Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Dunia materi, generasi hilang dan uang dirham. Tradisi menjadi solusi ?

with 2 comments

Yang emas, dinar. Yang perak, dirham. Keduanya, bisa memutus jaring kapitalis dan neolib yang merasuki penguasa berjiwa feodal. Ditambah, memajukan transportasi massal, seperti kereta api cepat, yang bisa mengurangi ketergantungan kita terhadap minyak ( dikuasai kapitalis, Barat ). Jika kita tak lagi menggunakan dolar, AS akan collapse. Jika kita tak lagi menggunakan otomotif Jepang, negeri matahari terbit itu akan runtuh. Masalahnya, sebelum itu terjadi, sebesar apa nyali kita untuk konsisten melakukan ? Sebesar Saddam Hussein dan Moammar Khadafi kah ? ( meski negeri mereka dibombadir pasukan koalisi AS-Barat ).  Sebesar Mahmoud Ahmadinejad, Ayatollah Ali Khamenei dan rakyat Iran kah ? ( meski diembargo, dikucilkan, diintimidasi, dipropaganda hitam bertahun-tahun oleh AS cs ). Indonesia, bangsa dan negara besar. Saya harap, lebih besar nyalinya ( juga kekuatannya ), untuk membela harga diri bangsa, kedaulatan penuh negeri kita tercinta.

Kemana aja ? Kamana wae ? Long time no see.

Puffhh .. melelahkan bicara politik, ekonomi, hukum, yang berkutat  di pusaran sama. Itu-itu saja. Bibir sudah ndower , tangan sudah pegel. Yang disentil, masih asyik-asyik saja. Pondasi  iman dan ilmu yang kuat perlu dimiliki sebelum analisa dan kritik diberikan. Mayoritas warga Indonesia belum menikmati pendidikan formal di sekolah dan pengajaran moral  yang memadai di rumah dan masyarakat untuk bisa menangkap kebenaran itu ( termasuk kurangnya teladan dari penceramah ( ulama berkharisma ), sehingga umat tidak tergerak untuk memperbaiki diri dan enggan duduk serius menyimak pelbagai tausyiah yang banyak ditayangkan beragam media saat ini ). So ?

Saya terjun ke bawah, melihat dan mengalami, betapa sulitnya, wong cilik merangkak ke atas, memperbaiki taraf hidupnya. Orang gila, gelandangan, pemulung, pengemis, pengamen jalanan, pengasong, tukang becak, pedagang kaki lima, dsb. Tak bisa saya bayangkan,  mereka bisa bertahan hidup selama itu, terlebih tanpa ketrampilan apa pun.

Banyak anak jalanan tak tahu siapa orang tuanya. Mereka terlahir begitu saja di jalan. Dari rahim wanita gepeng mana saja yang mau dengan lelaki itu, cetus tukang parkir menunjuk pemulung paruh baya asal pulau seberang  yang sedang mesam mesem memandangi saya. Oh, my God .. ( sontak saya berdiri menghindar ).

Kota ini pusatnya maksiat, cetus pemulung yang sudah menjalani aneka kejahatan dan berganti agama : Islam, Kristen, Katolik .. Ia mengajak saya mengajari melukis pada anak jalanan di ‘markas’-nya. Bertemu seniornya, seorang muslimah Prancis yang suka menato ? Kind of weird .. Something wrong here, insting saja berjalan.

Fakir dekat khufur. Watch out, man ..

Ancaman pemurtadan sudah di depan mata ? Begitu halusnya mereka merangkul korban. Sudahkah, masjid-masjid dan komunitas muslim menjalankan fungsinya ? Banyak anak yang tercecer, dan karena kelaparan disambar oleh mereka. Masjid tak hanya mengumpulkan kencleng dan mengumandangkan azan, kan ? Para pengurusnya tak boleh alergi dengan kaum mariginal ini. Istilah Jokowi, menjadi pelayan masyarakat : bukanlah yang berkursi empuk, dengan wajah tak enak ( merengut ) bila kedatangan warga, termasuk fakir miskin.  Entah, legitimasi apa, yang membuat mereka merasa di atas ? Gepeng jangan hanya dibiarkan mati ( kelaparan, kesakitan ) di teras masjid ! ( perasaan, saya berinfak untuk membantu kaum tak mampu, deh .. bukan untuk  ( oknum ) ustad beli Kijang Inova  ).

Ohh .. jumlah mereka kian banyak. Bandung seperti  ‘surga’-nya gelandangan pengemis. Hampir tiap ruas jalan, anda bisa jumpai mereka. Di selokan pusat kota, ceruk remang dan taman-taman. Bertambah tiap hari. Terpikir, apakah daerah lain ‘rajin mengekspor’ gepengnya ke Bandung ? ( menggusur, mengusir begitu saja, warganya yang kurang beruntung,  tanpa solusi).

