Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Bom Waktu Bernama UU MD3. Diktator Mayoritas di Parlemen ?

leave a comment »

Kisruh

Kisruh Senayan mencoreng muka kita. UU MD3 bikinan KMP biang keroknya sejak awal. Kok bisa, partai pemenang pemilu ( PDIP ) tak dibagi jatah pimpinan MPR, DPR, AKD ( 75 kursi ) ? Bagaimana mereka bisa mengawal mandat dari rakyat ? Ke mana azas proporsional, representatif, kearifan kolektif yang semestinya dijunjung tinggi di parlemen ? Mana sumpah wakil rakyat yang seharusnya dipegang teguh ? Pantas, KIH mengajukan mosi tak percaya pada pimpinan DPR. UU MD3 ini harus segera diuji di Mahkamah Konstitusi ( MK ) karena tak demokratis & tak konstitusional ( pengajuan pertama  terkendala masalah administrasi, UU-nya sendiri belum dibahas ). Sebelum bom waktu ini benar2 jadi bencana nasional. Heii.. Indonesia, negara demokrasi terbesar ke-3 di dunia, Bung. Mau di taruh ke mana muka kita ?

Merinding. Lebih 250.000 orang mengawal pelantikan Jokowi-JK sebagai pemimpin Indonesia 5 tahun ke depan. RI-1 dan RI-2 itu dikirab dengan kereta budaya ke Monas. Rakyat pendukung dijamu relawan Jokowi ( Slank cs ) dengan pesta rakyat dan makan gratis 75.000 porsi ( 20/10/2014 ). Melebihi ekspektasi.

People power di belakang Jokowi, kata sejumlah pengamat. Memang, jika dibanding 3.000 pendukung kubu 1 ( KMP ) di depan Mahkamah Konstitusi ( sidang sengketa hasil pilpres ). Di media cetak dan elektronik, kita bisa lihat rentetan kegaduhan yang ditimbulkan KMP : kampanye hitam & tabloid O yang mendiskreditkan Jokowi, aksi walk-out saat rekapitulasi suara di KPU, saksi2 tak kredibel yang merendahkan wibawa MK, UU MD3 ( tentang MPR, DPR, DPD & DPRD ) yang menyapu bersih 10 kursi pimpinan MPR, DPR dan 65  kursi pimpinan AKD ( alat kelengkapan dewan ), UU Pilkada ( tak langsung/ via DPRD  ) yang men-set back pencapaian demokrasi kita, kembali ke Orba, dst. Anda ragu KMP kekuatan penyeimbang ?

Sidang DPR kemudian menjadi ajang pertunjukan arogansi KMP. Hujan interupsi tak terelakkan. Meja dan gelas jumpalitan karena FH tak bijak memimpin sidang. Ketum PPP hasil muktamar Surabaya tak diakuinya, meski mencapai quorum dan disahkan Kemenkumham ( lagi2, rakyat tak dianggap di parlemen, cuma jadi lip service bagi agenda setting KMP. Aturan, yang bahkan mereka buat sendiri, mereka tabrak. Giliran yang menguntungkan mereka dikoarkan berkobar-kobar. Standar ganda  ). SDA ketum lama yang telah menjadi tersangka korupsi oleh KPK yang justru diakui FH/ KMP. Anda sudah membaca gelagat mereka ? ( kemana mereka akan membawa negeri ini )

11  LOYALIS  RAKYAT  SAMPAI KETEMU 5 TAHUN DEPAN

Sebelas pengurus partai G yang menyuarakan aspirasi konstituen-nya ( opsi pilkada langsung ) malah dipecat. Adegan otoriter itu jelas dipertontonkan di layar kaca, menikam hati rakyat ). Saya teringat peristiwa Mei 1998 di mana sejumlah pendemo disekap, dibakar hidup2 di sebuah ruko. PS tak merasa bersalah atas peristiwa sadis tsb ( tak juga minta maaf pada keluarga korban/ rakyat Indonesia ) dengan dalih kepentingan negara ( argumentasi saat debat pilpres ).

Apa kita berurusan dengan orang yang merasa lebih ‘tahu’ dari kita ( rakyat ) ? Koalisi yang tak pro-rakyat, kata mantan presiden H. Dengan logika yang hanya mereka yang tahu, KMP menolak keputusan KPU yang memenangkan kubu 2 yang juara di 24 dari 34 daerah pemilihan suara. Politik membabi buta, kata BM. Lebih jahat dari jaman Orba, kata pengamat lain. Di TvO, pembanting meja dan gelas itu disebut aksi liar kader PPP yang tak diakui FH ( tolong KPK, prioritaskan penyidikan kasus FH, 4 wakil ketua DPR lainnya, sebelum mereka keduluan membubarkan KPK. Beri stabilo merah ( ditangkap dalam setahun ) dan kuning ( ditangkap dalam 2 tahun ) jika memang tindak korupsi terindikasi pada para pemimpin AKD ( juga calon gubernur, walikota, bupati sebelum maju ke pilkada serentak tahun 2015 ). Kita sudah menangkap gejala anomali demokrasi sejak kehadiran KMP pada proses politik 2014 ini, kan ? ( tak perlu menunggu pilpres tak langsung sampai mereka gol-kan ).

Logika ala mereka, cuma mereka yang benar ( jadi ingat ISIS, hii.. ). Kok bisa ya, orang2  yang pragmatis itu mendominasi KMP lalu parlemen ? ( ke mana kader2 putihnya ). Nasib kader PPP pembanting meja itu seperti pendemo yang dibakar hidup2. FH merasa tak bersalah seperti juga PS ( anda mengamati  gaya pongah FH ketika bicara, merasa di atas pengamat/ nara sumber lainnya ). Baca gestur, bukan cuma kata2. Orang2 ini benar2 memihak rakyat, atau hipokrit ? Anda setuju kalau kesalahan anak buah adalah tanggung jawab komandannya ? Keliaran anggota sidang adalah tanggung jawab pemimpin sidang yang tak cakap/ bijak. Bahwa tugas negara melindungi rakyatnya ( bukan membunuhnya, apalagi dengan analisa tak cakap ). Kita diminta Allah untuk menyelamatkan manusia yang ada di tangan kita ( selama dia tak membunuh manusia lain ). Manusia2 lain di luar jangkauan kita, biar Allah yang urus. Mayat hangus pendemo itu hanya menuntut haknya sebagai warga negara Indonesia.

Tak proporsional. Itulah yang terjadi jika orang yang merasa di atas masyarakatnya diberi kendali ( dibiarkan mengambil paksa kendali ). Merasa cerdas ( istilah TY ),  tidak  naif ( istilah NA ) jika bisa merebut semua kursi pimpinan parlemen. Setahu saya, cerdas itu pintar karena kapasitas otak yang besar oleh faktor genetis. Pandai itu pintar karena rajin belajar. Bijak itu pintar karena hikmah pengalaman pribadi dan orang lain, sehingga kemaslahatan umat terakomodasi dalam pemikirannya. Pengalaman yang diberikan Allah pada manusia tertentu untuk menjalankan fungsi dalam skenario-Nya. Jelas, orang bijak mengalahkan orang cerdas yang baru mampu berpikir sektoral ( diri, keluarga, golongannya ). Saya mendapati, kebanyakan anak orang yang dilimpahi fasilitas/ kaya cenderung terbatas dan distortif dalam mencerna pengalaman yang dilaluinya.

CERDAS ATAU OTORITER ?

Nah, mirisnya, cerdas yang mereka klaim itu adalah memaksa dengan otoriter ( memecat kader yang tak loyal partai/ organisasi, bukan pro-rakyat ). Terang saja, 6 partai di KMP saat itu bisa menggolkan agenda jangka pendek mereka. Apa arti ‘kecerdasan’ macam itu ? ( asal menang meski mengangkangi kebenaran ). Apa gunanya buat kita ? ( kita terpaksa mengerahkan waktu, pikiran, tenaga, dana ekstra untuk mengembalikan tatanan demokrasi yang mereka jungkir balikkan ). Kesejahteraan rakyat ? Hak suara kita saja tak mereka hiraukan, kok. Kelaut saja.

Saya teringat 4 kendaraan militer besar kubu 1 yang memaksa menerobos pagar kawat berduri menuju Gedung MK. Apa sih maunya ? O, ternyata PS perlu unjuk kekuatan untuk merekatkan partai2 dalam KMP agar tak tercerai berai pasca kekalahannya. Adik PS berkoar dengan kasus bis TJ di media asing dan sesumbar akan menjatuhkan Jokowi dengan itu. ( 656 bus berkarat dari China itu ulah curang pejabat Dishub DKI Jakarta. Jokowi sudah membebastugaskan UP dan melantik MA sebagai penggantinya. Selanjutnya, pemesanan armada TJ akan banyak melalui E-Katalog, bukan lelang ).

Dengan tabiat dengki dan mindset serakah seperti ini mereka tak layak disebut oposisi, apalagi kekuatan penyeimbang. Mereka, hakikatnya tak pro-rakyat. Sikap dan keputusan mereka dalam proses politik di parlemen sampai hari ini menunjukkan hal itu. Mereka menghadapi kita tak ubahnya perang dengan musuh asing ( setahu saya, PS justru yang banyak berurusan dengan pihak asing, termasuk kala mengasingkan diri ke Y pasca kerusuhan 1998. TvO  di awal siarannya menayangkan penjajahan Palestina dari sisi Israel. Pantas, RM ( raja media zionis ) pemiliknya. Apa kita sedang dipecah belah oleh agenda asing ? Ah, dari dulu.. ). Apa kita membiarkan orang2 dangkal itu terus menghasilkan keputusan2  dan kegaduhan yang merugikan rakyat ? ( sengaja atau tidak sengaja, sadar atau tidak sadar karena keterbatasan pikir dan hati yang saya sebut tadi ). No way, man..

Kita wajib mengawal wakil2 kita di parlemen ( juga pemerintahan ). Dari pengalaman proses politik yang telah berlangsung, mereka baru mendengar kita jika dipaksa : Perppu SBY plus partai D gabung ke KMP asal DPR yang dikuasai KMP menerima Perppu Pilkada Langsung dengan 10 perbaikan, keliatan DPD yang memaksa KMP menempatkan kader2 putihnya di kursi pimpinan MPR ( Zulkifli Hasan, Hidayat Nur Wahid yang sudah dikenal publik ), keputusan MK yang sejalan dengan KPU tentang pemenang pilpres, KIH yang menunda memberi daftar nama anggotanya di AKD lalu mosi tak percaya dan membentuk AKD tandingan agar KMP mau proporsional dan musyawarah mufakat. Effort lebih dan ekstra waspada harus kita lakukan untuk menghadapi manuver kekuatan merusak seperti mereka. Kekuatan penyeimbang bisa kita andalkan ( karena pro-kebenaran ), meski kita tengah letih oleh deraan hidup di negeri ini. Kekuatan merusak ( merasa benar sendiri & keras kepala ) itu akan merusak lagi, jika kita lalai mengawasi. Mirip2 mengawasi anak yang baru belajar jalan ( tak tahu bahaya, salah atau benar ). Tak boleh meleng sedikit pun.

Ingat adegan presiden Jokowi menyalami rakyat di pagar Istana ? Belum pernah terjadi dalam sejarah kita, pemandangan menggetarkan seperti itu. Presiden ke-7 itu tetap sederhana, senyum, merakyat. Berusaha tak berjarak, tapi mengandalkan kinerja ( bukan power distance ). Ekspektasi begitu membahana pada pria yang semula tak berniat jadi walikota Solo, gubernur Jakarta dan presiden Indonesia. Takdir yang membawanya ke istana. Kita yang menaruhnya di sana dengan segala upaya dan perjuangan. Maka, tanggung jawab kita, bangsa Indonesia, mengawal pemerintahan Jokowi-JK dan program2  yang mereka janjikan untuk kesejahteraan rakyat.

Salam 3 jari, Persatuan Indonesia.

 

*****

NB : Kita bisa pengaruhi anggota keluarga ARB dan memboikot produk & layanan perusahaan2-nya, juga PS, jika berulah lagi memunggungi rakyat, semau gue memecat kader yang loyal pada rakyat, menempatkan diri di atas AD/ ART partai, seperti SDA dari PPP.

Salut buat si pemberani Romahurmuzy yang gigih membela aspirasi konstituennya ( memilih Jokowi ), sampai terpilih menjadi ketum PPP yang baru di Muktamar Surabaya, 2014. Nyali pemberani yang patut diacungi jempol.

Salut buat pengurus partai Nasdem dan Hanura yang memberi contoh melepaskan jabatan di partai demi fokus mengurus rakyat dalam jabatan barunya sebagai menteri Kabinet Kerja Jokowi-JK. Pengurus PDIP bisa segera menyusul meneladani.

Selamat buat Persib Bandung, menjuarai ISL 2014, setelah 19 tahun penantian. Hidup Persib !

Selamat buat Rismawanda ( pemain biola ) dari Bandung, menjuarai Indonesia Mencari Bakat 2014 di TransTV.  Dari pengamen jalanan menjelma superstar di panggung spektakuler. Semoga menginspirasi musisi jalanan lainnya di tanah air, agar terus  semangat meraih sukses. Selamat juga buat Rega Dauna ( pemain harmonika )  dan Eka- Dwi ( penari  ) yang telah mempesona Indonesia dengan talenta masing2. Tetap rendah hati, ya ..

Written by Savitri

30 Oktober 2014 pada 11:18

Ditulis dalam Nasionalisme

Tagged with , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: