Madani & Manusiawi

Great People, Bandung, West Java, Indonesia.

Archive for the ‘Demokrasi’ Category

Medang-Sailendra, Pembangun Borobudur-Prambanan di Jawa Tengah. Solusi buat Sunda Wiwitan penggelar Seren Taun vs Massa Intoleran. Koruptor Buron DjTj Tertangkap, Jerat Semua Pelaku + Dalang dengan UU Tipikor, TPPU Juga.

leave a comment »

Medang. Tanaman apa itu ? Mataram Kuno. Pembangun Borobudur ? Isyana ? Di posting ini bukan pianis-vokalis cantik. Airlangga ? Juga bukan menko perekonomian RI kabinet Indonesia Maju. Savitri ( artinya : berani membela kebenaran ) pun nama India ( padahal lahir di Jateng, ayah Jatim, ibu Jabar ). Kisah Mahabharata, Ramayana sudah jadi inspirasi raja-raja zaman old mengkiaskan pencapaian dirinya. Mpu Sindok ? Who are we ?

Uraian di bawah ini semoga lebih mendekatkan kita pada jati diri leluhur adidaya bangsa Indonesia. Wisdom harmoni beragama masa lalu bisa untuk menyelesaikan masalah hari ini ( pembelahan massa karena SARA, perampasan tanah adat Sunda Wiwitan / Leweung Leutik oleh massa intoleran pengidap aliran impor yang dituruti ( keputusan pemkab Kuningan yang kurang bijak ) terhadap warga penggelar acara budaya Seren Taun yang perlu mempertahankan agama asli lokal / aliran kepercayaan yang dilindungi konstitusi RI ).

Sejak jaman Dapunta Hyang, pendiri wangsa Sailendra yang jaya di Sriwijaya ( Sumatera, Nusantara, Asia Tenggara sampai Madagaskar ) dan Medang ( Jawa ), agama lokal seperti Sunda Wiwitan tak pernah sebesar Islam, Nasrani, Hindu, Budha yang mengglobal, karena bukan agama dakwah. Mereka berkutat di internal keluarga dan kerabat saja. Kontribusi mereka pada negeri ini untuk melestarikan budaya asli Indonesia yang tak melanggar kesepakatan kita / Pancasila, menjaga hutan dan tanah tetap hijau dan merdu dengan kicauan satwa di dalamnya. Juga candi, prasasti, artefak peninggalan leluhur yang mengingatkan kita dan generasi penerus ( tentang siapa kita ) yang tersimpan di situs aslinya. Mereka tak bisa melakukan penjagaan sejarah penting ini jika terus diganggu, dimariginalkan, dibuat mati kelaparan oleh para pelanggar harmoni dan konstistusi.

Peninggalan leluhur bangsa Indonesia di hutan mistis nan eksotis di Jawa Timur. Siapa yang jaga kelestariannya kalau bukan masyarakat adat setempat ?

Tahun 825 M ( 1.195 tahun lalu ), Medang-Sailendra mampu membangun candi Budha terbesar di dunia sampai hari ini ( you know what, kita tak bisa sebesar / melebihi kehebatan leluhur jika terus gontok-gontokan meributkan hal tak substantif. Malu, ah ). Yuk, kenali diri / leluhur Indonesia dulu untuk memantapkan langkah ke depan ( sekalian road to cergam ). Minimal gak ketipu investasi bodong raja-raja gadungan zaman now ( karena sudah punya kamus kerajaan di kepala ). Kita mulai saja ..

DAPUNTA HYANG, FOUNDER WANGSA SAILENDRA

Dapunta Śailēndra ( bahasa Sansekerta : Saila + Indra = Raja Gunung, dieja Sailendra, Syailendra, Selendra atau Slendro ) adalah leluhur wangsa / dinasti / raja-raja Sailendra. Namanya disebut dalam prasasti Sojomerto ( abad 7 M ) beraksara Kawi, berbahasa Melayu Kuno, yang diterbitkan penguasa Jawa ( Mataram Kuno / Hindu-Budha ) dan Sumatera ( Sriwijaya ) itu.

CATATAN LELUHUR KITA DI PRASASTI

Nama Medang muncul dalam prasasti Anjuk Ladang, prasasti Sanggurah, prasasti Paradah dan beberapa prasasti lain yang ditemukan di Jawa Timur sehingga para sejarawan cenderung mengidentifikasi periode Jawa Timur ( tahun 929-1016 M ) dari kedatuan ini sebagai Medang, untuk membedakannya dengan periode Jawa Tengah ( tahun 732-929 M ). Medang di Jateng = Mataram, dilanjutkan Medang di Jatim = Kahuripan / Daha / Panjalu / Kediri. Mataram, nama wilayah administratif setingkat provinsi / daerah khusus bagi kedatuan Medang ( nama tumbuhan lokal berbunga dari genus Phoebe ).

Empu Sindok founder Wangsa Isyana memindahkan pusat kedatuan Medang dari Jawa Tengah ke Jawa Timur tanpa memutus hubungan dengan leluhur terdahulu yang ia sebut Bhūmi Mātaram ( di prasasti Anjuk Ladang dan prasasti Paradah ), karena letusan parah Gunung Merapi masa pemerintahan Dyah Wawa dari Bhumi Mataram ( tahun 924-929 ) yang menghancurkan ibukota Medang di Mataram ( Pralaya Mataram / bencana Mataram ). Di Jawa Timur ibu kota baru Medang berada di Tamwlang, lalu pindah ke Watugaluh, dan terakhir ke Wwatan pada masa Dharmawangsa Teguh ( leluhur bangsa Indonesia sering pindah ibukota ya ).

Nama “Mataram” kemudian muncul lagi pada abad ke-14 sebagai salah satu provinsi Majapahit dengan penguasa bernama Wikramawardhana bergelar Bhre Mataram. Pada abad ke-16 muncul Kesultanan Mataram di daerah Bhumi Mataram ( sekitar Yogyakarta ) sebagai Mataram Kuno, untuk membedakannya dengan Mataram Islam.

Nama Mataram ini tak sama dengan kota Mataram di pulau Lombok / ibukota provinsi Nusa Tenggara Barat. Sebelum bernama kota Mataram, di daerah NTB ini pernah berdiri kerajaan Cakranegara yang ditaklukan Kerajaan Karangasem dari Bali ( abad ke-19 ). Kota Mataram-NTB dinamai setelah daerah bersejarah Bhumi Mataram di Jawa, karena itu kebiasaan orang Bali memberi nama pemukiman mereka setelah peninggalan Majapahit.

Prasasti Canggal ( tahun 732 ) yang disimpan di Museum Nasional Indonesia dan berisi
catatan awal kedatuan Medang ditemukan dalam kompleks Candi Gunung Wukir di dusun Canggal, barat daya kabupaten Magelang. Prasasti ini ditulis dalam bahasa Sanskerta, menggunakan aksara Pallawa, menceritakan : pendirian Siwalingga ( lambang Siwa ) di bukit daerah Kuñjarakuñjadeça ( Kunjarakunja ), yang terletak di pulau bernama Yawadwipa ( Jawa ), yang diberkahi banyak beras dan emas. Pembentukan lingga atas perintah Sanjaya. Prasasti ini berkisah : di Yawadwipa ( pulau Jawa ) dahulu diperintah raja Sanna, yang bijaksana, adil dalam tindakannya, perwira dalam peperangan, bermurah hati pada rakyatnya. Setelah mangkatnya Sanna, negara berkabung, jatuh dalam perpecahan. Pengganti raja Sanna yaitu putra saudara perempuannya, Sannaha bernama Sanjaya. Dia menaklukkan daerah-daerah di sekitar kerajaannya, dan pemerintahannya yang bijak memberkati tanahnya dengan kedamaian dan kemakmuran bagi semua rakyatnya.

Pada prasasti Taji dan prasasti Timbangan Wungkal ditemukan istilah Sanjayawarsa ( Kalender Sanjaya ), disebutkan bahwa tahun 1 Sanjaya sama dengan tahun 717 Masehi ( tahun lahir Sanjaya atau Medang ? ). Menurut prasasti Canggal, Sanjaya mendirikan kedatuan baru di tengah pulau Jawa bagian selatan. Namun itu rupanya kelanjutan pemerintahan sebelumnya / raja Sanna. Kisah Sanna, Sannaha dan Sanjaya juga dijelaskan dalam Carita Parahyangan, naskah abad ke-16 yang punya. kesamaan tokoh dengan prasasti Canggal, tapi diromantisir.

Replika temuan Wonoboyo ( artefak emas dan perak, dipamerkan di Museum Prambanan, yang asli disimpan di Museum Nasional Indonesia ).

Periode pemerintahan Rakai Panangkaran ke Dyah Balitung ( antara tahun 760-910 ) selama 150 tahun adalah puncak kejayaan dari peradaban Jawa kuno. Sejumlah candi dan monumen megah didirikan dari dataran Kedu sampai Kewu : candi Sewu, Borobudur dan Prambanan. Candi pertama era Medang adalah candi Gunung Wukir menurut prasasti Canggal, masa Sanjaya ( tahun 732 M / 654 Saka ) yang bernama asli candi Kunjarakunja.

**

TEORI INDIA

Nilakanta Sastri dan Moens menganggap keluarga Śailendra berasal dari India yang menetap di Palembang sebelum kedatangan Dapunta Hyang. Pada tahun 683 Masehi, keluarga ini melarikan diri ke Jawa karena terdesak Dapunta Hyang dengan bala tentaranya.

TEORI FUNAN / Kamboja

George Cœdès condong pada anggapan bahwa Śailendra di Nusantara berasal dari Funan ( Kamboja ) karena terjadi kerusuhan yang mengakibatkan runtuhnya kerajaan Funan, kemudian keluarga kerajaan ini menyingkir ke Jawa, dan muncul sebagai penguasa di Medang pada pertengahan abad ke-8 M dengan nama keluarga Śailendra. Teori ini tak terbukti kuat karena beberapa prasasti dan catatan sejarah menyatakan bahwa sebelum bermukim di Jawa, keluarga Sailendra telah bermukim turun-temurun di Sumatera.

Daftar Maharaja Sriwijaya
masa awal Palembang :
* Santanu, sekitar tahun 650 di Jawadwipa ( pulau Jawa )
* Dapunta Hyang ( pendiri wangsa Sailendra ), tahun 671- 674.
* Shima, tahun 674—703
* Parwati, tahun 703—710
* Sannaha, tahun 710—717
* Sanjaya, tahun 717—760 Masehi
Masa peralihan ( Budha-Mahayana ) di Jawadwipa :
* Rakai Panangkaran, tahun 760—775.
* Rakai Panunggalan, tahun 775—800.
* Rakai Warak, tahun 800—812
* Rakai Garung, tahun 812—833.
* Pramodawardhani, tahun 833—856.
* Rakai Kayuwangi, tahun 856—880.
Suwarnadwipa :
* Balaputradewa, tahun 833—850
* Sri Udayaditya
* Warmadewa, tahun 960–988
* Sri Cudamani
* Warmadewa, tahun 988–1008
* Sri Mara Wijayottunggawarman, tahun 1008–1017
* Sangrama-Vijayottunggawarman, tahun 1017–1030.
Di bawah dinasti Chola :
* Rajendra Chola I, tahun 1012–1044.
* Kulothunga Chola I, tahun 1070–1120.
Di bawah dinasti Mauli
* Trailokyaraja, tahun 1183

TEORI NUSANTARA

Pendapat bahwa wangsa Sailendra berasal dari luar Nusantara ( India, Kamboja / Funan ) ditentang Prof. Dr. R.M.Ng. Poerbatjaraka. Menurutnya, Sanjaya dan keturunannya itu asli Indonesia, yang semula beragama Hindu Siwa, lalu Rakai Panangkaran berpindah agama menjadi penganut agama Budha Mahayana. Data arkeologi di Kabupaten Batang ( prasasti Sojomerto ), desa Sojomerto, kecamatan Reban menyebutkan : Dapunta Selendra berayah Santanu, beribu Bhadrawati, beristri Sampula. Dapunta menggunakan bahasa Melayu Kuno dalam prasastinya menunjukkan bahwa ia orang Nusantara asli ( mungkin dari Sumatera, karena di Sumatera banyak dijumpai prasasti berbahasa Melayu Kuno ). Asal usul wangsa Sailendra adalah pribumi asli Nusantara dan hanya ada satu wangsa : Sailendra yang anggotanya semula penganut agama Siwa, tetapi sejak pemerintahan Rakai Panangkaran menjadi penganut agama Budha Mahayana untuk kemudian kembali lagi menjadi penganut agama Siwa sejak pemerintahan Rakai Pikatan.

Spiritualisme Hindu-Budha berorientasi ke tempat-tempat tinggi ( gunung ) yang diyakini sakral. Gunung dipercaya sebagai tempat bermukim atau penghubung ke para dewa / kekuatan adikodrati ( titik temu spiritual Hindu-Buddha dengan kepercayaan asli lokal ).

Teori Nusantara mengajukan : wangsa Śailendra mungkin berasal dari Sumatra yang kemudian berpindah / berkuasa di Jawa, atau wangsa asli dari pulau Jawa tetapi mendapat pengaruh kuat dari Sriwijaya. Menurut sebagian sejarawan, keluarga Śailēndra dari Sumatera bermigrasi ke Jawa Tengah setelah Sriwijaya ekspansi ke tanah Jawa pada abad ke-7 Masehi dengan menyerang kerajaan Tarumanagara dan Kalingga di Jawa ( berdasarkan prasasti Kota Kapur yang mencanangkan ekspansi atas Bumi Jawa yang tak mau berbakti pada Sriwijaya.

Gelar Dapunta Selendra juga tertera di prasasti Kedukan Bukit dengan nama Dapunta Hiyaŋ yang berbahasa Melayu Kuno, juga Carita Parahiyangan : Sanjaya menyuruh anaknya, Rakai Panangkaran dan Rakai Panaraban / Tamperan Barmawijaya berpindah agama karena agama yang dianutnya / Siwa ditakuti semua orang. Kabar Rakai Panangkaran pindah agama sesuai isi prasasti Raja Sankhara, koleksi Museum Adam Malik yang kini hilang ).

Jika keluarga Śailēndra berasal dari India Selatan, tentunya mereka memakai bahasa Sanskerta dalam prasasti-prasastinya. Prasasti Canggal menyebutkan bahwa Sanjaya mendirikan sebuah lingga di bukit Sthīrańga untuk keselamatan rakyatnya. Dalam naskah Carita Parahyangan : Sanjaya memerintah Jawa menggantikan ayahnya, Sanna / raja ketiga Galuh yang bersaudara perempuan / Sannaha ( putri Ratu Parwati di Kalingga ) yang kemudian dikawininya dan melahirkan Sanjaya.

Dari prasasti Sojomerto dan prasasti Canggal telah diketahui nama tiga orang penguasa di Jawa, yaitu Dapunta Selendra, Sanna ( putra Rahyang Mandiminyak, memimpin Kerajaan Galuh tahun 709-716 ) dan Sanjaya ( memimpin Kerajaan Medang pada tahun 717-746 M ). Tokoh Sanna dan Sanjaya terkait erat sejarah Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh. Mereka mulanya beragama Hindu Siwa seperti kebanyakan keluarga kerajaan awal di pulau Jawa seperti Tarumanagara dan Kalingga. Penggunaan gelar Dapunta menunjukkan bahwa keluarga Sailendra dipengaruhi bahasa, budaya, dan sistem politik Sriwijaya ( vasal / perdikan anggota kedatuan Sriwijaya sesuai kabar penaklukan Bumi Jawa oleh Sriwijaya dalam prasasti Kota Kapur ).

Berita dari masa Dinasti Tang : Kerajaan Kalingga yang disebut She-po ( Jawa ) pada tahun 674 Masehi menobatkan seorang wanita sebagai ratu, yaitu Hsi-ma ( Ratu Shima ) yang memerintah dengan baik. Jika demikian maka Dapunta Selendra memerintah sampai tahun 674 Masehi, Ratu Shima dari tahun 674 sampai 703 M, Ratu Parwati dari tahun 695-709 M, Sanna dari tahun 709 sampai 716, Sanjaya dari tahun 717 sampai 746 Masehi, Rakai Panangkaran dari tahun 746-784 M, dan seterusnya ( wikipedia ).

Candi Kalasan sebagai tempat pemujaan Dewi Tara. Hampir 50 tahun kemudian dibangun candi Budha tertua di dataran Kewu bernama candi Kalasan ( terkait prasasti Kalasan tahun 778 M ). Disusul candi Sari, candi Sewu, candi Lumbung, candi Ngawen, candi Mendut, candi Pawon, dan puncaknya pada era raja Samaratungga yang memprakarsai pembangunan candi Borobudur, candi Budha terbesar, berbentuk seperti gunung, diselingi stupa yang selesai dibangun tahun 825 M.

Candi, peninggalan kerajaan Mataram Kuno / Medang dari abad ke-8 dan 9 M bercorak Budha ( Sailendra ) umumnya terletak di Jawa Tengah bagian selatan, sedang yang bercorak Hindu ( Sanjaya ) umumnya terletak di Jawa Tengah bagian utara.

Berdasarkan penafsiran atas prasasti Canggal ( tahun 732 M ), Sanjaya mendirikan Shivalingga baru ( Candi Gunung Wukir ), artinya ia membangun dasar pusat pemerintahan baru, setelah raja pendahulunya, Sanna wafat dan kerajaannya tercerai-berai diserang musuh. Saudari Sanna adalah Sannaha, ibunda Sanjaya, artinya Sanjaya masih keponakan Sanna. Sanjaya mempersatukan bekas kerajaan Sanna, memindahkan ibukota dan naik tahta, lalu membangun keraton baru di Mdang i Bhumi Mataram, sesuai adat kepercayaan Jawa, bahwa keraton yang sudah pernah pralaya / bencana, diserang, kalah dan diduduki musuh, sudah buruk peruntungannya sehingga harus pindah mencari tempat lain untuk membangun keraton baru. Serupa masa Mataram Islam yang meninggalkan Kartasura yang pernah diduduki musuh /pasukan kolonial Belanda dan berpindah ke Surakarta. Perpindahan pusat pemerintahan ini bukan berarti berakhirnya wangsa yang berkuasa. Sama dengan Airlangga yang membangun kerajaan baru di Jawa Timur, ia masih keturunan / menghormati wangsa penguasa terdahulu / Medang-Isyana / kelanjutan Dharmawangsa yang anggota wangsa Isyana. So, meski Sanjaya memindahkan ibukota ke Mataram-Jawa Tengah, ia merupakan kelanjutan wangsa Sailendra yang menurut prasasti Sojomerto didirikan Dapunta Hyang / Sailendra.

Pada masa pemerintahan raja Indra ( tahun 782-812 ), puteranya, Samaratungga, dinikahkan dengan Dewi Tara, puteri Dharmasetu, Maharaja Sriwijaya. Prasasti yang ditemukan tak jauh dari Candi Kalasan menjelaskan bahwa candi ini dibangun untuk menghormati Tara sebagai Bodhisattva wanita. Pada tahun 790 M, Sailendra menyerang dan mengalahkan Chenla ( Kamboja Selatan ), kemudian berkuasa di sana selama beberapa tahun. Candi Borobudur selesai dibangun pada masa pemerintahan raja Samaratungga ( tahun 812-833 ). Borobudur merupakan monumen Budha terbesar di dunia, dan kini menjadi kebanggaan bangsa Indonesia.

Dari hasil pernikahannya dengan Dewi Tara, Samaratungga memiliki putri bernama Pramodhawardhani dan putra bernama Balaputradewa. Untuk memantapkan posisinya di Jawa Tengah, raja Samaratungga menikahkan putrinya, Pramodhawardhani, dengan anak Garung, Rakai Pikatan yang waktu itu pangeran keturunan Sanjaya ( Hindu Siwa ). Pengaruh Sanjaya ( pendiri Medang-Sailendra ) yang bercorak Hindu mulai dominan di Mataram. Rakai Pikatan mengalahkan pamannya yang menginginkan tahta Medang, Balaputradewa / adik Pramodhawardhani. Balaputradewa lalu kembali ke Suwarnadwipa yang merupakan negeri asal ibunya dan memerintah di Sriwijaya.

PERTEMPURAN Kerajaan MEDANG-JAWA ( Mataram, Kahuripan / Kediri ) VS MEDANG-SUMATERA ( Sriwijaya ) DI SITUS RATU BOKO

Anak sulung Rakai Pikatan dari Pramodhawardhani bernama Rakai Gurunwangi Dyah Saladu, dan pemberontakan di Ratu Boko dimenangi putra bungsu Rakai Pikatan bernama Dyah Lokapala / Rakai Kayuwangi. Atas tindakan heroiknya, banyak penasihat Rakai Pikatan mendesak agar Lokapala-lah yang dinobatkan sebagai putra mahkota bukan Gurunwangi.

Pemberontakan ini mengambil alih ibukota Mataram, sehingga Rakai Pikatan memindahkan kadaton ke Mamrati / Amrati di Dataran Kedu ( lembah sungai Progo ), barat laut dari Mataram. Rakai Pikatan memutuskan turun tahta demi putra bungsunya Dyah Lokapala ( memerintah tahun 850-890 ) dan menjadi pertapa bernama Sang Prabhu Jatiningrat ditandai upacara penahbisan citra Siwa di candi utama Prambanan.

TOLERANSI AGAMA LELUHUR BANGSA INDONESIA ZAMAN OLD.

Pernikahan Pramodhawardhani dengan Rakai Pikatan menghadirkan harmonisasi Budha-Hindu di Jawa pada pertengahan abad ke-7 M ( Tirto, 30/12/2017 ).

Keputusan Maharaja Samaratungga lengser keprabon pada 833 M memantik pergolakan di Kerajaan Medang / Mataram Kuno. Samaratungga sebenarnya sudah menunjuk penggantinya, Pramodhawardani ( putri mahkota Mataram Kuno ), namun Balaputradewa ( adik pria Pramodhawardani ) merasa lebih berhak melanjutkan tahta kerajaan terbesar di Jawa ini sampai terjadi perang saudara memperebutkannya. Sang putri berhasil memenangkan persaingan berkat bantuan suaminya yang berbeda agama, Rakai Pikatan. Duet keduanya menghasilkan toleransi beragama antara Budha dan Hindu di tanah Jawa, meski harmonisasi itu tak berlangsung lama.

Slamet Muljana dalam “Sriwijaya” ( tahun 2006 ) membantah teori pertama ( Balaputradewa, adik pria Pramodhawardani ) dan bilang Balaputradewa bukanlah adik Pramodhawardani, melainkan saudara Samaratungga. Dengan kata lain, Balaputradewa adalah paman Pramodhawardani yang merasa lebih pantas mengambil-alih kekuasaan karena Samaratungga tak punya anak laki-laki ( jadi Rakai Pikatan kawin bukan dengan bibinya / wanita lebih tua, tapi sepupunya / sebaya ? ).

Balaputradewa akhirnya kalah sehingga terpaksa menyingkir ke Sumatera dan kemudian mewarisi Kerajaan Sriwijaya dari kakeknya, Dharmasetu. Diyakininya, Dharmasetu berputrakan Samaragrawira yang tak lain adalah ayahanda Samaratungga dan Balaputradewa. Boleh jadi, Pramodhawardani adalah ratu pertama yang tercatat dalam sejarah Indonesia melakukan perkawinan lintas agama. Baru tiga abad kemudian, Ken Arok, Raja Singosari /Singhasari, penganut Hindu, mengawini Ken Dedes yang beragama Budha ( Gatra, Volume 12, hal 29-32, 2006 ). Rakai Panangkaran adalah keturunan Ratu Shima ( tahun 674-732 M ), penguasa Jawa dari Kerajaan Kalingga.

Setelah Pramodhawardani resmi bertahta sejak tahun 833 M, didampingi Rakai Pikatan, nuansa toleransi beragama semakin terasa. Pramodhawardani mengizinkan sang suami merintis dibangunnya candi-candi Hindu di wilayah kekuasaan kerajaannya. Sebaliknya, Rakai Pikatan pun tak segan-segan membantu pendirian candi-candi umat Budha ( Sukamto, Perjumpaan Antarpemeluk Agama di Nusantara, 2015 : 146 ). Bahkan, Rakai turut menyumbang pembangunan candi-candhi Budha tsb, termasuk di wilayah Plaosan, dekat Prambanan ( kini perbatasan antara Yogyakarta dan Kabupaten Klaten ).

Candi-candi di Plaosan untuk pemeluk Budha didirikan secara gotong-royong antara para penganut Budha dengan Hindu. Situasi ini menunjukkan betapa damainya pemeluk dua agama berbeda di bawah naungan Pramodhawardani sebagai Ratu Mataram Kuno saat itu. Pemerintahan Pramodhawardani diperkirakan berakhir ( wafat ) pada tahun 856 M dan kekuasaan beralih ke Rakai Pikatan di mana banyak terjadi pemberontakan. Hingga akhirnya, usai era Rakai Bawa ( tahun 924-929 M ), keturunan Rakai Pikatan, Kerajaan Medang diperintah menantunya, yakni Mpu Sindok ( pendiri wangsa Isyana ) yang memindahkan pusat kerajaan ke Jawa Timur karena letusan dahsyat Gunung Merapi. Dari sinilah / Medang-Isyana /Jatim kemudian lahir kerajaan-kerajaan besar di tanah Jawa, termasuk Majapahit hingga Mataram Islam, yang akhirnya terbelah menjadi dua pusat kekuasaan : Surakarta dan Yogyakarta.

PANGKAT JABATAN DI MEDANG-SAILENDRA ( Mataram Kuno / Hindu-Budha ).

Raja merupakan pemimpin tertinggi Kedatuan Medang. Sanjaya sebagai raja pertama memakai gelar ‘Ratu ( akronim / setara ‘Datu’ yang berarti “pemimpin” ). Dalam bahasa Jawa, istilah Karaton ( Karatuan ) digunakan sebagai sinonim Kadaton ( Kadatuan ). Ketika Rakai Panangkaran berkuasa, gelar ‘Ratu’ diganti ‘Sri Maharaja’ ( terlihat dalam daftar raja di prasasti Mantyasih yang cuma menyebut Sanjaya yang bergelar Sang Ratu ).

Dalam prasasti dari abad 8 -10, masih digunakan gelar “Raka” / Rakai. Sesudah masa itu, diganti gelar ‘Rakryan’ ( gabungan “raka” dan “aryan” merujuk tingkat jabatan administrasi negara sepadan gelar raka ) yang kerap digunakan pada periode Jawa Timur hingga era kerajaan Kadiri, Singosari, dan Majapahit. Raka, gelar pemimpin atau penguasa yang telah menguasai sejumlah wanua ( desa / kelurahan ) dan watak ( kecamatan ). Wanua dipimpin Rama ( bapak desa ), dan gabungan sejumlah Wanua disebut Watak ( kecamatan ) yang dipimpin Raka. Dewan para Rama disebut Karaman ( “tanah para rama”).

Kedatuan Medang diperintah wangsa / dinasti / raja-raja Sailendra yang berkuasa di Jawa Tengah dan wangsa Isyana di Jawa Timur. Awal abad ke-8 sampai abad ke-10 di Jawa Tengah dikenal empat pangkat jabatan di bawah gelar Raka i Mahamantri, yaitu : Hino, Halu, Sirikan, dan Wka. Di atas Raka adalah Raja.
* Raka i Mahamantri ( Rakryan Mapatih )
* Raka i Mahamantri Hino
* Raka i Mahamantri Halu
* Raka i Mahamantri Sirikan
* Raka i Mahamantri Wka
Keempat pangkat hino-halu-sirikan-wka dapat diduduki kerabat raja. Namun, pada era Medang-Jawa Timur, jabatan Rakryan ( pengganti Raka ) Mahamantri tak lagi harus dipegang kerabat atau putra raja.

Gelar di Kedatuan Medang berdasarkan temuan prasasti :
Penguasa negara : Datu, Ratu, Sri Maharaja.
Jabatan administrasi : Rakryan / Rakeyan.
Rakryan Binihaji : dijabat istri raja.
Rakryan Kanuruhan : gelar setingkat perdana menteri.
Rakryan Mahamantri : dijabat pewaris tahta ( putra mahkota ), keturunan langsung raja, kerabat sang raja.
Rakryan Mapatih : wakil / utusan raja, jabatan setingkat perdana mentri.
Penguasa daerah :
Raka / Rakai / Rake : kepala daerah ( regent / bupati ), menguasai sejumlah Watak ( kecamatan ) dan Wanua ( desa / kelurahan ).
Rama : menguasai Wanua
Karaman : dewan yang terdiri atas para Rama.

***

Berapa sejarawan berpendapat, berakhirnya kekuasaan Sailendra di Jawa Tengah karena kepindahan Balaputradewa ke Sriwijaya ( Sumatra ).

Munoz berpendapat, orang Jawa pengikut Balaputradewa yang merasa terancam, akhirnya mengungsi ke Jawa Barat untuk mendirikan kerajaan Banten Girang ( sesuai temuan arca-arca bergaya Jawa Tengah abad ke-10 di situs Gunung Pulasari ).

Sejarawan Poerbatjaraka dan Boechari percaya bahwa hanya ada satu wangsa yaitu Sailendra, dan tak pernah disebut Sanjayavamça dalam prasasti apapun. Sanjaya dan keturunannya dianggap termasuk wangsa Sailendra. Jatuhnya wangsa Sailendra di Sriwijaya akibat serangan Cholamandala dari India.

Dalam kurun waktu tertentu, wangsa Sailendra berkuasa baik di Jawa Tengah maupun di Sumatra. Persekutuan dan hubungan pernikahan keluarga kerajaan antara Sriwijaya dan Medang-Sailendra memungkinkan wangsa Sailendra akhirnya berkuasa baik di Kerajaan Medang- Mataram di Jawa Tengah sekaligus di Sriwijaya, Sumatra.

Tampaknya Sailendra berkuasa atas banyak kerajaan : Kalingga, Medang ( Jawa ), dan Sriwijaya ( Sumatera ). Akibatnya nama beberapa raja tampak tumpang tindih dan berkuasa di kerajaan-kerajaan ini secara bersamaan.

Catatan Tiongkok tentang kunjungan biksu Hwi-ning di Ho-ling ( tahun 664 ) dan pemerintahan Ratu Hsi-mo ( tahun 674 M ), menguasai kerajaan Kalingga tahun 703—710. Rakai Panangkaran beralih keyakinan dari memuja Siwa menjadi penganut Buddha Mahayana, pembangunan Candi Kalasan tahun
775—800. Kamboja memerdekakan diri ( tahun 802 ). Pramodhawardhani berkuasa mendampingi suaminya Rakai Pikatan yang mengalahkan Balaputradewa yang menyingkir ke Sumatra ( Sriwijaya ). Para raja Medang penerus Pikatan, mulai dari Dyah Lokapala ( tahun 850—890 ) hingga Wawa ( tahun 924—929 ) dapat dianggap sebagai penerus trah Sailendra, meski Dyah Balitung ( 898—910 ) dalam prasasti Mantyasih ( tahun 907 ) hanya merunut leluhurnya hingga Sanjaya ( sampai muncul spekulasi / teori Wangsa Sanjaya ). Balaputradewa, dalam prasastinya ( Siwagrha tahun 856, prasasti Nalanda tahun 860 M ) mengaku dirinya sebagai pewaris sah wangsa Sailendra dari Jawa, dan membangun Candi di Nalanda ( India ). Serbuan kerajaan Cholamandala atas Sriwijaya dan ibukotanya ditaklukan raja Rajendra Chola.

MPU SINDOK, FOUNDER WANGSA ISYANA. Apa kata prasasti ?

Candi Sambisari terkubur lima meter di bawah reruntuhan vulkanik gunung Merapi.

Tahun 929 M, pusat kedatuan dipindahkan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur oleh Mpu Sindok yang mendirikan Wangsa Isyana, karena letusan Merapi ( beberapa candi hampir terkubur di bawah abu puing Merapi, seperti candi Sambisari, candi Morangan, candi Kedulan, candi Kadisoka, dan candi Kimpulan ).

Sebelum Merapi meletus, Medang sudah berkembang ke arah timur dan membangun pemukiman di sepanjang sungai Brantas, Jawa Timur. Menurut prasasti Sanggurah ( tahun 982 M, ditemukan di Malang, Jatim ) nama raja Jawa, Sri Maharaja Rakai Pangkaja Dyah Wawa Sri Wijayalokanamottungga ( Dyah Wawa ) yang memerintah wilayah Malang ( Malang sudah jadi wilayah Medang ). Prasasti Anjuk Ladang ( tahun 937 ) diterbitkan Mpu Sindok selama konsolidasi kekuasaan di Jawa Timur. Menurut prasasti Turryan ( tahun 929 M ), Mpu Sindok memindahkan ibukota Medang ke Tamwlang, kemudian Watugaluh ( kini daerah Tambelang dan Megaluh dekat Jombang, Jawa Timur ). Meski membangun dinasti baru / Wangsa Isyana, Mpu Sindok sangat terkait erat dengan leluhurnya di Bhumi Mataram ( Jawa Tengah ), sehingga ia dianggap keturunan Raja Jawa yang membentang dari Sanjaya. Selama masa pemerintahannya, Mpu Sindok membuat banyak prasasti, sebagian besar terkait pembentukan tanah Sima ( tanah bebas pajak ) : prasasti Linggasutan ( tahun 929 ), prasasti Gulung-Gulung ( tahun 929 ), prasasti Cunggrang ( tahun 929 ), prasasti Jru-Jru ( tahun 930 ), prasasti Waharu ( tahun 931), prasasti Sumbut ( tahun 931 ), prasasti Wulig ( tahun 935 ) dan prasasti Anjuk Ladang ( tahun 937 ).

Periode Jawa Timur kedatuan Medang tak meninggalkan struktur candi apa pun yang sebanding dengan era Sailendra di Jawa Tengah sebelumnya ( mungkin tak lagi punya sumber daya untuk memulai proyek konstruksi skala besar ).

Bodhisattva Manjusri di Goa Gajah, Bali, menunjukkan pengaruh kesenian Wangsa Sailendra.

Mpu Sindok digantikan putrinya, Isyana Tunggawijaya. Menurut prasasti Gedangan ( tahunl 950 ), Ratu Isyana menikah dengan Sri Lokapala, bangsawan dari Bali dan digantikan putranya, Makutawangsa-wardhana. Menurut prasasti Pucangan ( tahun 1041 ), Raja Makutawangsawardhana memiliki putri bernama Mahendradatta dan digantikan putranya, Dharmawangsa Teguh yang memindahkan ibukota Medang ke Wwatan ( daerah Wotan dekat Madiun sekarang ini ). Adik Dharmawangsa, Mahendradatta kemudian menikah dengan Udayana Warmadewa, raja Bedahulu di Bali. Dalam perkembangan sastra, Raja Dharmawangsa memerintahkan menterjemahkan Mahabharata ke dalam bahasa Jawa Kuno pada tahun 996.

Kedatuan Medang punya hubungan intens dengan Sriwijaya di Sumatera ( raja-raja Sailendra di Jawa membentuk aliansi dengan raja-raja Sriwijaya di Sumatera / bergabung dalam satu dinasti Sailendra ). Namun kemudian memburuk jadi peperangan, ketika Dharmawangsa Teguh ( cicit Mpu Sindok ) melancarkan upaya menaklukkan Palembang, dan pembalasan yang dilakukan Sriwijaya terhadap Medang. Di daerah timur, Medang menaklukkan Bali, dan pulau itu menjadi wilayah mandala Medang.

Prasasti Kaladi ( tahun 909 M ), menyebut Kmir ( utusan Kerajaan Khmer ) bersama Campa ( Champa ) dan Rman ( Sen ) sebagai orang asing dari daratan Asia Tenggara yang sering datang ke Jawa untuk berdagang.Jaringan perdagangan maritim telah dibangun antara kerajaan-kerajaan di daratan Asia Tenggara dan Jawa. Prasasti Keping Tembaga Laguna ( sekitar tahun 900 M ) dari daerah Laguna de Bay di Luzon, Filipina, menyebut pamegat dari “Medang” sebagai salah satu pihak berwenang dalam penyelesaian hutang pamegat senapati dari “Tundun”. Prasasti ini ditulis dalam aksara Kawi dalam berbagai bahasa Melayu Kuno yang mengandung banyak kata pinjaman dari bahasa Sanskerta dan beberapa elemen kosakata non-Melayu ( Jawa Kuno dan Tagalog Kuno ).

SEJARAH MEDANG-SAILENDRA ( Jateng ) PINDAH KE MEDANG-ISYANA ( Jatim ).

Tahun 999 utusan Sriwijaya berlayar dari Tiongkok ke Champa dalam upaya untuk pulang, namun ia tak menerima kabar terbaru tentang kondisi negaranya ( Sriwijaya ). Utusan Sriwijaya ini kemudian berlayar kembali ke Tiongkok dan memohon bantuan Kaisar Tiongkok untuk melindungi Sriwijaya terhadap invasi Jawa ( Dharmawangsa ) yang mengakibatkan raja Sriwijaya, Sri Cudamani Warmadewa mencari perlindungan Tiongkok. Ia mendapat dukungan politik Tiongkok jika memenuhi tuntutan Kaisar Tiongkok. Tahun 1003, dari catatan sejarah Dinasti Song diketahui utusan San-fo-tsi / Sriwijaya yang dikirim raja Sri Cudamani Warmadewa, memberi tahu bahwa kuil Budha telah didirikan di Sriwijaya untuk mendoakan Kaisar Tiongkok panjang umur, dan meminta kaisar memberi nama dan bel untuk kuil tsb. Dengan gembira, Kaisar China menamainya kuil Ch’eng-t’en-wan-shou ( sepuluh ribu tahun menerima berkah dari surga ) dan mengirim bel ke Sriwijaya untuk dipasang di kuil.

Setelah 16 tahun berperang, tahun 1006 Sriwijaya berhasil mengusir Medang dan membebaskan Palembang. Serangan ini membuka mata Maharaja Sriwijaya tentang betapa berbahayanya kedatuan Medang, dan ia bertekad membalas, menghancurkan musuh barunya. Tahun 1016 -1017, pasukan Sriwijaya membantu Haji Wurawari ( pemimpin daerah bawahan Medang ) memberontak pada Medang, melancarkan invasi dari Lwaram, menyerang, menghancurkan istana Medang, membunuh raja Dharmawangsa dan sebagian besar keluarganya. Serangan mendadak tak terduga ini terjadi selama upacara pernikahan putri Dharmawangsa dengan Airlangga.

Kedatuan Medang akhirnya runtuh dan jatuh dalam kekacauan. Para panglima perang di sejumlah provinsi dan pemukiman di Jawa Tengah dan Jawa Timur ikut memberontak dan melepaskan diri dari Medang. Razia dan perampokan merajalela merusak situasi negara. Terjadi kerusuhan dan kekerasan beberapa tahun setelah kehancuran Medang.

Airlangga ( putra Raja Udayana Warmadewa dari Bedahulu dan Ratu Mahendradatta, juga keponakan Raja Dharmawangsa yang terbunuh ) dan sisa keluarga Wangsa Isyana yang bertahan, pergi ke pengasingan di hutan Wanagiri, Jawa Tengah. Airlangga kemudian mengumpulkan dukungan rakyat, menyatukan kembali sisa-sisa Kedatuan Medang dan mendirikan kembali kerajaan ( termasuk Bali ) dengan nama Kerajaan Kahuripan pada tahun 1019. Kahuripan dapat dianggap sebagai negara penerus Medang.

CANDI KARYA WANGSA MEDANG-SAILENDRA DI JAWA

Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah, dibangun tahun 770 M ( awal kontruksi ), tahun 825 M ( selesai dibangun ), Gunadharma ( arsitek ), Samaratungga ( era ),
Sailendra ( klien ). Borobudur adalah candi Budha terbesar di dunia peninggalan wangsa Sailendra terbesar di dunia. Sudah ditetapkan UNESCO sebagai salah satu Situs Warisan Dunia ( UNESCO’s World Heritage Sites ).

Bas-relief di Borobudur menampilkan Raja dan Ratu dengan abdi pengiringnya mirip keadaan di istana wangsa Sailendra, pembangunnya.

Candi Sewu di Klaten, Jawa Tengah, selesai dibangun tahun 782 M, era Rakai Panangkaran, Rakai Pikatan dari wangsa Sailendra.
Candi Sewu merupakan kompleks candi Budha peninggalan Sailendra terbesar kedua di Indonesia, setelah Candi Borobudur.

Candi Sojiwan di Klaten, Jawa Tengah, dibangun tahun 842 M, di era Rakryan Sanjiwana dari wangsa Sailendra.

Candi Prambanan di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Klaten, Jawa Tengah, dibangun tahun 850 M ( awal kontruksi ), masa Rakai Pikatan, Dyah Balitung dari wangsa
Sailendra. Prambanan adalah kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia, dibangun pada abad ke-8 dan sudah ditetapkan UNESCO sebagai salah satu Situs Warisan Dunia, sekaligus salah satu candi Hindu terindah di Asia Tenggara.

Candi Prambanan dibangun masa pemerintahan Rakai Pikatan ( tahun 838-850 ), dan diperluas masa Rakai Kayuwangi ( tahun 850-890 ) ke Dyah Balitung ( tahun 899-911 ), disebut dalam prasasti Siwagrha. Prambanan merupakan kompleks candi Hindu terbesar yang didedikasikan untuk Trimurti, tiga dewa tertinggi ( Siwa, Brahma, Wisnu ), bukti kemegahan arsitektur dan pencapaian budaya Medang. Candi Hindu lainnya yang dibangun Medang : candi Sambisari, candi Gebang, candi Barong, candi Ijo, dan candi Morangan.

Prāsāda ( menara ) candi Prambanan dilihat dari bukit Ratu Boko. Daerah di Dataran Kewu ini lokasi Bhūmi Mātaram, sebutan lama Yogyakarta dan sekitarnya. Wilayah pertama istana Kedatuan Medang ( nama “mḍaŋ i bhūmi mātaram” ditemukan dalam prasasti Minto dan prasasti Anjuk Ladang. Istilah Mataram kemudian lazim dipakai untuk menyebut nama administratif dataran Kewu, meski tak selamanya kedatuan Medang berpusat di sana.

Kompleks candi Prambanan awalnya terdiri ratusan candi, lalu dibangun dan diperluas pada masa pemerintahan Rakai Pikatan dan Dyah Balitung. Kedatuan Medang di Yawadwipa ( pulau Jawa ) disebut dalam prasasti Canggal ( tahun 732 M ) yang mendokumentasikan dekrit Sanjaya, di mana ia menyatakan dirinya sebagai penguasa universal Medang. Para sejarawan sebelumnya /Soekmono mengidentifikasi nama kedatuan ini sebagai Mataram ( nama geografis dataran Kewu dalam wilayah administratif Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta ) sesuai lokasi sebagian besar peninggalan candi ditemukan. Etimologi nama “Mātaram” berasal dari istilah Sanskerta yang berarti “ibu”.

Candi Sari di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta dibangun abad ke-8 masa Rakai Panangkaran dari wangsa
Sailendra.

Candi Kalasan di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dibangun abad ke-8 masa Rakai Panangkaran dari wangsa Sailendra.

Candi Ratu Boko di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta dibangun abad ke-8 masa Rakai Panangkaran dari wangsa Sailendra.

Candi Gebang di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dibangun abad ke-8 oleh wangsa Sailendra.

Candi Pawon di Magelang, Jawa Tengah dibangun abad ke-9 oleh wangsa Sailendra.

Candi Sambisari di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dibangun
abad ke-9 masa Rakai Garung dari wangsa
Sailendra.

Candi Plaosan di Klaten, Jawa Tengah, dibangun
abad ke-9 masa Rakai Pikatan dari
Sailendra.

Candi Banyunibo di Yogyakarta, dibangun
abad ke-9 oleh wangsa Sailendra.

Candi Barong di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dibangun
abad ke-9 masa Rakai Walaing dari wangsa
Sailendra.

Candi Gedong Songo di Semarang, Jawa Tengah, dibangun abad ke-9 oleh wangsa Sailendra.

Candi Merak di Klaten, Jawa Tengah, dibangun
abad ke-9 oleh wangsa Sailendra.

Candi Bubrah di Klaten, Jawa Tengah, dibangun
abad ke-9 oleh wangsa Sailendra.

Candi Ijo di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dibangun
abad ke-10 oleh wangsa Sailendra.

MUSEUM KARMAWIBHANGGA : menampilkan gambar relief Karmawibhangga yang terukir di kaki tersembunyi Borobudur. Beberapa blok batu Borobudur yang terlepas, serta temuan artefak arkeologi di sekitar Borobudur dan berbagai situs purbakala di Jawa Tengah.

MUSEUM SAMUDRA RAKSA : menampilkan rekonstruksi Kapal Borobudur dalam ukuran sesungguhnya yang telah menempuh perjalanan napak tilas mengarungi Samudra Hindia dari Jakarta menuju Accra, Ghana pada tahun 2003—2004.

BALAI KONSERVASI BOROBUDUR : Unit Pelaksana Teknis ( UPT ) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang melestarikan cagar budaya di seluruh Indonesia.

MUSEUM CANDI PRAMBANAN : berada di Kompleks Taman Wisata Candi Prambanan, berisi koleksi benda bersejarah dan berharga berupa arca, artefak, gerabah, gambar struktur Candi Siwa, fosil hewan hingga legenda Roro Jonggrang.

Era kerajaan Medang dipandang sebagai zaman keemasan peradaban Jawa kuno, yang meninggalkan warisan abadi dalam budaya dan sejarah Indonesia serta menjadi sumber kebanggaan nasional, bagi orang Jawa dan bangsa kita.

Sendratari “Mahakarya Borobudur” digelar di Borobudur.

Sebuah peradaban unggul dalam membangun kontruksi candi, yang menunjukkan penguasaan teknologi, tenaga kerja, manajemen sumber daya, penyempurnaan estetika dan seni arsitektur di era kedatuan Medang.

Pertunjukan Wayang Wong di panggung terbuka Sendratari Ramayana Prambanan.

Era Medang telah mengkonsolidasi dan memadukan unsur kepercayaan asli orang Jawa dengan pengaruh dharma, dengan memasukkan kerangka acuan dan elemen Hindu-Budha ke dalam budaya, seni, dan arsitektur Jawa. Dengan Sanskertanisasi bahasa Jawa, orang Jawa telah merumuskan gaya Hindu-Budha Jawa dan mengembangkan peradaban yang cerdik. Gaya seni Sailendra Jawa ini, baik dalam seni pahat dan arsitektur, di kemudian hari mempengaruhi seni daerah lainnya, khususnya seni Sriwijaya di Sumatera, Semenanjung Melayu dan Thailand selatan.

Seni dan arsitektur candi Angkor Wat dipengaruhi seni dan arsitektur Sailendra di Jawa. Candi Bakong di Kamboja mirip / terinspirasi candi Borobudur di Magelang.

Selama periode Medang sejumlah kitab dharma baik dari Hindu atau Buddha, telah mempengaruhi budaya Jawa. seperti kisah Jataka dan Lalitawistara. Epos Ramayana dan Mahabharata diadopsi ke dalam versi Jawa yang selanjutnya membentuk budaya dan seni pertunjukan, seperti tarian Jawa dan seni wayang.

REFER :

* Sugeng Riyanto. 2014. THE DYNAMIC OF CULTURE AND CIVILIZATION IN ANCIENT BATANG: Preliminary Description Based on the Results of Archaeological Exploration. Balai Arkeologi Yogyakarta.
* Tim Penelitian, 2010. Jejak-Jejak Awal Masuknya Budaya Hindu Buddha Di Jawa. Laporan Penelitian Arkeologi. Yogyakarta : Balai Arkeologi Yogyakarta.
* Tim Penelitian, 2014. Kajian Sailendra di Kabupaten Batang. Laporan Penelitian Arkeologi. Yogyakarta : Balai Arkeologi Yogyakarta.
* Boechari ( 1966 ). “Preliminary Report on the Discovery of an Old-Malay Inscription at Sodjomerto” dalam Madjalah Ilmu-ilmu Sastra Indonesia, Jilid III No. 2 & 3. Jakarta : Jajasan Penerbitan Karja Sastra, Ikatan Sardjana Sastra Indonesia.
* Klokke, Marijke J. & Karel R. van Krooij (Ed.) (2001). Fruits of Inspiration – Studies in Honour of Prof. J.G. de Casparis. Groningen: Egbert Forsten.
* Sedyawati, Edi, dkk (2012). “Dinasti, Agama, Dan Monumen” dalam Indonesia Dalam Arus Sejarah, Kerajaan Hindu-Buddha. Jakarta : PT Ichtiar Baru Van Hoeve.
* Muljana, Slamet (1981). Kuntala, Sriwijaya dan Swarnabhumi. Jakarta : Yayasan Idayu.
* Nitihaminoto, Goenadi dkk (1977/1978). Laporan Ekskavasi Deles Jawa Tengah 18 Maret – 7 April 1978. Yogyakarta : Proyek Penelitian & Penggalian Purbakala.
* Munoz, Paul Michel ( 2006 ). Early Kingdoms of the Indonesian Archipelago and the Malay Peninsula. Singapore : Editions Didier Millet.

LELUHUR KITA BIASA PINDAH KOTA. Siapa takut ?

Bhumi Mataram merupakan wilayah pusat bagi ( kedaton tahun 732–1016 ) Medang, kedatuan talasokrasi di Jawa Tengah ( abad ke-8, kemudian pindah ke Jawa Timur pada abad ke-10 ) yang didirikan Sanjaya dan diperintah oleh wangsa Sailendra dan wangsa Isyana yang lingkup pengaruhnya ( mandala ) mencapai Madura dan Bali.

Sanjaya mulanya mendirikan kadaton Medang di Bhumi Mataram, lalu Rakai Pikatan memindahkan istananya ke Mamrati, lalu Dyah Balitung ( Rakai Watukura ) memindahkan istana Medang ke Poh Pitu, lalu Dyah Wawa ( Rakai Sumba ) mengembalikan istana Medang ke Bhumi Mataram. Rakyat Medang berbahasa : Sanskerta, Kawi, Jawa Kuno, Melayu Kuno, dan beragama : Hindu ( Siwa ), Budha ( Mahayana ). Mata uang :
kati, tahil, masa, kupang ( koin emas dan perak lokal )

MEDANG BERGANTI WANGSA

Tahun 732—929 dipimpin wangsa Sailendra : Śrī Sañjaya, Śrī Sanggrāma-dhanañjaya, Dharmmot-tungadeva, Samaragrawira,
Samarattungga
Jatiningrat,
Śrī Sajjanotsavattungga,
Śrī Jayakīrtivardhana,
Śrī Mahārāja Rake Limus,
Śrī Mahārāja Rake Gurungwangi,
Śrī Mahārāja Rakai Watuhumalang,
Śrī Dharmmodaya Mahāsambu,
Śrī Mahārāja Dakṣottama,
Śrī Sajjanasnamatanu- ragatunggadeva,
Śrī Vijayalokanamot-tungga.

Tahun 929—1016 dipimpin wangsa Isyana :
Śrī Mahārāja Īśāna Vikramādharmot-tunggadeva, Śrī Īśāna Tunggavijaya, Śrī Makutavaṃsa Vardhana,
Śrī Mahārāja Īśāna, Dharmavaṃsa.

BOROBUDUR SELESAI DIBANGUN TAHUN 825 M MASA WANGSA SAILENDRA ( Kerajaan Medang, Jawa Tengah ).

Menurut prasasti Canggal : Śrī Sañjaya naik tahta tahun 732. Menurut prasasti Kayumwungan : Borobudur selesai dibangun tahun 825. Menurut prasasti Nalanda : Dinasti Sailendra berkuasa di Sumatera tahun 856. Menurut prasasti Turryan : Kedaton Medang pindah ke Jawa Timur tahun 929. Menurut prasasti Pucangan, Mahapralaya : masa kejatuhan Medang tahun 1016.

Kedaton ini mengandalkan hasil pertanian /agraris, terutama padi dan perdagangan maritim dan rakyatnya hidup cukup makmur, mengembangkan masyarakat yang kompleks, budaya berkembang baik, teknologi maju, dan peradaban halus. Periode abad 8-9, seni dan arsitektur Jawa klasik tumbuh pesat, sejumlah candi dibangun menghiasi lanskap pusat kedatuan Medang di Mataram ( dataran Kewu ) seperti candi Kalasan, Sewu, Borobudur dan Prambanan sehingga Medang dijuluki negeri pembangun candi.

Medang terbagi dua kubu : Sailendra ( pemuja Hindu Siwa ) dan Sailendra ( penganut Budha Mahayana ) hingga perang saudara berujung Medang dibagi menjadi dua kerajaan kuat : dinasti Sailendra ( pemuja Hindu Siwa ) berkuasa di kedatuan Medang di Jawa dipimpin Rakai Pikatan, dan dinasti Sailendra ( penganut Budha Mahayana ) memerintah di kedatuan Sriwijaya di Sumatera dipimpin Balaputradewa. Perselisahan mereka sampai tahun 1016 ketika wangsa Sailendra-Sriwijaya menghasut Haji Wurawari, vasal kedatuan Medang dari Lwaram, yang memberontak terhadap Dharmawangsa Teguh ( Sailendra-Jawa ), dan menyerbu ibukota Wwatan di Jawa Timur secara mendadak hingga luluh lantak tak menyisakan apapun, kecuali sedikit yang selamat. Sriwijaya bangkit menjadi kekaisaran hegemonik di wilayah tsb sampai bangsawan Medang bernama Airlangga ( putra sulung Udayana / raja ke-8 Bedahulu di Bali dari wangsa Warmadewa ), merebut kembali Jawa Timur tahun 1019, dan mendirikan kerajaan Kahuripan ( ibu Airlangga bernama Mahendradatta, putri Wangsa Isyana dari kerajaan Medang ). Peristiwa Mahapralaya ini ditulis Airlangga dalam prasasti Pucangan tahun 1041 M.

CLOSING

AMAN ( Aliansi Masyarakat Adat Nusantara ), sedang memperjuangkan UU Perlindungan Masyarakat Adat merujuk UUD 1945 pasal 29. Sebelumnya sudah terbit Perda masyarakat Kajang yang selama ini berpartisipasi melindungi hutan. Masyarakat adat Sunda Wiwitan ( penganut aliran kepercayaan di Indonesia yang mendapat penghargaan BPIP dan Kemendikbud dengan ikon Pancasila ) memprotes tindakan pemkab Kuningan yang menyegel tugu di lokasi makam keluarga mereka karena desakan / pengerahan massa kelompok intoleran yang menganggap mereka meresahkan / mengancam eksistensi agama mayoritas. Komnas HAM sedang mengusut kasus ini.

Tanah adat sering diserobot Hak Milik pribadi atau korporasi melibatkan institusi negara ( pemda, BPN ), padahal keberadaan masyarakat adat dan aliran kepercayaan mereka yang mengesakan Tuhan / sesuai Pancasila, dijamin konstitusi RI. Hipokrasi ? Padahal selama ini kegiatan Seren Taun penganut Sunda Wiwitan, keunikan masyakat Badui, dsb, dimanfaatkan untuk daya tarik wisata / kalender Kemendikbud ( EMI, 30/7/2020 ).

Pemirsa MetroTV mengusulkan ditayangkan acara 6 agama dan aliran kepercayaan ( sesuai Pancasila ) di semua TV secara rutin agar WNI mengenali keragaman negerinya dan mensyukurinya. Tak lagi tak kenal lalu tak sayang. Manusia cenderung benci / takut pada apa pun yang tak diketahuinya. Negara ( presiden, gubernur, walikota / bupati, camat, lurah / kades, ketua RT / RW ) tak boleh kalah pada kelompok intoleran pemaksa kehendak, dan wajib hadir memberi keadilan pada segenap rakyat, termasuk Sunda Wiwitan. Semoga semua pemeluk agama dan kepercayaan ber-Pancasila bisa hidup tenteram di negeri zamrud khatulistiwa ini, syukur-syukur lebih baik dari era Medang-Sailendra. Amiin..

***

UPDATE Koruptor DjTj, dan Covid-19.

( Buronan 11 tahun DjTj sudah tertangkap polisi dengan kerjasama police to police dengan Malaysia. Kekuasaan kehakiman / pengadilan sudah di luar kewenangan presiden sehingga publik / Daulat Rakyat perlu mengawal kasus ini hingga tuntas. Terpidana korupsi Cessie BB ini tak cukup dihukum 2 tahun penjara seperti keputusan MA tahun 1999 karena sudah memperdaya, menyuap, melanggar perintah pengadilan selama 11 tahun buron. Polri tak cukup menggunakan pasal KUHP untuk menjerat DjTj, kuasa hukum AK, pelaku peserta / tersangka berikutnya termasuk dalang pelarian DjTj / petinggi parpol yang disuapnya, gunakan UU Tipikor juga. UU TPPU kata bu pakar Ginarsih harus harta yang dibeli setelah waktu korupsi terjadi, bukan sebelumnya ( karena bisa gagal seperti KPK kemarin / kasus mantan walikota Tangsel yang mobil mewahnya bejibun ).

Jakarta memperpanjang PSBB Transisinya sampai 13/8/2020. Gubernur Anies selalu berkilah : melonjaknya kasus positif Covid di wilayahnya karena tracing dan testingnya yang masif / menurunkan penyebaran Covid, bukan menurunkana angka kasus Covid. Lha iya, kalau permintaan asosiasi pedagang pasar untuk memasang sekat plastik dari uang retribusi mereka tak kunjung direalisasikan pemprov, lalu cluster perkantoran yang para manajer gugus tugasnya tak diajari mengawasi kedisiplinan karyawan dan mengatur sirkuasi udara, pergerakan orang di ruangan, maka Jakarta takkan pernah melandai kurva Covid-nya. Angka tingkat penularan 6,5 di atas 5 / terkendali ( jumlah positif dari 1000 tes swab per sejuta penduduk per minggu ), bukan cuma karena testing masif, tapi juga protokol kendor. Akan melonjak terus jika kendor terus. Mau habis duit berapa kita semua ? Sekitar 9 dokter dan perawat gugur di Sumut kemarin ( Prime Time News, 2/8/2020 ), karena terpaksa menggunakan APD berulang kali di saat kita sudah bisa membuat 17 juta APD per bulan ( koordinasi kurang ). Kenapa tak diwajibkan karyawan kantor ber-NIP ganjil untuk WFH di rumah di tanggal ganjil ( bergantian dengan rekan genap ) dan disanksi tegas bagi pelanggarnya ? ( daripada memindahkan cluster kantor ke transportasi / pemberlakuan nomor ganjil genap kendaraan di jalan pada jam tertentu di masa abnormal ini ). Pekerja akan cari seribu cara untuk tetap bisa ke kantor meski harus berdesakan di angkutan umum, kata warga. See ?

Written by Savitri

3 Agustus 2020 at 12:22

Ditulis dalam WNI NASIONALIS BERSATU

Indonesia Eksportir Batere Lithium Terbesar di Dunia ? Politik Dinasti di Pilkada, ke Laut Saja. Idul Adha di Rumah Aja. Bandrek, Bajigur dari Jabar, Indonesia.

leave a comment »

Angkat gelas ringan tapi lama akan melelahkan. Letakkan gelas yang mulai terasa berat beberapa waktu, lalu angkat lagi, bisa bertahan lebih lama. Setumpuk pekerjaan harian terasa lebih ringan bila diselingi jeda istirahat tiap 2-4 jam, seperti supir kendaraan. Lepaskan akomodasi mata untuk melihat hijau daun di kejauhan, lemaskan otot pegal, syaraf tegang, hirup udara segar dan bayangkan hal menyenangkan. Impian, cita-cita besarmu, orang terkasih atau lembutnya pasir putih untuk bermain.

LETAKKAN GELAS. Istirahat dulu, Yah..

Setiap 20 menit menatap gadget / layar ponsel, istirahatkan mata selama 20 detik dengan melihat benda sejauh minimal 20 kaki / 6 meter, agar mata tak lelah.

Di masa pandemi Covid, tingkat pengangguran, kriminal, perceraian, kelahiran dan KDRT meningkat tajam. Disarankan agar para ibu yang paling stres mengurus suami, anak dan beban berat ekonomi keluarga, untuk rehat sejenak / me-time di ruang khusus yang nyaman tanpa gangguan siapa pun, 1-2 jam dalam sehari. Ketika ayah letih mencari nafkah dan amarah nyaris menyentuh ubun-ubun melihat kaca pecah tak sengaja, segeralah rehat, tarik nafas relaksasi, berbaring, dan wudhu dulu, sebelum bertemu pasangan atau anak. Ucapan salah yang keluar dari mulut orang terpenting di hati bisa melukai dalam dan membekas lama. Bijaklah berucap. Letakkan gelas dulu ..

BANDREK & BAJIGUR, Wedang Hangat Nusantara.

Bandrek dan bajigur adalah minuman hangat / wedang tradisional khas nusantara yang kaya rempah dan enak diminum selagi panas untuk menghangatkan badan di saat cuaca dingin, hujan atau malam hari. Di dataran Sunda, seperti Bandung, Jawa Barat, Bandrek dan Bajigur biasanya dijual bersamaan,
BANDREK juga populer di Medan, Sumatera Utara. Bahan dasar bandrék adalah jahe dan gula merah, kemudian ditambah rempah-rempah untuk memperkuat efek hangat, seperti serai, merica, pandan, telur ayam kampung, juga susu, tergantung selera. Sebagian orang percaya, bandrék dapat menyembuhkan batuk, sakit tenggorokan dan penyakit ringan lainnya. Di Bandung, pedagang biasanya menambah sejumput kerukan kelapa untuk menambah cita rasa. Bandrek biasa dikonsumsi bersama kacang rebus, pisang rebus, ubi jalar rebus, singkong rebus, getuk, nagasari, juga gorengan.

BAJIGUR adalah minuman tradisional khas warga Sunda, Jawa Barat, Indonesia. Bahan utamanya adalah gula aren dan santan lalu dicampur sedikit jahe, garam untuk menambah kenikmatan. Seiring perkembangan jaman, Bajigur dibuat praktis dalam bentuk instan, berupa bubuk yang tinggal diseduh air panas dan bisa dinikmati kapan pun..

BAHAN BANDREK :

* 1000 ml air
* 200 gram gula merah, sisir halus
* 100 gram jahe bakar, memarkan
* 5 butir cengkeh kering
* 2 lembar daun pandan
* 5 cm kayu manis
* ½ sdt garam
* kolang kaling, sebagai pelengkap, boleh ditambah serutan kelapa muda kalau suka.

CARA MEMBUAT Bandrek :

* Rebus air, daun pandan, gula merah, jahe, cengkeh, garam, dan kayumanis hingga mendidih dan tercium aroma sedap. Saring.Tambahkan kolang kaling rebus yang telah diiris dan serutan kelapa. Sajikan.

BAHAN BAJIGUR :

* 1 liter santan dari 1 butir kelapa
* 150 gram gula merah, sisir halus
* 50 gram jahe, bakar, kupas, memarkan
* 4 cm kayumanis
* 1 sdt kopi bubuk
* 2 lembar daun pandan

CARA MEMBUAT Bajigur :

* Rebus santan dengan api kecil, masukkan jahe, gula merah, kayu manis, kopi bubuk dan daun pandan. Masak hingga mendidih seraya diaduk supaya santan tak pecah, angkat, saring. Sajikan.

Selamat menikmati kehangatannya ..

INDONESIA BAKAL EKSPORTIR UTAMA BATERE LITHIUM DUNIA TAHUN 2026 ? Mobil listrik trend masa depan, dimulai dari … sekarang.

Indonesia mau jadi pemain utama batere lithium untuk mobil listrik ? ( bauksit juga diolah jadi nikel yang dibutuhkan industri smartphone, ’emas’ era milenium ini ). Maklum, 90% bahannya ada di Indonesia, yang selama ini 98% ( bauksit mentahnya ) diekspor ke China dan 2% ke Eropa. Padahal jika nikel diolah di dalam negeri, nilai tambah ekonominya bisa 10 kali lipat, untuk kemajuan Indonesia ( tahun 2024 bisa jadi eksportir no.2, tahun 2026 pertama ).

Tahun 2027, Eropa menetapkan penggunaan batere lithium untuk semua mobilnya. Peluang yang akan dimanfaatkan Indonesia untuk memperbaiki neraca perdagangannya. Daerah Morowali ( Sulteng ), Konawe (Sultra ), Wedabei ( Maluku Utara ) kaya akan tambang bauksit dan sedang diserbu investor dalam dan luar negeri. Kita dengar riaknya ( demo ) kemarin, ketika secara bertahap SDM China datang ke Konawe ( 500 orang selama 6 bulan, lalu tranfer teknologi / knowlege ke 5.000 pekerja lokal Sultra, dengan dibangun politeknik yang magang di industri lithium ini ).

Ketua Kadin Rosan Roeslani menyebut di Economic Challenges ( MetroTV, 27/7/2020 ), dampak ekonomi /multiplier efect dari pembangunan 48 smelter ini ( target selesai tahun 2024 di Banten, Jatim, dll. Konsorsium BUMN ikut bangun. Setelah penyesuaian / adjustment 2-3 tahun ( tahun 2027 ) bisa full capacity ), selain menyerap ribuan tenaga lokal, juga akan banyak produk turunan / pabrik lain yang menggeliat dengan hasil ekstrak tambang di sejumlah smelter yang sedang dibangun tsb ( ingat overacting-nya anggota DPR dari fraksi lain mendamprat direktur Inalum tempo hari ? Memamerkan ketakpahamannya soal smelter lalu ujung-ujungnya minta ‘jatah’ / akses konsultasi pembagian CSR BUMN untuk dapilnya. Modal awal bangun smelter memang mahal / hi-tech, tapi bandingkan prosentasinya dengan manfaat yang diperoleh Inalum tiap tahunnya, dan ribuan warga lokal yang bisa dipekerjakan di industri turunannya ). Problem muncul ketika SDM ahli masih kurang ( dibutuhkan 188.000 lulusan D3 dan 97.000 sarjana S-1 jurusan pertambangan untuk bisa membangun semua smelter dan industri lithium seperti visi tsa. Saat ini, baru China yang mau tranfer knowledge ( Jepang belum mau ) sehingga sebagian siswa milenial kita dikirim ke sekolah China untuk mempercepat transfer knowlege ( secara bertahap, melalui proses take & give yang kompak untuk keuntungan kedua belah pihak juga warga lokal ). Jika itu lancar dilalui maka Indonesia bisa ekspor produk senilai 10 miliar USD.

Investasi VDNI di Konawe senilai 1,4 miliar USD ( karena SDM lokal masih kurang ), sementara ini terpaksa mengerahkan 500 TKA China ( tinggal 6 bulan di Sultra ) untuk bangun instalasi pabrik smelter yang bisa menyerap 5.000 tenaga lokal di pabrik batere lithium. Gubernur Ali Mazi bilang, Sultra menyimpan 97,4 triliun ton nikel ( cukup memasok kebutuhan industri untuk 30 tahun ke depan ). Selama ini dari 480 juta ton baru 19,8% yang ditambang dan merupakan 79% dari ekspor Sulawesi Tenggara ( Indonesia menguasai 23,7 % cadangan dan 21 juta ton nikel dunia ).

Sebenarnya ekspor bahan mentah sudah dilarang ( tahun 2009 + 5 ) dan baru bisa diterapkan saat ini dengan konsisten, melibatkan pengawasan banyak pihak. Dengan fokus 3-4 produk hilirisasi saja ( palm oil jadi B-30, kemarin Pertamina dan ITB berhasil meriset minyak kelapa sawit 100% untuk bahan bakar nabati ramah lingkungan / B-100. Bauksit-nikel-batere lithium. Tembaga / copper untuk komponen ponsel ), rakyat Indonesia bisa sejahtera. Tahun 2021, dengan 80% komponen lokal, Indonesia bisa dapat 15 miliar USD dari ekspor batere lithium. Ngiler ya..

( setahu saya, ekspor hasil laut kita, bila tak dicuri kapal asing, bisa mencapai Rp 5.000 triliun per tahun. Ekspor lithium baru Rp 2.100 triliun per tahun. Jangan sampai silau nikel ini membuat mata pejabat pembuat komitmen ( presiden, menko maritim-investasi, KKP, pemda ) menutup mata terhadap kapal illegal fishing, terbanyak asal China dan Vietnam, dibiarkan terus berkeliaran mencuri ikan dan lobster jatah nelayan Indonesia / menjual murah kapal pencuri pada malingnya, daripada menenggelamkan untuk rumah ikan dan pemikat wisatawan. Jangan juga 15 miliar USD ini membuat pejabat / LBP mengintimidasi host dan narsum lain karena merasa lebih tinggi / ‘berjasa’. Sebal melihatnya, pejabat publik kok kayak gitu jawabnya. Host EC Kania Sutisnawinata mewakili pertanyaan publik, jadi jawab kalem saja ( tak merendahkan wapemred MetroTV itu, menggurui, memotong-motong, nyerocos bak mitraliur, tak peduli apa yang penting dan ingin diketahui publik saat ini ).

Di sisi lain, host talkshow TV juga jangan nyerocos merasa lebih pintar dari narsum. Tampilkan diri sejajar tapi santun yang membuat pemirsa tak tegang dan bisa mendapat informasi yang diperlukan dari narsum untuk memutuskan banyak hal terbaik untuk diri, keluarga dan negaranya. Saya suka cara host Leonard Samosir menampilkan narsumnya, bikin pemirsa rileks menyerap info yang digalinya. Narsum bermutu terlihat bersinar. Narsum payah dibuatnya tak malu. Humanis. Menyusul berikutnya Don Bosco ( pengalaman panjang jurnalisme ), Andy Noya ( jurnalis senior yang bisa dibilang promotor utama gerakan donasi komunitas peduli Indonesia ). Desi Fitriani, Aviani Malik, Zackia Arfan dan Fitri Megantara di jajaran female-nya. Semoga pemirsa mendapat info makin berkualitas dari MetroTV dan para narsumnya..

POLITIK DINASTI DI PILKADA, Terserah Parpol atau Rakyat ?

GR dicalonkan PDIP jadi walikota Solo / Surakarta dan BN jadi balon walikota Sumut pada pilkada berikut. Politik dinasti lagi ? Setahu saya, presiden Jokowi pernah melarang putra dan menantunya maju pilkada, namun kemarin GR datang ke istana meminta restu / dukungan. Keras kepala ? DPR RI yang berisi kader parpol pernah membuat UU yang melarang politik dinasti ( melibatkan kerabat petahana maju pemilu ), namun MK lalu membatalkan karena dianggap diskriminatif ( setiap WNI berhak dipilih dan memilih dalam pemilu ) , tapi sekarang kok parpol yang paling ngebet memajukan calon dinasti untuk mendulang suara. Tak konsisten. Tak etis.

Kerabat petahana ( sekitar 5-10% calon di pemilu ) mestinya magang dan diuji dulu karakter dan kapasitas politiknya. Dunia usaha beda dengan dunia politik ( yang penuh tantangan, strategi, manuver, bahkan intrik ). Perlu kemampuan public speaking mumpuni untuk menyampaikan program dan gagasan brilian, jago mempengaruhi pengikut ( visioner, teladan, komitmen ) dan kolega ( lobby, kerjasama, kolaborasi ), punya mental baja ( gak gampang ngambek, maju pilwalkot sekedar pembuktian ke ortu ‘bisa ngomong politik’ ), dan kompetensi mewujudkan visi misi ( leadership / memimpin organisasi / forkompinda, eksekutor, manajerial, akuntabel, transparan mengelola anggaran, e-budget / IT, problem solving, dsb ) agar tak dikerjain, dikibuli anak buah lalu masuk bui KPK ( menyandera petahana / presiden jadi konflik kepentingan, tak tega menghukum, tak bernyali membersihkan anak buah ketum yang disuap buronan DjTj, dsb ).

Terus terang, saya belum melihat karir politik RG dan BN ( baru beberapa bulan jadi kader parpol, menyingkirkan para seniornya yang sudah bertahun-tahun meniti ) cemerlang dan bisa diandalkan ( Hillary Clinton punya karir hukum yang cemerlang dan fasih bicara politik. Capres, cagub, cawalkot, cabup mestinya punya kerja sosial yang bisa dibanggakan dan diakui masyarakat, paham moral agama dan hukum RI sebagai pedoman memimpin ). Saya belum melihat sederet kemampuan itu pada para kandidat kerabat di sini, sehingga sangat berharap parpol batal mencalonkan mereka, regulator / KPU menyiapkan level of playing field yang kondusif / kesempatan sama agar warga daerah punya pilihan calon lain yang lebih berkualitas ( permudah calon independen, turunkan treshold ), atau warga daerah berdaulat memilih kotak kosong daripada memilih cakada tak cakap ( perlu edukasi politik, demokrasi sehat ).

Politik dinasti ? Ke laut aja .. ( untuk saat ini di Indonesia, ketika sebagian besar parpol masih demen ‘mahar’ dan jadi biang kerok masalah besar di negeri ini / korupsi )

SELAMAT LEBARAN IDUL ADHA Jumat, 31 Juli 2020.. di rumah masih lebih baik.

( sholat Ied di lapangan bagi warga daerah hijau, bawa sajadah sendiri, wudhu di rumah, tak bersalaman, jaga jarak 1-2 meter, pakai masker, bawa hand sanitizer / cuci tangan sebelum pegang muka, hanya pemilik hewan qurban yang menyaksikan penyembelihan qurban, ada petugas yang akan mengantarkan daging ke rumah warga penerima / mustahik ). Warga zona oranye, merah, hitam Covid sholat Ied di rumah saja. Tunggu pembagian jatah daging qurban juga di rumah. Tak berkumpul atau antri seperti tahun lalu. Masjid Istiqlal masih direnovasi. Penyembelihan qurban harus menerapkan protokol Covid / petugas ber-APD. Penyerahan hewan qurban bisa melalui transfer uang ke lembaga pengurus qurban / masjid untuk menghindari kerumunan / infeksi Corona. Indonesia tembus 103.000 kasus positif per 27/7/2020. Hukuman sosial membersihkan fasilitas umum tak cukup sejam, tapi harus seharian / 8 jam bagi warga kurang mampu. Denda Rp 100-150 ribu per pelanggar masker yang mampu. Pergub Jabar tentang denda Rp 100-500 ribu bagi pelanggar AKB sudah terbit 28/7/2020. Biar kapok, sanksi harus konsisten, tak pandang bulu dan segera dieksekusi, gak pake lama, agar jadi peringatan keras bagi warga lainnya yang belum disiplin ).

Vaksin Sinovac-China, Korsel, LMB Eijkman Akan Diproduksi Biofarma Januari – Maret 2021, Jangan Euforia, Tetap Disiplin Protokol Covid. Komite Penanganan Covid dan Pemulihan Ekonomi Nasional Dikoordinasi Menteri BUMN Erick Thohir. Inspirasi PHK-wan : Pemulung Kreatif Punya Pabrik Beromzet Rp 10 Miliar + Main Golf.

leave a comment »

Singapura sudah resesi ekonomi dengan pertumbuhan ekonomi minus di kwartal pertama ( -3% ) dan kedua ( -42% ) masa pandemi karena selama ini mengandalkan ekspor dan perdagangan. Thailand dan Filipina diprediksi menyusul resesi setelah kwartal pertama juga mencatat pertumbuhan negatif ( EMI, 22/7/2020 ). Indonesia di kwartal pertama masih 2,9 karena mengandalkan konsumsi domestik ( belanja pasar dalam negeri ), tapi diprediksi -5 pada kwartal kedua setelah dihajar Corona 2 Maret 2020, dan kini bertengger di angka 1.600-an kasus positif per hari dengan jumlah kasus ( 91 ribuan ) sudah melampaui China ( 83 ribuan ) yang bertambah hanya belasan kasus positif per harinya. Indonesia jangan sampai 2 kali minus ( resesi ), apalagi 3 kali ( depresi, banyak yang dipertaruhkan setelah itu ). How ?

Dua hal baru terlihat minggu ini : wajah jubir Yuri / Kemenkes tak lagi melaporkan pertambahan kasus Covid di Indonesia seperti biasanya, diganti wajah Wiku Adisasmito, ketua tim pakar Gugus Tugas PP Covid-19. Ini terjadi setelah Jokowi menerbitkan perpres Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional yang dikoordinasi menteri BUMN Erick Thohir. Fase kesehatan sudah diprioritaskan pada 5 bulan kemarin ( sampai truk-truk logistik perusahaan terhalang di pintu masuk / check point Jakarta ), lalu pertumbuhan ekonomi Indonesia di kwartal kedua ( Mei-Agustus ) diprediksi negatif ( survei Indikator : 80% ekonomi WNI menurun selama pandemi, meski mereka mengaku cukup puas dengan kinerja Gugus Tugas Covid di bawah Doni / ketua BNPB dan para kepala daerah ). Namun daya tahan mereka ( tabungan ), seperti pernah disampaikan di blog ini, hanya sampai Juli 2020. So, di fase kedua : pemulihan ekonomi dan penanganan Covid berjalan paralel di bawah kordinasi Komite Penanganan Covid – ketua pelaksana Erick / ekonomi jadi leading sector ( menko Erlangga jadi ketua Komite PC&PEN membawahi 5 menteri ). Doni Monardo ( ketua Satgas Penanganan Covid / rem, agar rakyat tak tewas abis ) dan Budi Gunadi Sadikin ( ketua Satgas Pemulihan Ekonomi / gas, agar Indonesia tak resesi ) di bawah Erick. Belum ada prototype / negara di dunia ini yang bisa menjaga sektor kesehatan dan ekonomi sama baiknya di masa pandemi. Challenge buat kita dan mas menteri menjadi yang pertama bisa melakukan. Are you ready ?

Hal baru kedua : Sinovac Biotech, perusahaan vaksin China, diizinkan pemerintah RI untuk bekerjasama dengan Biofarma ( BUMN vaksin ) dan kampus Unpad- Bandung melakukan fase ketiga uji klinis vaksin mereka. Perusahaan vaksin Korea Selatan juga melakukan fase ketiganya di sini. Kenapa Indonesia ? Karena kita ( selain bangsa paling dermawan sedunia, juga ) the most colourful people in the world, multietnis, lebih 700 suku bangsa di nusantara, lengkap, ada gen Melayu, Afrika, India, China, Eropa, you name it..

Vaksin buatan Sinovac ini juga diuji di India, Chili, Bangladesh dan Brasil yang memiliki keragaman suku, kata Wang Xin, kontributor MetroTV di China ( Prime Time News, 21/7/2020 ). Fase 3 adalah fase uji klinis sebelum vaksin dipasarkan dan fase 4 dilakukan setelah vaksin dipasarkan. Di masa pandemi / darurat, uji klinis fase 2 dan 3 bisa digabung / dilakukan dalam 3-6 bulan. Sebanyak 1.620 orang sehat / relawan Bandung akan menjadi sampel uji klinis vaksin ini. LMB Eijkman yang juga tengah membuat vaksin sudah mencapai progres 30% ( pondasi riset ) yang diperkirakan kelar Februari-Maret 2021, kata prof. Amin Subandrio. Indonesia yang beriklim tropis lembab baru terinfeksi Covid sekitar 2 Maret 2020 dari imported case / interaksi sosial, kata prof. Dwikorita / kepala BMKG yang memimpin para pakar mencari penyebab utama Indonesia terinfeksi Covid-19. Jadi, bukan pembuatan vaksin dalam negeri yang telat 3 bulan, tapi karena Indonesia memang baru kebobolan virus Covid setelah ada WNI ( kasus -1 Covid ) berdansa dengan WNA Jepang yang baru ketahuan positif belakangan.

Apa bedanya kedua vaksin tsa ?. Pada vaksin buatan China, digunakan virus utuh yang dimatikan dan disiapkan sebagai vaksin sehingga bisa jadi lebih cepat karena darurat. Pada vaksin buatan prof. Amin dkk di LMB Eijkman, digunakan potongan virus sehingga lebih aman ( tapi jadi lebih lama ). Untuk keperluan darurat, vaksin Sinovac diuji klinis pada 1.620 sampel di Indonesia sekitar 6 bulan, sehingga pada triwulan pertama tahun 2021 baru bisa diproduksi untuk minimal 70% populasi ( 170 juta WNI ) sebanyak 2 kali ( 340 juta dosis ). Ketiga produsen vaksin tsa diberi kesempatan pemerintah agar Indonesia bisa minimal mencukupi kapasitas 250-340 juta dosis vaksin yang dibutuhkan selama 2 kali vaksinasi.

Ada 23 negara yang kini sedang mengembangkan vaksin Covid. Vaksin dengan galur / strain ( dari potongan virus yang sudah bermutasi dengan iklim ) Indonesia yang tengah dibuat di LMB Eijkman tentu lebih aman bagi rakyat Indonesia, sehingga pemerintah perlu lebih cepat memfasilitasi penyelesaian vaksin buatan Indonesia yang seingat saya berdana Rp 5 miliar ( dari dana riset keseluruhan yang diterima Kementerian Ristek Rp 500 miliar ). Di luar negeri, anggaran riset vaksin bisa mencapai Rp 5 triliun atau lebih dan bisa kembali modal lebih Rp 50 triliun ( itu sebabnya BG + Big Pharma tergiur ).

Pemerintah RI menyediakan dana pembelian vaksin hingga Rp 50 triliun. Jika saja sejak awal dana sebesar itu dianggarkan untuk riset vaksin, Indonesia bisa berdaulat vaksin di dalam negeri sekaligus eksportir besar vaksin dunia, sampai bisa balik modal lebih Rp 500 triliun ke kas negara. Tak perlu repot uji klinis fase 3 ke banyak negara, karena selain Indonesia sudah multiras, WNI seperti pemirsa EMI ( MetroTV, 24/7/2020 ) dari Makassar-Sulsel ragu dengan vaksin luar negeri, dan memilih divaksin dengan vaksin buatan Indonesia. Vaksin temuan LMB Eijkman yang rencananya dijual Rp 75-140 ribu per dosis, karena pandemi, mestinya diberikan secara gratis untuk seluruh rakyat Indonesia, seperti wabah sebelumnya / cacar, dll.

Ke depan, sebagai negara terbesar ke-4 penduduknya di dunia, Indonesia perlu punya lembaga riset mumpuni ( pakar, fasiltas, dana riset memadai ) yang bisa membuat vaksin lebih cepat dari China. Kita tak mau jadi obyek perang dagang vaksin banyak negara kan ?. Seiring kerusakan lingkungan yang kian parah karena makin padatnya bumi oleh jubelan lebih 7 miliar manusia yang merambah hutan dan mengotori laut, sehingga ‘bala tentara’ kuman, virus, bakteri untuk menghukum / depopulasi agar bumi bertahan akan terjadi lagi setelah pandemi Covid. Semoga saat itu dunia riset Indonesia sudah lebih siap dan kita semua sudah terbiasa disiplin untuk bertahan sehat / imunitas dan bersiap dengan semua kemungkinan terburuk jelang akhir dunia ( perang segala lini dan matra dan memenangkannya sesuai perintah-Nya ).

Berita pembuatan vaksin ini jangan sampai membuat kita euforia lalu mengabaikan protokol kesehatan. Apa pun bisa terjadi dalam masa penantian vaksin 6 bulan ini, sehingga kita semua wajib tetap disiplin pakai masker, jaga jarak, cuci tangan untuk memastikan Indonesia survive. Delapan provinsi : Jakarta, Jatim, Jateng, Jabar, Papua, Sulsel, Kalsel, Sumut menjadi perhatian serius Satgas Penanganan Covid karena jumlah kasus positifnya yang bikin hati berdebar. Bisa dimengerti jika Gubernur Jabar- Ridwan Kamil minta bioskop dan tempat hiburan tahan diri jangan buka dulu, karena virus Covid bermutasi airborne berpotensi merebak di ruang tertutup / indoor yang kurang ventilasi.

Para pekerja tempat hiburan di Jakarta, kemarin berdemo ke kantor gubernur Anies, minta agar diizinkan buka. Kenapa tak berinovasi bikin bioskop misbar atau main bilyar di outdoor / area parkir ? Nonton dari mobil masing-masing juga relatif aman dari Covid selama pakai masker, apalagi masker helm bermesin ultraviolet di dalamnya. Kreatif, ajukan proposal pengamanan Covid, dan awasi disiplin pengunjung. Tolak mereka yang tak pakai masker, atau menolak ‘ditembak’ thermal gun ( karena beredar hoax bisa merusak otak. Mulai deh pembelahan massa jelang pilkada. Gak tobat-tobat. Dosa jariah, tahu ). Jika mereka menolak diperiksa suhu, ya ganti tolak mereka masuk ke lokasi ( pasar, mall, dsb ). Kemarin diberitakan, satu petugas KPU terinfeksi Covid sehingga kantor KPU di Jakarta ditutup 3 hari untuk disinfeksi dan di-swab test ( yakin masih mau pilkada 9/12/2020 ? Apa gak nunggu LMB Eijkman dan Bio Farma selesai bikin vaksin dulu Maret 2021 ? Perppu-nya memungkinkan untuk itu ).

KAYA DENGAN MENDAUR SAMPAH

Bagi yang dapurnya mulai sulit ngebul ( karena PHK ) bisa mencoba peruntungan menjadi pemulung kreatif atau garbage designer. Ada 3,5 – 5 juta pemulung masa pandemi ini, kata Ikatan Pemulung Indonesia ( The Nation, MetroTV, 21/7/2020 ). Botol plastik bekas air mineral dihargai Rp 2000 per kg, kertas Rp 900 per kg. Kata pemulung bernama Ota ( mantan nelayan kecil beranak 4 ), dalam sehari ia bisa dapat 5 kg botol plastik di mana 40 KK lainnya juga bekerja sebagai pemulung.

Pabrik daur plastik Polypack, ber-omzet Rp 10 miliar per hari, hasil kerja keras Law Darwin, jebolan kelas 3 SD yang memulung selama 6 tahun sejak 1999. Pemilik 3 pabrik ini memperkerjakan 3.000 buruh, bekerjasama dengan pemda Jakarta. Awalnya waste industry lalu fokus ke plastik sejak tahun 2005. Sekitar 120 ton botol plastik bekas per pabrik menghasilkan biji plastik berkualitas tinggi, dll, diekspor ke Eropa dan Australia. Zero waste, karena sisa plastik diolah jadi conblock / bahan bangunan. Darwin ingin pemulung menjadi bagian dari stakeholder penanganan sampah di pemda, berapa plastik yang diambil tiap pemulung, pengurangan sampah yang berhasil dilakukannya untuk memperbaiki citra Indonesia yang masih berstatus pembuang sampah terbesar kedua di dunia setelah China. Kemarin ditemukan buaya raksasa masuk sawah warga, dan ikan paus mati terdampar karena ( diduga kuat ) laut dan sungai tercemar limbah sampah.

Dalam sirkular ekonomi tsa diperlukan sampah terpilah dan bersih dari rumah warga melalui bank sampah. Tapi karena banyak warga belum sadar, sehingga sebagian pabrik masih impor sampah. Peta jalan / permen LHK yang mewajibkan pemanfaatan 10% sampah dari pabrik manufaktur, perhotelan, dll / redesign dari bahan daur ulang dalam waktu 10 tahun ini terus dikebut.

Pemulung kreatif Bob Novandi bisa mengolah botol plastik bekas jadi lampion cantik, mobil-mobilan, pohon natal, gerbang darling, tirai 3 dimensi, bros, dsb berharga Rp 75 ribu – 6 juta per buah, buah ketekunan lulusan publisitik ini memulung selama 17 tahun ( Kick Andy Show, MetroTV, 19/7/2020 ). Taufik Saguanto, garbage designer, bisa bikin 600 jenis motor miniatur dari bahan plastik bekas botol yang laku 3000 yen di Jepang, juga dibeli peminatnya di Kanada dan Afrika.

John Peter kini bisa main golf dari hasil memulung sejak tahun 1989. Ia bisa punya pabrik biji plastik berkualitas ekspor, meski berangkat dari anak petani kecil yang terusir dan bercita-cita jadi pengusaha. Kuliah di jurusan peternakan Unpad dan kimia ITB dilakoninya untuk pergaulan. Siapa pun yang mau diproses : diambil, dipilah, dibersihkan, bisa hidup dari bisnis daur ulang sampah, kata John. Dengan modal Rp 6 juta, orang yang kemarin dikejar debt collector, karena mau berproses, kini jadi pengepul sampah yang bisa beli mobil Terios dan rumah. Inspirasi bagus buat para korban PHK masa pandemi yang mau buang gengsi, dan tekun berproses.

Plastik digunakan di hampir di semua aspek kehidupan kita karena hemat ( hanya menggunakan 4% BBM dalam pembuatannya ), ringan dibawa, mudah dibentuk, digunakan, dan didaur-ulang ( 15 Minutes, MetroTV, 22/7/2020 ). Plastik diciptakan tidak untuk dibuang, tapi didaur-ulang dalam sirkular ekonomi : pemulung – pengepul / bank sampah – pabrik biji plastik – pembuat perkakas – konsumen. Jika rakyat Indonesia bisa disiplin buang sampah pada tempatnya ( dedaunan ke tong sampah organik, plastik ke tong sampah anorganik, dsb ) maka laut akan jernih, ikan akan sehat, sungai jernih tak meluapkan banjir karena terbebas endapan sampah, lebih 5 juta pemulung, 26 juta WNI miskin dan PHK-wan bisa hidup layak seraya menyelamatkan muka Indonesia di mata dunia ( negara mayoritas muslim yang menyakini kebersihan bagian dari iman ini mampu memperbaiki citranya menjadi negara terbersih di dunia tahun 2025, dst ).

Pemulung sampah kreatif kini kaya-kaya. Jangan patah semangat. Rem Covid dan gas ekonomi bisa seimbang jika kita semua disiplin protokol kesehatan ( tapi hati-hati, jangan mau menerima masker berobat bius dari orang tak dikenal / bukan aparat atau petugas Covid, karena pernah kejadian mobil lalu dilarikan si maling berkedok pemberi masker ). Pemirsa EMI dari Makassar yang lagi ketat-ketatnya PSBB dengan plt walikota, curhat agar fokus kesehatan dulu. Untuk zona merah seperti Makassar dan Surabaya memang ekonomi belum dilonggarkan, bu Lia. Zona kuning, biru, hijau yang kini boleh mulai ‘menari’ ( tarik ulur ekonomi dan kesehatan ) dengan kriteria dan protokol ketat ( segera disanksi jika melanggar ).

Sejak 14/7/2020, Surat Izin Keluar Masuk ( SIKM ) Jakarta sudah dihapus, dan diganti dengan CLM ( Corona Likelyhood Matric )
yang bisa diunduh di Playstore ( aplikasi Jaki / JakartaKini ) atau di corona.jakarta.go.id yang berlaku 7 hari, lalu di-update lagi, mengisi questioner lagi, untuk bisa keluar masuk Jakarta ( Prime Time News, MetroTV, 18/7/2020 ).

Media Group meluncurkan Magna Channel, TV digital terestrial pertama di Indonesia yang menjangkau hingga wilayah perbatasan NKRI. Asik abis. Sedangkan, Maspion memproduksi sabun CT-19 seharga Rp 1.600 yang bisa untuk 1.000 kali cuci tangan dan membunuh Covid-19 ( MetroTV, 22/7/2020 ).

DONASI BUAT NELAYAN & KEDAULATAN NKRI

Susi Pudjiastuti di acara “Susi Cek Ombak” ( tiap Rabu jam 8 malam di MetroTV ) juga membuka donasi via BenihBaik.com untuk iuran membeli kapal fiber ( ringan, hemat BBM, kuat melaut jauh ke tengah samudera sekaligus ikut mengawasi kapal asing yang masih nekad mencuri ikan di perairan Indonesia / ZEE ) bagi para nelayan yang berperahu kayu atau sulit menangkap ikan setelah bu Susi tak lagi menteri KKP. Berdonasi Rp 100.000 per orang sudah bisa meringankan para nelayan untuk bertahan hidup dan menjaga kedaulatan laut NKRI, apalagi kalau bisa lebih ( harga sekitar Rp 60 juta per kapal fiber ). Hatur nuhun.

Nah, ekonomi sudah mulai menggeliat sekarang. Jangan ketinggalan ya, ikut kreatif berusaha dengan disiplin protokol kesehatan yang tertib. Indonesia mau jadi bangsa maju yang disiplin dan inovatif. Dari survei, Indonesia, Amerika dan China, disebut sebagai bangsa yang optimis di tengah sulitnya ‘menari ekonomi seraya menggodam Covid’ masa pandemi ini. Yo, ayo ..

Selamat Hari Anak Nasional 23 Juli 2020..

Mimi Rasinah, Erly Rasinah, Wangi Indriya, Maestro Tari Topeng Indramayu, Jabar. Bentuk Tim Investigasi Independen Ungkap Kasus Buron ‘Sakti’ DjTj. Rilis Inpres Denda Rp 100 – 150 ribu per Pelanggar Masker. Video Ngeri Bahaya Covid Mematikan di Zona Merah untuk Mendisiplinkan Warga Bandel, Kerumunan Egois, Pengambil Paksa Jenazah Covid Bego. Masker Helm Ultraviolet buat Frontliners. Jubir Manipulatif + Provokator Kerumunan Khitanan yang Dihukum, Bukan Bu Bupati Bogor.

leave a comment »

Mimi Rasinah dalam salah satu aksi panggungnya yang mempesona. Akankah generasi penerus serius mewarisi kepiawaiannya menari topeng ?

“Mimi ingin menari sampai mati,” kata Mimi Rasinah. Sang maestro topeng Indramayu, dengan tubuh renta dan sakit-sakitan ingin mengakhiri usianya dengan menari. Mengharukan. 4 Agustus 2010, tari topeng Panji Rogo Sukmo di Bentara Budaya Jakarta pada acara “Indramayu Dekat di Hati” menjadi tarian perpisahan Mimi. Mimi mewariskan tariannya pada cucunya, Aerli yang tampil bersamanya di pembukaan acara. Sabtu ( 7/8/2010 ) pukul 14.30, Mimi ( 80 th ) menghembuskan nafas terakhir di RSUD Indramayu. Wanita kelahiran Pekandangan, Indramayu, 5 Mei 1930, sempat mengeluh pegal setelah pentas, kemudian sakit perut.

MIMI RASINAH, SANG NENEK GURU

Indramayu merasa kehilangan. Seniman di Cirebon juga. Doa bersama dipanjatkan untuk menghormati Mimi Rasinah dipimpin Pangeran Agus Djoni dari Keraton Kanoman, di acara pemilihan Duta Tari Topeng di Cirebon. Acara yang diselenggarakan Cirebon Art and Culture ini dihadiri seniman se-Ciayumajakuning dan Bandung. Di Gedung Kesenian Kota Cirebon ( 9/8/2010 ) digelar 5 pewaris topeng Cirebon, Indramayu dan Majalengka, termasuk Aerli. Pagelaran ini menampilkan tarian para pewaris dari maestro topeng sebelumnya, ujar Dadang Kusnandar, budayawan dan pengamat seni Cirebon.

MAESTRO SENI / PELESTARI BUDAYA / CULTURE SUPERPOWER

Mimi dikebumikan di pemakaman umum di desanya di Pekandangan. Mimi meninggalkan seorang putri, Waci ( 50 th ) dan 5 cucu. Salah satunya, Aerly yang dipersiapkan Mimi sebagai penggantinya. Tubuh Aerly bergetar ketika sepanggung dengan nenek tercintanya. Ia merasa ada kekuatan lain yang terpantul dari gerak tari Mimi. Penampilan terakhir yang sangat berbeda. Beberapa hari sebelumnya, Mimi berpesan kepadanya agar kelak topeng kelana dan kosmetiknya ikut dikubur.

Menari sampai mati, ‘pergi’ bersama topeng Kelana kesayangan, juga memiliki pewaris tariannya, sudah diraih Mimi. Akankan satu pergi, tumbuh seribu di Indramayu, atau tanah air ? Bagaimana generasi penerus ?

ERLY RASINAH, SANG CUCU PENERUS

Saat Covid-19 merebak, sejumlah sanggar tak menggelar latihan bagi anak didiknya, termasuk Sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah, yang melakukan terobosan kreatif agar anak didiknya tetap bisa latihan, meski jarak jauh melalui kanal media sosial ( FB, YT ). Ketua Yayasan Sanggar Tari Mimi Rasinah, Edi Supriyadi mengatakan, live streaming pertunjukan tari topeng dibawakan secara langsung oleh Erly Rasinah untuk menyegarkan suasana hati para seniman yang lebih dua bulan terdampak virus corona karena terpaksa menghentikan kegiatan sanggar dan pentasnya. Tak diduga, pertunjukan yang digelar secara live streaming ini tak hanya dilihat anak didiknya, tapi juga ditonton ratusan bahkan ribuan orang.

Bulan ramadhan kemarin, juga live streaming, dimulai malam hari, lengkap dengan lampu-lampu, yang membuat pertunjukan lebih menarik. “Jangan sampai kita kehilangan kreativitas, gunakan teknologi yang ada. Ajarkan siswa binaan melalui media sosial, sehingga anak-anak binaan sanggar-sanggar seni bisa terus belajar di rumah. Mereka tidak bosan ketika ada di rumah, bisa sambil belajar gerakan tari,” ujar Erly Rasinah

Karakter Kelana yang berwajah / topeng merah menyeramkan di daerah Indramayu ada dua yang menjadi ciri khasnya. Salah satu pembuat topeng, sekaligus dalang Wayang Golek bernama Warsad menjelaskan perbedaan topeng Kelana Udeng dengan Kelana Gandrung.

Cerita Panji lazim pada masyarakat Jawa. Di Cirebon, Panji diceritakan dalam bentuk tari topeng yang dulu memiliki 10 karakter : Panji, Pemindo, Samba, Rumyang, Tumenggung, Pati, Kelana Muda, Kelana Godek, Kelana Udeng, dan Jingga Nanom. Kini, Tari Topeng dipatenkan menjadi 5 jenis : Panji, Samba, Rumyang, Tumenggung, dan Kelana ( Gandrung ). Untuk daerah Indramayu, selain Kelana ( Gandrung ) ditambah satu karakter topeng Kelana Udeng yang tak ada di daerah lain.

Kelana Udeng ( punya bewok ) di golek cepak Sunda, bercerita tentang Raja Blambangan yang hendak melamar Dewi Sekar Taji, di saat Panji pun hendak melamarnya. Keduanya lalu bertarung memperebutkannya dan Raja kalah. Dalam pentas, Kelana Udeng ditarikan setelah topeng Kelana Gandrung ( Raja Blambangan sedang jatuh cinta pada Sekar Taji ).

Kelana Udeng menjadi ciri khas Tari Topeng Indramayu karena konsisten dibawakan oleh Mimi Rasinah, seorang maestro tari topeng indramayu setelah vakum ketika topeng masih berjumlah 10. Selain Mimi Rasinah, Wangi Indriya juga dikenal sebagai penari Topeng Indramayu ( kemdikbud.go.id )

WANGI INDRIYA, PENARI TOPENG INDRAMAYU, YANG AYU & TAWADLU.

Perempuan berparas ayu berdiri gagah di tengah panggung bernama Wangi Indriya, penari topeng senior yang terlibat beberapa pementasan tari nasional maupun internasional dengan para koreografer kelas dunia. Wangi seharum namanya, tak sungkan menari, meski di kelas hajatan panggung sederhana yang menutup jalan, Selasa ( 19/6/2018 )
di daerah Anjun, Indramayu ( Bandungkiwari ). Wangi menari dengan lincah. Meski tubuh tak lagi muda, ia masih trengginas bergulat dengan irama musik Topeng yang keras. Hentakan badannya mengajak penonton sepuh mengunduh kerinduan masa lampau.

Perempuan kelahiran 10 Agustus 1961 di desa Tambi Kidul, Kecamatan Sliyeg, ini sejak umur 10 tahun sudah bersentuhan dengan tari Topeng dari sang kakek dan ayah yang melatihnya menari bersama saudaranya secara ketat yang membuatnya sering menangis. Acapkali mendapat pukulan, jepretan bahkan bentakan ketika belajar tari Topeng Panji yang begitu halus dalam bergerak.“Sekali saja narik napas terlihat. Hukuman langsung mendarat,” tutur Wangi. Latihan keras itulah yang akhirnya membuatnya bersungguh-sungguh menari, tak menyurutkan mimpinya menjadi penari.

Setelah mengajar di Sanggar Mulya Bhakti di Desa Tambi Kecamatan Sliyeg Kabupaten Indramayu, teknik mengajar keras yang didapatnya di masa lalu tak diterapkan Wangj pada muridnya. “Bisa kabur mas, kalau dipukul,” jelas Wangi yang ingin penerus Topeng selalu hadir dan menjadi identitas kultural Indramayu pada setiap babak jaman. Menjaga tradisi tari Topeng tetap meruang membuat Wangi menyempatkan menari di berbagai peristiwa dan tempat, termasuk di hajatan khitanan sederhana Wangi tampil bersama beberapa muridnya. Tak ada lampu yang mengentalkan kisah lakon tari, atau suasana gedung yang membuat emosi berloncatan. Namun kesederhanaan inilah yang melahirkan tari Topeng yang utuh, di rahim desa di mana seni ini lahir. Wangi ingin penari tak hanya hapal gerak Topeng, namun juga menghayati filosofi agar penari tak lepas dari esensi gerakan topeng.

“Menari topeng itu belajar mati sajeroning urip,” ucapnya. Kematian ketika masih hidup dengan pendekatan budaya Indramayu. Sesungguhnya pengertian topeng dan kedok itu berbeda. “Mapan sing Siji,” ucapnya lagi. Yakin terhadap Yang Satu, yaitu Tuhan.

Kebesaran, kejayaan bangsa kita, dimulai dari penghargaan tinggi pada seni tradisi, jati diri bangsa. Bangga pada budaya Indonesia, disusul bangga menggunakan produk dalam negeri. Selanjutnya, makmur sejahtera. Duh, bahagianya..

KARPET MERAH BURON CESSIE BB. Kejarlah DjTj, kau kan kutangkap..

Publik, media, MAKI, Ombudsman, netizen sedang meributkan siapa yang lebih ‘sakti’ : jenderal polisi atau buronan kakap DjTj ? Diberitakan kemarin ( Prime Time News, MetroTV, 15/7/2020 ), ada surat jalan ditandatangani brigjen polisi PrU ( jenderal bintang 1, kepala biro pengawasan PPNS Bareskrim Polri ) dan surat pencabutan red notice interpol untuk DjTj oleh bridjen polisi juga, yang menyebabkan buronan korupsi pengalihan hak tagih / cessie BB ini bisa membuat KTP-e di kelurahan Grogol Selatan, Jaksel ( lurahnya sudah dicopot karena kasus ini ), membuat paspor baru ( sudah diserahkan Anita ke KemenkumHAM belum dicap / digunakan ) dan mendaftarkan PK ke PN Jaksel, lalu mangkir dengan surat keterangan sakit dari faskes Kuala Lumpur, Malaysia ( setelah Kejagung mendaftarkan DPO lagi dan menempatkan orangnya untuk menangkap DjTj di PN Jaksel. Intel Kejagung vs intel Polri + intel Imigrasi / KemenkumHAM ? ), setelah buron 11 tahun ( dari tahun 2009 sehari sebelum putusan MA : pidana 2 tahun penjara, denda Rp 530 miliar / Rp 15 juta + simpanan di bank dirampas untuk negara ) serta sempat jadi warga negara Papua Nugini ( menurut KBRI ).

Beberapa kemudahan dengan surat otorisasi / sakti ini di sejumlah instansi dengan waktu hampir bersamaan jelas ada mafia hukum / aktor intelektual yang mengatur penyembunyian buron melanggar UU ini. Jika tak terendus media, mungkin PrU cuma dihukum kode etik, atau dimutasi ke meja lain ( padahal sanksi pidana berat bagi penyembunyi / membantu buronan kabur ). Polri tidak promoter dari tahun 2009-2020 jika tak ada perubahan signifikan terhadap perlakuan ‘karpet merah’ / istimewa bagi koruptor buron. Anda percaya, buron 17 tahun korupsi BNI, MPL yang merugikan negara Rp 1,7 triliun, bisa ditangkap aparat kita dari negara yang tak punya perjanjian ekstradisi dengan Indonesia, tapi ‘tak berdaya’ menangkap buron 11 tahun yang sempat hilir mudik 3 bulan di depan mata / Jakarta ?

Polisi RI itu jagonya nangkap teroris di lubang tikus sekali pun dan jadi ‘guru’ kepolisian negara lain dalam menangani radikalisme ( mandor ABK WNI tewas di kapal China yang berlabuh di Sumut kemarin juga berhasil ditangkap aparat ), tapi terpaksa tumpul di depan kader parpol penguasa yang sudah gemuk bergelimang uang gaji dan korupsi, demi kestabilan negara ( sampai kuasa hukum buron caleg HM dari PDIP bernyali melabrak lantang host Prime Time News dan petantang petenteng mendiskreditkan berita Media Indonesia, lalu sesumbar tak takut siapa pun / Surya Paloh ). Apa tak malu dengan petugas kebersihan kereta KRL PT.KCI ( anak perusahaan PT.KAI ) yang mengembalikan kresek berisi uang Rp 500 juta pada penumpang ( pengusaha, uang untuk gaji pegawainya ) yang lupa membawanya pulang tanpa hilang sesen pun di masa sulit Covid saat ini ? ( petugas jujur dan supervisornya kini diangkat menjadi pegawai tetap sebagai apresiasi ).

Sedih sekali. Anda yakin, PrU bergerak sendiri seperti konpers Kabareskrim kemarin ? ( tanpa sepengetahuan Kabareskrim, Kapolri ). Jika satu surat jalan dan PrU yang tergiur suap, jabatan, koneksi, atau penutupan kasus lamanya, mungkin ia bergerak sendiri. Tapi di kasus DjTj ini ada 2 surat ( termasuk kabiro interpol yang mencabut red notice ) dan melibatkan 4 instansi besar : Imigrasi / KemenkumHAM, kelurahan /dukcapil / Kemendagri, PN Jaksel / MA dan Polri.

Analisa saya, menkumHAM YL, kader PDIP yang pada tahun 2001 ketumnya jadi penguasa / anak buahnya diduga kuat terkait kasus DjTj untuk ‘mahar’ pemilu. Hutang suap ini dibayar dengan melepaskan DjTj dan mengorbankan 2 jenderal polisi, lurah, dirjen imigrasi, semua yang terkait surat jalan tsb. Kasus caleg suap HM dan ETans** tahun 1994 bermodus serupa. Ada 4 perbatasan ( Kalbar, Kaltara, Papua, Papua Barat ) yang tak dipasang petugas Imigrasi untuk pintu kabur para DPO / koruptor yang sudah menyuap calon parpol untuk ‘mahar’ demi nomor jadi terpilih. Itu sebabnya, saya memilih parpol tanpa mahar / Nasdem di pilpres dan pilkada kemarin. Moral hazzard para kader parpol / kandidat pemilu, membuat aparat kecil dikorbankan, padahal mereka sudah berjibaku nyawa sampai dibakar massa yang maksa berdemo, dan dibunuh teroris yang mangacaukan negeri ini. Saya sayang Polri, sehingga presiden Jokowi perlu membuat tim investigasi independen untuk mengungkap kasus buron memalukan aparat ini sampai si dalang / petinggi parpol yang disuap DjTj dihukum jera.

Menkopolhukam Mahfud sudah memanggil 4 pimpinan instansi terkait tsa. Karena ‘jeruk tak mungkin makan jeruk’: Kapolri tak mungkin ( tega ) menghukum Kabareskrim atau 2 jenderal kabiro, juga semua penanggungjawab stempel, kop surat, semua otorisasi di 2 surat tsb sampai bisa begitu ‘sakti’ dan membuat 3 instansi lainnya menurut.

Jika Polri berani membersihkan orang yang sebenarnya bersalah, dan Jokowi bernyali membersihkan seniornya /petinggi parpol yang disuap DjTj, maka publik akan angkat topi / respek / trust untuk keteladanan negarawan semacam ini. Semoga tak ada orang kecil dan baik dikorbankan lagi oleh syahwat politik pihak lain. Kita kawal kasus ini, siapa lebih sakti DjTj atau presiden ?

DENDA Rp 100-150 RIBU BAGI PELANGGAR MASKER. Jabar mulai sosialisasi..

Kasus Covid terus meningkat eksponensial karena warga lebih banyak yang tak disiplin protokol kesehatan ( 60% ), sedangkan 3T ( Tracing, Testing, Treatment ) masih di deret tambah ( belum 30.000 per hari secara nasional, atau 1.000 swab test per sejuta penduduk per minggu ). Pengambilan paksa jenazah masih terjadi di sejumlah daerah karena kesadaran keluarga duka masih rendah untuk menjaga orang lain tertular virus mematikan ini. Menyedihkan..

Sebagian tokoh masyarakat di daerah juga belum paham bahaya Corona bisa meluluhlantakkan negara, sehingga ketika ditertibkan malah balik menuntut penertibnya, seperti keluarga penggelar acara syukuran khitanan di Kab. Bogor dengan dalih 303 dari ribuan kerumunan penonton panggung hiburannya di masa PSBB sudah di-Covid test dan tak positif. Seenteng itu si Abah minta maaf, lalu beres urusan ? Lalu, si jubir ( ortu anak yang dikhitan ? ) yang ( pura-pura ) tak tahu jarak penonton acara sekian malam di zona merah itu melanggar protokol Covid dengan dalih surat edaran Kapolri tentang larangan berkerumun sudah dicabut ( padahal permenkes / PSBB Transisi di Bodebek, PSBMikro di zona merah, AKB / New normal di Jabar kuning masih mewajibkan warga bermasker, cuci tangan, jaga jarak 1-2 meter berlaku hari ini sampai vaksin Covid diproduksi Bio Farma / Desember 2021, dengan denda Rp 100 ribu sd 10 juta / kerja sosial dan penjara sd setahun sesuai UU Kekarantinaan Kesehatan. Setahu saya, Jabar mulai menerapkan denda Rp 100 -150 ribu bagi warga tak pakai masker di tempat umum mulai 27/7/2020 ). Lewat kuasa hukum keluarga si jubir, bupati Ade yang menyerahkan kasus kerumunan bandel ini ke Polda Jabar, mereka tuntut minta maaf dan diadukan ke Mabes Polri dengan pasal pencemaran nama baik. Fans pendangdut sohor RhI itu juga ikut-ikut mengancam bupati Ade. Apa yang terjadi di pelosok Jabar ini ?

Kita tahu pembangunan villa tak terkendali di Puncak, Bogor oleh ( sebagian besar pejabat ) warga Jakarta ( weekend kemarin arus kendaraan ke Puncak dari Jakarta makin ramai ) telah menyebabkan kerusakan lingkungan parah di Bogor dan kiriman banjir ke daerah sekitarnya. Ada masalah pengendalian dan koordinasi di sini ( jalan rusak / infrastruktur minim di sekitar TKP ) yang dipakai si jubir dan kuasa hukumnya untuk balik menyerang bu bupati. Saya berpikir, kenapa Abah S tak bisa menolak permintaan anaknya / si jubir ? ( syukuran yang berpotensi kerumunan / melanggar protokol / ditiru keluarga lain ). Apa ia tak ngeh betapa repotnya petugas medis berjibaku nyawa ( pemkab mendisiplinkan warga, mengerem laju Covid ), sampai menyerah dengan rengekan anaknya yang belum dewasa itu ? ( menutupi kesalahan diri dengan mengungkit kekurangan bupati akibat kesalahan pembangun villa dari Jakarta itu ).

Juga RhI sebagai figur publik / raja dangdut, kenapa tak kuasa menolak untuk bernyanyi yang diprediksi bisa membangkitkan histeria massa yang berteriak mengelukan / memuncratkan droplet air liur dan airborn Covid tanpa phisycal distancing itu ( siapa yang bisa memastikan, tak ada yang melorotkan masker pengap lebih 15 menit antar penonton berdekatan ? ). Bukankah mencontohkan hal baik ( patuh pada protokol Covid / tak berkerumun ) lebih bermartabat, berpahala, menguji nyali, daripada menyerah pada rengekan pengundang yang tak paham bahaya Covid atau manipulatif itu ? ( RhI merasa terjebak situasi, indikasi ada manipulator di acara 5 hari 5 malam ini ).

Melihat ucapan minta maaf dan gestur rendah hati Abah S di Prime Time, MetroTV, saya rasa ia cukup diingatkan untuk jangan mengulangi kesalahannya ( menyerah pada rengekan anak yang memanipulasi info Covid ). Jika masih mengadakan acara kerumunan lagi, Abah baru diproses hukum sesuai UU ( denda Rp 10 juta dan penjara setahun ). Begitu pula seluruh pengisi acara, termasuk RhI, beri peringatan keras dan edukasi bahaya Covid : jika mengulangi hadir di acara kerumunan masa pandemi di mana pun di Indonesia maka pasti akan diciduk dan diproses hukum.

Si jubir manipulatif atau provokator yang ngotot memaksa menggelar acara meski sudah disurati bu bupati yang melarang acara tanpa izin ini ( tak cukup pemberitahuan ke polisi ) yang diproses hukum sebagai pelajaran bagi pengundang / provokator lainnya di tanah air ( emang keluarga S yang akan menanggung biaya RS / kesehatan jika Jabar sampai ketularan zona merah seperti daerah kalian ? APBD Jabar dari pajak warga Jabar bisa habis meladeni keegoisan si jubir dan provokatornya, sampai PDAM tak bisa mengocorkan air ke sebagian rumah warga seminggu sd sebulan ini, padahal kita perlu sering cuci tangan, mandi, menjaga kebersihan untuk menangkal Covid. Akan lebih banyak orang yang mengutuk keluarga bandel merasa benar sendiri seperti keluarga S, tahu ).

Sebagian warga Jatim juga belum sadar protokol Covid hingga data kasus baru Covid nasional masih bertengger di angka 1200-an positif per hari, sampai menkes Terawan terpaksa berkantor sementara di Jatim untuk memantau lebih dekat penanganan Covid di episentrum ini hingga menurun signifikan. Istilah ODP, PDP, OTG juga diganti suspect, dst. Belasan lembaga negara di bawah Perpres dan PP yang berkinerja buruk / tak berkontribusi signifikan akan dihapus untuk menghemat anggaran negara. Iuran BPJS yang sempat dianulir putusan MA, kini kembali naik mesti tak 100% seperti sebelumnya ( peserta kelas 3 masih disubsidi sampai Januari 2021 / tetap Rp 25.500 ). Akan banyak penghapusan subsidi berikutnya, jika sebagian masyarakat masih egois nan bandel melanggar protokol Covid ( sudah menunggu flu babi jadi next wabah di luar negeri, jangan sampai masuk Indonesia karena tingkat kesehatan masyarakat yang rendah ditambah penghapusan subsidi / tunjangan di semua lini, bermula warga bandel dan pemdanya yang tak kunjung mampu melandaikan kurva Covid. Mengandalkan kekebalan kawanan seperti di negara maju yang faskes-nya lengkap memadai juga belum bisa di sini. Armada laut AS, kapal induk, ribuan tentara, terlihat melaju ke laut China Selatan ( MetroTV, 14/7/2020 ) menggertak China yang demen berselisih ( mengklaim sepihak teritori tetangga ) dengan 14 negara di perbatasannya, termasuk Indonesia ( perairan Natuna ). ‘Belanda’ ( perang / kiamat ) sudah dekat. So, wahai WNI segera berdisiplinlah ).

Ada usul di EMI ( MetroTV, 14/7/2020 ) agar bahaya Covid juga divisualisasikan dalam bentuk video true story adegan sakaratul maut pasien positif Covid di RS rujukan ( wajah pasien diblur ) dan penguburannya sesuai protokol Covid untuk menyadarkan keluarga bandel di zona merah-hitam, warga Jatim, Jakarta, dst ( top 5 kasus baru Covid ). Kirim video kematian akibat Covid itu ke ( medsos ) keluarga Abah S cs dan stasiun TV daerah red zone untuk ‘menampar’ kebandelan mereka ( jika Covid bisa menghabisi nyawa nakes frontliners dan meluluhlantakkan negara, maka hukuman dipukul rotan seperti di India bagi pelanggar masker layak / worth it diterapkan di zona merah di Indonesia juga. Ini sudah Juli 2020. Tinggal 15 hari lagi. Jangan excuse dan main-main lagi. Tegakkan aturan ). Pedagang pasar diminta jangan melayani pembeli tak bermasker. Aparat di pasar melarang pengunjung tanpa masker masuk pasar tradisional dan modern ( di Jabar, sebagian sudah mulai didenda Rp 100.000 per pelanggar masker ).

Di “On the Spot” kemarin ( Trans7, 14/7/2020 ), sudah diproduksi untuk nakes luar negeri, masker seperti helm astronot yang bermesin ultraviolet pembunuh virus Covid yang bisa di-charge listrik seperti ponsel, seharga Rp 2,5 – 25 juta per buah yang bisa dipakai berulang kali. Bisakah Indonesia ( PT.DI, ITB, Unpad, Unair, dsb ) membuatnya untuk para dokter dan perawat pasien Covid di sini ? ( terlebih si Covid sudah airborn / menular via udara di RS rujukan Covid ).

Semoga kita bisa menggodam kurva Covid sampai melandai akhir Juli 2020 ini dengan menegakkan aturan untuk mendisiplinkan warga ( sosialisasi bahaya Covid juga masif, paralel di zona merah dengan punishment, sudah 3 bulan PSBB nih, masak gak paham-paham ? Gak mau tahu karena bukan calon pilihan ? Kader PKS yang menjamin pengambilan paksa jenazah Covid di RS Makassar kemarin menjadi tersangka Polda Sulsel ). No other way .. ( agar kita semua tak perlu berpakaian astronot bermesin ultraviolet ketika menapaki dataran bumi, seperti di bulan atau planet Mars / tak tewas menghirup udara di rumah sendiri )

Written by Savitri

15 Juli 2020 at 13:37

Ditulis dalam WNI NASIONALIS BERSATU

Barli Sasmitawinata, Maestro Lukis Realis dari Bandung, Jawa Barat. RUU HIP Kembali RUU PIP Untuk Payung BPIP Mengkonkretkan Pancasila. Tafsir Pancasila Sudah Final : Big No No Liberal, Komunis, ‘Khilafah’ Takfiri. Presiden Marah, Menteri Biasa Linier, Pesohor Dangdutan, Walikota Surabaya Sujud di Situasi Extraordinary Covid. Solusi Tegas bagi Episentrum Surabaya dan Insentif Frontliners. Jawa Barat AKB / New Normal Mulai 27 Juni 2020 dengan Pakai Masker, Jaga Jarak, Cuci Tangan. Solusi Protes PPDB Jakarta : Zonasi 50%, Utamakan Jarak, Baru Usia. Kasus Preman Kei, Koruptor Dj. Tjandra, Pedofil Buronan FBI. Diskusi : Kepemimpinan Muda dalam New Normal, Selasa, 30 Juni 2020, jam 13-15 WIB.

leave a comment »

Pelukis realis kelahiran, Bandung, 18/3/1921 ini bekerja sebagai dosen di Institut Teknologi Bandung ( ITB ), dan merintis jurusan seni rupa di Institut Kejuruan dan Ilmu Pendidikan ( IKIP, kini bernama Universitas Pendidikan Indonesia / UPI tahun 1961 ). Barli juga membentuk “Kelompok Lima Bandung” ( bersama Affandi, Hendra Gunawan, Sudarso, Wahdi ), Studio Jiwa Mukti ( bersama Karnedi dan Sartono, tahun 1948 ), dan Sanggar Rangga Gempol, Dago ( tahun 1958 ), Museum Barli, Bandung ( tahun 1992 ), dan mengetuai Sendratari Viatikara. Barli menikahi Atikah Basari ( tahun 1946, wafat tahun 1991) dan Nakisbandiyah ( menikah tahun 1992, membawa 3 anak } dan memiliki 2 anak : Drs. Agung Wiwekaputra, Drg. Nirwati Chandra Dewi, Sp.Ortho, serta dianugerahi penghargaan Satyalancana Kebudayaan pada tahun 2000.

BARLI SASMITAWINATA, SENIMAN DUA JAMAN YANG JUGA GURU SABAR.

Barli mulai menekuni seni lukis sekitar tahun 1930-an ketika kakak iparnya memintanya tahun 1935 belajar melukis di studio milik Jos Pluimentz, pelukis asal Belgia yang tinggal di Bandung yang lalu mengajarinya melukis alam benda. Setelah berguru pada pelukis Italia Luigi Nobili ( di Bandung tahun 1950-an ), Barli lalu melanjutkan pendidikan seni rupa di Eropa ( Académie de la Grande Chaumière, Paris, 1950 dan Rijksakademie van beeldende kunsten, Amsterdam, 1956 ) yang mengajarinya menggambar anatomi tubuh secara rinci.

Barli menekankan pentingnya pendidikan seni rupa. Seniman berpengaruh besar terhadap perkembangan Seni Rupa Indonesia ini juga berkontribusi besar dalam dunia pendidikan seni rupa di lembaga nonformal dan formal ( serupa.id ). Spesimen penting seniman Indonesia yang melewati dua titik sambung periode di mana pergolakan sedang terjadi di Indonesia ( buku “Titik Sambung” – Jim Supangkat ). Tak ada pelukis Indonesia lainnya yang seposisi dengan Barli Sasmitawinata. Ia satu-satunya pelukis yang berada pada ’titik sambung’ seni lukis masa kolonial dan seni lukis modern Indonesia.

MAESTRO SENI / PELESTARI BUDAYA / CULTURE SUPERPOWER

Perjalanan karir lukis Barli dimulai tahun 1930-an sebagai ilustrator terkenal di Balai Pustaka, Jakarta dan beberapa koran terbitan Bandung sampai tahun 1950-an sebelum ia melanglang buana ke mancanegara. Meski pelukis realis, Barli mengerti abstrak sebab menurutnya seni memang abstrak / nilai. Tiap kali melihat karya realis, Barli justru tertarik pada segi-segi abstraksinya ( penempatan komposisi yang abstrak yang tidak bisa dijelaskan oleh pelukisnya sendiri ). Jika pelukis melihat kakek maka dia akan tertarik pada umur dan kemanusiaannya sehingga ia akan melukis secara realistik karena umur tak bisa dilukis secara abstrak. Menggambarkan penderitaan manusia akan lebih tersampaikan jika dilukis secara realistik ketimbang abstrak.

Tak semua seniman punya gaya khas atau prinsip yang digunakan secara terus-menerus selama hidup berkarya. Apalagi buat seniman kontemporer yang haus inovasi dan menciptakan formula sendiri. Barli fokus pada teknik realistik, meski banyak juga merilis karya dengan teknik penyederhanaan figur /objek sehingga Barli dapat diasosiasikan dengan aliran Realisme atau Naturalisme.

Barli diangkat menjadi ilustrator majalah De Moderne Boekhandel di Amsterdam, dan majalah Der Lichtenbogen di Recklinghausen, Jerman. Barli merupakan salah satu contoh seniman yang mendapat pendidikan ideal dari usia muda hingga melanjutkan ke perguruan tinggi di Perancis dan Belanda. Barli belajar di Eropa tahun 1950 dengan beasiswa dari Pemerintah Belanda untuk belajar di Academie Grande de la Chaumiere, Paris, Perancis, lalu meneruskan studi di Rijksacademie voor Beeldende Kunsten, Amsterdam, Belanda, hingga tahun 1956.

Di studio Jos Pluimentz, Barli melatih teknik gambar objektif : bagaimana cara seniman melihat berbagai objek dan subjek untuk dipindahkan pada karya lukis seakurat mungkin. Cara melihat seniman harus berbeda dengan orang biasa ( saat itu aliran Realisme dan Naturalisme / kemiripan objek sedang booming ). Barli sempat belajar pada pelukis Italia, Luigi Nobili, saat Affandi sedang menjadi model lukisan Nobili untuk dapat uang tambahan sekaligus belajar melukis. Kelompok Lima Bandung ( Kelompok berkarya sambil belajar bersama ) dibentuk atas kekaguman Barli dan tiga rekan lainnya pada Affandi. Kelompok ini bisa santai dan fokus kegiatan berkarya bersama karena sangat akrab seperti saudara.

Jika Affandi menyebut dirinya ‘seniman kerbau’, Barli justru dikenal sebagai akademisi yang menjunjung pendidikan seni rupa. Sebagai pribumi yang mendapat berbagai pengaruh dari luar, Barli membangun karakter khas yang kompleks : di satu sisi Barli dapat dilihat sebagai seniman yang meneruskan perkembangan seni lukis kolonial, namun di sisi lain Barli juga bagian dari pertumbuhan seni lukis modern Indonesia yang menentang seni lukis masa kolonial.

Di Eropa, Barli memperoleh banyak pengetahuan teknik melukis realistik ( prinsip melukis anatomi secara intensif ) sebagai salah satu kelebihannya yang ia dapat dari luar negeri. Selama dua tahun di Eropa, Barli pernah hanya menggambar nude selama dua jam per hari untuk mempelajari anatomi manusia lebih dalam ( saya juga pernah dimintanya menggambar anatomi dari buku koleksinya di studio, setelah hampir setahun diminta mengambar benda mati : kendi, botol, mangkuk, dsb. Butuh ketekunan luar biasa untuk menjadi pelukis realis atau naturalis. Anatomi tubuh menjadi pelajaran penting bagi pelukis. Untung, saya masih kecil waktu itu jadi gak sampai mikir ‘ngeres’. Tapi mengendalikan boring-nya itu butuh latihan mental tersendiri. Saya sudah juara melukis sejak kelas 4 SD, masak harus belajar gambar kendi lagi sih. Ini mah kursus sabar, bukan kursus melukis, curhat saya pada ayah ). Gambar, foto, model nudis tak dipersoalkan pantas atau tidaknya di Eropa jika untuk kepentingan akademis, asal tetap pada tujuannya ( tahu proporsi bagian tubuh manusia ).

Lulusan akademi seni lukis seharusnya bisa menggambar manusia karena penguasaan teknik akan merangsang inspirasi. Analogi Barli seperti belajar bersepeda yang sulit sekali di awalnya, salah sedikit bisa jatuh. Namun setelah menguasai teknik bersepeda, maka orang bisa terus mengayuh seraya memikirkan hal lain, tanpa memikirkan lagi caranya mengayuh ( sepeda sudah menjadi perpanjangan kaki yang refleks ). Melukis juga begitu : pelukis leluasa menyalurkan perasaan dan ekspresi lainnya dalam berkesenian ( tanpa ribet skill teknis, karena kuas sudah menjadi perpanjangan tangan dan emosinya ).

Tepat HUT- nya yang ke-83 ( 18 Maret 2004 ), beberapa karya lukis Barli dipamerkan di Galeri Nasional, Jakarta ( salah satunya berukuran besar, lebih dari dua kali dua meter ) yang dibuka langsung mendikbudpar I Gede Ardika. Pameran yang berlangsung pada 18 hingga 31 Maret 2004 diadakan sebagai bentuk penghargaan pemerintah pada sang maestro. PT. Pos Indonesia turut menunjukkan penghargaan tinggi dengan menerbitkan perangko bergambar lukisan potret diri Barli ( lukisan terkenalnya tahun 1974 ) bersamaan dengan peluncuran buku karya Nakisbandiah “Kehidupanku Bersama Barli”.

Sebelum wafat, Barli sempat dirawat sebulan di RS. Advent dan kembali ke rumah ( 4/2/2007 ) serta berpesan agar keluarga besar Bale Seni Barli terus memelihara lembaga pendidikan tsb. Barli lalu melukis lagi, tapi tak sempat diselesaikannya karena besoknya muntah-muntah dan dibawa ke RS lagi ( Kamis pukul 9 WIB lalu wafat pukul 16.25, dibawa ke rumah duka pukul 17.30 ). Jenazah disemayamkan di Museum Barli, Bandung lalu dimakamkan pada Jumat, 9 Februari 2007 di Taman Makam Pahlawan Cikutra.

Studio Rangga Gempol terus bertahan hingga menjadi Bale Seni Barli di Padalarang ( Kobar Parahyangan ). Terima kasih atas pelajaran gambar / sabarnya, yang ternyata berguna untuk banyak hal dalam kehidupan ini. Semoga Pak Barli mendapat tempat terbaik di sisi-Nya. Amiin..

RUU HIP KEMBALI RUU PIP. TAFSIR PANCASILA SUDAH FINAL. Tinggal implementasi ..

Hari ini ( EMI, 2/7/2020 ), DPR rencananya akan sidang untuk memutuskan apakah RUU HIP ( Haluan Ideologi Negara ) akan dihentikan, ditunda, atau dikembalikan menjadi RUU PIP ( Pembinaan Ideologi Pancasila ) untuk menjadi payung hukum bagi BPIP ( Badan Pembinaan Ideologi Pancasila ) dalam mengkonkretkan Pancasila pada sanubari dan perilaku sehari-hari warga Indonesia, terutama generasi milenial yang tak merasakan pahitnya masa penjajahan kolonial, prihatinnya senior masa Orde Lama, terbungkamnya kita masa Orde Baru, terberainya massa awal Reformasi karena masuknya ideologi asing ( komunis, liberal-kapitalis, ‘khilafah’ versi takfiri ).

Semula RUU PIP yang ada di prolegnas, namun tarik ulur kekuatan di parlemen mengubahnya menjadi RUU HIP yang berupaya menafsirkan kembali Pancasila menjadi Trisila dan Ekasila ( gotong royong ) dan menghilangkan komunis ( Tap MPR tahun 1966 tentang pembubaran /pelarangan PKI ) dalam considerat / menimbang di draft usulan DPR yang memancing protes luas dari masyarakat dan MUI. Jika 2 poin penting ini kembali ada di RUU PIP maka sudah pasti akan ditolak lagi. So, pastikan RUU PIP hanya mengatur praksis / praktek / implementasi / tata kerja BPIP yang selama ini dibuat dengan perpres dengan kewenangan terbatas ( aturan sanksi / pidana hanya bisa dimuat di UU dan perda ) sehingga kurang bertaji padahal tantangan global kian menjadi-jadi ( radikalis / ISIS cs memanfaatkan situasi pandemi untuk membalas kekalahannya pada kreatornya / AS cs dan pembasminya / Iran cs ).

Upayakan RUU PIP seperti UU Penanggulangan Bencana yang menjadi pedoman bagi BNPB menanggulangi aneka bencana di tanah air termasuk mitigasinya. Diakui sejak founding father mother kita merumuskan Pancasila, belum ada pemimpin negara yang mampu mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila seperti seharusnya ( masih condong liberal atau komunis ) sehingga perlu perumusan teknis implementasinya. Pancasila masa Orba diplintir menjadi indoktrinasi ala selera penguasa dengan BP7 dan P4 untuk melanggengkan kekuasaannya dengan menggebuk mereka yang melawan ( kekuasaan penguasa ).

Kini, tahun 2020, in our time, upayakan Pancasila dikonkretkan dengan kekuasaan hukum. Siapa yang nekad mengganti Pancasila yang kedudukannya di atas UU / konstitusi ini diproses hukum agar tak dikuti WNI lainnya, agar NKRI tetap utuh ( Pancasila menyatukan wilayah WIB, WITA, WIT sejak 17/8/1945 ). Tafsir Pancasila yang sudah final ini cuma perlu regulasi teknisnya agar kita dan generasi penerus setia mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam bernegara dan kehidupan kesehariannya. That’s all ..

( kalau RUU PIP seperti ini yang dikerjakan anggota DPR RI 2019-2024 hari ini, selama pandemi Covid sekali pun, saya rasa MUI dan masyarakat bisa menerima, asal tetap menyertakan partisipasi / konsultasi publik dalam pembahasannya ). Life must go on. Radikalisme belum berlalu. Kita perlu menghentikan mereka, juga saat pandemi ini. OK ?

PRESIDEN MARAH, MENTERI BIASA, WALIKOTA SUJUD. What’s next ?

Rakyat jangan terpapar virus, lalu terkapar karena Covid atau pun lapar karena ( sulit dapat uang selama ) pandemi. Itu yang diminta presiden ketika memarahi anggota kabinetnya ( 18/6/2020 ) dan baru diunggah ke YT ( 28/6/2020 ) setelah masih belum terjadi progress signifikan dalam penanganan Covid ( aspek kesehatan, ekonomi ). Jokowi juga datang ke Jatim, menegur para pimpinan daerah dan memberi batas waktu 2 minggu untuk menggodam kurva Covid hingga landai ( tenggat nasional Juli 2020 / batas daya tahan dunia usaha ).

Terlihat di layar MetroTV ( Prime Time News, 29/6/2020 ), walikota Surabaya, bu Risma bersujud di depan anggota IDI, lalu curhat lantang tentang sulitnya dia masuk/ mengakses RS. Soetomo meski sudah berulangkali datang. RS rujukan di Sidoarjo diberitakan, sudah tak menerima pasien Covid lagi karena kepenuhan, sehingga pasien berikut terpaksa dirawat di RSJ dan RS di Surabaya. Sense of crisis, belum dihayati banyak warga Jatim, Sulsel ( walikota Makassar sampai dicopot dari jabatannya karena minim progress ), Jakarta, Jateng, Kalsel ( 5 daerah tertinggi penambahan kasus positif Covid saat ini ), dan menteri terkait ( menkes, mensos, mendes, menkeu, menhub, menko perekonomian, menko PMK ) ? Perasaan belum sama, kata Jokowi yang akan mempertaruhkan reputasi politiknya ( memangkas aturan dengan perppu, me-reshuffle pembantunya yang bekerja biasa / linier di situasi extraordinary ini : baru 1,35% dari dana Rp 75 triliun yang disalurkan kemenkes / kemenkeu padahal Indonesia sudah hampir 4 bulan didera ganasnya Covid, di bawah 50% dana bansos yang sudah disalurkan, juga stimulus ekonomi untuk UMKM, korporasi, bahkan insentif bagi tenaga medis / frontliners Covid seperti yang dijanjikan belum juga turun ). Pantas presiden marah, sebagian WNI bandel, lainnya sebal bahkan murka. Di mana benang kusutnya ?

Saya jadi inget ‘krisis’ yang harus saya atasi pasca Bapak wafat karena stroke, lalu dua mata Mamah dioperasi katarak karena menangis terus ( bukti stres / kehilangan besar, bisa merusak tubuh ), disusul putra sulung / kakak saya masuk RSK HW selama 40 hari dilanjutkan setahun dirawat psikiater, di saat saya dikejar tenggat menyelesaikan master urban design ( bikin vertigo saja ). Waktu itu, si psikiater bilang : selesaikan satu masalah pada satu waktu. Fokus.

Saya kendalikan pikiran dan hati untuk menyelesaikan masalah satu demi satu ( seolah keluar dari tubuh yang penuh haru biru emosi ini, lalu jadi orang yang menasehati tubuh itu untuk melakukan apa yang harus dilakukan secara cepat dan tepat ). Buat kakak merasa berharga dan disayangi, setidaknya oleh saya, dengan mengelus telapak tangannya di saat dia tak sadar / depresi / kerasukan ( bukan dengan teriak-teriak memarahinya karena menyita waktu studi saya yang puluhan juta rupiah ), ngajak curhat meski tak nyambung, dsb. Saat itu, fokus saya : kakak saya tetap hidup dengan terus mendampingi, membesarkan hati, memotivasinya hingga bisa sembuh, kembali bekerja dan menafkahi istri dan 2 anaknya dengan hati lebih kuat dari sebelumnya. He’s not alone in this world.

Menyusul masalah 2 mata Mamah yang perlu setahun juga untuk menyalepi mata pasca operasi dan membangkitkan motivasi hidupnya. Masalah datang beruntun bertubi-tubi seperti anak ayam kehilangan induk ( ayah selama ini dominan mengatur segala sesuatu di rumah ), sampai saya tak sempat memikirkan kesedihan saya sendiri berlama-lama, saking banyaknya yang harus dikebut dikerjakan, jika saya tak mau kehilangan ibu dan kakak juga. Begitulah satu per satu masalah diselesaikan dengan kepala dingin dan terus belajar.

SOLUSI BAGI INSENTIF FRONTLINERS & SURABAYA

Dari wawancara host Zilvia Iskandar ( Prime Time News, MetroTV, 30/6/2020 ) dengan narsum diketahui, penyebab belum turunnya insentif bagi petugas medis karena belum clear-nya data penerima insentif Covid dari RS rujukan / RSUD ( masih dalam bentuk gelondongan, belum jelas nama tenaga medis yang dicantumkan itu sebagai dokter, perawat, petugas lab, atau supir ambulans, dsb yang tentu berbeda besaran insentif-nya ) sehingga kemenkes kesulitan memverifikasi dan menyerahkan ke kemenkeu untuk jadi DIPA / mencairkan anggaran Rp 75-87 triliun dari Rp 695,2 triliun dana penanganan dampak Covid pada sektor kesehatan dan ekonomi RI. Baru 4% ( Rp 2 triliun ) yang bisa cair, sementara para frontliners butuh uang lebih untuk menghidupi keluarganya karena tak lagi bisa sidejob di faskes lain / beresiko tinggi menulari tenaga medis non Covid. Mirip data bansos yang ngaco karena pemda tak mengupdate 2 tahun sekali data warganya yang miskin. Warga sebuah desa di Sumut, diberitakan memblokade jalan karena tidak transparannya penyaluran BLT oleh kades sehingga diminta mundur sampai rusuh ( kendaraan wakapolres dibakar, 6 orang luka ). Mestinya kades memasang di baliho seperti di Banyuwangi ( atau stiker di pintu rumah penerima BLT Rp 600.000 / bansos di Kota Bandung ) nama-nama warga penerima bansos sehingga warga lain bisa membantu mengawasi dan mengoreksinya jika salah ( memberitahu ketua Gugus Tugas Daerah / kepda ) untuk mengalihkan pada penerima yang lebih berhak ( warga PHK, tuna wisma / duafa ). Mekanisme anggaran yang panjang ini bisa dipercepat / dipangkas tanpa menjadi persoalan hukum di kemudian hari jika para pihak bisa jujur dan tulus menyelamatkan nyawa warga secepatnya sebelum tewas ( baca : pejabat aman selama tak mengutip dana bansos / rakyat untuk kepentingan pribadi / kelompok ) . Ini situasi darurat sehingga kesalahan bisa dimaklumi / dimaafkan sepanjang niatnya bersih dan ikhtiar profesional sudah optimal diupayakan.

Pakar kesehatan masyarakat dari Unair bilang : koordinasi, komunikasi dan penegakan hukum ( masukkan unsur punishment / UU Karantina Kesehatan di peraturan walikota ) yang selama ini menjadi kekurangan pemkot Surabaya harus segera diperbaiki. Pemirsa, termasuk saya, juga tahu kalau bu Risma sudah berbuat banyak dalam menangani Covid di Surabaya. Namun, gaya komunikasi yang mengedepankan emosi di depan stakeholder ( IDI, Pemprov Jatim, Unair, dsb ) kurang efektif dalam komunikasi politik. Lebih mujarab jika berargumentasi rasional dan tak menyalahkan ( bisa maklum dengan kesulitan yang mungkin dihadapi pihak lain lalu sama-sama mencari solusi dengan nada kalem / gak bikin tegang lawan bicara ). Pihak Unair mengaku, selama ini membantu pemprov Jatim karena rekomendasinya bisa menjangkau 36 kota kabupaten di Jatim. Namun, setelah melihat Surabaya masih bertengger di puncak kasus Covid di Jatim ( termasuk 11 daerah terparah di Indonesia ) maka hari-hari ini dan ke depan akan turun membantu / mendampingi pemkot Surabaya mengerem laju Covid yang tinggal seminggu lagi batas ultimatumnya dari Jokowi. Dokter magang Unair dari RS. Soetomo ( milik pemprov Jatim ) dan RS. Unair bisa diperbantukan ke RS rujukan Covid yang kewalahan. Dua RSUD milik pemkot Surabaya, salah satunya bisa difungsikan khusus menangani Covid ( seperti RS. Hasan Sadikin di Kota Bandung sebagai RS utama di Jabar yang kini didedikasikan sebagai RS khusus Covid dengan semangat berjibaku para tenaga medisnya, dan perhatian humanis dari pemprov Jabar serta pemkot Bandung, yang semuanya duduk bersama dengan komunikasi yang enak, tenang / tak tegang, tapi serius, demi menyelamatkan warga Jabar ). Komunikasi baik penting dijaga untuk memudahkan koordinasi ( karena sudah saling percaya dan menghormati : saya aman untuk anda ). Saya juga pernah memposting : hukuman adalah bentuk lain dari cinta agar tak terjadi hal lebih buruk pada orang yang sedang kita hukum. Hukuman karena kita sayang padanya, bukan memuaskan dendam padanya.

Standar 1000 swab test per sejuta penduduk per minggu di Surabaya dan Indonesia belum tercapai untuk bisa memastikan peta penyebaran Covid dan mengendalikan. So, jangan lengah, biasa-biasa saja, apalagi euforia / senang dulu. Tetap disiplin protokol kesehatan selama pandemi Covid sampai vaksin diproduksi Bio Farma / Desember 2021. Di rumah masih lebih baik dengan produktivitas WFH memanfaatkan kecanggihan digital era milenial.

Sanksi berkerumun, tak pakai masker, sarung tangan, face shield dst ( denda Rp 100 ribu sd Rp 10 juta, atau kurungan sebulan sd 10 tahun penjara bagi pelanggar ) rasanya tak terlihat selama pelaksanaan 3 PSBB + 1 di Surabaya sampai warga santai melanggar protokol tanpa merasa bersalah, bahkan berani menolak rapid test. Ini ibarat anak manja yang dibiarkan lama tanpa hukuman hingga tak sadar kesalahannya, bahkan balik memprotes ketika diperiksa, karena selama ini sudah merasa dibenarkan aparat / pemkot yang tak tegas / segera menghukum kesalahan mereka.

Yakuza di Jepang berdiri sejak tahun 1700-an ( ciri : badan ditato, anggota yang gagal mejalankan misi dipotong jarinya ), di mana istri dan anak bos Yakuza juga jadi anggota sindikat kriminal terkenal di Jepang sampai hari ini ( On The Spot, Trans7, 29/6/2020 ). Organisasi ilegal Triad di China berdiri sejak tahun 1760 ( semula untuk mengusir bangsa Manchuria yang menjajah China / Dinasti Ching ) lalu misi bergeser menjadi pelaku kriminal / bisnis haram yang sulit dibasmi pemerintah China karena sudah terlalu lama dibiarkan sampai menyusup ke tubuh kepolisian dan pejabat pemerintahan ( demo berjilid + kekerasan di Hongkong hari-hari ini diduga kuat dilibati geng Triad yang berpusat / terbanyak anggotanya di Hongkong, yang kini memanas / merasa terancam lagi akibat pembahasan RUU Keamanan Nasional China di Hongkong. Pemerintah vs organisasi kriminal yang dibiarkan lama bisa sehancur lebur ini memprovokasi warga yang terbiasa liberal di bawah Inggris ). Sindikat Mungiki di Nairobi, Kenya, beranggotakan sejuta warga miskin, kini menjadi gerakan rahasia bawah tanah karena diburu aparat pemerintah ( tapi mereka tak pernah benar-benar bisa dihentikan untuk melakukan keonaran dan kejahatan sadis di Kenya, karena sudah lama dibiarkan pemerintah / sudah mengurat akar ). Sindikat krimimal, organisasi ilegal, kerja sebagai pembunuh bayaran, narkoba, judi, pelacuran, dsb, juga dilakoni Jamaican Britsh Yardies di Inggris yang bergaya glamour, brutal, sadis, sedikit loyalitas karena ego klan lebih besar.

Di Indonesia, JK** bersama 25 anak buahnya yang menyerang kelompok pamannya / Nus Kei karena berebut penguasaan lahan, berani menggeber aksi premanisme di tengah keramaian sampai menewaskan orang dan merusak properti, juga karena dibiarkan di masa lalu ( pungli jalanan dengan beking oknum aparat ). Untung, Polri saat ini berani menangkap dan memproses hukum dengan tegas agar tak jadi semacam Yakuza atau Triad di sini. Tokoh masyarakat setempat dan pejabat daerah perlu membantu aspek lain / sosio-ekonomi terkait kelompok preman dan keluarganya agar insyaf dan beraktivitas secara legal. Kita juga dukung upaya Jaksa Agung untuk menangkap koruptor DjTj yang buron 11 tahun sampai jadi warga negara Papua Nugini, tapi bisa mengajukan PK lagi ke MA selama diam-diam 3 bulan ada di Jakarta tanpa terendus pihak Imigrasi. Padahal PK hanya bisa diajukan sekali, dan harus segera dieksekusi jaksa setelah putusan inkrah. Hukuman bagi terpidana cessie BB di wilayah NKRI tetap berlaku sampai buronan tertangkap meski DT sudah bukan WNI. Terpidana pedofil WNA AS buronan FBI juga tetap bisa dihukum di AS ( juga di Indonesia karena menggarap anak di bawah umur untuk memuaskan hasrat menyimpangnya di sini ) kan ? Maju terus, Pak Burhanuddin.

Jaksa Burhan mengakui kelemahan dari intel Kejagung untuk segera memperbaharui red notice DT yang habis Mei 2020 ( sebagai bentuk pertanggungjawaban, mestinya ia segera memperbaiki sistem yang lelet / ganti bawahan tak cakap sehingga kesalahan ini tak terjadi lagi ). KemenkumHAM juga mengevaluasi kinerja dirjen imigrasi agar lolosnya DT, HM, ribuan orang lainnya tak jadi kebobrokan memalukan yang dibiarkan berulang seperti kasus lapas ( dan buat menkumHAM YL, sudah dari dulu saya bilang, orang ini seharusnya di-reshuffle sejak KIK. Saya kuatir, kabur dan lolosnya DT / kasus hak tagih BB tahun 2020, dan HM / caleg suap komisioner memang ‘disengaja’ karena terkait pucuk pimpinan saat itu di pemerintahan / kasus DT tahun 2000, dan
di parpol di mana YL bernaung. Uang korupsi Rp 456 miliar kasus BB ini diketahui menciprat ke banyak pihak ).

Jika pemerintah beserta aparatnya gamang bertindak ( karena emosi kasihan lebih dominan daripada rasio mendisiplinkan warga demi keselamatannya, warga Surabaya yang lain, WNI lainnya / Indonesia ) maka yang terjadi bisa seperti di Surabaya, Gresik, Sidoarjo, Makasar dan Banjarmasin hari ini. Episentrum merah dan hitam yang menyedot kas negara ( saya dengar pemprov Jatim minta tambahan lebih Rp 2 triliun untuk menangani Covid bagi warganya yang tak tega / kunjung didisiplinkannya. Kami yang disiplin di Jabar, meski warga miskin di sini tak kalah banyak dibanding Jatim, harus berkorban lagi dipotong anggarannya untuk warga di episentrum yang emoh ditertibkan entah sampai kapan / Indonesia resesi atau bubar ?? ). So, pemkot Surabaya segera hukum pelanggar PSBB / protokol dengan tegas ( Jokowi bisa ganti kepda yang tak mampu tegas mendisiplinkan warga bandelnya sampai menjelma gerombolan sindikat yang menolak aturan pemerintah, menguras kas negara, dan membahayakan keutuhan NKRI / resesi bisa berujung separatis ). Sanggup ?

***

Back to angry president. Fokus Covid tak bisa disambi pilkada 9/12/2020. Kita menghadapi birokrasi dan SDM tak cukup ideal / berkualitas saat ini untuk bisa melakukan keduanya sekaligus. Jika cakada dan timses-nya sekaliber mendagri Tito, mungkin pilkada masih bisa digelar tanpa mengkaparkan rakyat ( karena Covid & perut lapar ). Nyatanya, tak sampai 20% anggota kabinet dan pemda yang mampu bekerja ekstraordinary di situasi darurat pandemi ini. Mereka, kader partai atau birokrat hasil sisdiknas 2 : 10 ( dari 10 lulusan cuma 2 orang yang terserap pasar kerja ) dengan kemampuan membaca / self-learning di urutan ke-5 terbawah di dunia, yang tak kreatif dan tak bernyali bikin terobosan alias biasa linier. Bagaimana mereka mampu memenuhi ekspektasi presiden ? ( yang pernah disebut ‘demanding’ oleh salah satu pembantunya ).

‘Deterrence power’ pemimpin : komitmen & kredibel, tak hanya gertak sambal, juga mempengaruhi kepatuhan bawahan dalam melaksanakan instruksi atasan. Superman, single fighter yang memaki ke semua penjuru juga tak efektif menggerakkan kolaborasi komunitas. Manusiakan pengikut anda sebelum memintanya berkorban / bekerja luar biasa untuk keselamatan negara. Sampaikan dengan santun tapi tegas ( intruksi tak dijalankan, segera disanksi ). Kewibawaan macam ini juga berlaku bagi bupati Bogor yang sedang menyeret pemilik dan pengisi acara sunatan dengan hiburan dangdutan ( termasuk R.Ira** ) di wilayahnya ke proses hukum ( bukti kampanye terselubung pemilu bisa membahayakan penanganan Covid di zona merah. Para kandidat belum dewasa, Pak Tito. Meski sudah disurati pemkab dan diingatkan masih PSBB, toh mereka masih bersiasat dan berkelit, menguras energi para kepda / ketua GT.Covid daerah untuk menghadapinya, juga ribuan simpatisannya yang egois. Mereka tak punya sense of crisis atau empati betapa luasnya kabupaten Bogor, tak sebanding dengan aparat kewilayahan yang dimiliki untuk bisa mengawasi pelaksanaan instruksi / protokol kesehatan secara keseluruhan. Tinggal menyalahkan balik. Enteng, tho ? Masih sangat banyak calon yang belum matang / sportif berdemokrasi, bahkan di usia setua itu ).

Saya tahu, KPU bilang jika diundur lagi, maka biaya pilkada akan lebih besar lagi. Saya bisa kehilangan ibu dan kakak jika saya mempermasalahkan uang kuliah magister lebih Rp 20 juta itu. Mana yang mau dikorbankan : nyawa frontliners + 45 ribuan pasien Covid, atau dana pilkada ? Satu masalah satu waktu, remember ? ( banyak SDM di bawah belum mampu multitasking dan benyali bikin terobosan )

Menggelitik mendengar analisa surveyor Qodari ( EMI, 30/6/2020 ) yang bilang, bukan para menteri itu yang lelet, tapi bisa jadi, uangnya yang tidak ada, sehingga meski sudah dipangkas regulasinya, uangnya belum tentu bisa langsung tersedia ( karena hutang luar negeri lagi ? ). Pemirsa dari Cirebon / eksportir furniture bilang, SPLH hanya di hulu sudah disetujui presiden tapi tak kunjung dilaksanakan kementerian ( masuk angin karena intruksi ketum parpol lebih berpengaruh ? ). Lalu kita ingat nasib sejumlah ABK WNI yang dilarung setelah disiksa perbudakan di kapal asing karena ego sektoral 5 kementerian terkait / permen tumpang tindih sampai tak becus memantau rekrutmen ABK dan menjaga nyawa mereka di laut lepas. Di mana kendali itu ?

Syukurlah, Jawa Barat ( minus Bodebek yang ikut PSBB Transisi dengan Jakarta ) bisa mulai AKB / new normal sejak 27 Juni 2020 kemarin ( namun usaha yang beresiko tinggi tertular Covid : pendidikan, bioskop, tempat hiburan, lomba olahraga masih ditutup ), dengan tetap disiplin protokol kesehatan ( adaptasi 3 kebiasaan baru : rajin cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, pakai masker jika keluar rumah, jaga jarak 1-2 meter dengan orang lain ) berkat kekompakan para pemimpin daerah di sini juga keterlibatan pro-aktif komunitas pedulinya. PPDB Jabar juga relatif tak bermasalah karena mengikuti permendikbud ( 50% jalur zonasi, 15% jalur afirmasi, 5% jalur pindahan / guru / petugas Covid, 30% jalur prestasi ). Jalur zonasi diterapkan / dicantumkan di web benar-benar karena jarak rumah siswa ke sekolah ( dilihat dengan Google Map ). Jika jarak sama antara 2 siswa, sementara kuotanya sudah penuh, maka yang lebih tua baru diputuskan untuk diterima sekolah. Yang lebih muda bisa masuk jalur prestasi ke sekolah negeri tsb, sekolah lain terdekat, atau sekolah swasta. PDBB di Jakarta, tak melakukan hal itu ( jalur afirmasi/ siswa kurang mampu dijatah 25%, kuota jalur zonasi diturunkan jadi 40% dan mencantumkan umur, bukan jarak rumah ke sekolah ), sehingga para ortu pada protes ( dan nangis, ortu pada dasarnya ingin yang terbaik untuk anaknya ya. Terharu mengingat itu.. ). PPDB Jalur Zonasi dan Afirmasi di Jakarta diusulkan diulang lagi dengan jarak. Kalau jarak sama antara 2 siswa, baru siswa yang lebih tua yang diterima lebih dulu sesuai semangat permendikbud itu. OK ?

Kerumunan juga terjadi di CFD Thamrin, yang lalu dipecah menjadi 32 lokasi CFD yang mungkin perlu mengerahkan aparat lebih banyak lagi. Coba kalau bisa mengajak komunitas pelari, fitnes, Bike to Work, sepeda onthel, dsb, untuk mengawasi CFD sejak awal mungkin kerumunan yang disesalkan itu tak perlu terjadi. Begitu juga pasar tradisional di Jakarta dan Jatim yang jadi cluster baru Covid. Coba dibatasi 50% kapasitas normal dengan kartu antri seperti di Toserba Griya / Yogya sehingga pengunjung dan pedagang lebih aman dari Covid tanpa membatasi kios buka ganjil genap dan jam operasi, tapi dengan pengawasan 24 jam dari petugas PD.Pasar, dibantu komunitas pedagang, pembeli, karang taruna setempat ( seperti pernah saya usulkan di posting terdahulu ).

Rapid test juga harus disosialisasikan dengan bahasa yang dipahami pedagang pasar sebelum hari pelaksanaan ( tak ujug-ujug datang berkostum APD dengan jarum terhunus mengerikan ) sampai mereka sadar manfaatnya dan bersemangat melakukannya.

Demikian juga, kasus ambil paksa jenazah Covid di sejumlah daerah, mestinya keluarga pasien ( ODP dan PDP ) diedukasi dulu soal penanganan pasien Covid, dan jenazah Covid dengan bahasa sederhana. Kalau paham mereka tentu takkan mau membahayakan diri, keluarga, dan orang lain, meski sedang berkabung, karena mental mereka sudah disiapkan terlebih dahulu. Perawatan pasien PDP juga jangan lebih dari 14 hari sehingga swab test harus lebih cepat diketahui hasilnya. Semoga semua pihak bisa memperbaiki kinerja dan komitmennya untuk melandaikan kurva Covid pada Juli 2020 ini. Siaappp.. ?!!

***

Selamat HUT Bhayangkara Polri ke-74 pada 1 Juli 2020. Semoga makin bisa diandalkan dan mengayomi rakyat Indonesia..

*****