Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Produk Kreatif/ Be Kraf

PPDB ZONASI & LULUSAN SMK GO INTERNATIONAL. PINTU TERTUTUP, TERBUKA DI TEMPAT LAIN.

Tujuan pendidikan adalah mencerdaskan bangsa. Sistem zonasi yang diterapkan tahun ini adalah hasil evaluasi pendidikan tahun2 sebelumnya, di mana keadilan bagi si miskin belum terakomodasi. Mereka yang termarginalkan di pinggiran dan terdampar di pesantren megap2 lalu mengidap virus radikal bisa dikurangi dengan sistem zonasi yang terus diperbaiki mendekati ideal ( EMI, 11/7/2018).

Dulu, sekolah favorit hanya bisa dijangkau anak pintar dan kaya dari seluruh Indonesia. Anak pintar tapi miskin, meski tinggal di belakang sekolah tsb ditolak masuk. Kepala sekolah dan guru2 berkualitas ( kebanyakan dari luar daerah tsb ) menjadi penentu utama diterimanya peserta didik baru. Sekolah negeri umumnya bermutu dan terjangkau karena dibiayai negara. Dengan jumlah bangku tak sebanding jumlah peminatnya lalu sekolah negeri favorit jadi rebutan orang. Berlaku hukum rimba, siapa yang kuat ( dananya, pengaruhnya ) itu yang diterima. Sekolah swasta yang swadana dan kalah bersaing mutu akan ditinggalkan siswa lalu tutup. Kesenjangan sosial kian lebar.

Sistem rayoninasi juga masih menunjukkan ketimpangan itu. Anak miskin apalagi IQ pas-pasan, masih terpinggirkan karena keterbatasan ekonomi orang tuanya. Yang kaya ( berpotensi ) makin kaya karena memenangkan kompetisi masuk sekolah bagus dan terjangkau untuk anaknya ( investasi masa depan ). SKTM ( Surat Keterangan Tidak Mampu ) yang laris diborong orang tua mampu yang terjadi Juli ini juga terjadi tahun lalu, meski kemudian diancam masuk penjara ( karena mencuri subsidi/ kuota anak miskin ).

Kini, sistem zonasi menetapkan kuota anak miskin sekitar 20% yang harus diterapkan pihak sekolah ( tak jadi penentu utama lagi ). Sesuai peraturan mendikbud, yang diterapkan PPDB Kabupaten Bandung, jalur zonasi akademis dialokasikan 90%, jalur ekstra kurikuler 5%, jalur afirmasi 5% ( HU. Pikiran Rakyat, 3/7/2018)

Sekolah negeri diprioritaskan bagi anak yang berdomisili dalam radius 1.000 meter dari sekolah tsb. Jika ada 2 anak miskin dalam jarak sama maka dipilih yang lebih pintar. Jika keduanya sama pintar, maka yang lebih dulu mendaftar yang akan diterima sekolah.

Kisruh protes masih terjadi di sejumlah wilayah. Peraturan baru apalagi yang kurang sosialisasinya memang kerap menimbulkan pro dan kontra.
SKTM mestinya dicek sekolah bagaimana kenyataannya di lapangan. Bisa dilihat tagihan listriknya ( jika berdaya 1300 KWH ke atas artinya ortu cukup mampu ). Jika punya rumah sendiri, tak lagi ngontrak, artinya ia cukup mampu untuk bayar sekolah swasta yang bagus ( yang menerapkan subsidi silang dari siswa kaya ke siswa tak mampu) atau sekolah agak jauh dengan biaya ekstra untuk transpor atau asrama. Dan sejumlah variabel lain yang bisa dicek dengan mudah lewat internet ( seperti tagihan listrik yang bisa dilihat di web PLN dengan meng-input ID pelanggan).

Sekolah yang tak mengecek kebenaran SKTM bisa diberi sanksi oleh Disdik dan kemendikbud. Oknum kepala sekolah yang pungli ( seperti menarik uang gedung, seragam, iuran perlengkapan sekolah ) saat PPDB juga dikenai sanksi sesuai UU Aparatur Sipil Negara. Orang tua siswa dan aparat desa/ kelurahan yang menyalahgunakan SKTM juga dihukum. Siswa dikeluarkan jika ketahuan masuk dengan SKTM palsu/ tak sesuai dengan keadaan sebenarnya. Integritas dan moralitas ditanamkan sejak dini agar tunas bangsa ini tak bermental korup dan licik di fase berikutnya.

Di DKI, kuota 35% dari jumlah bangku yang ada di sebuah sekolah negeri disediakan untuk umum termasuk siswa dari luar kota. 15% untuk anak miskin di zona sekolah tsb. Jadi prosentasenya tidak kaku, masih ada ruang bagi otda untuk mengaturnya. Prinsipnya, aturan zonasi untuk keadilan akses pendidikan ini diakomodasi searif mungkin dengan melihat big picture-nya: keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia ( meminimalisir benih2 radikalisme/ kecemburuan sosial yang memecah belah bangsa ) . Ada sekolah negeri yang kurang fasilitasnya sehingga berpengaruh pada hasil Ujian Nasional ( UN ). Dari evaluasi, nilai UN bukan lagi penentu kelulusan siswa, melainkan lebih dilihat sebagai pemetaan bantuan negara. Jika nilai bahasa Inggrisnya jeblok, berarti fasilitas lab bahasa sekolah itu kemungkinan belum ada sehingga perlu dibuatkan pemerintah. Lebih arif ke sininya kan ? Jadi para orang tua cobalah lebih berpikir positif atas kebijakan zonasi ini. Lebih sabar dengan proses perbaikannya dengan memberi imput saran yang baik secara sopan pada pihak sekolah, kepala daerah/ dinas pendidikan dan pemerintah pusat/ kementerian pendidikan. Semangat mengembangkan diri mestinya lebih dijiwai siswa dan guru sehingga bisa unggul dan bermanfaat di mana saja. Sekolah favorit atau biasa. Sekolah negeri atau swasta.

Banyak lulusan SMK yang bersinar di kancah nasional, bahkan internasional. Dian Pelangi, salah satunya,. Usia SMP, ia masuk pesantren. Usia SMA, dia masuk SMK jurusan Tata Busana. Setelah lulus, wanita berjilbab ini selama 6 bulan jualan di kios Tanah Abang, lalu jualan di butik, lalu diundang menteri pariwisata ikut fashion week busana muslim di Sidney, Australia di usianya yang baru 18 tahun. Disusul ikut New York fashion week, Paris, London, Torino fashion week ( Kick Andy, 1/7/2018 ). Saking topnya, Dian bahkan diundang ceramah mode fashion di Universitas NewYork dan Havard University. Keren kan ?

Contoh lain, Bayu Skak ( sekumpulan arek kesel/ capek) lulusan SMK Jatim, kini mahasiswa Seni & Desain Universitas Malang. Masuk SMK sekarang bisa meneruskan studi ke perguruan tinggi, lho. Sembari kuliah, Bayu punya job dan income bagus sebagai content creator dengan sederet karya animasi yang banyak dipuji.

Bagi yang tak diterima masuk sekolah favorit, jangan patah arang. Tekuni passion-mu lalu masuk SMK yang sedang digalakkan pemerintah di 4 fokus bidang pengembangan SMK menurut kemendikbud, yaitu: pertanian, maritim, industri kreatif, dan pariwisata. SMK wajib punya counter part dunia industri/ usaha yang sesuai dengan program studinya dan fleksibel dengan perubahan jaman. Bisa langsung kerja setelah lulus seperti Dian, atau melanjutkan studi sambil kerja seperti Bayu, tergantung semangat pengembangan diri kalian. So, tak diterima di sekolah negeri atau favorit, bukan akhir dunia. Tetap semangat !

Iklan

Written by Savitri

2 Desember 2017 pada 10:15

%d blogger menyukai ini: