Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Antri daging & Chairul Tanjung. Miskin dulu, kaya kemudian.

leave a comment »

Antre daging

Antri daging kurban seperti perjuangan hidup mati. Lengah dan lemah sedikit bisa terinjak sampai tewas. Potret menyedihkan dari bangsa besar bernama Indonesia. Semoga para panitia belajar dari kesalahan tahun ini. Lebih profesional-lah mengurus ‘tamu’ yang mereka undang. Jangan sampai jatuh korban lagi. ( foto : lensa Indonesia )

Antri. Bisa begitu mengerikan. Mulanya sepotong kupon di atas meja TV. Pembagian daging kurban Idul Adha 1434 H. Selentingan terdengar, 10  kupon untuk setiap RT dari bilingual college. Rupanya, rumah kami termasuk radius 40 tetangga dari sekolah tsb.

Demi menyenangkan ibu, saya berangkat sesuai jadwal yang tertera di kupon. 15.00. Tiba on time, tapi pembagian molor. Daging baru dibagikan sejam kemudian. Itu pun baru 5 orang yang diijinkan melewati gerbang besi menuju meja panitia. Selebihnya berdesakan di luar gerbang, menunggu 5 keresek putih berisi masing2 dua kg daging sapi tersedia lagi di meja.”Lama sekali. Tahun kemarin tidak seperti ini,” keluh para tetangga.

Sinar terik membuat kami lelah berpeluh dan kehausan. Tua muda, wanita pria, nenek dan anak kecil jadi tak sabar. Lebih 50 orang berkerumun di depan gerbang, dan terus bertambah. Jalan besar di belakang kami diam2 memasok orang2 tak diundang ( tak berkupon ). Menyusup dan bergerilya, mencari kesempatan dalam kesempitan.

Wanita paruh baya di sebelah kiri saya meringis ketika tangan kanannya saya tepis, kepergok merogoh saku.”Yang tak punya kupon tempatnya di belakang, Bu. Kalau masih ada sisa daging. Satpam bilang, yang masuk gerbang hanya yang berkupon,” suara dingin saya menegur dia. “Ingin di depan,” sahutnya tanpa malu. Setua itu masih begitu.

Tiba2 dorongan keras dari belakang melempar saya melewati gerbang sampai selop terlepas. Satpam terjungkal menahan gerbang yang dibuka paksa oleh lautan manusia yang kepanasan. Dipicu para ‘penumpang’ gelap sejenis wanita pencopet tadi. Saya bersyukur, untung bukan ibu saya yang di sini. Semoga tak ada lansia yang jatuh terinjak- injak, terluka atau tewas, karena ketidakprofesionalan  panitia pembagian daging kurban di sini.

Mestinya, sejak awal orang yang datang diperiksa kuponnya dulu, baru kemudian diminta antri yang baik sesuai waktu kedatangannya ( seperti di bank ). Dibuat jalur antri dengan tali. Tak  apa mengular. Yang penting setiap orang tahu  ( jelas ) kapan gilirannya mengambil ( sehingga tak gelisah dan berulah ). Satpam jangan menunjuk-nunjuk orang yang diprioritaskan ( wanita hamil, lansia, anak kecil ) di tengah orang yang sudah berdiri rapat menghimpit. Jalannya orang yang ditunjuk menggoyangkan dan menginjak-injak orang di sekitarnya. Apalagi  jika jaraknya cukup jauh dari gerbang. Panitia juga harus tepat waktu. Jika dijanjikan jam 3 sore untuk kelompok pertama ( sekitar 50 orang ), maka pada jam itu sudah tersedia 50  kantong daging di meja yang siap dibagikan, sehingga tak terjadi kerumunan akibat datangnya kelompok penerima jam berikutnya ( dan menarik para pendatang gelap yang membahayakan kerumunan manusia tsb ).

Saya lihat 4 orang asing dan seorang pribumi di meja pembagian. Saya serahkan kupon, menerima kantong daging dan berkata,”Thank you.” Terima kasih atas pengalaman menjadi pengantri daging ( sehingga bisa lebih berempati  pada derita wong cilik ). Rakyat jelata tak hanya mengantri daging. Di  negeri ini, mereka juga mengantri beras, sembako, minyak operasi pasar, uang zakat, bantuan bencana ( negeri dengan 1001 bencana : dari ring of fire dengan gunung berapi dan jalur gempa paling dahsyat di muka bumi, sampai  korupsi kelas wahid sekelas ketua Mahkamah Konstitusi ( AM ), gerbang terakhir keadilan di negeri ini, pun tertangkap  tangan  menerima suap  dan pecandu narkoba. Tsunami penegakan hukum, satu-satunya yang terjadi di seluruh dunia, hanya di MK Indonesia. Tak heran kemiskinan begitu merebak di sini  ), bantuan langsung tunai  kompensasi kenaikan BBM, dsb. Oh, Indonesiana.

Seorang tewas di antara lebih 6000 pengantri daging di halaman Masjid Istiqlal, saya lihat di TV sepulang dari sekolah tsb. Padahal seabreg satpam dan polisi sudah dikerahkan. Sebagian pengantri bahkan sudah menunggu ( menginap )  sehari sebelumnya di sana. Demi daging yang hanya mampu mereka kunyah setahun sekali ( sisanya mereka jual untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari itu ). Bertahan hidup, hari demi hari. Potret lebih 28 juta orang Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan. Menyedihkan.

Adakah asa ? Mari kita lihat potret salah satu orang miskin puluhan tahun lalu yang kini menjelma konglomerat muslim yang berkomitmen mengentaskan orang miskin. Chairul Tanjung ( CT ), pemilik grup usaha CT corp.

UPAYA PENGENTASAN KEMISKINAN ALA CT

Chairul Tanjung ( foto : detikfoto )

Chairul Tanjung dan Anita Ratnasari. Cinta sejati pengukir sukses fenomenal yang menginspirasi. Anda tahu sangat sulit menemukan cinta sejati dewasa ini. Film dan novel sering mengisahkan, tapi minta ampun susahnya mencari contoh di lingkungan keluarga, tetangga dan teman kita. Oh, belahan hati di mana gerangan dirimu ?  ( foto : detikfoto )

Punya duit berlebih, tak tahu mau diapain ? ( sekitar 1 miliar ). Bisa untuk nabung pahala di akhirat, seperti dipraktekkan Chairul Tanjung dkk. di bawah ini :

Tahun 1997, krisis moneter di Asia dan Indonesia. Tahun 1998, krisis multi dimensi yang merontokkan hampir seluruh tatanan stabil selama ini. Rakyat menjerit, harga2 kebutuhan melangit. Dibentuklah KKI ( Komite Kemanusiaan Indonesia ) oleh CT dkk untuk menanggulangi krisis dengan cara praktis. Riil, langsung turun ke lapangan.

Daerah kerja sementara dibatasi di kantong2 kemiskinan di Jakarta ( seperti Kapuk, Cilincing ). Tenaga ahli dikirim ke setiap kelurahan, mengumpulkan data dan perkiraan solusi. Mereka menginap di rumah2 penduduk agar bisa merasakan langsung kesulitan masyarakat. Program kerja bersifat community development : masyarakat sekitar terlibat aktif.

Anggaran Rp 1 miliar untuk tiap kelurahan termiskin diperuntukan :
1. Stimulus untuk menggerakkan ekonomi
2. Memperbaiki fasilitas umum
3. Mencegah anak2 tidak sampai putus sekolah

Rp 400 juta digunakan untuk pelatihan ketrampilan bagi buruh2 pabrik yang terkena PHK. Budidaya lele, jahit-menjahit bagi ibu2, membuat warung, sampai berjualan gado2.

Rp 300 juta untuk memperbaiki fasilitas umum, jalan2 kampung yang rusak dan membangun jalan yang belum ada serta WC umum. Sekolah direnovasi. Orang2 miskin itu kemudian bisa kembali bangkit dan memperoleh penghasilan dari berbagai usaha mikro.

Sisa dana Rp 300 juta digunakan untuk mencegah anak2 jangan sampai putus sekolah. Merupakan pembiaran dan kejahatan kemanusiaan jika mereka dibiarkan miskin di kemudian hari. Pendidikan adalah peretasnya.

KKI sekarang berkantor di Jalan Bangka, Jakarta, dan diarahkan untuk upaya pencegahan narkoba dan meminimalkan penyebaran HIV di masyarakat.
Semoga cara praktis dan nyata untuk membantu sesama ini bisa menginspirasi kita semua.

KISAH CINTA DAN KELUARGA CT

Masa penjajagan. Beragam durasinya. Kawan FB yang terlihat mesra sampai hari ini, melaluinya dalam 6 bulan pacaran, 6 bulan tunangan, lalu menikah. Chairul Tanjung dan istrinya, Anita Ratnasari, melaluinya dalam 2 tahun. Sepasang nara sumber di “Oprah Show” melaluinya dalam 50 tahun ! ( si pria menunggu wanita idamannya menjanda. Setelah si suami wafat, baru si pria melamar dan menikahinya. Cinta sejati yang luar biasa sabar ).

Lesson of love : cinta berproses dari sejak penjajagan sampai akhir hayat pasangan sukses ( di dalam dan luar rumah ) Indonesia. Chairul & Anita, love forever.

Chairul, si kaya nomor 3 di Indonesia ( kekayaan 9 triliun, kata pak Made, konsumen lukis saya. Hebatnya Chairul : beliau muslim, asli pribumi, mulai dari nol, tidak KKN dengan penguasa, bersih dalam menjalankan bisnisnya ). Sedangkan si kaya nomor 1 dan 2, setahu saya, kakak beradik Hartono, pemilik pabrik rokok Djarum, dari keturunan Tionghoa, keturunan orang kaya ).

Sejak kecil Chairul hidup dalam lingkungan keras. Kerja keras tiap hari membantu perekonomian keluarga. Ayah Chairul berdarah Sibolga, terlalu idealis, prinsip politiknya bertentangan dengan pemerintah, sehingga seluruh usahanya dipersulit sampai gulung tikar. Ibu Chairul berdarah Sunda, sedikit mengimbangi perilaku keras, blak-blakan, straight to the point ayah Chairul. Mereka sekeluarga terpaksa tinggal di kamar losmen berisi 8 orang, hidup berpindah, bahkan sampai terlempar ke kampung terkumuh di Jakarta, karena tak punya uang lagi.

Anita, cantik dan cerdas ( lulusan terbaik pascasarjana Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia/ FKG-UI ), berangkat dari keluarga dengan adat Jawa yang kental. Sangat teratur dan disiplin. Ayah Anita, direktur kesehatan angkatan laut RI lulusan S-2 Polandia. Makan malam menjadi ajang komunikasi semua anggota keluarga, dilanjutkan sholat berjamaah.

So, Anita dan Chairul bagai air dan minyak. Latar belakang begitu kontras, beda. ( Seolah ) mustahil menyatu.

Tapi, Chairul cerdik. Kepandaian Chairul berbisnis digunakan untuk mendekati Anita, yang haus pengetahuan bisnis. Chairul, ketika masih sekampus, terlihat lusuh di mata Anita, sama sekali tak dilirik. Namun, setelah menjadi alumni FKUI yang berhasil dalam berbagai bisnis, Anita jadi penasaran, dan ingin belajar bisnis darinya. Chairul datang ke rumah Anita, mengajari cara berbisnis. Begitulah ‘cara pacaran’ mereka selama 2 tahun. Sekembali Anita dari sekolah Business English di Singapura, Chairul meminang Anita tahun 1994.

Orang tua Anita semula tak setuju dengan Chairul ( masa pacaran/ penjajagan ) yang dianggapnya tak selevel dengan status terpandang keluarga Anita. Namun, lambat laun, melihat kejujuran Chairul, tanggung jawabnya pada ke-4 adik dan orang tuanya, kedisiplinannya, akhirnya ortu Anita luluh dan merestui.

Dalam bahtera perkawinan, Chairul mengajari Anita memasak. Anita mengajari Chairul tata karma, etika bersosialita kalangan atas. Chairul mengganti popok putri sulung mereka, setelah kerja keras di kantor larut malam, yang begitu disukainya. Chairul menyempatkan diri memasak, sepulang kantor itu, tanpa membangunkan orang serumah. Tapi Anita tahu, mengintip, dan memeluknya dari belakang. Di meja makan menjelang tidur itulah ( dan saat sarapan pagi ), mereka berbincang tentang apa pun. Quality time.

Anita, orang pertama yang diberitahu Chairul, tiap dia mengambil keputusan penting di perusahaan, seperti melakukan akuisi perusahaan lain. Saat Chairul ceramah dan undangan resepsi, Anita sering menemani. Yang kurang dipahami, ditanyakan Anita saat bertemu di rumah malam hari. Anita juga hampir tak pernah absen menemani Chairul saat rapat kerja tahunan Bank Mega.

Di tengah kesibukan berbagai usaha dan kegiatan sosial kemasyarakatan ( Chairul Tanjung Foundation/ CTF, Rumah Anak Madani/ RAM ), Chairul dan Anita masih sering mengajari kedua buah hati mereka, memeriksa langsung PR mereka dari sekolah. Pendidikan anak langsung dari orang tua dipandang Anita sangat penting, sehingga dia memutuskan keluar dari pegawai negeri dan berhenti praktek dokter gigi, agar bisa fokus mendidik anak, menjadi rekan terdekat diskusi suaminya, dan mewujudkan impiannya, sekolah Duta Bangsa. Anita sangat suka dunia pendidikan.

( Anita mendirikan sekolah ini tahun 2001 dengan modal sendiri ( Rp 100 juta ). Tanpa campur tangan Chairul, karena dia sudah banyak mengajari Anita ilmu bisnis. Chairul berpikir, Anita perlu memulai usaha sendiri dari bawah, agar tahu rasanya membangun usaha dari nol sekaligus menikmati alur prosesnya. Kini, Sekolah Duta Bangsa telah berkembang pesat ).

Sabtu dan Minggu, pasutri ini pasti menyempatkan diri jalan2 bersama sekeluarga. Perbedaan budaya antara Anita & Chairul perlahan melebur. Chairul kerap mengajak keluarga harmonis ini makan di warung2 enak pinggir jalan. Ikatan keluarga jadi prioritas.

Anita, di mata Chairul, adalah kombinasi sempurna antara seorang istri di rumah dan rekan berkomunikasi di mana saja. Pekerjaan, urusan dan kegalauan suami, diketahui Anita dengan baik. Anita, rekan terbaik Chairul menjalani kehidupan. Semoga hanya maut yang memisahkan kami, doa Chairul. Terima kasih, selama ini telah setia menemani, bisiknya mesra ( di telinga Anita ).

Benar kan ? Di belakang pria hebat, terdapat wanita hebat. Semoga contoh keluarga sukses ini bisa menginspirasi kita semua.

—————-

Terlahir miskin bukan akhir segalanya. Banyak orang kaya datang dari keluarga miskin. Life skills berbanding lurus dengan love skills, kata Mario Teguh, semalam ( MTGW-MetroTV, 10/11/2013 ). Belajar ketrampilan hidup dan mengasihi sesama manusia. Mulai dari hal kecil, di sini, sekarang. Selamat berjuang, wahai saudaraku setanah air ..

Written by Savitri

11 November 2013 pada 11:44

Ditulis dalam Ragam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: