Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Membangkitkan Nasionalisme di Papua

with one comment

Kemegahan opening & closing ceremony SEA Games ke-26 di Gelora Sriwijaya, Jakabaring Sport City, Palembang, masih terpatri kuat di benak kita. Menyemangati kita untuk menjadi bangsa yang besar dan kuat. Terima kasih pada warga Palembang, Gubernur Sumsel ( Alex Noerdin ) dan penyelenggara ( INASOC dkk ). Kita bangga, Indonesia bisa menyajikan itu pada bangsanya sendiri dan bangsa2 Asia Tenggara. Indonesia juara umum. Hore ! Medali emas sepakbola masih terlepas dari timnas kita dengan skor adu penalti 4 : 5. Dengan Malaysia ( again ? ). Padahal secara kualitas, atlet kita lebih baik. Mental perlu dilecut lagi. Segitu horor-kah ( beringas ) penonton kita ? Kabarnya, lapangan bola akan dibangun di tiap kecamatan untuk menjaring bibit2 unggul harapan bangsa. Dalam sektor ini, Boaz, trio Papua dkk, mampu berbicara lebih banyak. Mereka seperti dilahirkan untuk bermain bola. Siapa tahu, nasionalisme di dada orang Papua berangkat dari sini. Kalian dengar riuh puluhan ribu warga RI mengelu-elukan kalian ? Feel good, right ? Dalam kebersamaan dan kesejahteraan, orang Papua akan sebangga kita setiap menyaksikan perhelatan akbar Indonesia di mata dunia. Let's do it..

Opening Ceremony SEA Games ke-26 spektakuler. Langit Palembang, tempat imperium Sriwijaya pernah 400 tahun berjaya, malam itu bercahaya. Megah. Apakah Papua juga melihatnya ?

Tentu saja. Duduk para gubernur dari 33 provinsi di tribun menyaksikan. Termasuk gubernur Papua ( dan Papua Barat ). Kami masih NKRI, tertulis di spanduk karyawan ( SPSI ) Freeport. Tahun 1969, kami sudah NKRI. Kalian ( aparat, pemerintah pusat, sebagian warga RI  ) yang belum menganggap kami NKRI, kata tokoh Papua. Lho ?

Fakta Papua sudah NKRI

15 Agustus 1962 ( Persetujuan New York ), UNTEA – PBB ( United Nations Temporary Executive Authority ) menyerahkan pemerintahan Papua pada Indonesia. Brigjen Sarwo Edhie Wibowo memimpin Operasi Sadar sebagai Panglima Kodam Cenderawasih, merangkul warga Papua dan para kepala adat agar memilih Indonesia. Dibantu warga sipil, beliau juga berupaya mensejahterakan rakyat Papua, menghadang gelombang masuknya penduduk Papua Nugini dan menumpas OPM.

Sebelum akhir 1969, hak semua penduduk dewasa, laki dan perempuan untuk ikut serta dalam penentuan pendapat rakyat ( Pepera/ Referendum ) sesuai standar internasional, sudah terakomodasi. Disaksikan utusan PBB, Australia dan Belanda, hasil Pepera menunjukkan warga Papua ingin bergabung dengan NKRI ( Negara Kesatuan Republik Indonesia ). 19 November 1969, Sidang Umum PBB menyetujui hasil Pepera.

Tahun 1926, sebelum Sumpah Pemuda ( 1928 ), orang Papua lebih dulu menggunakan bahasa Melayu sebelum warga daerah lain. Soal tanah air Indonesia, kami termasuk yang di depan, tambah tokoh Papua.

Bendera Bintang Kejora masa presiden Abdurrahman Wahid pernah diperbolehkan dikibarkan, asal posisinya lebih rendah dari bendera Merah Putih. Toh, sampai sekarang Papua belum merdeka, lanjut tokoh Papua. Kami setuju NKRI final.

( 1 Desember 2011, ada 2 bendera Bintang Kejora dikibarkan. Demonstrasi berakhir rusuh. Polisi menangkap 3 pelaku. Mereka akan dikenai tuduhan makar, kata wakapolda Papua. Hmm ..

Kita tahu, tiap provinsi punya logo daerah. Andai Bintang Kejora adalah logo Provinsi Papua dan dikibarkan di bawah bendera Merah Putih, tiap HUT Provinsi Papua, mungkin takkan terjadi penangkapan, apalagi tuduhan makar. Kita maklum, Papua merasa berbeda karena keturunan Melanesia, bukan Asia. Namun, jika fakta ini dijadikan latar untuk memisahkan diri, saya pikir kurang match. Oprah Winfrey adalah keturunan Afrika ( Afro-American ). Kita tak ragukan, nasionalisme Oprah pada negara tempat ia hidup dan bekerja ( Amerika ), meski ia dibesarkan dengan penyiksaan luar biasa dan diskriminasi rasial yang pekat. Alih2 meratapi dan memaki, Oprah memilih memacu diri menjadi yang terbaik ( ratu talkshow AS ) dan membantu menggolkan Barrack Obama menjadi presiden AS. Obama bilang, Chicago ( Oprah ) adalah keberuntungannya.

Sebelum Hasan Tiro wafat ( setelah tsunami 2004 ), Aceh yang keturunan Asia ( Melayu ), jauh lebih militan dan terorganisir daripada Papua,  ingin memisahkan diri. Tapi toh akhirnya Aceh memilih tetap menjadi bagian dari Indonesia, dengan kesadaran : bersatu kita lebih kuat. Jika selama ini, warga Papua merasa ditelantarkan, sebagai warga RI ( yang ikut memikul tanggung jawab dari kesalahan para pendahulu ), kami mohon maaf. Memang dulu, rezim pemerintah yang lalu, mengabaikan kalian. Tapi sekarang, kami ( pemerintahan rakyat ) memperhatikan kalian. Kami berharap putra Papua, Maluku, daerah2 perbatasan, juga gigih memacu diri menjadi yang terbaik, sampai warga dari 33 provinsi yakin kalian sanggup memimpin Indonesia  ).

Lalu, apa masalahnya ? Mengapa Papua masih bergolak hari ini ?

( Masih terjadi serangkaian penembakan di Papua. Razia senjata pun diberlakukan.

Warga Papua yang berada di hutan2, kalau mau, silakan bersekolah atau memanfaatkan fasilitas kesehatan di desa terdekat. Kalau tidak mau, ya tidak apa2. Asal jangan menembak warga lain yang ingin sekolah, bekerja atau pergi ke puskesmas. Jika mereka menembak, terpaksa Polri dan TNI bahu membahu mengambil senjata, menyisir hutan, gunung dan jurang untuk menangkap pelakunya. Setinggi apa pun gunung kita daki untuk memastikan hukum ditegakkan dan keamanan terjaga di seluruh wilayah Indonesia.

Tak ada operasi militer di Papua, kata kapuspen TNI, Laksamana Muda Iskandar Sitompul. Selama banyak penembakan, Polri dengan back up TNI, harus berada di Papua untuk menghentikan ( yang ini harga diri Indonesia : memastikan kedaulatannya berlaku di seluruh wilayah negeri ). Jika senjata sudah terkumpul semua dan Papua aman dari penembakan liar, baru Polri – TNI menarik pasukan ekstranya. Namun, ribuan personel TNI harus tetap tinggal di perbatasan Papua dan Papua Nugini untuk menjaga NKRI. Kalau sekarang ditarik, malah berbahaya, tuturnya.

NKRI harga mati di blog ini, saya maksudkan : bentuk negara kesatuan adalah yang paling pas untuk Indonesia, mengingat beragamnya suku ( lebih 600 suku, bahkan sampai 1200 suku ), agama, bahasa dan budaya. Bukan yang menolak NKRI, harus mati. Konstitusinya ( konsensus rakyat ) yang terus didialogkan sehingga lebih mengakomodir kebutuhan rakyat pada tiap jamannya. NKRI sendiri tidak didialogkan. Paten ).

Aman sejahtera yang diidamkan.

Kami ingin aman dan sejahtera seperti daerah lain, jerit para ibu Papua.

Melalui UU no.21 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus ( Otsus ) Papua, pemerintah ingin merangkul warga Papua melalui jalur humanis dan kultural. Inpres no.1/ 2003 untuk mengefektifkan UU no.45/1999 agar birokrasi pemda Papua tak berbelit-belit dan warga Papua bisa langsung merasakan hasil pembangunan.

Dengan Otsus, Papua sudah diberi kewenangan politik, sosial dan ekonomi. Tinggal merdeka saja yang belum diberikan, kata Jusuf Kalla. Hasil ( PAD ) Papua yang dikirim ke negara sebesar Rp 18 triliun. Yang dikembalikan negara ke Papua sebesar Rp 28,8 triliun ( setelah Otsus ). Tiap warga Papua disubsidi negara Rp 10 juta per tahun. Tiap warga luar Jawa disubsidi Rp 6 juta. Tiap warga RI di pulau Jawa disubsidi Rp 1,5 juta. Tetapi mengapa Papua belum sejahtera ?

Sebelum Otsus, Papua diperlakukan buruk oleh rezim terdahulu ( Orde Baru ). Hasil melimpah dari bumi Papua ( pernah ) hanya dikembalikan Rp 200 juta. Ketertinggalan Papua selama puluhan tahun ini ( kualitas SDM dan mindset ) menyulitkan Papua untuk mengelola dana Otsus yang besar dengan benar. Terlebih, peraturan daerah Otsus ( perdasus ) belum tuntas dibuat sehingga pemprov, pemkot dan pemkab Papua tak punya acuan melaksanakan Otsus.

Gubernur Papua juga kesulitan mengumpulkan dan mengkoordinir para bupati yang bersikap seolah raja kecil setelah pilkada langsung. APBD nyaris habis untuk belanja pegawai ( sebagian direkrut sebagai balas jasa kepala daerah pada anggota tim sukses pemenangan pilkada ) dan mismanajemen ( skill kurang dalam mengelola anggaran ).

Di Papua, ada kabupaten yang hanya berpenduduk 12 ribu orang, kata mendagri Gamawan Fauzi. Sebanyak penduduk kelurahan di Jawa. Kemendagri kemudian mengirim tim asistensi ke Papua. Dengan pendampingan tersebut, kita berharap warga Papua bisa lebih cepat merasakan hasil pembangunan di daerahnya.

Kami tak butuh Otsus ! Kami butuh harga diri ! Semua komponen di Papua harus dihadirkan dan bicara di forum, sehingga semua aspirasi dan solusi bisa dilaksanakan di lapangan ! , teriak pemuda Papua. Lantang dan menggegerkan.

Nasionalisme Indonesia di dada generasi muda.

Nasionalisme Indonesia perlu ditumbuhkan, kata Freddy Numberi. Karakter kebangsaan di hati orang Papua, bagaimana cara membangunnya ?

Otsus, ruhnya adalah harga diri. Penghargaan rakyat Indonesia akan eksistensi penduduk Papua. Warga Papua ingin dianggap setara, sama pintar ( sama aksesnya dalam lapangan pekerjaan ) dengan warga daerah lain yang dulu lebih diprioritaskan ( hasilnya sekarang lebih maju ). Kita ingat ada kasus mahasiswa PTN ternama yang merendahkan mahasiswa dari Papua di Facebook, yang berujung konflik dan sanksi. Sehingga dibutuhkan juga kearifan dari kalangan muda saat berinteraksi dengan saudaranya setanah air yang berasal dari Papua, juga daerah lain yang belum maju. Boleh jadi di dada mereka ada isak tangis, seperti halnya para pelajar kulit hitam di sebagian wilayah Amerika yang kurikulum sekolahnya didiskriminasi ( modul pelajaran SMP baru diberikan saat SMA ) sehingga mereka kalah bersaing dengan kaum kulit putih di perguruan tinggi dan bidang pekerjaan.

Anyaman daun pandan serta kelapa ( suku Kamoro, Timika, Papua ) atau Koteka ( sebagian suku Papua ) adalah keseharian warga asli Papua. Seperti juga lebih 600 suku lain di Indonesia yang tidak kita usik cara hidup dan busananya ( Etnic Runaway- TransTV ). Life happily. Biarkan mereka mengatur warga sukunya dengan cara adat dan melestarikan budaya mereka yang unik. Kita hanya perlu memastikan, mereka juga merasakan manfaat dari NKRI. Bisa mengambil makanan dari hutan ( atau bercocok tanam, beternak ) untuk dikonsumsi atau dijual ke pasar ( hutan jangan digunduli atau habis di-HPH ). Berikan hak ulayat mereka ( jatah hutan rakyat ) untuk bertahan hidup. Tahukah anda, apa yang membuat para pelancong, wisatawan asing terpikat Indonesia ? Mereka sudah punya yang serba tertata, mekanis dan artifisial di negara mereka. Mereka rindu yang alami, belukar dan tradisional. Wild, wild, Indonesia. So, izinkan para warga adat ini mempercantik Indonesia dengan keaslian dan kearifan lokal mereka. Shall we ?

Kita maklum jika sesekali warga Papua marah atau sensitif seputar isu ini. Mereka ingin nyaman dengan koteka yang menjadi keseharian penduduk asli Papua. Seperti juga kita tidak merendahkan kain tenun yang dikenakan warga suku Sasak ( NTB ), Belaragi ( Flores ) dan Dawan ( NTT ). Mereka ingin asyik menanam ketela dengan cara mereka sendiri, seperti kita tak mengusik warga suku lain yang tidur beralas tikar dan memanfaatkan kotoran sapi untuk campuran perekat rumah. Mereka sedang melestarikan adat istiadat leluhur yang membuat kita, bangsa Indonesia, sangat kaya budaya dan seni tradisi.

Rasa memiliki tanah air yang besar, nasionalisme Indonesia, belum terpatri di dada sebagian putra Papua, khususnya generasi muda, disebabkan mereka belum merasakan manfaat signifikan dari hadirnya Indonesia dalam kehidupan ( terdekat ) mereka. ( Andai para pengacara, jaksa, hakim, pakar, ilmuwan, praktisi terbaik mau turun dan membantu warga Papua mengatasi kesulitan mereka ). Andai pemerintah lebih bersungguh-sungguh memperhatikan aspirasi rakyat Papua dan merealisasikan Otsus secepatnya, warga Papua takkan semarah ini. Andai tiap pemprov di Indonesia bersedia menerima putra Papua untuk magang dan menyerap ilmu pemerintahan ( juga bisnis dari kalangan pengusaha ) sampai mereka bisa membaktikan keahlian untuk membangun Papua, mereka takkan sesensitif ini. Bahkan, mereka akan menikmati perayaan SEA Games dan pencapaian Indonesia lainnya di dunia bersama dan sebangga kita.

Di Jakabaring Sport City, kecanggihan teknologi multimedia, laser bertabur kembang api berpadu seni tradisi nusantara masa keemasan memang sungguh menawan. Kita bangga Indonesia bisa menyajikan itu kepada bangsanya dan bangsa-bangsa Asia Tenggara. United and rising. Nasionalisme Indonesia di Papua bisa bangkit jika kita peduli.

Written by Savitri

6 Desember 2011 pada 11:55

Ditulis dalam Ragam

Tagged with , ,

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. blognya bagus, jgn lupa mampir http://duaribuan.wordpress.com

    duaribuan

    6 Desember 2011 at 18:06


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s