Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Budaya menjadi tuan rumah dan pembuka kejayaan. Seniman dan birokrat harmonis ?

leave a comment »

Chitaru Kawasaki, guru besar emeritus di bidang seni keramik di Universitas Seika, Kyoto, Jepang tengah memperkenalkan karyanya yang bertema relasi manusia dari gerabah lokal. ( Lho, kok orang asing ? ). Lebih 24 tahun di Indonesia, Kawasaki meneliti keramik tradisional sampai ke Desa Pagerjurang, Bayat, Klaten, Jawa Tengah. Teknik putaran miring yang ditemukan lalu diorbitkan lewat pameran keramik di Jakarta dan Jepang. Kemudian ia membangun pusat penelitian dan pengembangan industri di Pagerjurang dengan bantuan hibah Kementerian Luar Negeri Jepang. Kawasaki juga meminta Kementerian Pendidikan Nasional membangun SMK Keramik dan Tekstil yang mengangkat kehidupan masyarakat Bayat. Yayasan Titian, Yayasan Rota ( Reach Out to Asia ) dan Qatar mendukungnya sampai SMK Negeri I Rota, Bayat, berdiri tahun 2009. Kawasaki terus memperkenalkan keramik Indonesia ke ranah internasional, di sela kesibukannya mempersiapkan buku tentang perangkat makan dan keramik. Ia berharap perangkat makan dari keramik Pagerjurang dipakai hotel-hotel berbintang sebagai bentuk pelestarian budaya. Amazing.. ( foto : sindoweekly )

Seni. Birokrasi. Ada hubungan ? Kalau yang manis, rasanya belum. Setidaknya di kota ini. Apa anda pernah curios, bagaimana sih pejabat yang kita pilih ( dari yang tersedia, memilih yang lebih baik dari yang ada ) memilih orang-orangnya ? Janji kampanye yang manis, sering melempem ketika waktunya direalisasikan. Aturan yang indah ketika dieksekusi berbuah pahit nan sengsara. Fasilitas dan pelayanan publik tak kunjung berubah, atau berubah sedikiiit nan lambaaann. Kitu-kitu wae. Merengut ( cemberut ). Sok sibuk. Tergesa-gesa, padahal urusan masih amburadul. Biar dikira orang penting. Feodalis. Ogah repot.

Mungkinkah calon tersebut terbuai elusan bawahan yang stand by me ? Hadir terus di sisinya, nggak peduli kerjanya berantakan, rakyat nggak keurus. Si calon percaya saja omongan ‘beres’ para yess man ini. Wah, gawat. Nasib rakyat bakalan nggak berubah.  Terjun ke bawah kek. Menyamar  kalau perlu. Cross check. Betul, atau bulls*** laporan anak buah ? Jangan rakyat jadi obyek pelengkap penderita terus, karena kemalasan pejabat.

Kenapa pelit ? Uang haram susah masuk tempat halal.

Mengapa si pejabat susah memasukkan uang ke kotak infak, tapi royal  mentraktir wanita penghibur di klub malam ? Itu karena uangnya haram, jelas penceramah di masjid. Hati-hati menerima uang milyaran dari ‘hamba Allah’ ( padahal hasil korupsi ) untuk membangun masjid. Sholat di sana akan bermasalah. Makan ayam yang disembelih orang Islam yang tidak sholat juga bermasalah. Dikategorikan haram. Berdosa. Apalagi diimpor dari luar negeri yang jelas-jelas mayoritas non muslim. Lalu, saya teringat bagian-bagian ayam yang tersisa, yang dikirim ke Indonesia ( seperti sayap di restoran cepat saji asing ) yang heboh promonya di koran-koran.

Makan babi, bangkai, darah dan kena anjing itu haram. ( heran, kok hewan itu sering disebut-sebut sebagian pendatang dalam percakapan ? Biar kelihatan keren di kota ( orang kota ) ? Absurd , terlihat rendahan malah. Orang Bandung sejati mah sangat menjaga tutur katanya. Halus, santun ). Lebih aman makan ikan ( meski yang terdampar ). Jualan di tempat ilegal, juga bermasalah uang perolehannya. Oh, mengerikan. ( saya lirik plang ‘dilarang berjualan dan membuang sampah’. Kasihan nian pkl di sini. Uang yang sedikit diperoleh  itu pun haram. Doanya, 40 hari 40 malam tidak didengar. Sholatnya tidak diterima. Pantas mereka tak pernah beranjak dari sini. Jika anak buah macam ini yang menempeli calon gubernur Jawa Barat ( pilgub,  24 Februari 2013 ) dan calon walikota Bandung ( pilwalkot, Minggu, 23 Juni 2013 ), kita jangan memilihnya.

Itulah yang menimpa kami, jika atasan salah menempatkan orang. Bukan direkturnya yang menyejahterakan karyawan, tapi karyawannya yang menyejahterakan direktur, cetus tukang parkir. Gaji lenyap, tinggal 30 % hasil parkir yang tidak menentu ini yang harus kami bagi bertiga untuk dibawa ke keluarga masing-masing. Sabtu minggu saja yang ramai. Hari lain sepi.

Derita seniman Bandung. Wahai warga dan pemerintah, dengarlah kami ..

Tidak seperti di Jakarta ( sewa kios di pasar seni  Ancol Rp 250 ribu perbulan ), para seniman di sini kurang difasilitasi ( sewa kios di pasar seni Tamansari Rp 500 ribu perbulan ). Jika perajinnya dari Bali, mereka ( pejabat pariwisata ) berani bayar mahal dan difasilitasi, sedangkan terhadap perupa Bandung sendiri tidak demikian. Saya berani adu kualitas dengan mereka, keluh si pemahat , frustasi. Uang 500 ribu seperti tak seberapa, tapi mendapatkannya bukan main susahnya. Turis lebih suka bohtram di sini daripada beli karya seni. Kebun binatang dan pasar seni tidak nyambung ( segmen pengunjungnya ).  Lalu, kumaha atuh ?

Bandung dikenal fashion dan kulinernya. Mau art ? Ke Yogya atau Bali saja. Surabaya dan Jakarta jangan deh. Jakarta banyak kriminal di jalan. Teman makan teman. Kota terburuk kedua di dunia di dunia, tukas pemasok perabot antik, berbagi pengalaman. ( semoga Jokowi bisa membenahi. Mblusuki  ( menjelajahi sudut-sudut ) Jakarta, bahkan sampai 5 tahun pun saya dukung, karena pejabat lain dan anak buah sering malas melakukan. Kejadiannya  kalau dibiarkan kronis bisa seperti doorman masjid raya di Alun-alun dan ( oknum ) satpam di pusat dakwah. Tukang sapu meloncat sekuriti (  tanpa training dan waskat ) jadinya seperti ‘juragan’ masjid. Gemar membentak dan menendang wisatawan, musafir, yang terpaksa menginap. Setiap dia lewat, suasananya horor. Orang-orang berlarian menghindari  tegurannya yang sarkastik. ( apa tidak bisa ngomong sopan tapi tegas ? Apa mereka tidak tahu, fasilitas umum seperti masjid kota provinsi itu milik warga kota Bandung dan Jabar, bukan perseorangan atau ( atasan ) dia ? apa dia tidak tahu fungsi masjid dalam memberdayakan umat ?  terutama kaum mariginal ). Menyedihkan. Belum lagi menghadapi sebagian staf kebersihan di dalam masjid dan toilet yang gemar menunjuk-nunjuk dengan tangan kiri  ). Katanya, Bandung agamis dan santun, tapi kelakuan personel di front depan seperti ini. Memalukan ).

Thank you. Bandung, kota terbesar penduduknya ( setelah Jakarta, Surabaya ) di Indonesia masih lumayan peduli.

Bandung, Yogya, Bali, warganya relatif masih peduli jika kita kesusahan di jalan ( menanyakan alamat di jalan, misalnya ). Mereka masih menjaga citra kotanya sebagai daerah tujuan wisata. Kegiatan membatik, cukup hidup dan merakyat, sehingga tidak sulit melebarkan taste ke karya perupa kontemporer ( modern ). Tapi banyak juga seniman Bali yang malah masuk Bandung, timpal si pemahat. Lho ?

psrsenitsPasar seni Tamansari, Bandung, berada searea parkir dengan kebun binatang ( Pintu 3 ). Banyaknya pengunjung di sini tiap hari libur dan akhir pekan, tidak menjamin larisnya karya para seniman yang menempati 20 kios, meski rajin dipromosikan sejumlah wartawan yang ngepos di situ. Panggung kesenian juga sudah dikerahkan untuk menarik pengunjung. Hasilnya masih memelas, alias nihil. Seniman datang dan pergi mencoba peruntungan di Bandung. Beberapa penyewa kios gulung tikar. Hengkang. Beberapa yang masih bertahan menyiasatinya dengan menjual aneka barang seperti kalung, sandal, gantungan kunci, bahkan penitipan helm !
Citra Bandung sebagai kota fashion dan kuliner begitu kuat tertanam di benak, sehingga tatkala warga Bandung tak bisa diharapkan, maka konsumen luar Bandung pun tak terpikir untuk datang ke Bandung membeli karya seni. Tamat riwayat. Jika gaung budaya mau digongkan di ibukota provinsi terbesar jumlah penduduknya di Indonesia ini, mungkinkah kita mengerek satu lagi citra untuk kota tercinta : Bandung, kota seni budaya ?

Sayangnya di sini, senimannya tak punya paguyuban untuk mendorong pemkot lebih menghargai ( memfasilitasi, mengapresiasi layak ) karya seniman lokal, sambung si pemahat. Ketika saya tanyakan hal ini pada dedengkot seniman seangkatan kang Harry Roesli, dia mengatakan, lebih enak begini ( sendiri-sendiri ). Wah, memang rumit mengurai benang kusut seni budaya di kota ini, ya ..

Indonesia belum punya pusat budaya , seperti Jerman ( Goethe Institut ) atau Belanda ( Erasmus Huis ), tulis Soni FM. Lalu, bagaimana Indonesia bisa segencar dua pusat budaya ini dalam memperkenalkan karya kreatif  ( teater, tari, musik, bahasa, dll ) bangsa Indonesia ke mancanegara ? ( untuk diakui sebagai nomor satu budayanya di dunia ). Ughh .. kerja raksasa di dalam dan luar negeri ..

Belajar dari Chitaru Kawasaki. Kita harus lebih berdedikasi dari orang asing.

Luar biasa, apa yang bisa dilakukan seorang seniman untuk pengembangan dan konservasi budaya Indonesia. Jika saja para seniman Indonesia dan penggiat budaya mau lebih  gigih dan tekun, lalu didukung penuh para stakeholder ( pemangku kepentingan, termasuk warga kota ) , kita bisa tenang dan yakin, seni budaya tradisi Indonesia takkan punah. Kalau diinventarisir dengan baik, dipatenkan, kita tak perlu sekuatir  ini dengan klaim pihak asing.

Ayo, warga Bandung yang sudah kenyang dan modis, dukung seniman kita agar eksis. Bantu mereka melestarikan seni budaya dengan membeli karya mereka ( jangan kebangetan nawarnya, seni melalui proses belajar lama, belasan bahkan puluhan tahun untuk dapat mencipta. Tidak instan. Perhitungkan juga bahan dan alat yang digunakan ).

Kota Bandung adalah ibukota provinsi yang terbesar jumlah penduduknya. Jika ingin menggaungkan kebanggaan akan budaya dan kecintaan akan negara, sepatutnya dari jantungnya Jawa Barat ini. ( Jakarta tak bisa hidup tanpa Bandung, celetuk tetangga sebelah ). Kawan-kawan seniman tak perlu pergi dari kota ini untuk survive dan mengibarkan panji budaya. Mungkinkah, Kota Bandung menjadi markas pusat budaya Indonesia di luar negeri ? Pusat informasi turis di dalam negeri ?

Budaya jadi tuan rumah di Bandung. Senimannya penuh dedikasi, birokratnya penuh amanah.  What a wonderful world. Wahai warga Bandung bersediakah ? .. ( are you with me ? )

Written by Savitri

30 November 2012 pada 04:40

Ditulis dalam Ragam

Tagged with , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: