Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

BERANDA

leave a comment »

 
 
 

Selalu terjadi kehebohan saat penggusuran tempat usaha atau pembongkaran hunian, kediaman manusia. Mengusik rasa kemanusiaan kita. Para penghuni yang tak kuat secara ekonomi dan sosial dipaksa pindah ke luar kawasan, jauh dari lokasi semula, bahkan sampai luar kota dengan seluruh adegan dramanya. Mereka makin tersisih dari hirup pikuk kota dan kemilau peradabannya. Seperti sering kita temukan kasusnya pada rumah tak ber-IMB, kios di lahan tak terurus, bedeng liar di tepi jalan, gubuk di bantaran sungai atau rel kereta api juga bangunan kuno…lanjut

”Ayah para dewa yang menciptakan umat manusia, yang mencipta hewan… dan semua tanaman … Tuan dari sinar matahari yang memberi cahaya….”, bunyi bilah Amarna. Raja cilik, wanita tercantik, pembangkang tradisi, pendiri ibukota baru, lenyap misterius, menyertai orang paling dipenasari sejarawan kuno. Pembuat bilah itu, Akhenaten, hidup 3379 tahun yang lalu… lanjut

“Love of an idea, is the love of God”, terukir manis di nisannya di Wisconsin. Betapa dalam cinta Frank kepada Tuhan sehingga perlu berpesan demikian. Tuhankah yang selama ini ia tuju dalam seluruh pencarian, adikarya dan dedikasinya di dunia arsitektur ? Mestinya kita mengiyakan, karena apapun yang kita lakukan di dunia akan berpulang kepada-Nya jua. Di bidang arsitektur, Wright sudah memberi teladan.lanjut

Anda tahu Sydney Opera House ? Cangkang indah berbalur putih, yang dikenal dunia sebagai ikon negeri Australia seperti halnya Borobudur untuk Indonesia. Saking indahnya sampai seorang wanita yang siap terjun bunuh diri dari Sydney Harbour Bridge, terkesima pemandangan berkilau Opera House di bawahnya dan mempertimbangkan kembali hidupnya. Siapa penyelamatnya waktu itu ? Tak lain Jørn Utzon yang menerima Pritzker Prize for Architecture tahun 2003 – nobel-nya dunia arsitektur – karena karya masterpiece-nya ini…lanjut

Sebuah prasasti menyapa pengunjung,”Hei, kalian yang melihat monumenku kelak dan komentar,’Aku tak tahu kenapa ia membuat ini’. Kulakukan ini sebagai hadiah untuk ayahku, Amun, menghiasi dengan keindahan.” Tulisan hieroglif ini tertera pada granit pink obelisk seberat 320 ton yang menjulang 29, 6 meter, tertinggi kedua di dunia setelah obelisk Roma. Terlihat sejauh 80 km, sampai Aswan, ratusan mil selatan Karnak. Dibuat oleh Hatshepsut, firaun perempuan yang paling berhasil dan paling lama memerintah di Mesir, untuk dewa Amun… lanjut

Semua mengangguk jika ditanya piramid, simbol negerinya Firaun, Mesir. Anda heran jika dibilang piramid juga landmark-nya kota Paris ? Nyatanya, di pusat mode dunia itu bisa anda temui piramid unik yang ramai dikunjungi orang tiap hari. Saking ngetopnya, piramid ini bahkan menjadi seting novel dan film laris ‘The Da Vinci Code’, seperti menyaingi menara Eifel, ikonnya negeri Perancis, yang sering jadi latar kisah film lokal maupun internasional. Yang punya ide brilyan menaruh bangunan kontroversial di tengah halaman istana Louvre yang bergaya klasik Renaissance jaman Napoleon ini Ieoh Ming Peilanjut

  • · KONSERVASI/ Conservation

Mungkin sebagian kita bertanya, adakah tugu memorial bagi korban pengeboman Hirosima dan Nagasaki ? Di Bali, kita punya tugu peringatan korban bom Bali. Di New York, ada Ground Zero bagi korban tragedi WTC. Di Jepang, ternyata sudah lebih dulu ada monumen semacam itu, yaitu Hiroshima Peace Center yang dibangun untuk memperingati tragedi memilukan di negeri matahari terbit usai Perang Dunia II. Perancangnya Kenzo Tange. Bangunan itu karya pertamanya… lanjut

Tags : Fallingwater House, Frank Lloyd Wright, Sydney Opera House, Jorn Utzon, Kompleks Olimpiade Tokyo, Kenzo Tange, Piramida Kaca Louvre, Ieoh Ming Pei, Welwyn Garden City, Ebenezer Howard, Masjid Roma, Situs Amarna, Imhotep IV, Akhenaten, Kuil Karnak, Hatshepshut, Braga

Fallingwater House by Frank Lloyd Wright

Fallingwater House, karya Frank Lloyd Wright

Sidney Opera House, karya Jorn Utzon

Sidney Opera House, karya Jorn Utzon

Kompleks Olimpiade Tokyo, karya Kenzo Tange

Kompleks Olimpiade Tokyo, karya Kenzo Tange

Piramida kaca Louvre, karya Ieoh Ming Pei.

Piramida kaca Louvre, karya Ieoh Ming Pei.

Kemegahan Hypostyle Hall, Karnak yang dibangun masa Thutmosis III ( 1479-1425 SM ).

Kemegahan Hypostyle Hall, Karnak yang sudah ada masa fir’aun Thutmosis I berkuasa ( 1504 – 1492 SM ).

Written by Savitri

18 Maret 2009 pada 13:51

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: