Madani & Manusiawi

Great People, Bandung, West Java, Indonesia.

Posts Tagged ‘Subang

Pengusaha Batubara Jadi Produsen Listrik. Segitiga Rebana Jabar. Festival Kolam Retensi. Ikutan ?

leave a comment »

Energi panas bumi belum bisa murah di Indonesia, padahal potensinya luar biasa di negeri cincin api ini. Mungkinkah perusahaan e-commerce ikut men-delivery ke konsumen sehingga lebih terjangkau dalam 5-10 tahun ke depan ? ( foto: kompas )

KETAHANAN ENERGI : DARI IMPORTIR GAS KE PRODUSEN LISTRIK SWASTA.

Ingat, betapa rewelnya sebagian warga Indonesia ketika diminta beralih dari minyak tanah/ solar ke gas untuk mengurangi besarnya subsidi yang membebani keuangan negara ? Masih kurang efesien. Konversi bahan bakar rumah tangga ke gas ( konsumsi 6,7 juta ton per tahun ) ternyata 60%-nya masih impor ( Economic Challenges, MetroTV, 6/4/2019 ).

Kebutuhan energi kita dipenuhi 54% dari batubara, sisanya gas, BBM, dan listrik. Produksi minyak Pertamina baru 39% kebutuhan, dan akan digenjot hingga 61% ( tahun 2021 ) setelah blok Rokan dan Mahakam kita ambil alih dari perusahaan asing. Target BBM Satu Harga di 170 kecamatan diupayakan tercapai akhir tahun ini, karena volumenya sebetulnya kecil dari produksi BBM kita. Nol koma sekian, jelas menteri ESDM, Jonan ( produksi per tahun 27 juta KL ( kilo liter ). Satu kabupaten terdiri sekitar 20 kecamatan atau 300-400 kelurahan/ desa.

Batubara dari DME ke DMO. Dari jual mentahan ke olahan ( listrik ), karena kalau cuma gali-garuk-jual, orang gak sekolah juga bisa. Perusahaan ekstraktif harus bisa memberi nilai tambah pada batubara yang ditambangnya : dibuat listrik dulu, baru dijual.

Gas metana yang berlimpah di Indonesia akan dijargaskan ( jaringan gas). Di AS, ada marketshare ( tax & royalty ) sehingga perusahaan ekstraktif di sana bisa survive. Di Indonesia, cuma ada 10 rumah di sebuah desa pun harus dilistriki negara sesuai amanat pasal 33 UUD 1945 ( menjadikan BUMN Indonesia, terbesar di dunia, dengan valuasi lebih 1 triliun USD ). Perusahaan ekstraktif/ tambang di Indonesia harus berpikir dan bergerak dalam kerangka pasal 33 dan Otda : bumi, air, kekayaan yang terkandung di dalamnya dikuasai negara dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Jack Ma, founder Alibaba, ketua penyelenggara Asian Games 2022 di China.

Sepuluh tahun lalu, dari 10 perusahaan listed/ terbesar di dunia, 5 di antaranya adalah perusahaan ekstraktif. Namun, kini perusahaan e-commerce dan digital-lah yang memuncaki daftar tsb. Contoh, Apple ( produsen smartphone ) yang bervaluasi lebih 900 miliar USD. Microsoft ( produsen software ) yang membuat founder-nya, Bill Gates jadi orang terkaya kedua di dunia dengan kekayaan lebih 89 miliar USD. Mark Zuckerberg, lebih 52 miliar USD ( founder Facebook, situs pertemanan ). Jack Ma lebih 34 miliar USD ( founder Alibaba, situs jual beli ). Sedangkan perusahaan ekstraktif seperti Freeport ( perusahaan tambang emas, tembaga terbesar di dunia ) bahkan tak masuk urutan 100 besar, dengan kekayaan 20 miliar USD. Era digital ini, otak cerdas manusia jauh lebih bernilai dari tambang emas terbesar di dunia. So, asah terus otak kita dengan beragam life skills dan love skills. Temukan ‘bongkahan emas’ ( passion, rezeki ) anda dari Tuhan yang juga menciptakan otak Bill, Mark dan Ma.

Sehingga bisa dimengerti jika perusahaan e-commerce/ digital yang mengakusisi perusahaan tambang/ ekstraktif dalam 5 -10 tahun ke depan. Bukan sebaliknya ( duit gak ngejar untuk membelinya ). Setelah proses produksi diefesien-kan, perusahaan e-commerce bisa lebih mengefesienkan dari segi delivery, sehingga harga di konsumen lebih terjangkau ( affordable ) sesuai pasal 33 UUD 1945.

Upayakan, harga jual listrik ( perusahaan ekstraktif yang menjual batubara dalam bentuk listrik ) ke konsumen/rakyat kecil sebanyak 60-70%-nya bersaing dengan harga gas 3 kg. Medco, perusahaan yang akan bikin PLTSurya di beberapa daerah ( wakilnya hadir di acara EC ). Menteri Jonan yang memasang panel surya di atap rumahnya ( roof top, berkapasitas 15.400 kilo watt ) menyarankan stasiun TV besar seperti MetroTV juga memasang panel surya sehingga jadi pioner media dalam green building ( setelah sebelumnya pertama fully digital ). PLN takkan terganggu penjualan listriknya, karena produksinya baru 55,4% dari kebutuhan rakyat. Jual gas sebelumnya B to B ( bisnis to bisnis ) atau B to G ( bisnis to government / pemerintah ), tapi nanti kalau jual listrik ke rakyat konsumen harus tanya ke SKK Migas dulu. Kalau menteri ESDM setuju dengan harga jualnya, baru listrik itu dijual ke rakyat ( ada UU Kelistrikan dan UUD 1945 yang harus dipatuhi )

Fasilitas yang butuh listrik sangat besar seperti smelter ( pemurnian ) nikel, dll, pengusaha boleh bangun PLTA sendiri. Untuk mendekati harga keekonomian, pengusaha swasta listrik di acara EC minta substitusi ( pengganti tax & royalty ) agar bisa mengeksplor SDA lain yang masih melimpah di Indonesia. Menteri akan mengupayakan keringanan tsb/ insentif jika perusahaan tambang bisa kerja makin efesien sehingga listrik bisa diantar ke konsumen lebih terjangkau lagi.

Tahun 2020 nanti, Perancis melarang batubara sebagai bahan bakar ( karena polusi, dampak lingkungan ). Minyak sawit bisa langsung jadi BBM, namun Uni Eropa mencoret minyak sawit sebagai bahan baku BBM ( karena cenderung merusak hutan seperti cara buka lahan dengan membakar pepohonan demi menekan biaya produksi. Kasihan orang utan dan satwa lain yang terbakar hidup-hidup karena kesembronoan manusia rakus itu ).

Well, minyak sawit juga batubara hanya sementara di Indonesia. Kita perlahan, bertahap beralih ke energi listrik untuk menggerakkan mesin peradaban kita, karena listrik bisa dibangkitkan dengan berbagai cara :
1. Angin mamiri ( seperti PLTB Jeneponto di Sulsel yang warganya keturunan pelaut ulung dengan kapal berlayar terbesar di dunia saat itu/ Phinisi. Sriwijaya di Sumsel juga negeri maritim adidaya masa lalu yang jago menaklukkan angin dan ganasnya ombak samudera ) jadi Pembangkit Listrik Tenaga Bayu ( PLTB ).
2. Sinar matahari ( negeri tropis khatulistiwa kita ini bermandikan cahaya matahari sepanjang tahun ) jadi PLT Surya.
3. Air ( 75% wilayah Indonesia berupa perairan ) jadi PLTA.
4. Panas bumi ( geothermal, negeri “ring of fire” kita ini selain tak jarang dilanda gempa, tsunami, letusan gunung, juga menyumbang potensi panas api magma yang besar sekali ) jadi PLT Panas Bumi.
5. PLTN ( tenaga nuklir dari tumbukan inti atom. Kita sudah punya 3 reaktor nuklir yang bisa ditingkatkan menjadi pembangkit listrik yang sangat efesien. Setahu saya, diagnosa TB/ tuberculosis sekarang bisa lebih akurat dengan memanfaatkan teknologi berbahan uranium yang juga berlimpah di sini. Namun jika pengawasan dan disiplin kita dalam merawat apa yang kita bangun masih belum prima, alternatif PLTN ini sebaiknya ditepis dulu. Kalau sampai bocor, radiasi radio aktif-nya butuh waktu ratusan tahun untuk mengurangi ekses merusaknya, seperti kelahiran cacat, kontet, kanker, hewan jadi buas atau mati, sumber air tak bisa diminum, udara dihirup bikin sesak nafas, koreng borok yang tak sembuh, dsb ).

Pantas Altantis dulu jadi negara digdaya yang pertama di muka bumi, karena punya ketahanan energi yang dahsyat sekali. Kita pun bisa adidaya lagi ( tahan energi dan tahan pangan ) dan disegani dunia, tapi kali ini kudu rendah hati agar Allah tetap ridho dan kita bisa sustain/ bertahan hingga akhir dunia. Amiin. Blog ini, “Madani & Manusiawi” benang merahnya seperti itu. Kuat tapi humble. Manusia/ masyarakat terhebat ( or great people ) kan yang paling kuat mengendalikan hawa nafsunya. Setuju ?

FESTIVAL BUNGA SAKURA DI KOLAM PENGENDALI BANJIR.

1 April 2019, diselenggarakan Festival Bunga Sakura di kawasan monas Washington, DC, kata Ariadne Budianto dan Rendy Wicaksana, host VOA ( Dunia Kita, MetroTV, 7/3/2019 ). Bunga Sakura itu awalnya dihadiahkan pemerintah Jepang tahun 1912 sebagai tanda persahabatan kedua negara. Bunga tsb ditanam di pinggir kolam buatan. Ada 50 even kota digelar di sana, termasuk Festival Layang-layang dari berbagai kategori, sehingga ratusan ribu yang datang merayakan datangnya musim semi, tak hanya menikmati mekarnya Sakura dan indahnya telaga, namun juga disuguhi atraksi dari beragam budaya warga AS asli dan migran yang berasal dari berbagai belahan bumi. Forum integrasi warga kota.

Di Utah, juga beberapa desa lain mengalami super blossom bunga cantik yang menarik banyak pengunjung, bahkan sampai memacetkan jalanan di era medsos ini, karena para pengunjung berebut ingin swafoto/ selfie untuk diunggah di akunnya masing-masing. Berita cepat menyebar dengan smartphone di tangan. Seperti alat lainnya, internet juga membawa kerusakan di tangan orang yang susah diatur. Mereka memarkir kendaraan di sembarang tempat hingga menambah macet jalan ( disamping kurangnya lahan parkir karena tak menyangka diserbu secepat itu ). Sebagian lain membuang sampah seenaknya, mengotori sumber air lingkungan setempat, juga menginjak bunga-bunga itu. Pemda/ pengelola lalu mengenakan tiket masuk sebesar 10 USD dan mendenda orang yang menginjak bunga atau memetiknya.

Masjid Raya Jabar di atas kolan retensi / Danau Gedebage, bakal jadi spot wisata baru. Apalagi ditanami bunga cantik di tepian danau.

Festival bunga juga bisa diterapkan di sekitar kolam retensi ( penampung limpahan air hujan/ pengendali banjir ) di Gedebage, Ngawi, Sentani atau kawasan rawan banjir lainnya. Bisa digelar even daerah atau budaya untuk menarik lebih banyak pengunjung ( jaga kawasan pengendali banjir itu tak berubah pemukiman. Pemda tetap disiplin dengan fungsi ekologis kawasan tsb. Nyawa tak bisa diganti dengan uang. Kompensasi produktivitas kawasan tsb bisa diambil dari even tahunan yang digelar di sana ). Wah, jadi spot wisata baru nih. Terinspirasi ?

SEGITIGA REBANA : CIREBON-SUBANG-MAJALENGKA. Aerocity will come..

Kawasan pertumbuhan ekonomi baru di Jabar bagian timur ini sedang dimatangkan konsepnya tahun ini oleh Gubernur Ridwan Kamil bersama jajarannya ( pemprov Jabar ). Kawasan ini sebelumnya terendah tingkat kesejahteraannya di Jawa Barat. Namun setelah Bandara Internasional Kertajati di Majalengka resmi beroperasi, Pelabuhan Internasional Patimban di Subang mulai dibangun, dan Alun-alun Cirebon ( kota kaya cagar budaya/ keraton Kasepuhan ) sedang dirancang, maka kawasan ini diprediksi jadi segitiga emas yang paling maju, paling futuristik dan paling luar biasa di Jabar, kata Emil.

Kawasan Jabar bagian barat sudah jenuh industri ( Jababeka ) sampai banyak pengusaha/ Apindo berniat pindah, juga karena upah buruh yang terus naik tiap tahun di sana, membuat mereka tak bisa sustain ( bertahan/ berkembang ). Mereka mengincar Jabar timur atau Jateng. Kang Emil yang juga komandan Citarum Harum Juara berniat merelokasi sejumlah pabrik yang berjejalan di sepanjang sungai Citarum dan membuang limbahnya sembarangan ke aliran sungai terpanjang di Jawa Barat ini.

Para pengusaha itu ingin kawasan Rebana ditata sebagai Kawasan Ekonomi Khusus ( KEK ) yang diberi kemudahan oleh pemprov dan pemerintah pusat dalam perizinan dan perpajakannya. Sedang Emil berupaya membangun fasilitas IPAL ( pengolahan limbah ) khusus sehingga pabrik tak perlu punya IPAL sendiri-sendiri seperti di Citarum yang kurang terawat. Lebih efesien.

Semua industri padat karya yang tersebar di Jabar, rencananya akan direlokasi ke Segitiga Rebana ( saya dengar, Bandara Kertajati akan jadi pusat pengiriman kargo e-commerce. Juga ada niat membuat sirkuit balapan untuk lebih menghidupkan kawasan tsb ). Pelabuhan Patimban juga berorientasi ekspor. Tahun 2020, Segitiga Rebana dimulai konstruksinya ( dibangun ). Tahun 2021, industri sudah bisa pindah menempati lokasi barunya dengan lembaga khusus/ badan otorita yang mengelola/ menghela/ memanajemeni segitiga emas unggulan Jabar tsb.

( di acara EMI/ Editorial Media Indonesia, MetroTV, ada penelpon/ pengusaha mebel rotan dari Cirebon yang kerap menelpon/ mengeluh dan menyalahkan Jokowi soal kurangnya pasokan bahan baku rotan di Cirebon. Lalu, di acara lainnya membahas manfaat Trans Jawa, terungkap bahwa keberadaan tol mulus itu telah meningkatkan volume ekspor rotan Cirebon berkali lipat. Menyusul semalam, menteri Jonan menghimbau pengusaha batubara untuk menjual bahan jadi/ listrik ke konsumen. Begitu gencarnya ekspor batubara sampai kebutuhan dalam negeri tak terpenuhi, berimbas industri kita jadi kurang kompetitif di pasar global, karena tak bisa melayani pemintaan besar karena ketiadaan bahan baku. Setahu saya, ada UU Pemda teranyar/ Otda yang memberi kewenangan kepda provinsi memberi izin pengelolaan SDA ( tambang, hutan produksi ). Bukan lagi kepda kota/ kabupaten seperti sebelum tahun 2014. Bisakah bahan baku rotan itu diprioritaskan untuk pengusaha mebel dalam negeri yang berorientasi ekspor ? Hasil dolar-nya kan lebih banyak ( PAD ) daripada bahan mentahnya yang diekspor kan ? Kalau tak terserap pasar dalam negeri, sisanya baru diekspor. Supaya Jokowi gak terus jadi kambing hitamnya pak Sun***, karena kewenangan presiden juga dibatasi UU/ Otda. Nuhun )

Segitiga Rebana bukan merupakan kawasan terhampar di satu tempat, tapi meliputi beberapa spot di 3 wilayah utama tsb. Ada 10 lokasi yang memenuhi syarat rencana tata ruang wilayah ( RTRW ) kota/ kabupaten yang sudah ditetapkan pemerintah ( diantaranya, bukan hutan lindung, bukan sawah ). Indramayu punya 3 lokasi, Sumedang 1 lokasi, Majalengka 1 lokasi ( Aerocity 3.480 + 9.600 ha ) Subang 4 lokasi ( sekitar 5.500 ha ) dan sisanya di Kabupaten Cirebon. Kajian Segitiga Rebana juga mengintegrasi sistem transportasi dan utilitas-nya ( drainase air hujan, pemipaan air bersih, air kotor, jalur listrik, dsb )

Yang mungkin perlu diantisipasi adalah SDM ASN dan para kepda yang menopang visi Emil tsb. Membangun, merawat, menghuni kota futuristik semacam Aerocity Majalengka perlu sosialisasi luas, edukasi simultan sampai mereka merasa menjadi bagian dari perubahan besar itu ( pembangunan mega proyek. Seingat saya, arsitek Le Corbusier juga pernah membangun kawasan pemukiman baru di India, namun kemudian ditinggalkan karena berjalan lebar antar blok. Tak hommy bagi warga setempat yang terbiasa guyub dengan jalan penghubung yang rapat dan sempit. Jangan lupa fase programing/ berinteraksi intens dengan warga tentang kota/ hunian yang bikin mereka betah tinggal dan merawatnya ). Warga DKI yang relatif sejahtera saja masih susah untuk antri, disiplin waktu, dan tak buang sampah sembarang di MRT. Entah di kawasan futuristik Rebana yang terdengar lebih canggih. Moga-moga warga Jabar timur tak culture shock, dan bisa beradaptasi cepat dengan cita-cita besar Kang Emil ( bade kahiji, provinsi termaju, pan ? ) Ayo, warga Jabar ikut ngabret, Jabar sing Juara !

===============

INFO BANDUNG, JABAR

Ciwidey Valley Resort Hot Spring Waterpark

————————–

INFO LIFE SKILS :

Iklan

Written by Savitri

7 April 2019 at 16:09