Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Alon Sari & Tenun Lombok : desa diberdayakan, kota nyaman & negara kuat.

leave a comment »

Tenun

Perajin tenun songket khas Lombok, dicari dan diberdayakan Alon Sari agar eksis dan bersinar. Sebuah dedikasi anak bangsa yang patut kita teladani agar khasanah budaya Indonesia tidak punah. Melainkan menjadi lahan penghidupan dan jati diri warga Lombok dan Indonesia di mana saja. Ayo, mana corak tradisional  daerah anda ? Cari dan lestarikan juga, ya ..

Alon Sari, namanya. Penyelamat perajin tenun Lombok di Desa Batujay, Kecamatan Praya Barat, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat ( NTB ). Mulanya, blusukan ke dusun2 saat terpuruk tahun 1987. Alon menjaminkan tanah dan bangunan untuk mendapat kredit Rp 15 juta dari bank. Alon juga menghibahkan tanah untuk membangun toko produk kerajinan. Istri sekretaris desa Batujay ( Musaddad Saleh ) ini menampung dan memasarkan produk tenun karya warga sedesanya. Penghasilan para penenun terdongkrak, dari semula Rp 50 ribu per minggu, kini Rp 150 ribu per minggu ( Kompas, 11/7/2013 ).

Lobi Alon ke eksekutif dan legislatif Lombok berhasil mewajibkan karyawan pemkab dan DPRD Lombok Tengah berpakaian tenun tiap hari Kamis. Kain tenun karya 60 kelompok Perempuan Penenun Desa Batujay ( sekitar 600 penenun anggota Koperasi Wanita Stagen ). Masyarakat desa yang sejak lama trampil menenun songket ini diberdayakan Alon agar ketrampilan tsb tidak punah. Sekaligus memperbaiki kondisi kesehatan dan pendidikan mereka. Sebuah puskesmas di Jalan Bypass Bandara Internasional Lombok yang tergusur dipindahkan ke tanah seluas 3 are milik Alon di Dusun Batu Beduk yang hanya dihargai Rp 3,5 juta/ are ( harga pasaran Rp 15-20 juta/ are ). Alon rela demi pesan almarhum ayahanda,’janganlah kayak arena harta lantaran harta bisa jadi  malapetaka. Kayalah dengan sahabat karena ke mana pun kamu pergi tidak akan kelaparan’. Berteman dan beramal untuk kepentingan orang banyak.

Dalam program Keluarga Berencana ( KB ), Alon bersedia menjadi ‘kelinci percobaan’ untuk meyakinkan warga sedesanya, bahwa menggunakan alat kontrasepsi tidak mengganggu kesehatan. Protes dan caci maki dari para suami yang tak setuju istrinya ber-KB ditanggapi Alon dengan memberi pemahaman pentingnya menjarangkan kelahiran bagi keluarga. Hasilnya ? Sekarang, meski alat KB tak lagi gratis, warga mau membelinya. Sadar manfaatnya.

Ponsel masuk desa, jika disalahgunakan, menyebabkan kaum muda banyak menikah dini ( juga bercerai dini ). KDRT oleh suami yang memilih berponsel ria ketimbang pergi mengurus sawah juga kerap terjadi. Keterbatasan ekonomi para petani dan buruh membuat banyak anak desa putus sekolah. Sebagian suami dan kaum muda lalu memilih pergi menjadi TKI di Malaysia.

Begitu banyak permasalahan di desa yang membuat Alon ( lulusan SMEA Negeri Praya, 1986 ) berupaya keras mencari solusi dan memajukan warga Desa Batujay. Kerja keras nan cerdik dari anak ke-4 pasangan Lalu Terang dan Hj.Sapihan ini diapresiasi banyak pihak. Diantaranya : Danamon Award ( Juli 2012 ), Kartini Award dan penghargaan dari Komisi Studi Gender Universitas Airlangga bekerja sama dengan manajemen Surabaya Plaza Hotel, Jawa Timur, atas dedikasinya memberdayakan perajin tenun di desanya.

Alon juga menginspirasi saya untuk memberi perhatian lebih pada upaya pemberdayaan masyarakat kecil di pedesaan yang  masyarakat kecil di pedesaan yang mayoritas petani atau nelayan. Juga, penggiat seni budaya, semisal perajin dan seniman tradisional. Jika desa maju maka tingkat urbanisasi menurun. Kota tidak padat, tidak kumuh. Pembangunan tersebar merata. Negara lebih stabil dan kuat karena tak lagi sering diganggu demo, teroris dan ancaman disintegrasi wilayah2 yang tidak puas ( sejahtera ) dalam naungan NKRI.

Mengentaskan kemiskinan di desa bisa dilakukan dengan cara member modal usaha, program2 perlindungan bagi petani dan nelayan, infrastruktur ditambah ( yang rusak diperbaiki ), sekolah tinggi disebar, alih iptek, fokus pemberdayaan SDM pada potensi daerah ( sebagai pemasok bahan baku, pembuat kerajinan, atau pemasaran ).

Alon

Alon Sari, wanita biasa dengan karya luar biasa. Lulusan SMEA saja bisa menggerakkan orang sebanyak itu dengan karya tradisional yang membanggakan. Apalagi yang sarjana, master bahkan doktor. Mestinya, lebih dahsyat lagi pengabdiannya untuk bangsa. Setuju ?

Jabar berpenduduk 43 juta jiwa. 12 %-nya miskin. Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial ( PMKS ) menurut data Dinas Sosial Kota Bandung tahun 2012 : jumlah gelandang pengemis 1.384 orang ( 618 gelandangan, 766 pengemis ), 2.162 anak jalanan, 319 Pekerja Seks Komersial/ PSK,  2.690 HIV-AIDS, 17 pekerja migran bermasalah sosial, 78.751 KK fakir miskin, dari 2,6 juta penduduk Kota Bandung.  Pendatang  ke Kota Bandung  dari semula  5-7 % per tahun menjadi 10 % ( perkiraan ) pada tahun 2013. Ingin kota ini tidak sesak oleh sampah, kendaraan ( juga pendatang ) ? Mungkinkah ( maukah ) para entrepreneur  ( pengusaha ) Kota Bandung membuka cabang usaha ke daerah2 pemasok migran ( ke Kota Bandung ) ?

Ya, ( pemerintah ) Indonesia memang didikte oleh industri otomotif asing, lembaga keuangan asing dan perusahaan energi asing ( pemerintah daerah jadi ikut tak berdaya menghadapi sepak terjang dan serbuan produk mereka ). Liberalisme, kapitalisme kebablasan sudah merasuki banyak sektor negeri kita, melebihi negara mana pun. Meski kelahiran APEC  turut dibidani dan dituanrumahi Indonesia, nyatanya negara anggota lainnya yang banyak mereguk manfaat. Kita cuma kebagian ‘peran’ sebagai negara pasar dan korban eksploitasi bahan mentah, karena minimnya keberpihakan ( pada rakyat kecil ) dan ketiadaan strategi  yang jelas dari pemerintah selama ini. Indonesia terpuruk sekedar konsumen ( menggerogoti devisa ), bukan produsen. Perilaku konsumtif tidak membanggakan. Mestinya, kita jadi pembuat, bukan pembeli. Indonesia mesti surplus !

Keep Bandung beautiful, euy !  Bantu, berdayakan warga desa dengan keahlian yang kita punya, yuk ..

Written by Savitri

8 Oktober 2013 pada 10:42

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: