Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Warnet game, klub dugem mengepung. Kedangkalan berpikir atau kedalaman cinta ?

leave a comment »

diskotik_metrotvnews Sholat. Setia. Tanggung jawab. Ganteng. ( Apa pula ini ? ). Otak ( smart ), hati ( humanis ), nyali ( pemberani ). ( Apa lagi ? ). Tujuh saja sudah setengah mati mencarinya. Di mana gerangan belahan hati ?

Rupanya, saya tak sendiri. Banyak orang dalam penantian jodoh. Jodoh adalah pria yang membuat saya cenderung padanya, sayang dan merasa tenteram bersamanya. Katanya, jodoh dalam kewenangan saya, Allah yang merestui. ( Saya diminta berikhtiar sebaiknya jika ingin dapat jodoh dan bahagia bersamanya hingga akhir hayat ). Allah tak sampai hati melihat upaya terbaik hamba-Nya tak membuahkan hasil. Turun ilham dan pertolongan-Nya. Doa terkabul.

Petir menyambar. Saya terdesak ke luar rumah karena persoalan tak tertahankan. Lalu, dia di sana, terbaring tidur, sopan dan ganteng ( tak cuma cewek  yang cakep pas bangun tidur, cowok juga ). Saya menoleh ketika dia melihat saya terus. Memainkan lagu “Ibu Kita Kartini” di keyboard mahalnya. Oh, .. so romantic.

Saya pun ikut mendayu lalu membuat dua lukisan untuknya. Satu, dirinya. Satu lagi, bersama saya. Saya tahu kemudian, inisialnya EH.  Selain berwajah ganteng, berpostur atletis, dia juga berbakat fotografi, komedi, English. Punya pekerjaan dan ibu yang sayang, juga rumah dan mobil yang nyaman. Ehm.. sepertinya terlalu mulus ( yakin, bukan modus ? ).

Itu dia. Masalahnya EH terlalu keren ( sampai cewek2 demen colek dia ). Saya terlalu smart buatnya yang berharap relasi : tuan – bawahan. Saya ingin relasi setara dan saling menghebatkan. Dua tahun kemudian, hubungan berlangsung panas dingin karena ini. Kami saling menguji dan ‘menjebak’ ( ngerjain, saking gregetan gemesnya ). Very challenging. Dia berulangkali bilang,’Remember the feeling. Remember the magic’. Saya bilang’ Your world become a better place because of me.’

Begitulah. Semula, tak ada yang mengalah. Dia mengancam akan pindah ke lain hati kalau saya terus mengkritik sikap feodalnya. ( Saya berupaya ‘make overmindset-nya agar respek pada cewek ). Saya pun memastikan ‘bajingan angkuh’ ini keluar dari kota saya jika terus nggampangin cewek.

Kami terdiam. Kaget dengan ancaman masing-masing. Kebayang tak bisa bersama lagi, itu terlalu meresahkan kami. Akhirnya, … kami belajar bertenggang rasa dan mulai menyesuaikan diri. Begitulah cinta ( = perhatian & setia ). Alasan utama sepasang sejoli menikah ini, masih kami miliki. Alhamdulillah, EH mulai mendengarkan saya setelah saya lebih banyak menyanjung daripada mengkritiknya.

( Emang, cowok dari sononya ngerasa superior, ya. Wanita mesti bisa jadi kekasih, istri, ibu, sekaligus teman bagi suami. Jika wanita merampas otoritas pria sebagai pendampingnya, maka pria akan bersikap ‘korup’. Tak berterus terang tentang penghasilannya. Jangan sampai pria saya terbuka akan segalanya pada wanita lain. Saya pun harus bisa jadi tempat EH men-curhat-kan bad day-nya, sebelum ia frustasi ke rumah ‘minum’ ( bar, night club, kafe terselubung, dll ) dan bermaksiat ria. Menangguk dosa besar, tak sebanding dengan kegagalan yang ingin ia lupakan sejenak.

So far, I become a better person. Also my man.

Kekasih sejati adalah yang bisa menerima kekurangan pasangan dan terus berupaya membaikkan. Wanita baik untuk pria baik. Jika EH membaikkan saya, berarti ia pun potensial baik. Orang baik adalah orang sukses. Semoga kami sukses dalam hubungan kami. Amin.

Bagaimana di luar sana ? Seperti trend, banyak orang memasang foto/ menunjukkan adegan mesranya dengan wanita lain sebagai cara memutuskan cinta. Oh, tega ( dan kualat, ia akan diperlakukan sekeji itu oleh do’i barunya kelak jika tak tobat ). Padahal, tugas kekasih adalah membaikkan diri dan pasangannya. Bukan mencampakkan. Habis manis sepah dibuang. Mau enaknya doang.

Seks, katanya lebih enak dari es krim ( sehingga banyak orang bereksperimen dengan wanita penjaja seks di klub dan panti pijat remang2/terselubung.  Pesta ilusi dengan judi, miras, narkoba & seks bebas. Seorang primadona klub yang aduhai meratap : tak sanggup menahan ‘cinta’ pria yang menyimpannya lebih lama dari 9 bulan. Cinta sejati ditanamkan Allah pada hati pasangan yang diridhoi-Nya. Pria dan wanita yang melaksanakan perintah-Nya dan menghindari larangan-Nya. Pezina dan peselingkuh jangan harap. Kini, yakinkan diri : petunjuk Allah adalah nikmat terbesar ( bukan seks ). Islam artinya damai. Hati damai membuat kita leluasa melihat keindahan alam dan hati manusia. Bahagia.

Lalu, kenapa banyak orang tak paham ? Saya baca buku ‘Slilit Sang Kiai’- Emha Ainun Nadjib, dan menemukan jawabnya. Orang yang tak memperhatikan kerja batinnya, tak mengolahnya, akan terserimpung oleh keasingan yang kelak baru dimengertinya. Dinding-dinding tinggi dan rumah-rumah yang amat ‘terbungkus’ itu semacam tanda dari budaya pingitan. Anak dimanja akan merusak masa depannya. Otaknya tak terasah smart  oleh kesulitan. Empatinya tak terbentuk humanis oleh penderitaan wong cilik di luar pagar tinggi rumahnya. Game ( judi online ) memancangnya di depan komputer berjam-jam. Hari demi hari. Tahun demi tahun menuakannya dengan otak dan hati tumpul. Kalah bersaing dengan SDM asing yang deras menyerbu lahan-lahan ekonomi Indonesia. Hanya kekerasan yang diketahuinya setiap membentur masalah. Verbal dan fisik. Terlontar makian gob***, anj*** di  jalanan hanya gara-gara tak sengaja tersenggol atau terganggu. Primitif.

Miris, warnet game merebak di dekat sekolah dan kampus. Tempat seharusnya generasi penerus bangsa terbina integritas dan kredibiltasnya. ( Apa anda generasi yang tak punya tradisi berpikir atau merenung ? Generasi  yang tak punya komitmen apa pun terhadap persoalan-persoalan yang bersliweran di sekitar ? Generasi yang hanya mengerti keasyikan-keasyikan dangkalnya sendiri ? Generasi hura-hura ? Mengambang ? Miskin wawasan ? Atau anda sekedar sulit menyatakan diri ? Merasa terbiasa dibungkam, atau diabaikan/ disepelekan oleh orang dewasa di sekeliling anda ? )

Kita tak rela kemajuan bangsa Indonesia terhambat dan terkotori oleh beberapa bagian masyarakat yang belepotan maksiat dan bejat moral ini kan ? Berikan waktu dan hati kita pada yunior-yunior di dekat kita. Ajari live & love skill yang benar. Bagaimana cara berinteraksi yang santun dengan lawan jenis dan senior-nya. ( Sikap baik memudahkan orang memperoleh kekayaan hati dan materi karena ia mudah dibantu ). Bagaimana cara mencari nafkah yang halal. Bagaimana menahan dorongan seksual yang pas. Bagaimana cara melakukan sesuatu dengan benar. Beri teladan yang baik  karena anak/ adik  kita merekam tingkah laku kita. Jika orang tuanya gagal dalam parenting (  pengasuhan anak ), maka orang dewasa lain di dekatnya hendaknya turun tangan membantu. Keluarga adalah bagian terkecil dari negara. Keluarga harmonis, negara damai. Ibu kuat ( sepenuh hati mengurus suami dan anak ), negara pun kuat. Oh, betapa kita memimpikan keemasan Indonesia .. lagi. Semoga terwujud.

*****

( Kasus mahasiswa berinisial KS yang menjelekkan secara sarkastik Kota Bandung dan walikotanya di internet belakangan ini salah satu dari sekian ekses. Orang bodoh kebanyakan menonjolkan emosi. Logikanya tak terlatih untuk menyelesaikan masalah. Tak mampu melihat problem secara luas. Begitu diri tak nyaman, ia langsung meledak bak petasan. Memaki seenak udel. Lalu, banyak orang selevel dia berbondong ikut berkoar menyalahkan Kang Emil yang berniat menyeret si kasar ke meja hijau.

Melihat parahnya para pendatang bermulut kasar di kota ini, saya setuju jika K. Emil membuat jera si KS ( tatap muka atau pengadilan ) sepanjang tak mengganggu kinerjanya mengelola Bandung. First thing first. Semoga dengan demikian jadi pembelajaran bagi yang lain bahwa menjadi orang Bandung itu bicaranya santun ( yang ngoceh ‘anj*** gob*** itu orang kampungan yang sok kota ). Pandailah membawa diri di internet ( dunia maya ) dan dunia nyata, apalagi di kota ( lebih banyak aturannya daripada di desa ). Rambu dan orang melek hukum di mana-mana, siap menjerat anda jika tak bisa menjaga lisan, tulisan dan kelakuan. Jangan sampai Bandung dicap kasar dan primitif oleh wisatawan. Selama ini sikap santun, ramah dan kreatif  warga Bandung adalah aset utama pengundang rezeki barokah. Bisa pada kabur mereka, memilih destinasi lain, jika orang semacam KS  cs dibiarkan merebak.  Watch out, people.. )

Written by Savitri

29 September 2014 pada 11:35

Ditulis dalam Nasionalisme

Tagged with ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: