Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Papa Minta Saham ? Makelar di Senayan, Mafia di Migas. Freeport, take it or leave it.

leave a comment »

SS

Sudirman Said ( Menteri ESDM ) mencuri perhatian publik. Perncatutan nama presiden & wapres oleh MRC ( gembong mafia migas ) dimakelari SN ( ketua DPR ) yang dilaporkannya ke MKD sungguh menggemparkan. Skandal besar yang melibatkan Freeport ( investor asing terbesar di Indonesia ). Untuk merekam, kita tak perlu izin. Untuk menyadap, penegak hukum ( kecuali KPK ) perlu izin pengadilan. Keterangan MS ( presdir PT.Freeport Indonesia ) dan pengakuan SN hadir di hotel RC ( 8 Juni 2015 ) adalah bukti yang cukup bagi MKD ( Mahkamah Kehormatan Dewan ) untuk menjatuhkan sanksi berat atas pelanggaran etik SN. Diberhentikan sebagai ketua & anggota DPR RI. Kita ngeri, marah, tak percaya pada wakil rakyat yang cuma ketawa ketiwi ketika di depan matanya, mafia migas jelas2 hendak menjarah kekayaan rakyat. SN bersikukuh tak bersalah. Kemana nurani dan rasa malunya ? ( foto : detik.com )

Move on. Rupanya tak sembarang orang bisa melakukan. Para heartbreaker dengan ‘sayapnya yang patah’ cenderung menghakimi dan menyiksa ( balas dendam ) pada wanita berikut yang mendekat. Paranoid, super sensitif, bias. Orang ambisius juga begitu. “Kau terlalu menginginkan posisi itu, sampai kau tak melihatnya,” tegur ayah angkat Karna ( serial Mahabharata ). Saya kuatir PS seperti Karna, yang karena obsesinya tak lagi jernih melihat mana orang baik yang harus dibantu, mana orang jahat yang harus dijauhi. Tak pelak, banyak orang dangkal dan pragmatis yang bergabung dan mempengaruhinya. Ketika kubu 2 dinyatakan KPU menang, banyak dari pendukung kubu 1 belum bisa move on lalu ber-hate speech di ruang privat dan publik. Orang dangkal berpikir orang lain seperti mereka. Jika si dangkal biasa curang, maka ia sontak menuduh orang lain curang jika kemenangan bukan di pihaknya.

Saya kerap didatangi orang2 berkualitas rendah yang bicara miring tentang presiden terpilih. Belum move-on rupanya, batin saya. DPR terbelah ( KMP vs KIH ) oleh orang2 belum move on. Barisan sakit hati ini ( setelah mengutak-atik aturan semau gue ) menyapu bersih semua kursi pimpinan, PDIP tak kebagian padahal juara pileg ( setelah SN mundur, mestinya kursi diberikan pada PDIP ). Parlemen, idealnya ( menurut Cak Nur/ Nurcholish Madjid ) terdiri dari 2 partai ( atau koalisi partai ) dengan perimbangan 50 : 50. Sama kuat. Tapi karena manuver orang2 belum move on, perimbangan timpang, lalu DPR dead lock berbulan-bulan. Nuansanya masih terasa sampai hari ini, ketika SN yang jelas bersalah dan mempermalukan dewan, masih mati-matian dibela FZ, FH dan sebagian anggota MKD. Bias, standar ganda. ( Apa mereka juga sedangkal SN & MRH ? Para pemalas suka bikin koloni dari jenis mereka sendiri, supaya kalau dikritik, banyak pembela, tak perlu repot2 memperbaiki diri. Mulut lebih cepat dari otak. Jika SN tak risih dengan aksi mafia, bisa jadi mereka tak risih juga. Makelar juga ? )

Ketika Mahfud MD ( mantan ketua MK ) keluar dari KMP ( dipicu hasil quick count internal PKS yang tak jelas ) dan sejumlah lembaga quick count abal2 yang dijadikan dasar TVO mendeklarasikan ‘kemenangan’ kubu PS-HR, saya yakin the real champion is kubu JW-JK. Media cetak Kompas, Tempo dan Pikiran Rakyat juga mengacu lembaga quick count kredibel langganan MetroTV ( stasiun TV pertama di Indonesia yang menayangkan hasil quick count untuk pemilu & tak pernah meleset ).

SI RAJIN VS SI MALAS. PERTARUNGAN ABADI ORANG BAIK LAWAN ORANG JAHAT.

Dalam keseharian kita, memang ada si rajin dan si malas. Si rajin tekun menyimak, belajar dan menganalisa dari sumber2 kredibel. Si malas mendengar apa dan siapa yang disukainya. Seselera atau mirip dengannya. Benar atau salah tidak penting baginya. Dia tak tahu pedoman benar dan indikatornya. Tak terdesak mencari tahu dan melaksanakan, selama si malas masih bisa hidup gampang atau jadi parasit bagi orang lain. Ngapain repot2 berubah ? Bisa dibayangkan betapa bertolak belakangnya output dari kepala si rajin dan si malas jika inputnya berbeda seperti itu. Clash.

( Si malas menuduh si rajin mengusirnya, jika si rajin menolak/ bosan diparasitinya. Padahal, cara membantu pemalas adalah dengan tidak membantunya, sampai ia terlempar ke jalanan dan sadar, bahwa untuk bertahan hidup hanya ada satu jalan, yaitu menjadi rajin & jujur. Pemalas seperti punya ‘kantong pengemis tak berdasar’ di punggungnya. Anda baru sadar setelah tertinggal banyak hal karena membantu orang yang tak pernah puas itu ).

Pemalas tak mampu membaca kebaikan orang lain ( karena si malas sangat jarang berbuat baik/ tak tahu betapa banyak waktu/ tenaga/ dana/ emosi tersedot ) , sehingga si malas tak bisa bersikap baik, apalagi membalas kebaikan orang. Ada 2 distorsi di kepalanya : kesalahan kecil ( semut ) di seberang lautan kelihatan, kejahatan besar ( gajah ) di pelupuk mata tak kelihatan. Kerja capek orang lain tak mampu dilihatnya ( dihargai ), kerja kecil dirinya dihargai berlipat-lipat ( sampai ia menepuk dada, merasa pahlawan & minta balasan materi yang banyak ). Sudut pandang distortif ini terjadi karena setan sangan suka dengan pemalas & membuatnya memandang baik semua perbuatan buruknya. Karena rasa malas, ia ogah-ogahan membaca buku berkualitas yang membedakan dosa kecil dengan dosa besar, bohong putih* dengan bohong hitam, halal dengan haram, perbuatan benar dengan perbuatan salah, baik dan buruk. Patokan si malas hanya satu : siapa yang menghalangi ( niat & tindakan tak bermoralnya ) akan disingkirkan. Setan banget, kan ?

Ngeri kan, kalau orang2 seperti SN, MRC, PS, ARB, NH & koloni pemalas itu yang menguasai pemerintahan. Sumber daya alam ( SDA ) kita bakal habis dijarah. Mari dukung presiden Joko Widodo- Jusuf Kalla yang lurus dan saklek ini sepenuh hati. Kita bantu mereka menyukseskan program2 pro-rakyat sampai akhir masa jabatan.

*( Jika ada wanita murahan datang ke rumah keluarga baik2 untuk bertemu pria yang ditaksirnya, maka sang ibu boleh menampik dengan mengatakan putranya tak ada di rumah. Itu bohong putih, untuk mencegah kerusakan yang lebih besar. “Ketetapan Pangeran, kemenangan Raja Rimba. Selama untuk tanah air & tak ada kepentingan pribadi/ golongan di dalamnya, maka lakukanlah.” ( serial Asoka ). Prosedur harus benar, hasilnya terserah nanti ( birokrat ). Hasil yang penting,terserah prosedurnya ( pengusaha ). Pejabat publik harus pintar memadukan kedua hal tsb, kata JK ).

SIDANG MKD MASUK ANGIN ? MUSIM HUJAN, NIH

Mari lihat Senayan. Sebagian hakim MKD yang kemarin melecehkan kewarasan publik mungkin tengah menepuk dada, pasca konco mereka ( SN ) bisa berkelit dari dua tuduhan pelanggaran etik. Tuduhan pertama : SN hadir di kampanye capres DT yg rasis dan Islamphobia. SN bilang, rakyat Indonesia ‘sangat suka’ DT. Lancar benar dia !

Setibanya di tanah air dan dikritik habis-habisan, SN ngeles : dia ‘dijebak’ ( tak bisa keluar ruangan, digiring ke DT yang sedang pidato, persis seperti SN ‘menjebak’ presiden untuk menandatangani sesuatu, tapi hati lurus RI-1 itu menolaknya ). Untuk ‘tepuk dadanya’, SN mengklaim karena nongolnya SN di layar kaca dunia ( yang mempermalukan mayoritas WNI ) maka banyak investor AS yang berniat menanamkan modalnya di Indonesia. ( Ini duit dolar AS, seperti juga Euro, yang tak dijamin emas yang cukup di bank2 zionis, alias uang seharga kertasnya saja. Sementara kita harus menukarnya dengan SDA jatah anak cucu kita ). Apa SN tak tahu, Kemenlu sampai perlu mengerahkan broker dari Singapura untuk menjaring investasi sebelum presiden berkunjung ke AS ? Panglima TNI saja sampai perlu digeledah sebelum bertemu dengan para petinggi AS. Para pengusaha Indonesia sangat dipersulit untuk bertemu, apalagi membangun bisnisnya di AS. Terlihat lebai & gak fair-nya AS, kan ? Melihat cara DT ‘menjebak’, SN ‘menjebak’ dan pengusaha HT ( kini bikin partai sendiri ) mensponsori lawatan tsb ( daftar anggota rombongan DPR tak dicek ), kita tahu kredibilitas dan integritas mereka di level yang sama ( rendah ). Apa kita bisa tenang jika urusan negara dipegang orang2 berkualitas rendah ?

Sidang pertama MKD untuk SN meloloskannya dengan sanksi ringan : teguran. Jelas tak kapok. SN lalu berulah lagi kali ini dengan MRH yang banyak merugikan negara dengan sepak terjangnya di Petral dsb. Sebelum disidang, MRH sudah cabut duluan ke luar negeri tanpa pesan. Bagaimana bisa pimpinan dewan yang terhormat itu berteman dengan orang yang masih demen pesawat pribadi, main golf dan happy2 ? Orang yang belum selesai dengan dirinya. Jika ingin tahu ( watak ) seseorang, lihat siapa teman2nya.

Bertemu dengan orang yang salah, ditempat dan waktu yang salah, untuk tujuan salah adalah kesalahan SN pada 8 Juni 2015. Pelanggaran etik berat yang mesti dihukum berat. Anda bayangkan, wakil rakyat seperti itu bukannya membela kepentingan rakyat, tapi malah membela mafia yang menguras kekayaan negara. Padahal, selama ini kita yang menggaji dia dan teman2 MKD-nya. Jadi, untuk apa orang2 yang mengkhianati kepercayaan rakyat itu dipertahankan ? SN gak ngeh bahwa sidang yang dihadiri 7 Desember 2015 itu sidang etik ( bukan hukum ). Ia mengulangi masalah legal standing pelapor ( SS ) dan keabsahan bukti rekaman 127 menit seperti didalihkan konco2-nya di sidang awal. Sangat membosankan.

SN sudah mengakui kehadirannya di pertemuan tsb. MS pun mengamini. Itu sudah cukup sebagai bukti kesalahannya. Keterangan saksi MS adalah bukti yang lebih kuat dari rekaman percakapan yang dipermasalahkan. Perpanjangan kontrak Freeport adalah urusan eksekutif ( bukan legislatif ). Apalagi mengiyakan ( mendiamkan ) MRC minta saham Freeport 20 % ( fitnah 11 % untuk presiden, fitnah 9 % untuk wapres ) dan 49 % saham PLTA. Bahkan sesumbar, presiden bisa diganti kalau kontrak ( izin usaha ) Freeport di Papua tak diperpanjang. Terdengar nuansa tamak, overpede plus makar-nya, kan ?

TAK BERSALAH, KOK SALAH ? PERBUATAN LEBIH KUAT DARI PERKATAAN.

SN merasa tak bersalah ? Tapi kok seluruh tindakannya menunjukkan bahwa dia bersalah. Kalau benar, tentu dia tak protes kalau percakapannya di RC dengan MRC direkam MS. Apa yang perlu disembunyikan dan ditutupi jika percakapan tsb tak membahayakan diri dan negara. Kenapa sidang SN mesti ditutup kalau penjelasannya tak membahayakan posisi SN dan negara ? Kenapa SN melaporkan SN ke polisi jika yang mencemarkan nama baik sebenarnya MRH dan SN sendiri karena dia yang membawa mafia migas itu mencatut nama presiden & wapres untuk dapat saham ? ( Rasa takut yang tidak pada tempatnya. Pasti SN banyak dosanya atau pemalas. Ingin dapat banyak dengan kerja sedikit/ omdo ). So, percakapan SN & MRH ilegal : membahayakan diri dan negara, menabrak norma etik ( & hukum ) sehingga SN perlu sembunyi2 & MRH kabur, publik tak boleh tahu yang sebenarnya ( padahal SN pejabat publik ). Apa kita akan membiarkan orang dengan akal bulus seperti ini bercokol di lembaga dewan yang terhormat ? SN tak menghormati kita ( rakyat Indonesia ). SDA kita nyaris dijarah oleh mafia migas di depan matanya, SN cuma ketawa ketiwi ( tak mencegah ). We don’t trust you !

Mestinya 7 hakim MKD yang menolak sidang tertutup SN bisa walk-out sebagai protes atas perlakuan diskriminatif ini ( SS disidang terbuka sekitar 8 jam seperti pesakitan yang bersalah, padahal saksi pelapor, MS sebagai saksi disidang terbuka sekitar 11 jam, SN sebagai terlapor disidang tertutup sekitar 5 jam ). Publik ternganga makin gregetan. Setelah dicolong ( dari kata ‘kecolongan’ ) triliunan rupiah untuk pembangunan gedung DPR baru pada APBN-P kemarin, masih dikibulin lagi di sidang2 gak lucu ini. Jangan pilih mereka lagi di pileg 2019, ya ( hakim2 pro-SN dari Golkar, Gerinda, PPP, PKS ).

Setelah ngeles di MKD, SN balik melaporkan SS ke Bareskrim Polri atas tuduhan pencemaran nama baik. Gimana rakyat bisa membenahi wakilnya di Senayan jika maksud baik berbuah tuntutan hukum ? Pengamat MN menyebut SS bagian dari mafia ( yang pecah kongsi ). Menko Maritim menyindir SS bersuara untuk orang asing. MS memberitahu MKD bahwa SS pernah menjadi suplier Freeport. Kenapa SS tak mengaudit cash flow Pertamina tahun 2008 waktu SS keluar dari sana ? Kenapa SS tak blusukan ke Papua mengecek laporan anak buahnya apa betul limbah Freeport sudah diolah dengan baik ? ( limbah dan smelter masih menjadi kendala pertimbangan perpanjangan izin 2-10 tahun saat negosiasi perpanjangan Freeport tahun 2019. Kontrak Freeport habis tahun 2021 ).

PAPUA DI SURIAH-KAN ? JANGAN PENGECUT.

Ayo, warga Timika, Papua, bersuaralah sejujurnya demi keberlanjutan ekosistem dan kesejahteraan kalian ( juga adik2 dan keturunan kalian ). Kalian ingin perusahaan emas terbesar di dunia ini masih bercokol di bumi kalian ? Memberi konsesi hanya 1 % selama 40 tahun. 9,36 % tahun 2015. Janji sampai 30 % ( tahun ? ). Saya dengar, jika terpilih jadi presiden AS, DT akan melarang muslim masuk AS. Apa warga AS plus perusahaan2-nya ( termasuk Freeport ) perlu juga kita larang masuk Indonesia ? ( negara muslim terbesar di dunia ).

SS dikritik karena suratnya mensinyalkan perpanjangan Freeport ( izin operasi & ekspor konsentrat ). Freeport akan meng’abitrase-internasionalkan’ pemerintah Indonesia jika dilarang mengekspor hasil produksinya ( 1 Juli 2015 ). Menko Maritim cenderung tak memperpanjang kontrak Freeport. Kita miskin karena kita kaya, kata Rizal Ramli. Hutan, laut, mineral, tambang, migas dari Sabang sampai Merauke menggiurkan orang asing datang mengeruk kekayaan kita, dengan iming2 ( tak terlaksana dengan baik ) atau intimidasi yang mengerutkan jiwa inlander sebagian kita. Papua akan di-Suriah-kan kalau AS ditendang keluar Bumi Cendrawasih itu, kata kakak sulungku.

Saya katakan, kalau kita terus miskin karena perusahaan2 asing makin lama & serakah menyedot kekayaan kita, maka selamanya kita akan terjajah secara ekonomi oleh AS dan berikutnya, China. Saat Perang Dunia ke-3, kita tak punya kekuatan melawan, tak punya kebanggaan dan armada perang yang tangguh, sehingga kita kembali terpuruk sebagai inlander sungguhan. Tak punya negara. Tak punya rumah. Apa ‘mati di lumbung padi’ belum cukup bagimu ?
Mana dadamu ? Mana harga diri dan kehormatanmu sebagai orang Indonesia ? Setidaknya, setelah berjuang mati-matian kita masih bisa mati terhormat. Anak cucu tak menyalahkan kita sebagai pengecut. ( Banyak orang takut tidak pada tempatnya. Takut semestinya hanya pada Allah. Takut kalau kemungkaran terjadi di depan kita, tapi kita tak maksimal menghentikannya. Allah sedang menguji keimanan kita dengan orang/ perusahaan/ negara yang menakutkan yang Beliau hadirkan ke hadapan kita.

SANGGUPKAH WAPRES JK HADAPI AS SEPERTI BUNG HATTA ?

Lalu, apa kata founding father kita (Dr. Muhammad Hatta/ wapres pertama RI ) tentang pasal 33 UUD 1945 ? Pemerintah, di atas, membangun yang besar2 ( tenaga listrik, persediaan air minum, menggali saluran pengairan, membuat jalan perhubungan guna lancarnya ekonomi, menyelenggarakan berbagai macam produksi yang menguasai hajat hidup orang banyak ). Public utilities diusahakan pemerintah. Pimpinan perusahaan diberikan pada tenaga yang cakap. Jika belum ada di antara bangsa sendiri, boleh menyewa manajemen asing dengan syarat : selama memimpin perusahaan negara, ia mendidik gantinya dari orang Indonesia sendiri. Koperasi membangun dari bawah, mulai yang kecil yang erat kaitannya dengan keperluan hidup rakyat sehari-hari ( sembako, dll ). Lalu, berangsur-angsur meningkat ke atas.

Jika di atas, masih luas bidang ekonominya, maka bisa dikerjakan pengusaha swasta bangsa kita sendiri atau golongan swasta Indonesia yang bekerja sama dengan orang swasta bangsa asing. Di mana perlu, orang asing dan kapital asing baru diikutsertakan. Yang penting, inisiatif swasta itu bekerja di bawah pengawasan pemerintah, dan dalam bidang dan syarat yang ditentukan pemerintah. Produksi yang besar2 sedapat mungkin dilaksanakan pemerintah. Jika kurang dana, baru dibantu kapital pinjaman dari luar negeri. Jika siasat ini tak berhasil, baru pengusaha asing boleh menanamkan modalnya di Indonesia dengan syarat yang ditentukan pemerintah. Pemodal asing ( investor ) harus membuka kesempatan bekerja bagi pekerja Indonesia dan menggunakan konten lokal sebanyak mungkin. Kekayaan alam kita ( hutan, kesuburan tanah, dll ) harus tetap terpelihara. Tiap batang pohon yang ditebang minimal diganti dengan menanam 3 pohon baru. Bagian pekerja dan kapital nasional makin lama harus makin besar. Bantuan tenaga dan kapital asing sampai tingkat tertentu harus makin kecil. Rente dan angsuran dari kapital asing harus dibayar sepenuhnya dari hasil proyek yang dibangun dengan kapital pinjaman itu. Jangan jadi beban pajak generasi penerus. ( “Bung Hatta Menjawab”-wawancara Dr.Muhammad Hatta dengan Dr.Z.Yasni. Jakarta, 2002 )

Apa kita tahu, sebetulnya, apa saja dan berapa banyak SDA kita yang dikeruk Freeport dan perusahaan2 asing lainnya di Indonesia selama ini ? Apa mereka sudah merawat hutan, menyuburkan tanah dan menjaga kelestarian lingkungan kita ? Apa principal Freeport bisa meneladani Mc Donald Concern, yang meski bertentangan dengan kebiasaan di AS, ia tetap mau mendengar wapres Muh.Hatta dan melaksanakan sarannya : memimpin pabrik semen Gresik ( setelah membangun pabrik modern tsb ). Orang Indonesia yang akan memimpin pabrik itu selanjutnya ikut ke AS untuk mengetahui seluk beluk pabrik sejak dirancang sampai jadi. Ketika Concern memimpin, beberapa orang Indonesia sudah menempati posisi penting ( kabag mesin, presdir, kabag personalia, dsb ). Setelah 2 tahun memimpin, ahli2 AS kembali ke negerinya. Pabrik berjalan sebagaimana mestinya. Pabrik berjalan lancar sampai sekarang meski dipimpin ahli2 Indonesia. 100 %. Mampukah wapres Jusuf Kalla seperti Muhammad Hatta, mendudukkan principal Freeport melaksanakan kesepakatan fair untuk Indonesia ?

AMANAT PASAL 33 UUD 1945, SYARAT MEMPERPANJANG.

5-10 tahun waktu yang diperlukan Freeport untuk mengumpulkan dana underground mining di Papua, kata MS. ( Belum ada ahli/ perusahaan Indonesia yang mampu menggali tambang bawah tanah sebesar itu di Timika ? ) Lalu, tunggu apa lagi ? Memimpinlah dengan bijak. Ajari putra Papua menempati posisi penting dan mengolah tambang sebagaimana mestinya, sehingga dalam 2 tahun tambang emas, perak & tembaga tsb bisa sepenuhnya dikelola dengan baik dan lancar oleh ahli2 Indonesia, terutama putra Papua. ( Ada sekitar 30.000 pekerja di sana sekarang ).

Tunjukkan keseriusan niat memperpanjang izin dengan memenuhi syarat2 yang sudah ditetapkan pemerintah Indonesia ( termasuk perintah UUD 1945 pasal 33 seperti yang dimaksudkan bapak bangsa kita ). Semoga negosiasi lancar. Jika sebaliknya, Freeport tak memenuhi syarat2 tsb sampai 2019, maka lupakan perpanjangan izin. Tahun 2021, kontrak Freeport habis, kita cari perusahaan lain yang lebih mampu dan menepati komitmen.

Kejaksaan Agung, silakan memproses ‘permufakatan jahat’ SN dan MRC sampai mereka jera dan makelar2 lain tak berani merugikan negara dan mempermainkan rakyat lagi. Polri tak perlu melanjutkan penyelidikan, jika yang mencemarkan nama baiknya bukan SS, tapi justru MRC yang mencatut nama presiden & wapres untuk dapat saham Freeport ( sampai menjerat SN yang menfasilitasi pertemuan MRC dengan MS ). Dan SS … saya ingin ia betul2 seperti yang ditampilkan ( gagah berani menghajar mafia migas & memperbaiki sistem ). Kita mungkin perlu waktu untuk melihat konsistensi sikap mulia Sudirman Said, mengamankan kekayaan migas kita demi Indonesia adil makmur.

MRC yang kabur ke luar negeri harus dijemput paksa dan dihadapkan ke Kejaksaan Agung, Polri dan MKD untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatan liciknya dalam kasus ‘papa minta saham’ juga skandal2 migasnya yang lain.

PATRIOT DI PELABUHAN DAN POROS MARITIM

RJL seperti bicara pada saya tentang fasilitas pendanaan dari Singapura untuk memperbesar kapasitas pelabuhan kita jika kesepakatan dengan perusahaan asing itu diteruskan. Saya ingat setelah Indosat dijual ke perusahaan telekomunikasi Singapura, terjadi penyadapan pada kepala negara kita dan orang2 penting di sekelilingnya. Rupanya, diam2 terjadi peretasan atas sistem telekomunikasi kita oleh intel asing memanfaatkan jaringan yang dimiliki Singapura. Investasi asing yang bertubi-tubi masuk Indonesia, iming2-nya kalau tidak ‘pepesan kosong’ ( omong doang tanpa realisasi yang benar ), ya ada agenda strategis di belakangnya yang merugikan kita. Kasus pengadaan mobil crane yang ternyata tak dibutuhkan di pelabuhan Tanjung Priok adalah sinyal tak komprehensif-nya pemikiran dan antisipasi RJL dalam membenahi carut marut dwelling time di sana.

Saya cenderung, pelabuhan kita urus sendiri dengan ahli dan modal dalam negeri. Indonesia adalah negara maritim. 2/3 wilayah kita adalah lautan. Maritim akan jadi backbone kita kembali. Mestinya orang2 yang bela negaranya tinggi ( nasionalis, patriot, negarawan ), artinya putra Indonesia sendiri, yang terlibat di sini. Bukan orang asing. Lebih 400 tahun kita pernah jaya di maritim. Kita bangsa pelaut, kan ? We can do it.

PUASA DI PILKADA. MATANG DI 2025.

Pilkada Serentak 9 Desember 2015 sudah terlaksana. Sejumlah pengamat mengatakan, pilkada tsb seperti memilih yang terbaik dari yang terburuk. Ada tersangka dan mantan napi korupsi menjadi kandidat pemimpin daerah. Apa belum kapok aset daerah dijarah ? Mendiang Nurcholish Madjid pernah bilang, demokrasi kita baru matang tahun 2025 ( siklus 20 tahunan, sejak 1908, perubahan mendasar yang digerakkan kaum muda ). Selama masa ‘puasa’ ini kita harus sabar meniti proses demokrasi ( kekuasaan rakyat ) yang paling cocok dengan kultur kita. Jangan sedih. Ada Tri Rismaharini, salah satu walikota terbaik di dunia, kembali terpilih sebagai walikota Surabaya. Seorang negarawan yang memikirkan warga Surabaya tidak untuk satu tahun ( ala birokrat ), 5 tahun ( ala politisi ), tapi satu generasi ( 20 tahun ), mungkin lebih. Selamat, ya. Jawa Barat juga dipuji sebagai provinsi paling aman selama proses pilkada kali ini. Wah, … saya bangga jadi warga Jabar !

Selamat merayakan pergantian tahun dengan orang terkasih atau keluarga anda tercinta. Happy New Year 2016 !!

Written by Savitri

14 Desember 2015 pada 14:12

Ditulis dalam Nasionalisme

Tagged with , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: