Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Posts Tagged ‘Jepang

Ujaran Kebencian vs Ikatan Kebangsaan. Hentikan Pencap Kafir !

leave a comment »

Nar

Kagebunshin ninjutsu ! Rasengan !! Itu jurus andalan Naruto yang ditiru anak2 tetangga. Sayang, baru kekerasan yang bisa mereka tangkap dari serial animasi ini sehingga anak2 SD itu cenderung berkelahi jika diejek atau tawuran jika direndahkan siswa sekolah lain. Kemana orang tua yang seharusnya mendampingi anak dan menjelaskan filosofi kebaikan mengungguli kejahatan ( dari ucapan, tindakan, pemikiran, perasaan para tokohnya ) ? Ayah ibu ternyata sama2 bekerja sampai petang mencari sesuap nasi yang kian hari kian sulit didapat akibat pasar bebas. SDM dan infrastruktur kita yang belum siap terhantam pesaing dari luar negeri yang lebih berkualitas. Tinggal remah yang tersisa yang tidak cukup menghidupi keluarga sehingga kedua orang tua terpaksa ke luar rumah meninggalkan anak tanpa bimbingan. Ini fakta di akar rumput yang kelak bisa menjelma gelombang kedangkalan di masa depan. Serial Naruto bisa membangkitkan rasa nasionalisme anak ( ada produk kreatif kita yang melebihinya ? ). Lebih asyik lagi jika anda juga nonton dan berbagi keseruan dengan anak2 ( sembari menyelipkan nilai2 kehidupan ). Hal kecil yang bisa kita lakukan untuk tanah air tercinta, Indonesia. Chou odama youton rasen shuriken !!

Setahun. Long time no post. Kenapa ya ? Banyak yang terjadi. Diantaranya, kena TB. Mesti minum obat 6 bulan non stop tanpa bolong. Perut mual, kerap muntah, badan lemas and gampang capek. Entah tertular dari udara, atau nutrisi yang terkontaminasi kuman TB di saat daya tubuh lemah. Pasrah saja. Yang penting, sabar saat diuji sakit. Syukur saat diuji kaya.

Keluar Rp 18-20 juta untuk sembuh seperti ibu saya tahun 2014 ? Enggaklah. Ada program obat gratis dari Dinas Kesehatan Pemkot Bandung ( Program Nasional/ WHO ) sejak Maret 2016. Dengan kartu BPJS Kesehatan ( bisa online/ KIS ), saya menjalani proses pengobatan di puskesmas dan rumah sakit rujukan tanpa cash. Alhamdulillah.

( Penderita TB harus cuci tangan pakai sabun hingga bersih sebelum memberi makanan pada orang lain. Tak boleh cipika cipiki ( cium pipi kanan cium pipi kiri ) karena percikan dahak berisi kuman TB bisa menular/ berpindah sekitar mulut )

AHOK YANG PATRIOT

Ada yang saya lewatkan ? Ahok masuk bui, HR masuk DPO. Trump jadi presiden AS. HTI mau dibubarkan. Latah persekusi ormas intoleran. Kota Marawi ( diduga ) di Filipina selatan menjadi basis baru ISIS/ NIIS. Pancasila diteguhkan kembali melalui UKP-PIP. Wah.. semuanya berkaitan ya.

( Gak nyangka. Kinerja top bisa kalah oleh bicara top. Walk the top yang pasti juaranya. Sesuai kata dengan perbuatan. Kerja baik harus didukung ngomong baik. Kita tunggu kinerja gubernur-wagub DKI Jakarta terpilih ( Anies-Sandi ). Semoga baik pula. Amin )

Berani karena bersih, puji pengamat tentang Ahok saat tampil di Metro TV tempo hari. Saya pun tak sungkan menegur tegas para pemalas, parasit, pelanggar aturan secara terang-terangan dengan sangsi telak, saking gemesnya. Ditegur berulang kali kok masih menantang. Mbalelo. Saya bisa berempati dengan kekesalan Ahok dengan ucapan pedasnya pada orang2 ‘bego’ yang ogah mikir/ insyaf. Saya salut Ahok taat hukum dan berjiwa besar. Mengalah demi kepentingan yang lebih besar. Persatuan Indonesia.

( Beda ya dengan HR. Teriak saja yang gempar. Padahal untuk mengagungkan asma Allah seharusnya merendahkan diri dulu, bukan merendahkan orang sana sini. Iman adalah pembenaran hati terhadap apa yang didengar. Logika adalah pembenaran mata/akal pada apa yang dilihat. Orang yang suka nyinyir merendahkan orang lain (seperti mencap jelek kekurangan fisik/ materi ) adalah orang yang tak punya hati, alias tak beriman. Dari mata langsung mulut.

Sesungguhnya, Islam itu moderat ( di tengah-tengah ). Orang ekstrim/ radikal cenderung melihat Islam dari permukaan saja ( tanpa kedalaman/ kemanusiaan ). Begitu mudah mencap orang lain kafir ( lalu membunuhnya ). Seperti melihat sesuatu tanpa hati/ iman. Bisa dibilang, teroris/ penganut radikalisme itu tidak beriman ( bukan Islam ).

Ekstremis hanya mampu berpikir tunggal ( sederhana, emosional, tak sabar dengan proses ). Tak bisa menerima keberagaman, varisasi atau sudut pandang yang berbeda. Seperti surga yang bisa dilalui banyak pintu, kebenaran pun sebenarnya banyak variasinya. Soal perbedaan agama, biarlah Allah yang kelak memutuskan, siapa yang benar di antara kita.

ANJING DAN PENINDAS MENANDAI WILAYAHNYA.

Rakyat jelata sungguh tak terduga. Kemenangan D.Trump ( DT ) yang rasis dan pongah karena system elektoral ( Hillary sebenarnya memenangkan lebih banyak suara ) yang dianut AS dan kedangkalan pemikiran para pemilih tradisional yang terkesima dengan orasi hiperbolik/ utopis DT yang dangkal. Nyambung.

Gelombang protes dan gejolak politik kerap terjadi di AS pasca DT terpilih. Lalu bagaimana di Indonesia ? Apakah para pemilih kita di akar rumput juga begitu ? Gejalanya terlihat dalam pengerahan massa besar-besaran dalam ‘aksi damai’ memprotes ( dugaan penodaan agama oleh ) Ahok. Bahkan dai sekelas AAG ikut serta. Siapa nyana ekses pengerahan massa itu kini melahirkan aksi main hakim sendiri ( persekusi ) dan pindahnya basis ISIS dari Timur Tengah ke dekat rumah kita ( Marawi ).

Anda tahu anjing menandai wilayahnya dengan air kencing ? Tak jauh, parasit, penindas, pemangsa, teroris, menandai wilayahnya dengan suara teriakannya ( atau perilaku semau gue/ melanggar norma aturan ). Kalau saya tak membekuk anak2 kost yang teriak-teriak di rumah, mereka pasti makin merusak dan merugikan. Setelah teguran berulang tak mempan, mereka saya ‘tendang’ keluar dengan cara dibikin tak betah ( dimatikan pasokan listriknya & suplai airnya ). Terakhir saya gembok gerbang dan pagar. Biar tahu rasa, tidur di jalanan !

Hardball terkadang perlu untuk situasi tertentu. Ketika HR dan oknum aksi damai itu teriak2 ( mengintimidasi ), saya sudah feeling saja, pasti membesar. Apalagi HR di beri ‘panggung’ ( jadi khotib sholat Jumat di depan RI-1 ). Ge-er mereka. Makin merasa paling benar ( efek lanjutan : tak mau mendengar kebenaran dari yang lain ). Lalu, meledaklah bom dan aksi persekusi di beberapa tempat. Pengambilalihan kekuasaan dengan dua cara : kekuatan militer atau pengerahan massa.

ORANG BAIK PRO AKTIF-LAH

So, orang baik jangan sampai kalah jumlah. Mereka ( penindas, teroris cs ) demen menggalang massa /pengikut untuk mendominasi/ mengepung calon korban, untuk selanjutnya disedot uang, tenaga, waktu dan kebahagiaannya. Orang yang suka mengkafir-kafirkan orang lain ( menganggap symbol Negara itu thoghut/ berhala ) jangan sampai diberi ruang gerak apalagi panggung. Gebuk dan tendang saja ( baca : diproses hukum secara tegas sampai kapok, apalagi jenis yang sudah makar/ berbaiat pada entitas asing ).

Semoga revisi UU Terorisme nanti bisa untuk payung polisi menangkap orang yang berorasi mengkafirkan orang lain di luar kelompoknya. Menangkap orang yang berlatih senjata di markas teroris atau mereka yang pernah pergi ke Suriah/ bergabung dengan ISIS. Karena ini bibit2 ekstremis yang kalau dibiarkan bisa meneror warga yang tak sepaham atau meledakkan bom lagi di tanah air.

Saya ingat masa SMA diajak ikut kelompok pengajian yang digagas beberapa teman ‘alim’. Saya terheran dengan ceramah misterius nan ganjil itu ( bahwa Negara ini telah gagal, Pancasila itu thoghut, dst ). Merasa tak nyaman, saya segera keluar dari komunitas itu.

Tahun 2017 ini terkuak fakta, jumlah mereka sudah mencengangkan, merebak di kampus dan sekolah2 ( bisa jadi sebagian tumpah di ‘aksi damai’ jutaan pendemo di Jakarta kemarin ). Mereka bisa jadi pemilih tradisional dangkal seperti di AS. Entah calon sesat mana yang akan mereka menangkan di sini kelak, jika kelompok yang merasa benar dan menang sendiri ini terus diberi angin. Pendidikan agama di sekolah dan kampus juga hendaknya dibuat menarik dan interaktif ( tidak dogmatis ) sampai siswa tak perlu mencari sumber lain ( yang sesat tapi memuaskan rasa ingin tahu mereka ).

Tempat kita pulang ( rumah ) adalah tempat di mana ada orang yang memikirkan kita. Rumah berisi orang2 yang kita sayangi. Indonesia adalah rumah kita. Jika kita saling membenci satu sama lain, ikatan kebangsaan putus, rumah pun runtuh. Kita tak bisa pulang. Anda tahu rasanya jadi orang tanpa tanah air ? ( saya pernah merasakan hidup di jalanan tanpa orang peduli ). Etnis Rohingya, pengungsi Palestina, Irak, Suriah, dll, hidup merana di pengasingan. Tanpa status dan penghormatan sewajarnya. Berapa lama anda mampu bertahan ? ( hidup/ menjadi orang baik ).

Ujaran kebencian ( hate speech ) di media sosial yang merajalela harus dihentikan jika ingin Indonesia damai. Jangan men-share konten negatif/ radikal sekedar ingin disebut gaul, karena itu bisa menggunung, memutus ikatan kebangsaan kita. Ikatan yang terlalu besar besar untuk dipertaruhkan. Don’t you ever, ever, ever do those things ( hate speech etc ). Karena kamu bisa masuk bui ( UU ITE ) dan dalam jangka panjang kita semua ( kalau diam saja/ ogah nahi munkar/ mencegah keburukan ) bisa jadi gelandangan tanpa tanah air. Menyedihkan.

Menghentikan kebencian adalah menghentikan rantai balas dendam. Setelah itu baru ada kedamaian, kata Naruto ( serial animasi Jepang tentang pertemanan dan cinta desa/ tanah air ). Yuk, bermaaf-maafan. Minal aidin wal faizin..

Written by Savitri

6 Juli 2017 at 12:21

Ditulis dalam Nasionalisme

Tagged with , , ,

Sayangi bumi : tas kain anti sampah plastik, program Satu Hari tanpa Nasi, 100 RW ikut BG&C

leave a comment »

Pengantar A.Savitri

Sushi dalam kemasan. Anda tahu tuna sirip biru diambang kepunahan ? 2 jam sebelum kadaluarsa, produk makanan jadi biasanya dibuang. Karena kemasan lecet, sering konsumen mengabaikan produk yang berumur tak lebih dari 8 jam ini. Anda tahu sebelum dan setelah meninggalkannya ?

It’s ridiculous.  Gaya hidup modern ternyata menyesakkan dada. Pernah terpikir ketika di rak supermarket, anda menyingkirkan makanan siap santap atau potongan tuna karena sedikit lecet di kemasannya ?   Bagaimana nasibnya setelah anda meninggalkan kasir tanpanya ?  2 jam sebelum kadaluarsa, produk olahan semacam itu masuk ke tempat sampah. Padahal, begitu panjang perjalanan yang telah dilaluinya. Begitu banyak duka nestapa yang menyertainya. Begitu banyak manusia di belahan dunia lain terpinggirkan dan dikorbankan karenanya. Dan, ujung-ujungnya   berakhir di tempat sampah ?

Di mulai dari  pembabatan 26 km2 hutan hujan Amazon untuk menanam kedelai ( di Indonesia untuk kelapa sawit ). Ladang2 kedelai itu untuk memenuhi pesanan pakan sapi, ayam, ternak orang Eropa dan negara2 maju. Mereka sekarang makan daging 5 kali lebih banyak daripada 50 tahun yang lalu. Brasil mendapat 10 juta USD dari penanaman kedelai ini, namun petani dan rakyat yang tergusur hanya bisa gigit jari, mengerang lalu mati ( keracunan pestisida yang mencemari air sungai dan tanah mereka akibat intensifikasi pertanian/ revolusi hijau ). Hutan yang gundul menyebabkan erosi dan banjir yang menghanyutkan rumah serta harta benda. Juga, menjauhkan ikan dari warga penangkapnya.“Mereka ( warga negara maju ) hidup enak di atas penderitaan rakyat di sisi lain dunia,” kata seorang penggiat lingkungan di sana. ( saya jadi terpikir untuk makan daging sekali seminggu saja atau menggantinya dengan ikan ).

Belum lagi, nasib sapi, ayam, dll dari peternakan intensif. Yang sejak lahir hingga disembelih hanya bisa berdiri di kandang seukuran pas dirinya. Ia tak bisa bergerak, menoleh atau pun berputar. Ia hanya pasrah ketika ekornya dipotong agar tidak mengganggu sapi di sebelahnya. Ketika sakit, si sapi baru boleh masuk ke kandang yang lebih besar. Setelah reda sakitnya, si sapi yang malang dikembalikan ke kandangnya yang sempit. Lebih sering lagi, sapi2 ini dibiarkan sakit, sampai mati. Seorang juri di tayangan “Iron Chef” pernah mengatakan, sapi di negara2 maju disetelkan musik klasik sebelum dipotong, jadi dagingnya tidak liat ( sapi tidak tegang ). Di Indonesia, sapi2 dipotong begitu saja. Bahkan, ada yang baru setengah memotong lalu meninggalkannya ( si penjagal tak lama kemudian sakaratul maut dengan lolongan seperti disembelih berulang-ulang ( tidak tuntas ) seperti sapi2 yang suka dipermainkannya ). Lebaran tahun lalu, di teve, saya lihat sapi kurban lari ketakutan di antara kendaraan di jalan raya ketika akan disembelih. Lebih mengenaskan, setelah disembelih, dipajang di rak lalu dibuang di tempat sampah. Anda bisa menakar kekejaman manusia seperti ini ?

3 karung makanan dibuang, orang2  kelaparan hanya bisa mati.

Kemudian, nasib mengenaskan juga menimpa tuna sirip biru yang terus diburu. Padahal sudah diambang kepunahan.  2600 ton tuna sirip biru berubah menjadi sushi dan sashimi di meja makan setiap tahunnya.  Lebih sial lagi, cuma menghuni tempat sampah. Padahal kelestariannya terancam. Harganya perkilo 1000 euro. Tiap kapal menangkap 3000 kg/ hari. Lebih 50 %  tuna yang malang ditangkap dengan skala industri. Nelayan tradisional menangkap  2 % – nya. Warga Jepang fans beratnya. Meski ada larangan/ pembatasan tuna sirip biru agar populasinya kembali normal, ( seperti banyak hal genting lainnya di dunia ini )  generasi kita seperti burung yang menyembunyikan kepala di pasir. Menyangkal tanggung jawab melestarikan ( dan mengendali nafsu makannya ).

3 karung makanan di toko ini dibuang 2 jam sebelum kadaluarsa, kata pramuniaga Jepang ( sembunyi2, ia bisa dipecat kalau ketahuan memberi tahu ). Ada 45.000 toko seperti ini di Jepang. Padahal bahan makanan tsb sudah 4 kali keliling dunia untuk membuatnya. Anehnya, pemilik toko enggan memberi makanan terbuang itu pada orang miskin dan kelaparan. ( nggak nyangka, di Jepang pun ada yang melarat, yang pelit apalagi ). Populasinya 12 %. Di Perancis, 2 juta orang kekurangan makanan. Di dunia, 1 milyar orang kelaparan. Untuk menjaga citra produk, para pemilik toko memilih memberikannya pada ternak atau diolah menjadi pupuk. Mereka juga tak sudi memberikannya pada relawan sosial yang memintanya. Pemerintah tak peduli, jadi orang2 ini terlantar, kata sang aktivis. Bagaimana dengan Indonesia, ya ?

Ganti ponsel terbaru ?  Rakyat Kongo mati terkubur atau terbunuh.

Warga Kongo sedang menyaring coltan, bahan baku ponsel. Selera kita berganti ponsel menyuburkan kekerasan di negeri lain. Coltan ditukar dengan senjata untuk mempertahankan kekuasaan di wilayah yang saling bertikai. Rakyat menjadi korban.

Ponsel,  jins, komputer dan plastik. Merasa akrab ?  Benda2 tersebut atribut gaya hidup masa kini. Orang tak ingin ketinggalan jaman. Selalu mengejar keluaran terbaru. High end. Kuatir dibilang kuno, tersisih dari pergaulan. Namun, apakah kita sadar apa yang terjadi di belahan dunia lain, ketika kita memuaskan diri dengan tuntutan ‘modernisasi’ ?  Coltan, bahan baku ponsel, 20 % -nya disuplai dari Kongo. Kongo, negeri di tengah Afrika, 70 % wilayahnya mengandung coltan ;  bahan pembuat ponsel, komputer dan rudal. Keistimewaan coltan ; tahan karat dan panas, hingga nilainya 2-3 kali lebih mahal dari emas. Di Kongo, harga per kilogramnya mencapai 5 euro. Di pasar internasional melonjak hingga 50.000 euro/ kg.

Sayangnya, yang menikmati keuntungan ini bukan penambang tradisional ( rakyat atau pengungsi dari genosida di Rwanda ) yang sudah bertaruh nyawa mengikis  gunung hingga jauh ke perut bumi tanpa pengaman. Panglima2 bersenjata yang menguasai wilayah2 terpecah belah itu tinggal merebut coltan dari tangan penambang lugu. Seringkali mereka masih kecil, 6 – 7 tahun, tidak bersekolah, hanya bisa menyabung nyawa demi sesuap nasi ( di milenium kedua, masih banyak  derita serupa. Kemarin di TransTV, saya lihat penambang perak tradisional di Indonesia  bekerja dengan cara tak jauh berbeda. Dalam liang sesempit itu, dinding dan langit2 gua kapan saja bisa runtuh ). Dan yang paling untung, tentu, pemasok senjata dan perusahaan multinasional ( anda tahu siapa mereka ). Senjata  diperoleh dari Barat, demi mengamankan kepentingan masing2. Siklus kekerasan terus berputar, jika penduduk dunia keranjingan mengganti ponsel mengikuti trend terbaru, kata aktivis di sana.

Jins belel keliling dunia dan merusak lingkungan ?

Tahukah anda, jins sudah keliling 12 negara sebelum anda pakai ? Menempuh 65.000 km untuk mendapatkan kapas, kancing, dsb. Setiap 1 kg kapas butuh 25.000  liter air. Untuk mengolah limbah jins butuh 1 juta euro ( sangat sedikit pabrik yang sadar lingkungan lalu menggunakan instalasi pengolah limbah sesuai aturan, mereka merasa lebih ‘untung’ jika langsung membuang ke sungai atau laut. Biota di dalamnya pada mampus, go to hell ). Apalagi  jenis yang banyak menggunakan bahan kimia, seperti  jins belel ( buatan ). Untuk 1 jins perlu 1 liter pestisida dan 25 liter bensin. Penduduk dunia yang kini berjumlah 6,5 milyar menggunakan 90 juta jins per tahun. Bayangkan berapa banyak energi dan kerusakan lingkungan yang terjadi ketika penduduk bumi mencapai  9 milyar pada tahun 2050 ?

Aktivis lingkungan menyarankan penggunaan jins dari stand2 amal. Lebih baik menggunakan jins belel yang belel karena bekas pakai. Bukan di-wash hingga terkesan belel, lalu cairannya meracuni ikan di sungai yang akhirnya anda makan juga.

Gunjakima, masa depan Tokyo ?  Sampah beracun untuk negara berkembang.

Gunjakima, pulau berpenduduk 5000 orang yang kini telah ditinggalkan. Dotoku Samakana, mantan pekerja tambang, dulu tinggal di lantai 9  apartemen pekerja pada tahun 1974, sebelum pulau pertambangan itu ditutup. Pemerintah Jepang memilih membeli dari luar ketimbang meneruskan pertambangan dalam negeri.  Ego orang Jepang, kata Dotoku. Tokyo bisa berakhir seperti tempat ini yang dulu wilayah tercanggih di Jepang. Kini pulau Gunjakima menjadi bagian dari alam lagi. Reruntuhan.

Tiap tahun, 1 orang Perancis membuang sekitar 15 kg sampah komputer dan elektronik. Jika dijumlahkan, setara dengan 4000 menara Eifel. Di Guiyu, Cina, pemulung mendaur ulang sampah sampah2 tsb  seraya menghirup uap timah panas yang beracun. Cobalt, kadmium dan raksa dalam sampah tsb  menyebabkan TBC, kata dr.Kuo. 4000  ton sampah elektronik di buang ke Guiyu tiap jam. Tapi mereka tak berdaya. Sebagian warga Cina akan melakukan pekerjaan apa saja untuk bisa hidup. RRC sudah melarang impor sampah elektronik, tapi mereka yang bermain di luar hukum jalan terus. AS dan Jepang secara tegas menolak mengikuti perjanjian. Mereka memilih membuang sampah elektronik dari negara maju ke negara berkembang, daripada meracuni tanah dan rakyatnya sendiri. ( sementara negara2 berkembang harus/ dipaksa mematuhi kesepakatan iklim, ketetapan PBB, aturan HAM, dsb, negara maju terus mendapat perkecualian dan keistimewaan. Adakah badan dunia yang adil ? )

Segunung cinta dari para aktivis lingkungan.

Where is the love ? Sering kita mendengar itu. Dari tayangan “Earth from Above” garapan orang Perancis itu, saya baru ngeh kenapa aktivis lingkungan dan relawan sosial mau berbuat lebih bagi masyarakatnya. Di Jepang,  Ken Ginochi, memulai kampanye pembersihan gunung Fuji dengan beberapa orang kawan. Seperti di luar angkasa ( dengan sampah satelit, pesawat ulak alik, teleskop, dsb ), di gunung pun dipenuhi sampah peninggalan para pendaki dan pelancong. Kaleng bir, botol minuman, korek api, tenda, matras, dsb. Kepedulian Ken kemudian diikuti lebih banyak orang hingga mencapai lebih 7000 peserta, hari ini. Tiap tahun G.Fuji dikunjungi 30.000 orang. Saya lihat senyum Ken  merekah, ketika perhatiannya pada gunung tsb direspon positif oleh warga setanah air. Ia semula mengira idenya akan dilecehkan. Ternyata tidak, anak2 pun terlihat riang mengikuti jejaknya. Ken tak menduga perbuatan kecilnya memungut sampah bisa mengundang kebaikan dari ribuan orang. Wajahnya terlihat syahdu merenungi a-ha momennya ( andai ia tahu ia lebih tampan saat itu ). Tak ada yang kecil, selama manusia mau bersungguh-sungguh.

Di Amerika, Kapten Charles Moore menemukan banyak sampah plastik mengapung di laut hingga kedalaman 30 meter. 250 juta ton per tahun plastik dibuang orang ke laut hingga seluas 4 kali Perancis dan sebanyak 6 kali plankton di laut. Spiral Pasifik Utara, Arctik, Atlantik dan Samudera Hindia. Ia tergerak membersihkannya dengan kapal kesayangan. Di Hawaii,  Morgan Turband membersihkan laut yang kotor kiriman negeri seberang. Ada 200 ribu burung albatros di sana yang ingin ia lindungi.

Anda tersentuh ketika membaca buku ? Terharu ketika menonton adegan film ? Tergetar ketika berinteraksi dengan orang ? Ketika melihat seorang anak, anda ingin berkata, aku akan memberimu sesuatu ? Itulah cinta. Cinta yang sama yang menggerakkan para aktivis lingkungan dan relawan sosial, juga anda yang peduli.  Cinta berarti mencipta, bukan menghabiskan. Belajarlah pada alam. Lihatlah pada monyet yang asyik berendam di kolam hangat sambil memejamkan mata. Mereka mengambil sebatas yang mereka perlukan. 3/4 populasi manusia di bumi tidak menikmati kemewahan hidup. Banyak yang terpaksa merangkak, menggadaikan harga diri dan kehormatannya untuk sekedar bertahan hidup. Berhemat dan berbagilah dengan sesama. Kendalikan nafsu mengungguli manusia lain. Sayangi alam. No where to go when the earth’s gone ..

***

400 tahun sampah plastik baru terurai. 1.625 m3/ hari di Bandung. Belanja, bawa tas kain, ya ..

Forum Hijau Bandung ( FHB ) mendesak pemkot Bandung segera menyusun perda tentang penggunaan plastik oleh masyarakat. Selama ini, warga terbiasa bersentuhan dengan plastik. Padahal, plastik akan menjadi limbah yang merusak lingkungan Kota Bandung. Sifat plastik sulit diurai alam. Sekjen FHB, Christian Natalie mengungkapkan, penggunaan plastik saat ini mulai terlihat berkurang. Akan tetapi, sifat konsumerisme yang tinggi menyebabkan sampah plastik tetap menggunung.

“Kami sangat menghargai upaya pemkot yang akan mengedarkana surat pemberitahuan ke tempat perbelanjaan untuk mengurangi pemakaian kantong plastik. Hanya, pengendalian penggunaannya masih belum jelas. Jadi, kami berharap, perda mengenai penggunaan plastik segera disusun sebagai salah satu upaya menjaga lingkungan,”ujarnya.

Sebelumnya, wakil walikota Bandung, Ayi Vivananda mengatakan, Juni 2010 pemkot akan mengedarkan surat imbauan kepada pengelola mal dan hotel agar mengurangi penggunaan plastik. Saat ini, terdapat lebih dari 10 perusahaan produsen plastik di wilayah Bandung Raya. Beberapa di antaranya, mengolah plastik secara daur ulang atau dari chip plastik polymer yang dibakar kembali. Menurut Retno Gumilang Dewi dari Pusat Kebijakan Keenergian ITB, pembakaran chip2 plastik berbahaya karena menghasilkan klorin.”Zat klorin dapat berdampak buruk pada kesehatan dan lingkungan. Apalagi jika bereaksi dengan air. Hasil reaksinya ( asam klorida ), bisa menyebabkan sifat korosif yang lebih keras daripada asam sulfat,” tuturnya.

Kantong kertas, bioplastik mengurangi emisi karbon. Usulkan perda plastik ke dewan.

Berdasarkan data Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah ( BPLHD ) Kota Bandung, sampah plastik menempati urutan kedua terbesar dengan 1.625 meter kubik setiap harinya. Padahal, sampah plastik perlu 200-400 untuk bisa terurai alami. Menurut Ayu Sukenjah dari Rehabilitasi Lingkungan BPLHD Kota Bandung, pemerintah belum memiliki standar penggunaan plastik sehari-hari. Kendati demikian, ada solusi yang bisa diterapkan, yaitu substitusi ke pemakaian kantong kertas atau bioplastik. Bioplastik berasal dari bahan alami seperti minyak nabati serta tepung jagung, kentang dan tapioka yang lebih mudah terurai alam. Bahan bakunya dapat diperbarui dan emisi gas rumah kacanya lebih sedikit.

Anggota Komisi C DPRD Kota Bandung, Edwin Senjaya mengatakan, pihaknya akan mendukung penyusunan perda penggunaan plastik. Akan tetapi, sebelumnya harus melalui tahap kajian yang komprehensif, termasuk aspek sosio-psikologis masyarakat.”Dari 22 raperda yang disusun tahun ini, tidak ada yang mengenai penggunaan plastik. Namun, bisa saja diajukan sebagai perda inisiatif dari masyarakat kepada dewan.” ( PR, 25/5/2010 ).

100 perwakilan RW ikuti pelatihan Bandung Grean & Clean. Warga sadar lingkungan.

Pelatihan kampanye sahabat sampah oleh Bandung Green and Clean ( BGC ) diikuti 100 orang perwakilan RW di Kota Bandung, Rabu ( 19/5/2010 ) di Gedung Wanita, Jalan L.L.R.E. Martadinata, Bandung. Pelatihan ini bertujuan menanamkan rasa cinta dalam pikiran dan hati masyarakat terhadap lingkungan bersih dan hijau. Juga, untuk menumbuhkan kreativitas warga dalam menyampaikan informasi atau pesan lingkungan yang berada di sekitarnya, terutama dalam pengelolaan sampah.

Dandan Riza Whardana, Kepala BPLHD Kota Bandung, mengatakan, perwakilan RW diajak untuk mengubah perilaku membuang sampah sembarangan yang dapat merusak lingkungan.  Seharusnya sampah tidak begitu saja dibuang, tetapi dipilih dulu antara sampah organik dan anorganik agar bisa diolah dengan baik. Kita harus mampu menerapkan 3R untuk menjaga lingkungan, katanya.

Ada 5 program BGC untuk lingkungan ;

  • Pemberdayaan masyarakat dari tingkat terbawah
  • Pengelolaan sampah, yakni memilah sampah organik dan anorganik.
  • Penghijauan, melatih penanaman.
  • Pengelolaan sanitasi air, seperti membangun daerah resapan air.
  • Ajarkan kepada orang lain bagaiman mengelola lingkungan dengan baik.

Menurut Dani Zaenal, perwakilan RW 7 Kel.Ledeng, Kec.Cibadak, Kota Bandung,  pelatihan ini sangat bagus untuk memotivasi masyarakat sadar lingkungan. ( PR, 21/5/2010 )

“Satu Hari tanpa Nasi” mulai Juni 2010. Ganti dengan jagung, sagu, singkong  dsb ..

Sejalan dengan target pemerintah untuk mengurangi konsumsi beras ( nasi ) 1,5 % per tahun, Badan Ketahanan Pangan ( BKP ) Jawa Barat mengusung program Satu Hari tanpa Nasi ( one day no rice ). Program ini akan mulai disosialisasikan pada masyarakat Juni mendatang, kata Lilis Irianingsih, Kepala Bidang Konsumsi dan Keamanan Pangan BKP Jabar usai seminar nasional “Potensi Makanan Tradisional dalam mendukung Percepatan Diversifikasi Konsumsi Pangan” di UPI, Bandung. Kegiatan itu untuk mengurangi konsumsi beras dan menjadikan makanan tradisional lainnya sebagai substitusi pengganti beras. Jadi, dalam satu minggu, satu hari tidak mengkonsumsi beras.

Di Jakarta, Menteri Pertanian Suswono dalam sidang regional Dewan Ketahanan Pangan 2010 mengemukakan ambisi pemerintah menurunkan konsumsi beras masyarakat hingga 1,5 % per tahun, agar ketergantungan beras berkurang dan bahan pangan lainnya dilirik masyarakat. Seiring pertumbuhan penduduk setiap tahunnya, kebutuhan beras semakin meningkat sehingga menjadi beban negara. Selama ini konsumsi beras orang Indonesia 139 kg per tahun, sedangkan negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand sudah dibawah 100 kg per kapita per tahun. Upaya pemerintah ini untuk menjaga kemandirian pangan terutama di sektor beras, mengingat tantangan ke depan sangat kompleks, masalah konversi lahan yang meningkat, iklim yang tak stabil, penyakit hama, dll. Konversi lahan sawah mencapai 100.000 hektar per tahun, sedang penambahan lahan baru 20-30.000 hektar. Target 50.000 hektar ini pun masih kurang.

Program ini sebenarnya sudah ada sejak awal tahun 2009 meski baru di lingkungan Departemen Pertanian dan BKP saja. Anton Apriyantono, mantan Menteri Pertanian, mengatakan, diversifikasi pangan sebenarnya sudah lama diupayakan pemerintah, tapi hingga saat ini masih sulit terwujud. Hal ini terkendala mindset dan budaya yang ada di masyarakat yang beranggapan ‘belum makan kalau belum makan nasi’. ( PR, 26/5/2010 )


Written by Savitri

26 Mei 2010 at 16:35

Ditulis dalam Ragam

Tagged with , , , , , ,

Tokyo, perangi pencuri dengan bunga

leave a comment »

Pohon sakura di tepi jalan, Tokyo

Pohon sakura di tepi jalan, Tokyo

Berbagai cara dilakukan pemerintah untuk memerangi aksi kriminal. Pemerintah sebuah kawasan di Tokyo, yang sering diganggu pencurian, mencoba memerangi kejahatan itu dengan “operasi bunga”. Operasi unik ini dimulai 3 tahun lalu. “Dengan menanam bunga menghadap ke jalan, banyak orang yang kemudian memperhatikan jalan ketika merawat atau menyiram bunga tsb,” ungkap Kiyotaka Ohyagi, pejabat kota di kota Suginami. Ide itu bermula dari kelompok pengamat lingkungan yang menyadari sedikit pencurian di bangunan dengan bunga berjejer di tepi jalan.

Mendengar informasi itu, pemerintah Suginami memutuskan memulai “operasi bunga” dengan meminta relawan menanam bibit bunga di sisi jalan dan di depan rumah mereka. Operasi bunga menjadi bagian kampanye pencegahan kejahatan yang lebih luas. Suginami juga memiliki 9600 relawan yang melakukan patroli. Di daerah2 yang sering ditimpa aksi pencurian, dipasang 200 kamera keamanan. Ada juga e-mail informasi kejahatan harian pada penduduk. Suginami boleh dikatakan berhasil. Tahun 2008, angka pencurian turun 80 % menjadi 390 kasus dibanding tahun 2002. ( Rtr/PR, 13/6/2009 )


Company Logo design
hit counter

Written by Savitri

22 Juni 2009 at 14:56

Ditulis dalam Ragam

Tagged with

Kenzo Tange : Pemadu Arsitektur Tradisional Jepang dan Modern Barat

with one comment

Mungkin sebagian kita bertanya, adakah tugu memorial bagi korban pengeboman Hirosima dan Nagasaki ? Di Bali, kita punya tugu peringatan korban bom Bali. Di New York, ada Ground Zero bagi korban tragedi WTC. Di Jepang, ternyata sudah lebih dulu ada monumen semacam itu, yaitu Hiroshima Peace Center yang dibangun untuk memperingati tragedi memilukan di negeri matahari terbit usai Perang Dunia II. Perancangnya Kenzo Tange. Bangunan itu karya pertamanya.

Ledakan bom Hiroshima

Ledakan bom Hiroshima

Setelah 300 tahun terisolasi di bawah Shogun Tokugawa, Jepang memulai proses modernisasi luarbiasa dengan Restorasi Meiji. Proses ini tak hanya transformasi fisik, tapi juga spiritual, sehingga masa lalu tetap hidup dalam pikiran orang Jepang masa kini. Penerimaan modernisasi seperti ini menjadi dimensi baru, menjadikan berwarna untuk mengantisipasi masa depan.

Istana Himeji

Istana Himeji

Tange pandai menyaring esensi spirit modern lalu mengawinkannya ke dalam pemahaman mendalam budaya tradisional Jepang, seperti terlihat pada Hiroshima Peace Center.

Bangunan yang dimenangkan Tange melalui kompetisi ini didirikan di area jatuhnya bom atom, di kawasan luas terbuka yang dibiarkan seperti keadaan semula, lengkap dengan reruntuhan gedungnya. Monumen utama berujud pelengkung beton sederhana yang diekspos, berpenampang hiperbola yang mengatapi titik jatuhnya bom. Ada museum dan pusat komunitas di dekatnya.

Arsitekturnya terpengaruh cubism-nya Le Corbusier, terlihat di bagian atas kolong jajaran kolom. Teras mengelilingi bagian bawah Community Center. Pembatas kaca antara teras dan ruang dalam memudahkan pengunjung yang berada di dalam melihat reruntuhan dan titik bom di luar.

Hiroshima Peace Center

Community Center, Hiroshima PC

Konsep arsitektur tradisional Jepang diterapkan melalui kesederhanaan bentuk, tata unit, penonjolan elemen yang disusun selaras dalam komposisi garis dan bidang horisontal seperti halnya rumah-rumah, istana dan kuil Jepang. Karya yang sering disebut ‘inti spiritual kota’ ini, menjadi simbol kerinduan manusia akan perdamaian.

MASA AWAL dan AKHIR

Kenzo Tange

Kenzo Tange

Menarik, mengetahui seseorang mengawali karir dengan gemilang, lalu mempertahankan kerja hebatnya hingga akhir, dan menjadi ikon bagi negerinya. Kenzo lahir di Sakai, Osaka, Jepang, 4 September 1913. Sejak SMP Kenzo ingin jadi arsitek diawali keterpesonaannya pada buku Le Corbusier. Karya-karya Le Corbusier terus menyetir imajinasi Kenzo, sampai ia menjadi siswa jurusan arsitektur di fakultas teknik Universitas Tokyo tahun 1935.

Setelah lulus sarjana Kenzo bekerja beberapa tahun sebagai arsitek profesional di studio seniornya, Kunio Mayekawa. Keduanya pernah bekerja pada Le Corbusier pada masa cubism yang mempengaruhi desain mereka selanjutnya. Tahun 1941, Tange kembali ke Universitas Tokyo untuk meraih gelar master ( 1945 ). Ia menjadi profesor tamu di MIT, Harvard, Yale, Princeton, Universitas Washington, Institut Teknologi Illinois, Universitas California di Berkeley, Universitas Alabama dan Universitas Toronto, Kanada.

Tange meraih popularitas internasionalnya lewat desain gymnasium olimpiade musim panas tahun 1964 di Tokyo. Salah satu bangunan terindah abad 20. Ia wafat 22 Maret 2005. Pemakaman berlangsung khidmat di Katedral Tokyo, hasil rancangannya.

KARYA INTERNASIONAL

Kompleks Olimpiade Tokyo

Kompleks Olimpiade Tokyo

Yoyogi National Gymnasium dan kolam renang tertutup olimpiade musim panas Tokyo tahun 1964 karya Tange memperagakan kecanggihan teknologi struktural abad 20. Konsep ruangnya asli dan berani. Kedua bangunan ini menggunakan sistem struktur mutakhir seperti katedral Santa Maria dengan sistem tenda dan kabel baja yang berfungsi sebagai penahan gaya tarik semua elemen secara terintegrasi. Struktur atap dari kabel baja berbentuk parabol hiperbolik.

Celah pada punggung tenda diatapi kaca, menyatu dengan konstruksi penerangan buatan. Pada gymnasium, struktur utamanya berupa satu konstruksi berdenah bujur sangkar yang mengecil ke atas seperti menara, tempat tumpuan kabel baja yang menebar seperti jala membentuk denah garis dan lingkaran. Sedang pada kolam renang, struktur pemegangnya berupa dua buah tiang. Secara keseluruhan terlihat dramatik, mendemonstrasikan kreativitas Tange dalam memadukan kekuatan, keindahan bentuk, fungsi ekonomis, fungsi ruang dan sistem struktur. Satu dari landmark sejarah arsitektur modern dan memastikan reputasi internasional bagi Tange. Ia meraih Pritzker Architecture Prize Laureate tahun 1987.

Bangunan Expo Tokyo karya Kenzo Tange
Tokyo Expo

DIFERENSIASI

Bagi Tange, arsitektur mesti punya sesuatu yang menyeru hati manusia. Bentuk dasar, ruang dan penampakannya mesti logis. Kerja kreatif terekspresikan di masanya sebagai perpaduan teknologi dan kemanusiaan. Peran tradisi sebagai katalis, senyawa, yang tak lagi terlihat di hasil akhir. Tradisi bisa berperan dalam kreasi, tapi tak lagi menjadi kreativitas itu sendiri.

Prinsip arsitektur tradisional Jepang adalah kesederhanaan. Tange menerapkan dalam karyanya dengan cara menonjolkan elemen konstruksi hingga sekaligus berfungsi estetik. Tak ada elemen hiasan selain konstruksi balok, konsol, yang diekspos seperti konstruksi kayu. Kontras yang timbul dari perbedaan karakter antara tekstur kasar beton exposed dan permukaan halus balok vertikal, juga antara bidang halus putih dan kaca warna gelap, tampak mengesankan.

Dalam beberapa karya, misalnya Metropolitan Government Offices di Tokyo, Balai Kota Kurashiki di Okayama, Prefecture Office Kagawa di Takamatsu dan Yamanashi Communication Center, balok dan kolom beton diperlakukan dan diekspos seperti dari kayu. Ujung balok induk dan balok anak yang menyangga pelat lantai koridor luar ditonjolkan seolah rusuk bawah atap yang berderet pada rumah tradisional Jepang. Permukaan kolom dan balok beton dibiarkan kasar seperti tekstur bergaris kayu pencetaknya. Bidang pengisi terbuat dari bahan ringan, tipis berwarna putih seperti pada rumah-rumah Jepang yang dijendelai kertas atau kaca buram.

Sisi timur Kagawa Prefecture Office

Sisi timur Kagawa Prefecture Office

Interior Kagawa Prefecture

Interior Kagawa Prefecture, balok dan kolom beton diekspos seperti kayu. Jendela dibuat seperti di rumah tradisional Jepang.

Taman dalam Kagawa Prefecture

Taman dalam Kagawa Prefecture

TRADISI DENGAN NAFAS MODERN

Arsitektur tak sekedar berbentuk kotak, tapi mesti menyentuh emosi manusia, dari mulai display jendela kecil sampai bangunan besar di pinggir jalan.

Trend Post-Modernism tak lagi sekedar campuran ekletik dari elemen estetik. Antara modern dan klasik. Antara Timur dan Barat. Tange giat mencari petunjuk, meski sangat kecil dan tidak mudah, untuk menjawab semua tantangan desain.

Tiga elemen yang sering dibahas Tange adalah manusia, emosi dan elemen sensualnya yaitu teknologi pintar dan struktur ruang.

“Melalui studi lebih lanjut”, ujar Tange,”kita yang ada di era arsitektur transisi sekarang akan menemukan gaya baru yang lebih cocok, sehingga tiga elemen tadi bisa terekspresikan dalam sebuah sistem yang konsisten”.

Arsitek yang kerap memberi sentuhan personal pada karya futuristiknya ini salah satu arsitek terpenting abad 20. Spesialisasinya, memadukan gaya tradisional Jepang dengan nafas modern, yang diaplikasikan pada banyak bangunan penting di lima benua. Talenta, energi dan karir cukup panjang dari seorang Kenzo mengantarkannya menjadi klasik. Dalam menyiapkan desain, Tange senantiasa menggali, mengangkat, menampilkan bentuk-bentuk peninggalan kuno yang terlupakan menjadi adikarya yang mempesona.

Kiprah profesionalnya selama 80 tahun menjadikan Tange seorang teoritikus arsitektur andal, guru yang menginspirasi banyak orang. Keyakinan dan harapan tinggi akan masa depan sekaligus penghargaannya pada masa lalu, terbukti berhasil membakar energi dan spirit salah satu arsitek paling produktif dunia ini. ( A.Savitri / pelbagai sumber )

ILUSTRASI TAMBAHAN :

Hiroshima setelah pengeboman

Hiroshima setelah pengeboman

Korban bom Hiroshima

Korban bom Hiroshima

Tugu Hiroshima

Karya Kenzo lainnya

Fuji Television Building

Maket Metropolitan Gov.Office, Tokyo

Maket Metropolitan Gov.Office, Tokyo

Tokyo Metropolitan Office, saat malam.

Tokyo Metropolitan Office, saat malam.


Gambar Potongan Stadion Olimpiade Tokyo

Gambar Potongan Stadion Olimpiade Tokyo

Model City Waterfront
Model City Waterfront

Written by Savitri

15 April 2009 at 14:50

Ditulis dalam Ragam

Tagged with