Puyeng kepala, memikirkan begitu masifnya problematika yang dihadapi kota Bandung dan negeri ini. Siapa yang mampu menguraikan dan menyelesaikannya ? Konsumen lukis saya dari kalangan berada tangkas mengalihkan topik, atau bahkan pergi begitu saja, tergesa-gesa, seperti ketinggalan pesawat. Dari kalangan akademi, peserta magister dan doktor, setali 3 uang. Bicaranya tinggi, berapi-api  ( nyaris tak bisa disela ), namun begitu disodorkan soal ini, seperti mendadak amnesia. Tak kalah buru-burunya pergi, menghilang dan melupakan janji pemesanan sebelumnya.

Mengharapkan kawan2  pedagang  yang mengaku idealis ( sebagian sarjana ) dan terdampar di sini, juga sulit. Karena ternyata, mereka pun sudah kerepotan mempertahankan keutuhan keluarganya. Aku digugat cerai istriku, dikira kawin lagi ( karena bawa uang sedikit ke rumah ), keluh si Y. Mantan analis sebuah bank plat merah juga tak bisa berbuat banyak, karena sejak mengundurkan diri dari kantor, ia terpaksa tinggal di rumah orang tua yang memperlakukannya lebih buruk dari anak tiri. Istri dan keempat anak, nyaris seperti pembantu di rumah mertua yang ‘matre’. Saudara si analis yang masih mengirim uang,  disanjung setinggi langit. Mendengar keluh kesah, muslimah dari Ciamis ini, sungguh membuat bad mood ( untuk melukis ). Apalagi menjalaninya. Sengsara.

Kereta cepat China, ekonomi nomor wahid.  Humanisme dan keimanan ?

Material world dan generasi yang hilang. Keduanya ada di kota ini, juga dunia saat ini. Menyesakkan dada. Saya tak lupa pandangan mengharap, belia lusuh di angkot. Atau sapaan sok akrab remaja pemulung yang kesepian, terasing di kota ini. ( cobalah, anda memungut barang dari jalan, orang yang kebetulan beriringan di dekat anda, akan langsung menghindar dan membuang muka ). Namun, ika diajak bicara, kebanyakan gepeng/ pemulung  menjadi ‘ge-er’, berulah atau nongkrongin anda ( nguntit ke mana pun anda pergi ). Jika dinasehati, mereka nyengir, merasa lebih pintar dari anda ( bahkan ada yang saya lihat asyik membentak-bentak memekakkan telinga pada 2 pengunjung pasar Kosambi yang bermaksud menegur ulahnya ). Gempar. Serba repot, ya ..

Mereka sudah rusak. Hasil dari sistem yang rusak. Kapitalis, yang menguasai minyak dan industri otomatif. Membuat kita ( dunia ) tergantung minyak hasil sedotan mereka di negeri2  yang mereka perangi. Industri senjata. Menghisap seperti lintah, dari mulai mata uang, sumber daya alam, tenaga kerja murah, pasar bebas, .. ( silakan sebut sendiri .. ). Penemu teknologi hemat energi lenyap tanpa jejak .. Orang2 yang ‘membahayakan kekuasaan’, anda baca beritanya di koran .. mati.

Barusan saya membaca posting sebuah blog yang mengulas kecepatan kereta api di China yang menyaingi kecepatan mobil balap F-1. Kita masih di sini, berjejal-jejal dalam peluh menyengat  dan polusi berat. Bahkan, sebagian menyambung nyawa di atap kereta, mengejar waktu kerja. Indonesia, yang seperti ‘big brother’-nya negara2 di kawasan Asia Tenggara, mesti menghadapi China yang berambisi menguasai Asia Timur, sekaligus berebut teritori dengan para sahabat kita di ASEAN saat ini. Kita ingat Tiananmen, derita muslim Uighur, ketidakpekaan warga China ( tertangkap kamera CCTV ) terhadap korban kecelakaan di depan mata, .. Mesin perang mereka yang hampir menyaingi  militer Amerika, dengan kemajuan ekonomi  yang  fantastis. Nomor wahid. How can we ?

Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran saat ini. Satu, dari sedikit pemimpin dunia yang tangguh dan berkharisma. Nyali, jangan tanya. Amerika pun ketar ketir menghadapinya. Keputusan mengerahkan pasukan Iran untuk mengawal kapal Korea Selatan yang membeli minyak dari Iran ( meski ditekan/ dilarang AS ) sampai dengan selamat ke Korea, contoh keberanian sikapnya. Dalam bimbingan beliau, rakyat Iran bersama Suriah dan Lebanon, meneguhkan nyali membendung kepongahan ( kebrutalan ) Israel-AS-Barat di Timur Tengah. Palestina masih bisa bernafas dalam gempuran biadab Israel-AS, karena kehendak Allah, melalui perjuangan habis-habisan Hamas, Jihad Islam, Hizbullah-Lebanon, pemimpin Suriah dan Iran. Mestinya, setiap pemimpin muslim, secerdik, seamanah, sekredibel beliau. Jika Iran bisa, maka Indonesia harus bisa !

Ahmadinejad, presiden pilihan pemimpin spiritual Ayatollah Ali Khamenei dan mayoritas rakyat Iran ( juga saya, he3x.. ) yang konsisten menentang dominasi AS-Barat. Kerap menggemparkan podium internasional dengan pidato2-nya yang mematahkan mitos2 ( kebohongan ) media Barat. Sederhana, elegan, memikat. Argumen cerdas, menohok penyiar asing yang kerap menyudutkannya, mengecilkan rakyat Iran. Membuat saya, ribuan mil di sini, bangga menjadi seorang muslim. Duet maut, yang layak menjadi referensi pemimpin Indonesia berikutnya. Tantangan global kian mendebarkan. Pilih yang bernyali baja untuk memimpin kita saat Pilpres 2014 nanti, ya ..

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Ini baru uang sejati : keping perak dan emas. Indonesia kaya.

Keraton Kasepuhan Cirebon membagikan zakat berbentuk uang dirham kepada sekitar 200 mustahik ( penerima zakat ) di lingkungan keraton ( Rabu, 24/10/2012 ). Kepingan koin nisfu ( setengah ) dirham, setara 1,49 gram perak murni ( Rp 33.500 ) itu, bisa dibelanjakan para abdi dalem dan masyarakat sekitar keraton pada Festival Hari Pasaran Dirham dalam rangka Haul Sunan Gunung Jati di Keraton Kasepuhan, 27-28 Oktober 2012. Zakat berbentuk dirham sudah dilakukan sejak Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat, bahkan  jaman Sunan Gunung Jati. Sejak setahun lalu, Sultan Kasepuhan memulai kembali tradisi ini.

Sekitar seribu keping dirham sudah tersebar di beberapa titik di Cirebon, kata Sonia, wakil ketua Jawara ( Jaringan Wirausahawan dan Pengguna Dinar Dirham Nusantara ) Cirebon. Para pedagang sudah menyiapkan paket dagangan yang setara dengan alat tukar tersebut. Urgensi  pelestarian dinar dan dirham saat ini cukup tinggi. Sistem kapitalisme telah membuat negara kaya seperti Indonesia menjadi negara yang justru nilai tukar mata uangnya selalu lebih rendah, kata Zaim Saidi, pimpinan pusat ( Wakakala ) Distribusi Dinar dan Dirham Induk Nusantara. Saat ini, penguatan kembali tradisi penggunaan dinar dan dirham juga dilakukan beberapa kesultanan di Indonesia, seperti Kesultanan Ternate dan Kesultanan Sulu. ( disarikan dari PR, 25/10/2012 )

Siapkan nyalimu, kawan .. ( bertarung melawan pemilik dolar, euro dan mesin perang mereka ).

Jika saat ini, Iran sedang diuji nyali menghadapi Israel-AS, nanti kita pun demikian dengan China. Semoga Allah masih di pihak kita. Karena hanya Allah yang bisa menjawab kemusykilan ini. Semoga, derita sebagian besar rakyat Indonesia, menjadikan kita tahan banting dan penuh inovasi. ( Malaysia tertarik dengan inovasi para pelajar SMK kita. Fasilitas minus, daya juang mesti plus ). Kesulitan hidup membuat serabut otak bertambah kompleks, sehingga kita bisa mencerna dan mensiasati persoalan dengan cerdik dan gesit, sampai bisa memutus jaring2 kapitalis dan neolib. Mulai hidup lebih bermartabat. Bernyali.

Kita, nomor wahid dalam seni budaya. Kita hanya perlu dunia mengakuinya. Kebanggaan di dada setiap insan Indonesia mesti dibangkitkan. Agar loyal menggunakan produk dan karya bangsa sendiri. Agar tangguh membela kepentingan rakyat Indonesia, di meja perundingan internasional dan lobi-lobi ekonomi. Dari pintu ( revitalisasi ) budaya, kita kemudian bisa masuk pintu ( kebangkitan ) sastra, lalu sains, lalu teknologi, lalu industri .. seperti  dunia pernah mengalami. Sejarah berulang. Keraton Kasepuhan menginspirasi. Semoga kita bisa bertahan dan gigih menggapainya.

Selamat lebaran Idul Adha ( 1433 H ) dan Salam Pemuda ( Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2012 ). Kobarkan semangat berjuang .. !

Written by Savitri

26 Oktober 2012 pada 03:15

Ditulis dalam Ragam

Tagged with , , , ,

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. @ Rotti : Trims, semoga saya bisa terus menyajikannya untuk anda semua.

    Savitri

    2 November 2012 at 03:47

  2. tulisannya sangat menarik nih..

    Roffi Grandiosa (@roffi75)

    27 Oktober 2012 at 06:01


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: