua RW, pemuka agama/ gereja atau anggota keluarga yang dihormati, untuk mengendalikan, mengingatkan dan membantu suami bertobat dan kembali ke jalan Tuhan. Jujur dan setia pada pasangan ( ikrar perkawinan ). Sampai titik tertentu, jika ia terus mengganggu, saya bisa melapor ke instansi berwenang. Yang penting, jangan sampai  ia merasa bebas tanpa hukuman setelah melakukan ketidaksetiaan. Apalagi sampai memberi contoh buruk pada adik2 penghuni ( dan merepotkan mereka ). He must pay for this. Hukuman yang tepat akan menghentikan dia.

( atau Tuhan akan menjatuhkan hukuman-Nya sendiri. Pelaku santet terhadap keluarga kami, menjadi gila setelah guna2 itu berbalik pada dirinya. Khadam sihir selalu menuntut imbalan. Jangan pernah menggunakan ‘jasa’ dari dunia lain. Trust me ).

Saya tulis sejelas ini, karena nasehat hubungan harmonis di posting lalu ( yang halus, filosofis ) ternyata tak dipahaminya. Lebih buruk, ia merasa sudah melakukan sesuatu ( menarik kembali ketika tak diberi, alias pamrih ). Padahal, nasehat itu dipikirkan, ditulis, untuk keserasian hubungan mereka. Bukan yang lainnya. Jika, ia sampai berpikir di luar itu, saya seperti menemukan varian makhluk baru. Manipulator. Pura-pura ( berbicara, berbuat, sampai pihak luar mengira ) ada problem dalam hubungan pasutri. Si istri menangkap gestur ‘berbeda’ dari si suami, lalu mengekspresikannya ke pihak luar. Si suami berharap mendapat lebih. Seharusnya, dia mengukur diri dan mensyukuri apa yang sudah diberi-Nya. Lingkungan harus melokalisir dia agar kembali ke track.

(  kalau perlu dengan paksa, seperti mendudukkan anak ke kursi hukuman, berulang kali, sampai dia tidak melakukan kesalahan lagi. Sekaligus mengingatkan : hubungan harmonis adalah tanggung jawab bersama, bukan istri saja, atau suami saja. Jika, hubungan tidak berjalan baik, itu kesalahan bersama. Bukan istri saja, atau suami saja. Masing2 wajib introspeksi dan lakukan perbaikan , sampai memuaskan kedua belah pihak ). Yang pasti, saya paling benci dengan peselingkuh. Menyingkirlah dari saya, sebelum saya mengamuk ( dan membuat anda menyesal seumur hidup ).

Rakyat Singapura memang tak boleh bohong. Are they happy ?

Ternyata, sebagus apa pun nasehat yang diberikan, jika directur-nya ( nalar ) menyusut, akan lewat saja. Selain eks komisioner KPU, peselingkuh, kita lihat di layar televisi : tawuran antar pelajar dan warga kampung di ibukota dan berbagai daerah. Begitu mudahnya warga tersulut isu dan provokasi. Nalar tidak lagi menyaring tindakan mereka. Seorang pengacara  menyanjung Singapura dan mengecilkan KPK. Di Singapura, orang tidak bisa berbohong, katanya. Apa dia lupa, kasus kematian tragis mahasiswa Indonesia di Singapura ? ( David Hartono Widjaja ). Dosen pembimbing, pihak universitas, departemen pertahanan, pengadilan dan pemerintah Singapura kompak berbohong atas pembunuhan sadis terhadap penemu muda nan brilyan itu ( software militer ). Yang tak boleh bohong adalah rakyat Singapura, karena ada CCTV di pelbagai sudut kota. Mereka hanya boleh bicara ( mengkritisi pemerintah ) di Taman Hong Lim. Bahkan, di Speakers’ Corner itu pun masih di pasang kamera. Kemarahan dan ketidakbahagiaan rakyat Singapura cukup dalam, kata Lim Hwee Hua. ( Tempo, 22 Mei 2011 )

KPK  dan Mahkamah Konstitusi ( MK ) yang kita andalkan di masa tak menentu ini tengah digoyang pihak2 tertentu. KPK dibilang tebang pilih, kata MN, pengacara, dll. KPK jika dikesankan demikian, tak lain karena ulah tangan2 kekuasaan juga. Dimulai dari kasus kriminalisasi sang ketua, menyusul 2 komisioner lainnya yang 2 bukti permulaannya sangat bisa diperdebatkan ( kalau tidak dibilang mengada-ada ). No case, actually. (  anehnya, sebagian anggota DPR,  jaksa, hakim, pengacara, dll, seolah ‘alergi’ dengan kehadiran 3 orang yang didzalimi ini, dan mengatakan KPK tebang pilih ).

Orang ribut dengan keputusan deponeering dan status Bibit-Chandra, tidak lagi melihat keganjilan kasusnya in the first place. Lihat kasusnya dari hulu. Ada tidak. Sampai MN pun iri, SBY bisa memerintahkan penyelesaian di luar pengadilan, sedangkan untuk bendahara umumnya tidak. Hello ? Bibit-Chandra tidak bersalah, dan sempat dijorokkan ke tahanan. Sedangkan, MN untuk kembali ke tanah air saja, berhadapan dengan hukum, tidak berani. Mana ada yang mau bersimpati ?  Mau minta deponeering, segala macem. Yang bener aja ). Haruskah orang lebih dulu diintimidasi, dipenjara, dilupakan ( seperti Antasari ) agar  bisa berempati dengan kesulitan yang dihadapi orang KPK sesungguhnya ? ( meski mereka tak mengatakan ). KPK jadi begini, setelah 2 kasus tersebut. Betul ?

Masih ada Mahfud, Akbar, Putu, teman media, mahasiswa, dkk. Tetap semangat !

Mahfud MD, Ketua Mahkamah Konstitusi, yang berani membongkar kasus korupsi di tubuh partai penguasa dan lembaga penegak hukum. Thank you. ( foto : GP-ansor )

Akbar Faisal, anggota Komisi II DPR RI, yang bersemangat menutup celah dalam UU Pemilu agar hasil pemilu 2014 lebih berkualitas. Thank you. ( foto : Media Indonesia )

I Gusti Putu Artha, komisioner KPU yang sudah habis-habisan saat Pemilu 2009 dan bersedia KPU diperbaiki untuk kinerja terbaik di masa depan. Thank you. ( foto : padang-today )

Demokrasi kita dipuji luar negeri karena kelahiran 3 lembaga baru kita : MK, KPK dan KPU. Apakah kebobrokan benar terjadi seperti yang ditakutkan pemred TVOne ( Karni Ilyas ) ? ( sampai ia ngeri memandu “Jakarta Lawyers Club”  episode berikutnya ). Apa NKRI akan roboh seperti diancamkan Nazaruddin dari persembunyiannya di Singapura sana ? Apa benar kerancuan hukum politik kita ( kerumitan dan ketidakjelasannya membuka peluang korupsi  ) menyebabkan negeri ini dijalankan oleh mafia ? Mafia hukum, mafia pajak, mafia pemilu, dst. Penegakan hukum macet begitu menyinggung area kekuasaan. Tokoh vokal dan berani menyingkap korupsi, justru yang masuk penjara. Keadilan ( kehadiran-Nya ) terasa jauh.

You know what ? Kita pernah melalui yang lebih buruk dari ini. We can through ( handle ) this. Masih ada Mahfud MD yang berani melapor ke SBY ( sebelum ke KPK ) tentang perilaku MN yang membahayakan masa depan Demokrat dan MK. ( AS memplintir kata ‘hewan’ dari pernyataan Mahfud pada BHD ketika ribut kasus Bibit-Chandra. Mestinya, AS mengutip dengan lengkap : orang yang bisa dikendalikan mafia hukum, seperti hewan yang tak bernurani. Kita setuju tentang hal ini, kan ? Bukankah kita butuh orang yang berani menuntaskan kasus korupsi extra ordinary crime ini. Yang membunuh rakyat secara perlahan atau seketika seperti yang menimpa TKI Ruyati yang dipancung kemarin di Arab Saudi. Ketika pemberani2 ini muncul, kenapa kita justru rikuh dan mempermasalahkannya ?  Ada apa dengan kita ?  Siapkah kita membongkar kebobrokan di negeri ini habis-habisan ? Jangan mengaku warga RI, kalau pengecut ).

Masih ada I Gusti Putu Artha ( komisioner KPU ) yang tergetar kelu ketika mengatakan 12 petugas tewas saat berjuang menyukseskan pemilu tersulit di dunia tahun 2009 ( pemilu langsung di 17.504 pulau terpisah lautan luas ). Merasa tak berdaya, ketika KPU dihujat di DPR. Merasa sudah memberikan segalanya, meninggalkan anak istri untuk bekerja 24 jam, 7 hari seminggu, untuk kesuksesan pemilu kita. Namun, masih ada celah yang tak kuasa ia kendalikan ( seperti pemilih bisa mencoblos nama calon atau logo partai  sehingga membingungkan saat rekapitulasinya ). Ia minta maaf pada rakyat Indonesia atas penyelenggaraan pemilu yang belum sempurna. (  melihat Putu sekelu itu, saya rasa saya bisa memaafkannya. Terima kasih, sudah berusaha dan punya kesadaran tinggi untuk memperbaiki KPU demi kinerja terbaik di masa depan ).

Di DPR, juga masih ada Akbar Faisal ( Hanura ) yang begitu semangat ingin membongkar kelemahan pemilu kemarin, sekaligus menutup celah UU yang sedang diperbaiki komisinya. Tahun 2014, semua lembaga harus bersih, atau Indonesia terseret menjadi negara gagal. Waktu kita tidak banyak ( saya kuatir tak banyak ruang kesalahan yang tersedia untuk kita ). Pak Agum juga harus siap dengan plan B ( K-78 siap dengan hari interupsi 9 Juli nanti, dan masih menganggap kegagalan Kongres 20 Mei lalu karena kesalahan pemimpin kongres. Directur orang2 ini juga sudah menyusut, penjelasan sebaik apa pun tidak tercerna oleh otak mereka  ). Jika 9 Juli deadlock lagi, maka 10 Juli bubarkan PSSI ( FIFA sudah memberi kewenangan itu, LPI sudah diakomodasi  ) dan pilih ketum baru ( organisasi sepak bola baru ). Agar 11 Juli, Indonesia lolos dari sangsi ( banned ) FIFA. Berani ?

Sebesar apa pun masalah kita ( Indonesia ), kita percaya Allah masih lebih besar dari masalah itu. Go forward and be brave, people ..

Written by Savitri

4 Juli 2011 pada 15:20

Ditulis dalam Ragam

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s