Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Jati diri di situs megalitikum Gunung Padang. Merasa antik, lalu disegani ?

leave a comment »

S

Melihat cagar budaya bisa membuat kita menyegani leluhur kita. Selanjutnya, membuat kita disegani bangsa2 lain di dunia, jika kita memantaskan diri menjadi generasi penerus. Terbayang ribuan tahun lalu, nenek moyang kita bisa bangun kompleks budaya sebesar dan seluas itu ? Apa kita di jaman high-tech dan well-educated hari ini bisa melakukannya ?

Tanpa negara, kita tak punya rumah. Sebuah drama patriot produksi China di televisi  kabel yang saya tonton Minggu pagi mengingatkan. There’s no place like home. Tiga tahun kurang tiga minggu, saya tinggalkan rumah karena alasan tertentu. Hidup di rumah orang ( kost ) dan jalanan. Bertemu banyak orang dengan beragam karakter : mengagumkan, menggelikan, menjengkelkan sampai memuakkan.  Namun, saya sadari kemudian, sebaik apa pun orang yang saya coba akrabi atau temui, ternyata ( di akhir ) tak ada yang seperhatian dan sepeduli orang di rumah.

Keluarga. Meski selama ini begitu menjengkelkan, tapi mereka ternyata masih peduli kalau saya masih hidup. Badan kurus saya, berusaha mereka normalkan kembali, dengan aneka  hidangan mengenyangkan. No one do this outside.

Mama. Kenapa saya tiba2 teringat padanya ? Gara2 sebuah pelukan dan pertanyaan ‘apa sudah makan ?’. Tak heran, Yayang mau melakukan apa saja demi menyenangkan ibunya. Sumpah serapah memuakkan selama berminggu-minggu dari mulut mantan yang patah hati rela diterima demi permintaan bunda ‘pindah ke hati saya’. Hinaan, kata2 merendahkan, atau bentuk pengecilan lainnya ( yang menyebabkan dirinya tumbuh dengan konsep diri rendah hari ini ) seolah berputar kembali. Mengerikan.

Saya yang ikut mendengarkan, juga pernah mengalami di masa kecil saya, bisa berempati ( ikut merasakan sakitnya ) dan memberi  credit point besar untuk pengorbanan dan sikap berbakti  ini ( selain wajah  ganteng, tampilan modis dan senyum  indahnya ). Sehingga saya memilihnya  sebagai calon saya, dan berusaha bertahan sekuat tenaga dalam situasi terburuk hubungan kami ( seraya memastikan, apa saya sungguh dicintainya, atau hanya ibunya yang dicintainya ).

“Bisa jadi ortu kita the best”,  kata kakak seraya menyetir di samping saya. Saya menoleh terkejut ( you’re kidding, batin saya ). Ini orang yang kerap keluyuran nggak jelas dan bikin nangis Mamah, kok, tiba2 ngomong ‘aneh’ begini ? Lalu, Quraish Shihab  di acara Tafsir Al Mishbah ( MetroTV, tiap Ramadhan  jam 3 – 4 pagi ) menjelaskan : anak baru mengerti  setelah berada di usia ibu  bapaknya. Kakak sudah punya 3 anak. Pantas saja ( saya kali ini memilih manggut2, tidak adu argumen  seperti biasa dengannya ). Piece.

Rohingya. Etnis  muslim yang tak diakui status dan keberadaannya oleh pemerintah Myanmar. Terlunta dalam perjalanan mencari suaka di Australia ( dengan ongkos Rp 156 juta per kepala, meski cuma punya uang Rp 9 juta ( Kompas, 11 Juli 2013 ). Mereka ingin anak2 bisa bersekolah dan berobat. Kebutuhan dasar ( pendidikan dan kesehatan ) juga tak diperoleh orang tanpa kewarganegaraan.

Cinta, keluarga, dan negara, sangat berarti buat kita, kan ? Mari kita jaga bersama. Indonesia adalah rumah kita.

Posting kali ini, saya ingin mengorek apa yang ada di halaman rumah kita. Situs Gunung Padang.

—————————————————————-

Posisi teras di situs Gunung Padang.

Posisi teras di situs Gunung Padang ( foto : newsdetikcom ).

Alkisah, pertengahan 1979, Abidin, Endin dan Soma, warga Kampung Cipanggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan Cempaka, Kabupaten Cianjur, membersihkan semak belukar. Mereka menemukan balok2 batu dan melaporkannya ke Edi, penilik kebudayaan Kecamatan Cempaka, yang kemudian bersama Adang Suwanda, Kepala Seksi Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Cianjur, mengecek ke lokasi. Tim peneliti ( dari lembaga, pemerintah, komunitas kelompok ahli, pakar arkeologi, geologi, bahkan ilmu kebatinan ) lalu berdatangan mengadakan pemetaan, penggambaran dan deskripsi.

Tiap tahun, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala ( BP3 ) Serang, Balai Kepurbakalaan Sejarah dan Nilai Tradisional ( BKSNT ) Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat meneliti dan memelihara situs ini. Karena anggaran terbatas, baru bisa ( cukup ) untuk pemeliharaan dan pengamanan, jelas Drs. Nunung Sobari, MM ( Kadis P & K Jabar ).

Punden berundak Gunung Padang berada di atas bukit memanjang ke arah tenggara barat laut, di ketinggian 885 meter di atas permukaan laut ( PR, 15 April 2013 ). Dekat Desa Cipanggulaan. Sungai Cicohang ( barat laut ) dan Cimanggu ( timur ) melaluinya.  Semula seluas 2.825,25 m2, situs ini berkembang menjadi 5 hektar, dan akan diperluas lagi sampai 15 hektar. Dengan megaskopik pada contoh batuan, dideskripsikan bahwa balok2 batuan masuk kelompok batuan beku andesit berwarna hitam. Berkristal sangat halus, masif, kompak dan  keras. Sebagian permukaan batu melapuk dengan mineral kuning kecoklatan.

Situs sejauh 50 km barat daya Kota Cianjur ini lalu dikunjungi belasan sampai  puluhan orang tiap harinya. Sabtu, Minggu dan hari libur bisa di atas 2000 orang, kata Ade, juru pelihara Gunung Padang. Posisi batu kemudian berubah akibat kegiatan wisatawan dan eksploitasi besar-besaran dengan dalih ekskavasi penelitian. Bekas penggalian tidak dirapikan. Hal ini membuat Acil Bimbo prihatin,”Kalau tanda2 sudah dirusak, di mana harga diri dan jati diri kita sebagai orang Sunda ?”

Kunjungan terus meningkat setelah jalan dari Warungkondang, Tegalsereh sampai ke Gunung Padang diaspal. Kuatir kerusakan terus berlangsung, maka Dinas P & K Jabar berkonsultasi dengan BP3 Serang akan memagar komplek situs, juga mengatur jalan masuk wisatawan, agar melalui tangga yang disediakan ( bukan tangga batu situs ).

Secara geologis, Gunung Padang adalah sisa gunung berapi purba yang mengandung balok2 batu andesit berbentuk prismatik  berwarna keabuan ( terbentuk alamiah sekitar 1-2 juta tahun lalu ) yang digunakan masyarakat prasejarah untuk membangun punden berundak. Pembatas teras, tangga dan halaman dibangun dengan cara menghujamkan batu secara langsung ke tanah ( tertanam sampai 45 cm, bobot batu ratusan kg ). Dari sumur ( sisi utara ), tangga utama, teras pertama hingga ke lima, ditemukan 10 pola susun balok batu berbeda satu sama lain. Punden ini terletak di puncak bukit, daerah rawan bencana seperti longsor, aliran, jatuhan dan berada di jalur patahan aktif Cimandiri.

Dengan analisis pertanggalan C-14, longsoran di sebelah barat Gunung Padang ( sekitar aliran sungai ) terjadi pada 5.300-250 BP, sehingga situs tsb dibangun setelah peristiwa longsor ( budaya megalitikum muncul dan berkembang pertama kali  antara 2500-1500 SM ). Penelitian yang dilakukan berhasil mengindentifikasi berbagai bentuk kerusakan, penyebab kerusakan, pola struktur, perilaku pengunjung dan masyarakat di sekitar lokasi, aspirasi masyarakat sekitar, kelembagaan pengelolaan situs, serta batas2 situs yang didasarkan pada aspek geografi, yaitu sungai dan bukit ( karena aspek kultural tak ditemukan ).

Hasil ini menjadi dasar pembagian zona : Zona I ( 9000 m2 ), Zona II ( 129.000 m2 ) dan Zona III ( 153.800 m2 ). Zona inti menjadi area perlindungan utama untuk menjaga bagian terpenting cagar budaya. Zona penyangga menjadi area yang melindungi zona inti. Zona pengembangan untuk melindungi lanskap alam dan budaya, kehidupan budaya tradisional, keagamaan, rekreasi dan pariwisata.

Dinding teras, balok2 batu penyusun teras III disusun secara horizontal di permukaan tanah. Bagian2 tertentu diisi batu pengunci atau batu pasak. Polanya berbeda dengan pola peletakan batu penyusun dinding teras I, tangga utama, tangga antar teras, batas halaman, maupun batas teras.

Perkiraan situs Gunung Padang ribuan tahun lalu, ketika masih digunakan leluhur.

Perkiraan situs Gunung Padang ribuan tahun lalu, ketika masih digunakan leluhur ( foto : nrmnews ).

Ekskavasi yang dilakukan di situs Gunung Padang untuk mengenali bentuk dan struktur punden berundak secara keseluruhan belum tuntas dilakukan. Ekskavasi baru terbatas pada pengenalan bentuk dan pola susunan dinding teras, batu berdiri yang terdapat pada teras dan susunan2 lain yang diperkirakan bagian dari punden berundak. Ke depan penting dilakukan ekskavasi untuk mengetahui kandungan budaya yang terdapat di bawah pola2 bangun teras 1 sampai 5.

Situs Gunung Padang  kini menjadi destinasi wisata unggulan Provinsi Jawa Barat. Beban kunjungan puncak sebesar 16.000 orang disiasati dengan system zonasi untuk melindungi situs ini. Perlu peningkatan pengetahuan dan jumlah pemandu yang dapat mengatur ritme kelompok masyarakat yang akan naik ke punden berundak Gunung Padang.

Situs megalitikum Gunung Padang ditetapkan sebagai  benda cagar budaya melalui SK Mendikbud no: 139/M/1998 tentang Penetapan Situs di Wilayah Provinsi Jawa Barat tanggal 16 Juni 1998. Masterplan Kawasan Gunung Padang mulai disusun, meski masih banyak misteri yang belum terungkap ( dan pekerjaan kita ), seperti :

  1. Batas terluar kawasan Gunung Padang di mana sebetulnya ?
  2. Pemetaan dan zonasi ulang juga perlu dilakukan karena ada perubahan pemanfaatan lahan oleh masyarakat dan pembebasan lahan untuk fasilitas umum.
  3. Studi teknis pelestarian Kawasan Gunung Padang.
  4. Pembangunan Museum Informasi dan Dokumentasi tentang Situs Megalitikum Gunung Padang,

yang sesuai pelaksanaan, prosedur, perizinan dalam UU nomor 10 tahun 2011. Pasal 72 undang2  tentang Cagar Budaya menyebutkan : “Perlindungan Cagar Budaya dilakukan dengan menetapkan batas2 keluasannya dan pemanfaatan ruang melalui system zonasi berdasarkan hasil kajian.”

So, the research still continues, this report also

 —————————————————————–

Kita pernah membaca : kebudayaan Timur lebih tua dari kebudayaan Barat. Melihat situs Gunung Padang, kita maupun para wisatawan domestik, disadarkan oleh fakta itu, dan tersentak. Lho, kita lebih tua, kok diatur-atur ( dikendalikan ) oleh yang muda ? Apa kita tergolong makhluk kadaluarsa tanpa daya ? ( jika diancam arogansi Barat ). Tegakkan kehormatan diri dan bangsa agar wibawa dan disegani. Rawat baik2 situs peninggalan leluhur kita. Gunung Padang juga bagian rumah kita. Jati diri kita.

Written by Savitri

19 Juli 2013 pada 13:53

Ditulis dalam Ragam

Tagged with , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: