Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Ancaman disintegrasi, skenario Timor Timur : pemimpin bodoh, warga minder. Menyingkirlah !

with 2 comments

Timor Timur, menjadi Timor Leste. Keutuhan NKRI tercabik. Ancaman disintegrasi seolah menulari wilayah lain. Apakah cara licik negara asing menjarah kekayaan alam Indonesia tak mengurungkan niat para pelaku makar ? Tak jadi pertimbangan mereka untuk bekerja sama ? Asal lepas meski menghalalkan segala cara ? Pikirkan anggota keluarga yang terpisah, dan tak bisa kembali. Pikirkan perang saudara yang menumpahkan darah tanpa akhir. Pikirkan kerepotan daerah tetangga menampung pengungsi. Pikirkan pengungsi yang sengsara ditelantarkan. Pikirkan Indonesia menjadi mungil, tak berarti. Sedangkal itukah rasa cinta kalian ?

Timor Timur, menjadi Timor Leste. Keutuhan NKRI tercabik. Ancaman disintegrasi seolah menulari wilayah lain. Apakah cara licik negara asing menjarah kekayaan alam Indonesia tak mengurungkan niat para pelaku makar ? Tak jadi pertimbangan mereka untuk bekerja sama ? Asal lepas meski menghalalkan segala cara ? Pikirkan anggota keluarga yang terpisah, dan tak bisa kembali. Pikirkan perang saudara yang menumpahkan darah tanpa akhir. Pikirkan kerepotan daerah tetangga menampung pengungsi. Pikirkan pengungsi yang sengsara ditelantarkan. Pikirkan Indonesia menjadi mungil, tak berarti. Sedangkal itukah rasa cinta kalian ?

Timor Timur. Siapa lupa ? Mantan provinsi ke-27 Indonesia ini menyimpan banyak luka, dan pelajaran. Saya mengungkitnya kembali untuk mewaspadakan generasi muda dan pemimpin masa depan akan kelicikan lembaga asing, terutama IMF dan Bank Dunia. Beberapa negara yang baru menggolkan revolusi, seperti Mesir, saat ini menjadi pasien mereka. Semoga bisa menarik pelajaran.

Indonesia akan diremas menjadi serpihan kecil tak berarti. Anda tak rela ? Mari belajar dari sejarah.

Mulanya Santa Cruz atau krisis moneter 1997 ?

Insiden Santa Cruz, 12 November 1991, menewaskan 271 orang, 382 luka, 250 hilang. Sebastião Gomes, sebulan sebelumnya ditembak mati pasukan ( Indonesia, menurut data Wikipedia ). Banyak mahasiswa, rekan Gomes, berdemo memprotes pemerintah Indonesia saat penguburan Gomes di kompleks  Santa Cruz. Jurnalis asing ( Australia, Amerika ) merekam, menyelundupkan dan menayangkan ke seluruh dunia. Video dalam dokumenter First Tuesday berjudul In Cold Blood: The Massacre of East Timor mempermalukan pemerintah Indonesia ( masa Habibie ). 12 November kini diperingati bangsa Timor Leste ( nama Timor Timur sekarang setelah lepas dari NKRI ) sebagai Hari Pemuda. Hari bagi kelompok pro-kemerdekaan ( minoritas ) merebut perhatian internasional untuk merdeka.

Sejak Uni Soviet runtuh tahun 1991, Indonesia mulai ditekan. Krisis moneter menghantam Asia Tenggara, termasuk Indonesia ( tahun 1997-1999 ). Ekonomi Indonesia bangkrut, politik tidak stabil, IMF dan Bank Dunia lalu memaksa Indonesia melepas Timor Timur ( yang kaya minyak di Celah Timor ). Imbalannya ( yang tak pernah dinikmati Indonesia, tapi sampai hari ini kita masih mencicil hutangnya ) adalah bail out sebesar US$ 43 milyar. Bodoh ?

Bailout fiktif, provinsi gratis. Jangan terulang lagi.

Bailout tsb tak sampai seperempatnya dicairkan tahun 1999-2000. Tak menolong keadaan. Pemerintah Indonesia ditekan untuk mencabut subsidi BBM, subsidi pangan, subsidi listrik yang menyengsarakan rakyat, sementara duit IMF tetap utuh. Dana cadangan sebesar 9 miliar USD sebagai dana cadangan tak ubahnya dana fiktif, tak sesen pun bisa dipakai. Semua perusahaan negara ( Bank Niaga, Telkom, Indosat, dll ) dipaksa diswastakan. Pemerintah nurut saja dibodohin begitu : melepas provinsi Timor Timur ( yang sudah dibangun selama 24 tahun oleh Indonesia ) dengan gratis !

Sebagian orang menduga presiden Habibie kecele : mengira warga Timor Timur memilih opsi pertama ( otonomi luas : diberikan kewenangan di bidang politik, ekonomi, budaya, dll, kecuali hubungan luar negeri, pertahanan, keamanan, moneter dan fiskal ), ketimbang opsi kedua ( memisahkan diri : secara konstitusional lepas dari NKRI ) dalam jajak pendapat ( lebih tepat referendum ) yang diselenggarakan UNAMET ( United Nations Mission in East Timor ) pada 30 Agustus 1999.

Padahal, referendum itu cuma formalitas. Kemenangan untuk kelompok pro-merdeka sudah diatur UNAMET ( badan PBB ), atas pesanan IMF dan Bank Dunia. Buktinya, banyak orang2 pro-integrasi tak terdaftar sebagai pemilih, hanya yang pro-merdeka yang boleh masuk TPS dan memilih, warga pro-integrasi ( mayoritas warga Timor Timur memilih tetap bergabung dengan NKRI  ) diusir pergi, orang2 pro-integrasi tak dilibatkan dalam kepanitiaan, pemantau dan jurnalis Indonesia dilarang mendekati TPS ( sebagian yang tahu kecurangan hanya menurut disuruh diam, begitu pula aktivis2 LSM yang biasa galak memprotes, menghujat pejabat Indonesia. Mereka baru ditunjuk polisi atau tentara UNAMET saja langsung gemetar mundur, membisu di hadapan bule2 rakus yang akan merobek NKRI :  nasionalisme nol, mental inlander yang inferior, parah memalukan ), bule2 Australia dan Portugis yang menjadi panitia terus meneriaki para pemilih agar memilih opsi merdeka ( padahal selama ini mereka sering mengampanyekan kejujuran, hak menentukan nasib sendiri ).

Kepedihan pejuang integrasi :  dihukum negara yang dibelanya setengah mati.

rig

Minyak di Celah Timor menjadi incaran Australia yang getol menggolkan disintegrasi. Merayu, pernah bersama warga mengusir Jepang masa PD-2. Rayuan gombal yang menyengsarakan negara termiskin di dunia hari ini. Jangan terkecoh akal bulus geng kapitalis lagi.

Yang mengharukan, pejuang integrasi seperti Laffae. Beliau adalah mantan panglima pasukan pro-integrasi, yang tak pernah surut semangatnya memerangi Fretilin ( organisasi pro-kemerdekaan yang dipimpin Xanana Gusmao, yang dilepas Habibie menjelang referendum ), “karena bersama Portugis, mereka membantai keluarga saya”, kata Laffae.

Secara budaya, ekonomi, sosial, Timor Timur adalah bagian Indonesia. Mayoritas warga Timtim berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. Para penyedia barang2 kebutuhan di pasar adalah orang Indonesia. Banyak pelajar Timor Timur yang belajar di sekolah dan universitas Indonesia dibiayai pemerintah Indonesia. Guru, petugas kesehatan, dokter, mantri juga kebanyakan orang Indonesia. Di  banyak tempat, banyak kaum muda Timor Timur mengenakan kaos bertuliskan Mahidi  ( Mati-Hidup Demi Integrasi ), Gadapaksi ( Garda Muda Penegak Integrasi ), BMP ( Besi Merah Putih ) dan Aitarak  ( Duri).

Pagi, 4 September 1999, hasil jajak pendapat diumumkan di Turismo, Dili. 344.508 suara untuk kemerdekaan, 94.388 untuk integrasi (  78,5 % :  21,5 %  ). Laffae berlinang air mata. Perjuangan keras sepanjang hidupnya berakhir dengan kekalahan.

“Kota Dili ini akan kosong..” kata Laffae, pelan tapi dalam. “Setelah kosong, UNAMET mau apa ?”. Dalam kepedihan hatinya, Laffae lalu mengerahkan pasukan. “Ya, lima ribu baru cukup untuk mengguncang kota Dili.” Terbetik berita kemudian : orang2 pro-kemerdekaan berlarian diserang kaum pro-integrasi. Markas dan sekretariat dibakar. Aksi bumi hangus pejuang pro-integrasi yang merasa kehilangan masa depan. Laffae dan pasukannya ingin semua orang Timor Timur bernasib sama : kalau ada satu pihak yang tak mendapat tempat di bumi Loro Sae, maka semua orang Timor Timur harus keluar dari sana.

Kegetiran berganti kejayaan. Tanamkan kebanggaan di hati.

Dili

Warga Dili tercabik dua : pro dan kontra integrasi. Pedihnya keluarga tercerai berai, tak bertemu lagi. Mereka yang masih tinggal, bertahan sebisanya.

Hampir semua warga Dili mengungsi ke Atambua, meski dalam pencegatan polisi UNAMET.  Di kamp pengungsian Atambua, orang tua dan muda duduk gelisah dicekam rasa takut, marah dan dendam. Anak2 cemas, terpisah dari keluarga mereka. Nasib mereka yang memilih hidup bersama Indonesia sungguh miris. Tak disantuni. Kaum milisi pro-integrasi dikejar tuntutan hukum atas ‘kejahatan terhadap kemanusiaan’. Tak dibela, bahkan pemerintah Indonesia sendiri memburunya dan memenjarakan mereka yang memilih Merah Putih. Gubernur Abilio Soares menolak hasil jajak pendapat karena berbagai kecurangan panitia. Tapi kemudian, Eurico Guterres dan Abilio Soares dihukum oleh negara yang dicintai dan dibelanya, Indonesia.

Para jenderal TNI yang pernah berkuasa di Timor-Timur,  pada sembunyi, tak bernyali melindungi warga Timor-Timur yang memilih bergabung dengan Indonesia, padahal mereka kerap mengajarkan berkorban untuk negara meski nyawa taruhannya. Para pengungsi ditelantarkan. Tak ada solidaritas kebangsaan yang ditunjukkan pemerintah dan militer Indonesia. Menyedihkan.

Negara bisa salah urus sejauh ini, karena kebodohan pemimpin atau mental inlander ( minder, inferior terhadap segala hal yang berbau asing ) sebagian besar rakyatnya ? Jadi, ke depan, pastikan memilih pemimpin yang bernyali dan mumpuni. Dan mari, bangkitkan kebanggaan di hati ini, bahwa Indonesia pernah adidaya selama lebih 400 tahun ( masa Sriwijaya, Majapahit ), dan kembali akan berjaya tahun 2020 nanti. Siapkan karya terbaik kita untuk menyongsong takdir hebat Indonesia.

We love our country so much, don’t we, people ? ( Yuk, lantang meneriakkan ) SAYA BANGGA MENJADI ORANG INDONESIA !!

(  Sumber : sebagian diambil dari tulisan, “Menit-menit yang Luput dari Catatan Sejarah Indonesia” – Kafil Yamin ).

Written by Savitri

4 April 2013 pada 02:25

Ditulis dalam Ragam

Tagged with , , , , ,

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. @ Dian : lebih banyak membaca ulasan tentang isu serupa lebih memudahkan anda memahami posting ini. Politik emang pelik.

    Savitri

    29 September 2014 at 11:57

  2. Sangat baik tetapi masih ada kata-kata yang kurang saya mengerti

    dian meliantry

    16 September 2014 at 08:15


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: