Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Nurani vs materi : Mesuji, Papua, Somalia, PSSI, KPK baru & 4 kasus besar, Wa Ode. Who win ?

tinggalkan komentar »

Perkebunan kelapa sawit membutuhkan lahan ribuan hektar. Ketamakan pengusahanya acap kali menyengsarakan komunitas warga yang sudah lebih dulu ada di sana. Belum lagi kita bicara kerusakan ekosistem, terbabatnya hutan tropis, yang menyebabkan banjir di mana2. Pemanasan global karena emisi gas buang melebihi ambang batas ( ada yang bilang, variasi iklim : periode bumi mengalami iklim terpanas dalam rentang iklim. Ribuan tahun lalu pernah juga terjadi ) telah menyulitkan petani dan nelayan ( mayoritas penduduk Indonesia ) menanam padi dan menangkap ikan karena cuaca tak bisa lagi diprediksi. Cuaca cerah bisa mendadak berubah hujan lebat dan ombak besar menggulung. Padi membusuk dan kapal tenggelam. Bagaimana kalau penderitaan ini ditambah perampasan lahan warga yang dilegalisasi negara ? Warga diusir, diintimidasi, dipenjara, ditembak, bahkan dipenggal. Lebih 102 kasus lahan sengketa seperti ini dibiarkan selama lebih 17 tahun di seluruh Indonesia ? Kemana perginya nurani ?

Kelapa sawit. Banyak disebut orang belakangan ini. Dalam kasus Nunun ( pengusaha kelapa sawit ), almarhum Ferry Yen ( pembeli lahan kelapa sawit ),  pembantaian di Mesuji ( sengketa lahan perkebunan kelapa sawit ). Ada apa dengan varietas unggulan ini ?

Indonesia dikritik aktivis lingkungan dunia, karena mengganti sebagian kawasan hutan tropisnya ( terluas di dunia setelah Brasil ) dengan kelapa sawit yang butuh lahan ribuan hektar ( agar menguntungkan investor ). Paru2 dunia menciut, dan warga sekitar sengsara akibat kerusakan lingkungan yang ditimbulkan. Apalagi dalam penanamannya, tidak menghiraukan warga yang sudah ada di lahan2 tsb. Pranata adat versus legalisasi hukum ( UU no 18 tahun 2004 tentang Perkebunan ). 30 korban tewas, 120 warga di penjara. Korban yang trauma ditembaki membabi buta ( Lampung, 6 Nov 2010, Sodong, 21 April 2011, Mesuji, 10 Nov 2011 ), diintimidasi, dikriminalisasi, dipenjara, bahkan disembelih agar tidak bersuara. Apa mereka menyerah ?

Mesuji : dukamu.

Siapa sih yang bisa membungkam rakyat kalau sudah marah ? Rekaman penjagalan berdurasi sekitar 2 menit pun mereka bawa ke Komisi III DPR-RI. Anggota dewan datang mengumpulkan data ke lokasi. Polisi membantah memenggal. Warga membantah rekaman tsb direkayasa. Negeri ini pun heboh.

Komnas HAM menyesalkan, rakyat bisa dilecehkan sedemikian rupa, dan negara melegalisasinya. ( BPN Lampung hanya menonton tragedi kemanusiaan akibat kelalaiannya itu ). Azhar Ethikana, tokoh Mesuji, Lampung dan Mukri Priatna, investigator Walhi untuk kasus Mesuji, menjelaskan 3 lokasi pembantaian tsb kepada pemirsa TVOne. Mukri bilang, pihaknya siap jika diminta mengukur lahan yang disengketakan. Wanmauli, ketua adat Megoupak, Lampung mengatakan, lahan seluas 33.500 di register 45 ( hutan negara pada jaman Belanda ), mengapa bisa berubah menjadi 43.100 hektar pada tahun 2004 ? ( tanpa ijin warga ).

Mayjen Purn. Saurip Kadi, jubir Koalisi Kemanusiaan & Korban Lampung, yakin yang dipenggal adalah warga Indonesia, bukan Thailand. Anak wak haji turun dari motor untuk bertanya, kok ditembak  ( dan disembelih ). PT.BSMI ( Malaysia ? ) kok bisa2nya dibiarkan memelihara lebih 100 pamswakarsa ( preman ? ) selama 2 tahun lebih ? 2 polisi yang menembak pun hanya dikenai sidang disiplin ( kurungan 14 hari ), bukan hukum pidana ( bisa jera ? ).

Johny Nelson Simanjuntak, komisioner Komnas HAM, mengatakan ( Kabar Petang TVOne, 18/12/2011 ) bahwa selama puluhan tahun ada praktek tak terpuji dari oknum aparat ( terindikasi Polda Lampung, Brimob, pamswakarsa, marinir ? ) : membiarkan warga yang terusir, kembali masuk lahannya untuk menanam jagung, kelapa sawit, dll. Setelah panen, warga diusir lagi, dan panen tsb dirampas oknum2 tsb. Ada juga kebiasaan buruk di pemda : menunjuk lahan2 warga Pelita Jaya, Sri Tanjung, Setajin, Suku Agung, Talang Batu, dll, ketika investor datang mencari lahan perkebunan sawit dan perluasannya, tanpa berdialog ( ijin ) warga.

Kementerian Kehutanan memberikan tanpa crosscheck lagi, juga Badan Pertanahan Nasional ( BPN ) Lampung. Para perambah hutan ( pendatang ) membuat sertifikat ( lahan warga ada diam2 dirampas ). Perhutani lalu menyerahkan lahan pada investor ( perusahaan ) juga tanpa mengecek kredibilitasnya ( seperti PT.SWA yang ternyata tak bonafid di negerinya ).

Adang Daradjatun menawarkan solusi agar RUU Penyelesaian Konflik Sosial segera disahkan menjadi UU, sehingga ada payung hukum untuk kasus2 seperti ini. Ada tim yang dibentuk, hukum seperti apa nyatanya. Juga untuk melihat mana dari 3 tim yang turun ke Mesuji ( TPF bentukan pemerintah, Komisi Hukum DPR, Komnas HAM ) yang paling kredibel jika keterangan ketiganya bertentangan. Narasumber lain usul, Komnas HAM yang lebih didorong, dengan back-up 2 tim lainnya. Komnas HAM tidak hanya mengurusi masalah sipil politik. Tapi juga ekonomi, sosial, budaya masyarakat.

TPF diketuai Denny Indrayana, diwakili Ifdhal Kasim ( ketua Komnas HAM ) yang bekerja 30 hari, diharapkan bisa menginvestigasi kasus Mesuji dengan benar agar pemerintah bisa memberi kebijakan yang tepat untuk menyelesaikan. Sebagian pihak meragukan kemampuan Denny, terlebih setelah ide pengetatan remisi koruptor yang menyebabkan Paskah Suzeta ( terpidana Rp 600 juta cek pelawat ) batal menghirup udara bebas. Celah impeachment ?

Saya pikir nawaitu ( niat, istilah Denny spirit ) perlu dipertimbangkan ketika kita menjudgement seseorang. Doktor hukum berusia 38 tahun ini juga dikritik terlalu banyak bicara ke media. Melihat backgroundnya yang mantan aktivis, saya mengerti jika Denny terbiasa dekat dengan massa dan tergerak memberi informasi sejelasnya sebagai pejabat publik. ( ingat, betapa rindunya kita dulu pada transparansi dan keterbukaan informasi publik ). Melihat potensi, keberanian dan niat baiknya, saya memilih memberi kesempatan pada Denny membuktikan kemampuannya, termasuk memimpin TPF Mesuji. ( seraya terus belajar dan menyimak input dari rakyat ). Alhamdulillah, sesuatu .. ( versi Syahrini ).

12 Januari 2012, akan ada demo massa di Jakarta menuntut reformasi aturan Agraria, juga daerah lain. Para petani Pulau Padang yang menjahit mulut di depan gedung DPR lebih dari 2 minggu apakah didengar anggota dewan dan pemerintah ? ( agar konsesi lahan swasta yang menyengsarakan mereka dicabut ). Kita lihat kepekaan nurani mereka.

Pekerja Freeport : senyummu.

Para pekerja yang berdemonstrasi menolak revisi UU Ketenagakerjaan ( soal pemotongan pesangon ) mengerumuni gerbang masuk kompleks DPR. Setelah beberapa waktu, gerbang akhirnya dibuka. Anggota dewan bersedia menemui perwakilan demonstran. Terlihat para pengunjuk rasa berhamburan masuk dengan wajah berseri ( antusias ). Terselip rasa haru ketika itu. Wakil rakyat mulai mendengar ( dekat dengan ) rakyat. Petang, saya lihat di running text : Sidang Paripurna DPR memutuskan mencabut revisi UU tsb. Duh, gimana rasanya .. ( tak terlukiskan ).

15/12/2011, pihak manajemen juga mengabulkan tuntutan pekerja Freeport : kenaikan gaji 40 % ( 27 % dan 13 % di tahun berikutnya ), menyilakan mereka kembali bekerja ( 17/12/2011 ) sehingga Natal & Tahun Baru nanti mereka bisa merayakan dengan uang yang diberikan ( gaji yang tertahan selama berdemo ? ). Mungkinkah, pada akhirnya PT.Freeport bisa jadi ‘single parent’ ( istilah Marzuki Darusman, komisaris Freeport, yang mantan Jaksa Agung dan Ketua Komnas HAM ) yang baik untuk warga Timika, terutama para pekerja tambang ?

Masih banyak pekerjaan di Papua menuju kondisi yang kita dambakan bersama. Tapi, penyelesaian seperti ini ( melibatkan berbagai komponen bangsa ) adalah awal yang baik. Papua kembali kondusif dan akan mengadakan pilkada pertengahan Januari 2012. BNN akan membangun 5 gedung baru di Papua. Saya lihat, sang negosiator ( ketua SPSI Freeport ) disambut sukacita oleh rekan pendemo yang berbusana adat khas Papua dan dikirab menuju markas mereka. Oh, so sweet… Selamat, ya ..

PSSI : kisruhmu

Persib didenda Rp 1 miliar oleh PSSI karena keikutsertaannya di ISL ? Pengprov DI Yogyakarta bersama 400 pengprov dan klub sepakbola semalam ( 18/12/2011 ) Rapat Akbar Sepakbola Nasional. Dengan 2/3 pengprov mereka bisa menggelar KLB. Rahmad Darmawan mengundurkan diri sebagai pelatih timnas U-23. Asosiasi Pemain Sepakbola Indonesia mengajukan 3 tuntutan. PSSI kisruh lagi ? Ada dualisme kompetisi. LPI dan ISL pisah lagi ? Pemain yang merumput di ISL, oleh karenanya tak bisa masuk squad timnas sepakbola Indonesia. Wah, kalau begini, timnas Malaysia bisa bikin timnas kita keok lagi. Pelatih berikutnya bisa mundur lagi. Hmm ..

Mungkinkah semua klub di LPI dan ISL berada di PSSI dengan cara menggelar satu kompetisi yang dibagi 2 wilayah ? ( Barat dan Timur ). Nantinya, 9 klub terbaik di Barat dan 9 klub terbaik di Timur masuk liga utama PSSI. Tahun berikutnya, kompetisi bisa berlangsung seperti biasa. Ini seleksi lebih adil ketimbang masuk begitu saja ke liga utama PSSI tanpa kompetisi. Can we do that ?

Nunun : nasibmu.

Di “Tokoh”-TVOne ( 15/12/2011 ), suami Nunun Nurbaeti ( NN ), Adang Daradjatun, mengatakan ( kalau saya tak salah tangkap ) : Nunun takkan mau membantu Miranda Goeltom ( MG ) kalau tahu akan diperlakukan seperti ini. Kondisi perusahaan NN baik saat itu ( 2004 ). Catatan kesehatan NN dibuat 6 tahun lalu. NN pernah stroke ( 2002 ). Waktu berobat ke Singapura, Adang sudah memberitahu kedubes dan KPK. Tapi, sebuah media memergoki dan menggambarkan NN seperti itu. Rasa tak enak dan tak percaya itulah yang membuat NN memilih melanglangbuana ke berbagai negara daripada kembali ke Indonesia dan dipersalahkan sebagai pelaku utama. Adang ingin kesamaan dan kesetaraan para pelaku dalam kasus cek pelawat yang menjerat NN. Adang ingin NN dihukum ringan, kalau bisa bebas, karena perannya hanya memperkenalkan MG ke anggota dewan.

Namun di koran PR ( 29/1/2011 ) disebutkan :

  • 29 Mei 2004, Tjahjo Kumolo memberi arahan agar anggota PDIP memilih MG sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia ( DGS ). Saat itu, Panda Nababan ditunjuk sebagai koordinator pemenangan.
  • 8 Juni 2004, setelah MG terpilih sebagai DGS, Dhudie Makmun Murod ( kini divonis 2 tahun penjara ) dihubungi Panda ( kini di lapas Salemba, karena menerima Rp 1,45 miliar / cek pelawat ) melalui telpon untuk menemui Ahmad Hakim Safari alias Arie Malangjudo yang menyerahkan titipan dari NN berupa cek pelawat BII ( diterbitkan atas pesanan Bank Artha Graha ) senilai Rp 9,8 miliar. Dari 473 lembar cek pelawat senilai Rp 23, 65 miliar, sebanyak 20 lembar ( senilai Rp 1 miliar ) diterima dan atau dicairkan oleh Sumarni, sekretaris NN.
  • 26 Agt 2008, Agus Condro, mantan anggota Komisi Perbankan DPR periode 1999-2004 mengaku menerima 10 lembar cek pelawat senilai Rp 500 juta. Agus Condro, si whistle blower itu, menjadi orang pertama yang dipenjara KPK dan ditahan di rutan Salemba.
  • November 2009, KPK memeriksa NN yang lebih banyak mengaku tidak tahu.
  • Maret 2010, KPK meminta Ditjen Imigrasi untuk mencegah NN dan Arie ke luar negeri.
  • 1 Sept 2010, KPK menetapkan 26 tersangka ( mantan anggota Komisi IX DPR-RI 1999-2004 : 10 politisi Golkar, 14 anggota PDIP dan 2 orang PPP ).
  • NN tiga kali tidak datang ketika dijadwalkan diperiksa oleh KPK. Alasannya, berobat ke Singapura sejak Februari 2010. NN dinyatakan sakit ingatan ( dementia ? ) dan dirawat di RS. Mount Elizabeth, Singapura.
  • 16 Nov 2010, Ditjen Imigrasi KemenkumHAM mencekal MG ke luar negeri.

Mungkinkah NN dikenai pasal gratifikasi ( seperti diharapkan pihak keluarga ) setelah menerima cek senilai Rp 1 miliar ( secara sadar tak mengembalikan uang yang beda2 tipis dengan yang diterima Panda ) dan buron hampir 2 tahun ( yang bikin kita semua blingsatan ) serta masih sakit, pingsan dan tutup mulut tentang pelaku di atasnya sampai sekarang ?  Kita lihat tajamnya pisau keadilan KPK yang baru membedah kasus ini.

4 kasus besar KPK : rahasiamu.

Dalam ILC ( 6/12/2011 ), terungkap modus rampok ( berulang ) dana LPS ( Lembaga Penjamin Simpanan, uang nasabah/ rakyat ) yang dilakukan oknum BI dengan memelihara bank gagal sampai saatnya ‘pemutihan’ ( krisis ekonomi, dampak sistemik, bail-out ) oleh bankir maling dan pengusaha hitam ( bisnis fiktif, surat fiktif, rekening fiktif ). Dalam RDP-DPR Pansus Century, ada orang BI yang terpojok bernyanyi : biasa, orang2 partai minta2 ( dana ) ke BI.

Sabar Anton Tahihoran, pengawas di BI saat CIC merger dengan Bank Century. Robert Tantular ( RT ) bilang MG adalah informan terbaiknya di BI. RT yang membiayai dana kampanye MG. RT juga dekat dengan Anwar Nasution dan Aulia Pohan. Rafat Ali Rivzi dan Hesham AI Warraq hanya memegang 10 % saham B.Century. RT yang punya aset pengendali dan akses ke bank tsb. Kakak RT pernah terkait kasus gagalnya Bank Central Dagang. Rafat terakhir ke Indonesia ( 16/12/2009 ), mengira Sinar Mas mau membantu. Kini, dia tinggal di Singapura dan London. Katanya, penjahat sebenarnya adalah RT dan kroninya, yang menyebabkan uang Hesham dan Rafat ( keduanya terpidana in absentia di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat selama 15 tahun, tapi Hesham-Rafat menang di Pengadilan Arbitrase Internasional ) hilang juga. Sri Mulyani dan Boediono hanya korban, kata Rafat dalam wawancara di Singapura ( Metro Hari Ini, 24/12/2009 ).

Sejumlah narasumber ( Apa Kabar Malam, TVOne, 11/12/2011 ) bertanya-tanya : untuk apa ( NN mau berurusan dengan cek pelawat ) dan missing link ( Ferry Yen wafat 4 tahun lalu ). Do you know what ? NN menyanggupi permintaan sahabatnya ( MG ) untuk mengenalkannya pada anggota dewan ( sayangnya, sahabat ini lalu meninggalkan NN menjadi tersangka dan buronan interpol, sementara MG leluasa melenggang sebagai saksi, kabarnya sekarang ada di Bali ).

Karena gaji MG mentok hanya Rp 15 miliar ( Rp 250 juta perbulan ) jika tidak diutak-atik selama 5 tahun, padahal cek yang ditebarkan sebesar Rp 23,65 miliar. Tekor, dong. Nah, di sini, peran RT dan para maling necis sejenisnya, yang selama ini memanfaatkan jasa MG memberi bagian rampokan agar simbiosa mutualisma merampok uang rakyat ini tetap terjalin. Terbelilah cek, terpilihlah MG. Lalu, kemana sisa uang Gayatri dkk ( juga bail-out ) ? Ada di parpol, kata Fajroel. ( juga bankir maling, pengusaha hitam ).

Kegiatan memobilisasi dana tentu dilaporkan ke atasan ( sepengetahuan ketua parpol ). Jika kesalahan anak buah terjadi, pemimpin ( ketua ) yang terbesar mengambil tanggung jawab. Juga, ketika tim sukses pemenangan meraup dana siluman ( belum diaudit, tidak dilaporkan ke KPU ). Anda mulai ngeri kemana kasus ini akan berakhir ? ( jika hukum benar2 ditegakkan ).

Entah wisdom macam apa yang harus kita gunakan untuk melihat kasus ini ( agar Indonesia survive ). Dilema bak simalakama inilah yang mesti diselesaikan dalam setahun oleh pimpinan KPK yang baru. (  periode 2011-2015, Abraham Samad, Busyro Muqoddas, Bambang Widjojanto, Zulkarnain dan Adnan Pandu Praja ). Setidaknya satu ( per tahun ) dari 4 kasus besar : BLBI, Century-gate, cek pelawat MG dan  Nazaruddin. Selamat bertugas. Semoga kalian kuat mengemban amanah rakyat. Jadikan nurani sebagai panglima. Jangan biarkan Sondang Hutagalung membakar diri sia2 ( tak didengar ), sang juara matematika, Christopher, tewas ditusuk sia2 ( tak terlindungi ), warga Mesuji dipenggal sia2 ( teraniaya ) , 417 TKI terlunta di depan algojo asing ( tak terhidupi di tanah air ), dst, karena uang rakyat ludes dikorupsi. Don’t let these happened. No more.

Somalia : harapanmu.

Perairan rusak bisa dipulihkan dengan penyehatan terumbu karang. I Wayan Patut dengan Terumbu Karang Asuh-nya telah membuktikan. Terumbu sehat, ikan bermunculan dan nelayan tersenyum kembali. Di seting Somalia, bisa jadi kelaparan dan kemiskinan sirna. Warga tak lagi berperang atau merompak kapal yang lewat. Mantan lanun bisa menangkap ikan dan menjualnya ke kapal asing, seperti yang dilakukan warga kita di perbatasan ( Natuna. Mereka bilang, butuh permodalan dan gudang penyimpanan ) dengan kapal ikan dari Hongkong. Halal. PBB sudah membantu 1,5 miliar USD untuk rakyat Somalia. Pasukan Kenya dan Indonesia sudah dikirim untuk menjaga keamanan di sana. Tinggal seorang seperti Patut lagi, mau merintis penyehatan perairan di Somalia. Atau Somalia punya generasi muda yang bisa diandalkan melakukannya ? ( foto : indonesiarevive )

Nemo ternyata butuh tempat bersembunyi agar sempat beranjak dewasa dan beranak pinak. Terumbu karang, tempatnya bermain petak umpet dengan ikan besar pemangsa. I Wayan Patut, aktivis lingkungan di Pulau Serangan, Bali, membuatkan terumbu karang bagi ikan badut oranye bersama teman-temannya. Terumbu karang yang asli habis dijual oleh nelayan yang kehabisan ikan setelah pantai mereka direklamasi ( 1992 ). Ekosistem laut terganggu, terumbu karang rusak dan ikan menghilang.

Dalam sebulan, nelayan bisa meraup Rp 15 juta dari penjualan terumbu karang. Namun, tak lama lagi terumbu karang itu akan habis. Anak cucu mereka tak mendapat apa pun. Wah, jangan sampai. Untung, ada penyelamat lingkungan bernama Patut. Bagaimana bisa seorang Patut menjaring nelayan mengikuti jejaknya ? Padahal mereka sebelumnya ngebet mencongkel terumbu karang untuk membuat dapur mereka tetap ngebul.

Rahasianya, pada anak2 yang masih polos dan mendengar ( jika ingin merubah dunia, mulailah dari anak2, kata Mahatma Gandhi ). Anak2 ini belajar di rumah Patut, di Banjar Kaja, Desa Serangan, dengan materi khusus : cara menanam terumbu karang. Mereka praktek membuat media untuk transplantasi terumbu karang dan menanamnya di dasar laut. Cerdiknya Patut, terumbu karang yang ditanam dipasangi label plastik bernama anak yang menanamnya. Sehingga si ortu batal mencongkel karang hasil tanam anaknya sendiri.

Barulah sang ayah tersentuh dan bergabung dengan kelompok nelayan “Karya Segara” ( berdiri tahun 2003 ). Hasil budidaya terumbu karang dan penangkapan ikan hias cukup memenuhi kebutuhan keluarga nelayan sehari-hari. Tahun 2009, Patut membuat program Terumbu Karang Asuh. Dicari bapak asuh yang mau membeli terumbu karang dan menanamnya. Cukup menyumbang Rp 2,5 juta per bapak asuh ke Karya Segara. Disusul paket reef ball ( bola beton berongga berdiameter 60-100 cm untuk media tanam terumbu karang )  seharga Rp 5 juta. Sudah terjual sekitar 60 unit untuk konservasi di Nusa Dua, kabupaten Badung ( Kompas, 12/8/2011 ).

Bekerja sama dengan agen wisata, Karya Segara berhasil menggaet 400 wisatawan per bulan untuk menanam terumbu karang dan melepas kuda laut.  Juni 2011, perjuangan gigih Patut dan kelompok Karya Segara dihargai Kalpataru. Kerusakan seluas 5 hektar bisa terselamatkan 1,8 hektar. Patut juga dipercaya kaum nelayan mewakili mereka menghadiri forum internasional, seperti di Afrika Selatan dan Jepang. Ia juga sering diminta menjadi fasilitator program konservasi terumbu karang di Bali, NTT, NTB, dll.

Satu bukti, LSM ( tempat Patut menimba banyak informasi dan mengenal banyak orang ) menjadi salah satu komponen pembentuk masyarakat madani. Kiprah mereka mensejahterakan masyarakat patut diapresiasi. Apakah warga Somalia yang kelaparan karena tanah dan laut mereka rusak bisa belajar dari kegigihan dan prestasi seorang Patut ? ( lulusan SMEA Negeri Denpasar ). Adakah Patut berikutnya yang berbuat patut di antara para bajak laut Somalia ?

Wa Ode : semangatmu.

Wa Ode Nurhayati yang ditetapkan tersangka oleh KPK, membantah memiliki rekening Rp 50 miliar dan mempersilakan KPK memblokir ( menyelidiki ) rekening tsb. Saya tahu rasanya, ketika berusaha mengungkap kebenaran, tapi karena lebih banyak orang yang terlibat dan masa bodo ( atau pengecut ) maka pengungkapan itu mereka putar balik menjadi serangan dan fitnah ke saya. Sepertinya, dunia ini diisi 10 % pejuang kebenaran, 10 % penjahat tamak dan 80 % orang biasa ( silent majority, do nothing, hanya memikirkan diri dan keturunannya ) karena berorientasi materi ( hedonis ) atau menjadi civil society ( masyarakat madani ) ketika berorientasi nurani.

Great people thinking ideas. Average people talking things. Small people drinking wine. Kita tahu mainstream dunia saat ini ( kapitalis, liberal ). 1 % bankir zionis menguasai hajat hidup 99 % rakyat Amerika ( yang dikelabui pemerintahnya yang gemar berperang ). Mereka sedang bergerak menuntut keadilan dengan menduduki Wall Street. Kita ( pejuang kebenaran ) di Indonesia yang terimbas mahzab sekuler ini harus mengeluarkan effort luar biasa ( dengan mental baja )  agar lepas dari jaring2 gurita ( kapitalis ) yang meracuni hampir setiap lini kehidupan.

Jika Wa Ode sudah tersangka, siapa tahu bisa bernasib seperti Agus Condro ? Niat baiknya mengungkapkan skandal cek pelawat diapresiasi ( Denny pernah bicara reward untuk para whistle blower ) sehingga kemarin Agus bisa kembali leluasa ( dan tenang ) diwawancara penyiar TVOne di Kabar Petang. Saya lihat getar ekspresi Wa Ode. Antara ngeri dipojokkan ( dan ditinggalkan ) dan tekad nahi mungkar yang diperintahkan Allah. Which one will you choose ?

Menjadi idealis memang kerap sport jantung. Mungkin usaha membongkar ( dugaan ) korupsi di Badan Anggaran DPR RI saat ini, episode mendebarkan dalam naskah kehidupan Wa Ode. Tapi yakinlah, sebagai pekerja Allah, pada akhirnya Beliau akan menolong. Be strong .. ( you’ll be okay ).

One man ( person ) with a belief is equal to a social power of ninety-nine who have only interest, Stuart Mill said. Cukup satu orang untuk merubah dunia, versi sebuah iklan minuman. Tantangannya : membawa 80 % yang terombang-ambing bak buih ini ke kubu nurani. Is it you ?

Ditulis oleh Savitri

19 Desember 2011 pada 15:27

Ditulis dalam ekonomi, politik, sosial

Membangkitkan Nasionalisme di Papua

dengan satu komentar

Kemegahan opening & closing ceremony SEA Games ke-26 di Gelora Sriwijaya, Jakabaring Sport City, Palembang, masih terpatri kuat di benak kita. Menyemangati kita untuk menjadi bangsa yang besar dan kuat. Terima kasih pada warga Palembang, Gubernur Sumsel ( Alex Noerdin ) dan penyelenggara ( INASOC dkk ). Kita bangga, Indonesia bisa menyajikan itu pada bangsanya sendiri dan bangsa2 Asia Tenggara. Indonesia juara umum. Hore ! Medali emas sepakbola masih terlepas dari timnas kita dengan skor adu penalti 4 : 5. Dengan Malaysia ( again ? ). Padahal secara kualitas, atlet kita lebih baik. Mental perlu dilecut lagi. Segitu horor-kah ( beringas ) penonton kita ? Kabarnya, lapangan bola akan dibangun di tiap kecamatan untuk menjaring bibit2 unggul harapan bangsa. Dalam sektor ini, Boaz, trio Papua dkk, mampu berbicara lebih banyak. Mereka seperti dilahirkan untuk bermain bola. Siapa tahu, nasionalisme di dada orang Papua berangkat dari sini. Kalian dengar riuh puluhan ribu warga RI mengelu-elukan kalian ? Feel good, right ? Dalam kebersamaan dan kesejahteraan, orang Papua akan sebangga kita setiap menyaksikan perhelatan akbar Indonesia di mata dunia. Let's do it..

Opening Ceremony SEA Games ke-26 spektakuler. Langit Palembang, tempat imperium Sriwijaya pernah 400 tahun berjaya, malam itu bercahaya. Megah. Apakah Papua juga melihatnya ?

Tentu saja. Duduk para gubernur dari 33 provinsi di tribun menyaksikan. Termasuk gubernur Papua ( dan Papua Barat ). Kami masih NKRI, tertulis di spanduk karyawan ( SPSI ) Freeport. Tahun 1969, kami sudah NKRI. Kalian ( aparat, pemerintah pusat, sebagian warga RI  ) yang belum menganggap kami NKRI, kata tokoh Papua. Lho ?

Fakta Papua sudah NKRI

15 Agustus 1962 ( Persetujuan New York ), UNTEA – PBB ( United Nations Temporary Executive Authority ) menyerahkan pemerintahan Papua pada Indonesia. Brigjen Sarwo Edhie Wibowo memimpin Operasi Sadar sebagai Panglima Kodam Cenderawasih, merangkul warga Papua dan para kepala adat agar memilih Indonesia. Dibantu warga sipil, beliau juga berupaya mensejahterakan rakyat Papua, menghadang gelombang masuknya penduduk Papua Nugini dan menumpas OPM.

Sebelum akhir 1969, hak semua penduduk dewasa, laki dan perempuan untuk ikut serta dalam penentuan pendapat rakyat ( Pepera/ Referendum ) sesuai standar internasional, sudah terakomodasi. Disaksikan utusan PBB, Australia dan Belanda, hasil Pepera menunjukkan warga Papua ingin bergabung dengan NKRI ( Negara Kesatuan Republik Indonesia ). 19 November 1969, Sidang Umum PBB menyetujui hasil Pepera.

Tahun 1926, sebelum Sumpah Pemuda ( 1928 ), orang Papua lebih dulu menggunakan bahasa Melayu sebelum warga daerah lain. Soal tanah air Indonesia, kami termasuk yang di depan, tambah tokoh Papua.

Bendera Bintang Kejora masa presiden Abdurrahman Wahid pernah diperbolehkan dikibarkan, asal posisinya lebih rendah dari bendera Merah Putih. Toh, sampai sekarang Papua belum merdeka, lanjut tokoh Papua. Kami setuju NKRI final.

( 1 Desember 2011, ada 2 bendera Bintang Kejora dikibarkan. Demonstrasi berakhir rusuh. Polisi menangkap 3 pelaku. Mereka akan dikenai tuduhan makar, kata wakapolda Papua. Hmm ..

Kita tahu, tiap provinsi punya logo daerah. Andai Bintang Kejora adalah logo Provinsi Papua dan dikibarkan di bawah bendera Merah Putih, tiap HUT Provinsi Papua, mungkin takkan terjadi penangkapan, apalagi tuduhan makar. Kita maklum, Papua merasa berbeda karena keturunan Melanesia, bukan Asia. Namun, jika fakta ini dijadikan latar untuk memisahkan diri, saya pikir kurang match. Oprah Winfrey adalah keturunan Afrika ( Afro-American ). Kita tak ragukan, nasionalisme Oprah pada negara tempat ia hidup dan bekerja ( Amerika ), meski ia dibesarkan dengan penyiksaan luar biasa dan diskriminasi rasial yang pekat. Alih2 meratapi dan memaki, Oprah memilih memacu diri menjadi yang terbaik ( ratu talkshow AS ) dan membantu menggolkan Barrack Obama menjadi presiden AS. Obama bilang, Chicago ( Oprah ) adalah keberuntungannya.

Sebelum Hasan Tiro wafat ( setelah tsunami 2004 ), Aceh yang keturunan Asia ( Melayu ), jauh lebih militan dan terorganisir daripada Papua,  ingin memisahkan diri. Tapi toh akhirnya Aceh memilih tetap menjadi bagian dari Indonesia, dengan kesadaran : bersatu kita lebih kuat. Jika selama ini, warga Papua merasa ditelantarkan, sebagai warga RI ( yang ikut memikul tanggung jawab dari kesalahan para pendahulu ), kami mohon maaf. Memang dulu, rezim pemerintah yang lalu, mengabaikan kalian. Tapi sekarang, kami ( pemerintahan rakyat ) memperhatikan kalian. Kami berharap putra Papua, Maluku, daerah2 perbatasan, juga gigih memacu diri menjadi yang terbaik, sampai warga dari 33 provinsi yakin kalian sanggup memimpin Indonesia  ).

Lalu, apa masalahnya ? Mengapa Papua masih bergolak hari ini ?

( Masih terjadi serangkaian penembakan di Papua. Razia senjata pun diberlakukan.

Warga Papua yang berada di hutan2, kalau mau, silakan bersekolah atau memanfaatkan fasilitas kesehatan di desa terdekat. Kalau tidak mau, ya tidak apa2. Asal jangan menembak warga lain yang ingin sekolah, bekerja atau pergi ke puskesmas. Jika mereka menembak, terpaksa Polri dan TNI bahu membahu mengambil senjata, menyisir hutan, gunung dan jurang untuk menangkap pelakunya. Setinggi apa pun gunung kita daki untuk memastikan hukum ditegakkan dan keamanan terjaga di seluruh wilayah Indonesia.

Tak ada operasi militer di Papua, kata kapuspen TNI, Laksamana Muda Iskandar Sitompul. Selama banyak penembakan, Polri dengan back up TNI, harus berada di Papua untuk menghentikan ( yang ini harga diri Indonesia : memastikan kedaulatannya berlaku di seluruh wilayah negeri ). Jika senjata sudah terkumpul semua dan Papua aman dari penembakan liar, baru Polri – TNI menarik pasukan ekstranya. Namun, ribuan personel TNI harus tetap tinggal di perbatasan Papua dan Papua Nugini untuk menjaga NKRI. Kalau sekarang ditarik, malah berbahaya, tuturnya.

NKRI harga mati di blog ini, saya maksudkan : bentuk negara kesatuan adalah yang paling pas untuk Indonesia, mengingat beragamnya suku ( lebih 600 suku, bahkan sampai 1200 suku ), agama, bahasa dan budaya. Bukan yang menolak NKRI, harus mati. Konstitusinya ( konsensus rakyat ) yang terus didialogkan sehingga lebih mengakomodir kebutuhan rakyat pada tiap jamannya. NKRI sendiri tidak didialogkan. Paten ).

Aman sejahtera yang diidamkan.

Kami ingin aman dan sejahtera seperti daerah lain, jerit para ibu Papua.

Melalui UU no.21 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus ( Otsus ) Papua, pemerintah ingin merangkul warga Papua melalui jalur humanis dan kultural. Inpres no.1/ 2003 untuk mengefektifkan UU no.45/1999 agar birokrasi pemda Papua tak berbelit-belit dan warga Papua bisa langsung merasakan hasil pembangunan.

Dengan Otsus, Papua sudah diberi kewenangan politik, sosial dan ekonomi. Tinggal merdeka saja yang belum diberikan, kata Jusuf Kalla. Hasil ( PAD ) Papua yang dikirim ke negara sebesar Rp 18 triliun. Yang dikembalikan negara ke Papua sebesar Rp 28,8 triliun ( setelah Otsus ). Tiap warga Papua disubsidi negara Rp 10 juta per tahun. Tiap warga luar Jawa disubsidi Rp 6 juta. Tiap warga RI di pulau Jawa disubsidi Rp 1,5 juta. Tetapi mengapa Papua belum sejahtera ?

Sebelum Otsus, Papua diperlakukan buruk oleh rezim terdahulu ( Orde Baru ). Hasil melimpah dari bumi Papua ( pernah ) hanya dikembalikan Rp 200 juta. Ketertinggalan Papua selama puluhan tahun ini ( kualitas SDM dan mindset ) menyulitkan Papua untuk mengelola dana Otsus yang besar dengan benar. Terlebih, peraturan daerah Otsus ( perdasus ) belum tuntas dibuat sehingga pemprov, pemkot dan pemkab Papua tak punya acuan melaksanakan Otsus.

Gubernur Papua juga kesulitan mengumpulkan dan mengkoordinir para bupati yang bersikap seolah raja kecil setelah pilkada langsung. APBD nyaris habis untuk belanja pegawai ( sebagian direkrut sebagai balas jasa kepala daerah pada anggota tim sukses pemenangan pilkada ) dan mismanajemen ( skill kurang dalam mengelola anggaran ).

Di Papua, ada kabupaten yang hanya berpenduduk 12 ribu orang, kata mendagri Gamawan Fauzi. Sebanyak penduduk kelurahan di Jawa. Kemendagri kemudian mengirim tim asistensi ke Papua. Dengan pendampingan tersebut, kita berharap warga Papua bisa lebih cepat merasakan hasil pembangunan di daerahnya.

Kami tak butuh Otsus ! Kami butuh harga diri ! Semua komponen di Papua harus dihadirkan dan bicara di forum, sehingga semua aspirasi dan solusi bisa dilaksanakan di lapangan ! , teriak pemuda Papua. Lantang dan menggegerkan.

Nasionalisme Indonesia di dada generasi muda.

Nasionalisme Indonesia perlu ditumbuhkan, kata Freddy Numberi. Karakter kebangsaan di hati orang Papua, bagaimana cara membangunnya ?

Otsus, ruhnya adalah harga diri. Penghargaan rakyat Indonesia akan eksistensi penduduk Papua. Warga Papua ingin dianggap setara, sama pintar ( sama aksesnya dalam lapangan pekerjaan ) dengan warga daerah lain yang dulu lebih diprioritaskan ( hasilnya sekarang lebih maju ). Kita ingat ada kasus mahasiswa PTN ternama yang merendahkan mahasiswa dari Papua di Facebook, yang berujung konflik dan sanksi. Sehingga dibutuhkan juga kearifan dari kalangan muda saat berinteraksi dengan saudaranya setanah air yang berasal dari Papua, juga daerah lain yang belum maju. Boleh jadi di dada mereka ada isak tangis, seperti halnya para pelajar kulit hitam di sebagian wilayah Amerika yang kurikulum sekolahnya didiskriminasi ( modul pelajaran SMP baru diberikan saat SMA ) sehingga mereka kalah bersaing dengan kaum kulit putih di perguruan tinggi dan bidang pekerjaan.

Anyaman daun pandan serta kelapa ( suku Kamoro, Timika, Papua ) atau Koteka ( sebagian suku Papua ) adalah keseharian warga asli Papua. Seperti juga lebih 600 suku lain di Indonesia yang tidak kita usik cara hidup dan busananya ( Etnic Runaway- TransTV ). Life happily. Biarkan mereka mengatur warga sukunya dengan cara adat dan melestarikan budaya mereka yang unik. Kita hanya perlu memastikan, mereka juga merasakan manfaat dari NKRI. Bisa mengambil makanan dari hutan ( atau bercocok tanam, beternak ) untuk dikonsumsi atau dijual ke pasar ( hutan jangan digunduli atau habis di-HPH ). Berikan hak ulayat mereka ( jatah hutan rakyat ) untuk bertahan hidup. Tahukah anda, apa yang membuat para pelancong, wisatawan asing terpikat Indonesia ? Mereka sudah punya yang serba tertata, mekanis dan artifisial di negara mereka. Mereka rindu yang alami, belukar dan tradisional. Wild, wild, Indonesia. So, izinkan para warga adat ini mempercantik Indonesia dengan keaslian dan kearifan lokal mereka. Shall we ?

Kita maklum jika sesekali warga Papua marah atau sensitif seputar isu ini. Mereka ingin nyaman dengan koteka yang menjadi keseharian penduduk asli Papua. Seperti juga kita tidak merendahkan kain tenun yang dikenakan warga suku Sasak ( NTB ), Belaragi ( Flores ) dan Dawan ( NTT ). Mereka ingin asyik menanam ketela dengan cara mereka sendiri, seperti kita tak mengusik warga suku lain yang tidur beralas tikar dan memanfaatkan kotoran sapi untuk campuran perekat rumah. Mereka sedang melestarikan adat istiadat leluhur yang membuat kita, bangsa Indonesia, sangat kaya budaya dan seni tradisi.

Rasa memiliki tanah air yang besar, nasionalisme Indonesia, belum terpatri di dada sebagian putra Papua, khususnya generasi muda, disebabkan mereka belum merasakan manfaat signifikan dari hadirnya Indonesia dalam kehidupan ( terdekat ) mereka. ( Andai para pengacara, jaksa, hakim, pakar, ilmuwan, praktisi terbaik mau turun dan membantu warga Papua mengatasi kesulitan mereka ). Andai pemerintah lebih bersungguh-sungguh memperhatikan aspirasi rakyat Papua dan merealisasikan Otsus secepatnya, warga Papua takkan semarah ini. Andai tiap pemprov di Indonesia bersedia menerima putra Papua untuk magang dan menyerap ilmu pemerintahan ( juga bisnis dari kalangan pengusaha ) sampai mereka bisa membaktikan keahlian untuk membangun Papua, mereka takkan sesensitif ini. Bahkan, mereka akan menikmati perayaan SEA Games dan pencapaian Indonesia lainnya di dunia bersama dan sebangga kita.

Di Jakabaring Sport City, kecanggihan teknologi multimedia, laser bertabur kembang api berpadu seni tradisi nusantara masa keemasan memang sungguh menawan. Kita bangga Indonesia bisa menyajikan itu kepada bangsanya dan bangsa-bangsa Asia Tenggara. United and rising. Nasionalisme Indonesia di Papua bisa bangkit jika kita peduli.

Ditulis oleh Savitri

6 Desember 2011 pada 11:55

Ditulis dalam ekonomi, keamanan, konservasi, NKRI, politik, seni tradisi, sosial

Dikaitkatakan dengan , ,

Dialog bijak antara komodo, PSSI dan Papua. Could we ?

tinggalkan komentar »

Komodo, sudah hidup sejak 40 juta tahun lalu. Temannya dinosaurus, dkk. Ajaibnya, masih ada di Indonesia ( NTT ) hari ini. Sayang, populasinya terus menurun, sehingga perlu intervensi kita untuk melestarikan keturunannya. Dengan dana konservasi yang terkumpul dari pariwisata di Pulau Komodo, semoga mereka bisa diselamatkan. Silakan promosi sesuai kemampuan anda. Si komo jangan sampai punah .. ( foto : tribunnews )

Dialog. Diskusi. Tukar pikiran. Brainstorming. Apa pun namanya, sering tak segampang yang diucapkan. Apalagi di antara orang yang berlatar terlalu beda. Ada ego, juga kecemasan. But, life must go on. And, work must be done. Makhluk lain bergantung pada kita yang Beliau minta menjadi rahmatil alamin ( rahmat bagi semesta alam ). Komodo hampir punah sejak ( ditemukan ) tahun 1912. Sepak bola ( timnas senior ) tak pernah juara sejak 20 tahun lalu. Warga Papua menjeritkan keamanan dan kesejahteraan sejak 40 tahun silam. What should we do ?

Komodo mencalonkan diri ke N7W. Dukung vote atau pelestariannya ?

Komodo jadi salah satu dari Tujuh Keajaiban Alam Dunia ( TKAD ). Ini tekad Pendukung Pemenangan Komodo ( P2 Komodo ). Gerakan yang diinisiasi aktivis lingkungan ( Emmy Hafild ), Nia Djamhur ( aktivis komunitas Bike to Work ), Liang ( pakar komunikasi sosial ) dan Susi Aliani Sulaiman ( pakar hukum ). Muncul setelah Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata ( Kembudpar, sekarang Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif  ) dicoret sebagai pendukung resmi komodo oleh lembaga penggelar kontes : New 7 Wonders Foundation ( N7W ).

Selain voting di internet ( akses internet masyarakat Indonesia masih terbatas ) maka dukungan diperluas P2 Komodo melalui SMS dengan operator Telkomsel, XL dan Indosat. Setiap SMS dukungan senilai Rp 1.000. ( lalu jadi Rp 1,-  ) setelah dipotong biaya operasional, sisanya diserahkan ke Komodo Trust Fund untuk kampanye dan konservasi komodo. Mari kenalan dengan kandidat kita yang satu ini.

Komodo ( Varanus komodoensis ), sejenis kadal terbesar yang hanya ditemui di Pulau Komodo dan pulau2 kecil sekitar provinsi Nusa Tenggara Timur ( NTT ), yang diperkirakan hidup sejak 40-25 juta tahun lalu di daratan Asia. Disebut ajaib karena selama itu, evolusi komodo di Flores relatif stabil, tak berubah bentuk.

Sejak 2007, komodo didaftarkan Kembudpar menjadi peserta kontes New Seven Wonders of Nature. (  N7W juga mengadakan kontes Tujuh Keajaiban Alam Baru Buatan Manusia ). Menurut Sapta Nirwandar, Dirjen Promosi Pariwisata Kembudpar, biaya promosi mencapai Rp 12 miliar untuk menggelar berbagai kegiatan. ( Kompas, 29/8/2011 ).

Dari 440 kontestan, komodo masuk menjadi 28 finalis, bersama Pulau Jaju ( Korea ), Pulau Galapagos ( Ekuador ), Amazon ( Amerika Selatan ), Halong Bay ( Vietnam ), dll. Tahun 2010, Indonesiaditawari menjadi tuan rumah pembacaan pemenang Tujuh Keajaiban Alam Dunia, dengan biaya lisensi dan penyelenggaraan sekitar 45 juta USD ( Rp 383,8 miliar. Menyusul informasi, N7W tak pernah meminta uang tsb. Uang sebesar itu adalah ulah/ kampanye hitam oknum pejabat  ). Berhubung tak ada swasta yang berminat mensponsori, Indonesia batal menjadi tuan rumah dan Kembudpar dicoret sebagai pendukung resmi kampanye komodo sejak 2010. Berhubung komodo tak bisa bicara maka, Emmy dkk mewakili bicara sesuai UU Lingkungan Hidup no.32 tahun 2009. Sejak menjadi 28 finalis, wisatawan pun banyak berdatangan ke Pulau Komodo.

2 kebenaran saling meniadakan, pemirsa pun melongo.

Menyimak dialog antar dubes RI untuk Swiss, Djoko Susilo, dengan Emmy di TV, cukup seru. Djoko kuatir, N7W melakukan semacam scam, lalu warga RI tertipu, karena semangat nasionalisme yang berkobar-kobar. Keduanya sangat cinta Indonesia, tapi kenapa kok bisa beradu argumen sengit ? Passion and patience. Begitu antusiasnya, kadang kita kurang sabar mendengar kebenaran dari pihak lain. Kebenaran dimonopoli. Tapi, apa kita yakin sudah menyarikan pengalaman yang diberikan-Nya secara maksimal ? Apa kita mengalami yang dialami lawan dialog kita seluruhnya ? Perlunya kita generalis ( disamping spesialis ). Mengetahui banyak spektrum kehidupan. Untuk melihat persoalan dengan jernih. Untuk sabar menyimak sudut pandang orang lain. Yang menjadi master ( tuan ) bagi kehidupannya ( yang sangat mungkin tidak kita alami ). Setiap kita punya ‘naskah’ hidup yang dilakoni. Di dunia, ada 7 miliar manusia ( 31/10/2011 ). 7 miliar naskah. Kita perlu mendengar naskah diluar naskah kita sendiri, .. to be wiser.

Djoko memperlihatkan foto bangunan tempat N7W menyewa sebagai markas mereka. Tak seorang pun di sana. Apalagi, dapat penjelasan menyakinkan akan kredibilitas penyelenggara TKAD. Di Jerman pun tak ada gegap gempita N7W ( apalagi komodo ). Apa Djoko seperti dubes RI untuk Arab Saudi ? ( yang kecolongan Ruyati dipancung dan nyaris Darsem menyusul ). Djoko, tempo hari, kritis menanggapi statuta FIFA yang diakalin PSSI era NH. Sigap mengurus bolak-balik pak Agum, petinggi KONI, ke markas FIFA sampai Indonesia ( PSSI ) selamat dari banned FIFA. Tangkap kebenaran ini ( kredibilitasnya ) ketika Djoko mengatakan hal kurang nyaman tentang N7W. It must be something ( otak kanan bekerja ).

Mengatakan “.. tapi ada pejabatIndonesiayang menghambat promosi Komodo ..” itu seperti menyiram bensin ke api. Frontal. Hasilnya, pemirsa tak mendapat apa2. ( 2 versi kebenaran saling menimpa informasi dari lawan bicara ). Melongo.

Emmy menjelaskan, sejak komodo gencar dipromosikan, 5 hotel baru dibangun, turis banyak berdatangan melihat si komo ( termasuk turis Jerman ). Sertifikat lisensi keikutsertaan komodo ditandatangani oleh petinggi Unesco. Mantan wapres kita, Jusuf Kalla, didaulat menjadi duta komodo. SMS vote mengalir deras. Media dan operator seluler kemudian menggratiskan promosi ( subsidi ). Jika sudah urusan merah putih, nasionalisme kita memang menakjubkan. Saya pun takjub dengan jibaku Emmy dkk mengangkat perekonomian NTT dengan memperjuangkan komodo sejak 2007. ( bahkan sejak 2010, mereka praktis bekerja sendirian. Lone ranger ). Tangkap dedikasi dan semangat mereka. Kita butuh warga RI yang mau berbuat banyak untuk negaranya.

N7W sendiri adalah lembaga ( swasta ) alternatif ( cyberspace ) dengan impact tak kalah dengan lembaga ( cara ) konvensional dalam mempromosikan pariwisata. Andai Emmy bisa lebih tenang menjawab kegelisahan ( kehati-hatian ) pihak penanya. Soal uang yang ( sempat ) masuk untuk apa saja ( dana dari publik ada pertanggungjawabannya, meski mereka rela membayar. Sumbangan sosial pemirsa ke media juga demikian ). Soal kekuatiran dubes akan ( besar ) uang untuk membeli lisensi keikutsertaan komodo dari penyewa gedung yang tak berhasil ia ( stafnya ) temui. Coba sejenak berada di posisinya. Djoko cemas warga senegaranya dipermalukan. Sebagai wakil pemerintah Indonesia di Swis, ia  bisa dianggap ‘do nothing’ jika ternyata N7W …

Populasi komodo menurun. Setelah populer, dana konservasi meningkatkan.

Seorang ahli mengatakan populasi komodo terus menurun. Ia kuatir kalau popularitas komodo meningkat maka hewan langka penyendiri ini akan kehilangan ketenangannya beranak pinak. Emmy menjelaskan, di Taman Nasional Komodo ( terdiri Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Padar dan beberapa pulau kecil ) sudah memiliki sistem yang bagus, sehingga turis yang membludak takkan sampai mengganggu habitat komodo. Mereka menginap dulu ( syukur2 berwisata belanja melariskan dagangan penduduk NTT ) sebelum kemudian bergantian menyeberang ke pulau melihat komodo di habitat aslinya. Satu-satunya di dunia, hanya ada di Indonesia. ( mestinya yang bikin film Jurrasic Park bukan Steven Spielberg, tapi Deddy Mizwar atau Nia Dinata, ya .. ).

Nia Djamhur menjelaskan, N7W sudah menerima metode vote via sms yang diajukan P2 Komodo. Vote yang masuk secara bertahap akan dikirim P2 Komodo ke sistem N7W. Yang begitu gemas dengan komodo sampai berkali-kali ngirim sms dengan nomor yang sama ( sebelum diringankan ) dimohon kerelaannya membantu biaya operasional para pejuang komodo kita ( P2 Komodo ) agar punya ‘nafas’ cukup menemani si komo sampai garis finish ( komodo menjadi juara N7W, NTT dan Indonesia ngetop seantero jagad ). Uang yang masuk akan diaudit. Vote via e-mail atau telpon, per orang dihitung satu suara. Di sms jawaban ada link menuju web pulau komodo dan N7W, kalau2 anda ingin mengetahui hewan langka ini lebih jauh dan peta persaingannya. Siapa tahu anda bakat jadi duta komodo juga. Apalagi punya ( boneka komodo ) maskot SEA Games ke-26 di Palembang 11 November ini. Tambah menyakinkan .. ( he3x ).

Mari promosikan komodo ( danIndonesia) dengan kreativitas dan saluran ( akses ) yang kita punya. Ketik KOMODO kirim ke 9818. Batas pengumpulan vote 11 November 2011. ( awal Januari 2012, pengumuman resmi Komodo masuk 7 besar )

Bola Papua ada di istana. PP dan Perda Otsus segeralah dibuat.

Seperti banyak peristiwa lain yang diekspos media terutama TV ( kegemaran rata2 orang Indonesiaketimbang baca ), maka persoalan Papua pun mengundang banyak pihak berdatangan dan ikut bicara. Komnas HAM siap dengan duduk perkara Kongres Rakyat Papua III. ICW bilang selama tahun 2001-2010, Polri ( disinyalir ) menerima Rp 711 miliar dari PT.Freeport. KPK minta BPK mengaudit aliran dana Freeport ke kepolisian. Kapolri mempersilakan BPK mengaudit dana tsb. PPATK tidak menemukan dana tsb mengalir ke Mabes Polri ( jadi langsung ke pihak keamanan setempat ? Apa ada niatan memecah belah ? ). Kapolri berjanji akan melakukan pendekatan persuasif. Kemarin ( 3/11/2011 ) lebih 500 personel Polri turun dari pesawat menggantikan mereka yang sudah 4 bulan menjaga tambang Freeport. Panglima TNI mengatakan, ada 34 kelompok separatis di Papua. Sekaligus bilang, keamanan di Timika sudah mulai kondusif. ( tapi warga Timika bilang masih mencekam ).

Komisi IX DPR RI berusaha memediasi pihak Serikat Pekerja Seluruh Indonesia ( SPSI ) Freeport dengan pihak manajemen. Bupati Timika ikut membantu mereka bernegosiasi. Tiga tuntutan mereka : dibayar 7,5 USD perjam ( lalu turun menjadi 4 USD. Manajemen menawarkan kenaikan gaji 35 % ), waktu mereka berdemo tetap dibayar, dan tak ada PHK bagi mereka yang berdemo. Kerja di tambang sangat beresiko. Tangan putus, kaki hilang atau nyawa melayang sudah dialami karyawan. Beberapa yang dulu mencoba protes sudah di PHK. Kini yang frustasi sudah ribuan ( berdemo lebih 2 bulan ). Jadi, pihak manajemen diharapkan kearifannya, mengingat keuntungan yang sudah mereka raup selama ini dari bumi Papua.

Freeport diberitakan mengeluarkan 14 juta USD pertahun untuk biaya keamanan. Satuan pengamanan tambang Freeport  terdiri 750 personel Polri dan TNI. Staf ahli Kapolri menjelaskan, uang lauk pauk sebesar Rp 1.250.000 per bulan per personel itu hal biasa,  seperti ketika mereka diminta menjaga demonstrasi di kota2 lain. Freeportbilang, sifatnya sukarela. Tapi Kontras ( Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan )  mengatakan, seharusnya uang sebesar itu diserahkan ke kasir Negara ( Kementerian Keuangan ) sehingga transparan ( bisa diaudit ). Polisi dibayar oleh negara sehingga mereka tidak cenderung memihak Freeport dan mengintimidasi karyawan yang berdemo ( agar membuka blokir di mile 28 ). Membuat para wanita berhamburan keluar rumah, memberi dukungan moral pada suaminya yang berdemo. Terlihat spanduk terbentang di tenda2 biru : “Kami mendukung NKRI”.

Rabu ( 2/11/2011 ), kapolres datang ke tenda, memberi perpanjangan waktu seminggu lagi bagi serikat pekerja menuntut haknya ( berdemo ), sebelum blokir dibuka. Ketika reporter mengejarnya, kapolres menjawab belum tahu instruksi lanjutan dari Mabes Polri setelah batas 7 hari itu. ( kemudian SPSI Freeport izin demo diperpanjang lagi sampai 15 Desember 2011 dan diperbolehkan )

CSR gagal, tapi kontrak 50 tahun ? Sampai kapan Papua sengsara ?

KPK menunggu hasil audit BPK tentang dana keamanan tsb sebelum bertindak. Bisakah Freeport ikut diaudit ? Kontrak 50 tahun kok bisa terjadi ? Padahal CSR-nya ( Corporate Social Responsibility ) dianggap gagal karena tidak ada orang Papua di sana yang menunjukkan apa yang diperlukan warga Papua, kata Diaz Gwijangge ( anggota DPR RI dari Papua ). Terjadi kerusakan lingkungan. Pekerja Papua dibayar di bawah gaji pekerja dari daerah lain ( apalagi pekerja asing ). Setelah Diaz protes ke istana, baru kemudian ada orang Papua yang menempati level manajer. ( mantan wakapolda Papua berkata, di masanya, ia menurunkan standar NEM agar warga Papua bisa menjadi perwira polisi ).

Lily Wahid ( adik Gus Dur ) minta pemerintah serius menangani Papua. Buat peraturan pemerintah ( PP ) dan peraturan daerah ( perda ), sebagai penjabaran UU No 21 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Papua ( Otsus ) agar gubernur, walikota, bupati dan pejabat di Papua punya acuan untuk melaksanakan Otsus ( tidak bolak-balik ke Jakarta memboroskan uang ). Jangan sedikit2 ada masalah, bawa polisi dan tentara. Masyarakat Papua sudah trauma melihat mereka yang berseragam. Jika pemerintah abai ( lagi ), Papua bisa lepas. Bersungguh-sungguhlah, kata Lily cemas.

Staf khusus presiden yang didesak ‘sekarang, besok’ oleh penyiar Kabar Petang, gelagapan menjawab. Ini bukan business as usual. Perlu terobosan. Kami sedang menggodok, bagaimana cara kami masuk ke Papua ? Dialog yang diinginkan warga Papua dengan presiden dalam konteks apa ?  ( tanya si staf ). Acara Sumpah Pemuda akan tayang, kemudian si staf dan Diaz keluar dari frame TV One ( semoga mereka melanjutkan dialog dari hati ke hati, dan presiden bisa menangkap aspirasi warga Papua serta mulai merealisasikannya ( dalam waktu dekat ).

Dalam RDP Komisi 9 dengan warga Papua, ada yang protes : kenapa Densus 88 selalu bisa menangkap teroris di lubang sekecil apa pun ( tempat terpencil ), tapi 40 penembakan di sekitar tambang Freeport sejak 2005 tak terungkap hingga kini ? Ada apa ini ? Apa diketahui manajemen Freeport? ( kita tahu Israel bisa tega mengebom klub yang dipenuhi warganya sendiri dan menimpakan kesalahan ke pejuang Palestina. Inggris pernah mengebom kapalnya sendiri saat PD agar negara lain berpihak dan membantunya ). Pembelokan isu. Daripada mengeluarkan banyak uang untuk warga Papua lebih hemat menembak beberapa orangnya sendiri dan menimpakan kesalahan ke gerombolan separatis ( lokasi penembakan di atas mile 28, yaitu 29 dst sudah disterilkan dari warga yang tak berkepentingan, karena sudah masuk wilayah perusahaan ). Sedikit2 kami dituduh separatis. Berkumpul menuntut kesejahteraan dituduh separatis. Kami hanya ingin sejahtera seperti warga daerah lain di Indonesia ! Tidak  cuma orang Papua yang ada di sini, tapi orang dari seluruh Indonesia sekarang ada di sini, Pak ! ( jerit para ibu, menggetarkan ). Tapi penembakan terus terjadi. What’s wrong ?

Yang lain menyarankan, untuk perusahaan sebesar Freeport mestinya pejabat setingkat Menteri Dalam Negeri ( atau Menteri ESDM ) yang menghadapi negosiasi alot tsb, sehingga kemelut tak terus berkepanjangan dan merugikan banyak pihak. Dari kalangan artis, Muhammad Farhan, mengusulkan Papua dibangun sebagai pusat pembinaan atlet sepak bola. Lihat, putra Papua, Boaz Solossa, ( striker Persipura Jayapura, pemain terbaik Indonesia) menjadi andalan timnas sepak bola kita.

Bolanya sekarang ada di istana. What’s your decision, Mr President ?

Bola Boaz ada di SEA Games. Harumkan nama Indonesia ( dan Papua ). Tapi PSSI ?

Pasca Nurdin out, apa PSSI masih semrawut ? ( dan timnas makin kalut ). O, tidak. Cuma formula pas-nya belum ketemu. Tambahan 6 klub ke divisi liga utama ( yang semula 18 klub ) bisa bikin atlet kita teler, salah urat bahkan mampus. Bayangkan, seperti bertanding untuk 3 tahun, tapi dengan durasi setahun. Lebaran lewat. Bahkan, saat kita menyembelih sapi kurban, atlet kita masih ngos-ngosan mengejar si kulit bundar. Mana tahan ..

Belum lagi, anggaran satu klub yang rata2 mencapai Rp 20 miliar per tahun ( 18 x 2, home away = 36 pertandingan ). Ditambah 6 x 2 pertandingan lagi. Mana cuma dapat Rp 1 miliar dari PSSI ( Yayasan dapat 65 % ). Para pemrotes ingin pembagian klub : PSSI = 90 : 10, karena yang riil menggerakkan pertandingan sepak bola di tanah air adalah klub2. Jika ketua PSSI yang baru, Djohar Arifin Husein, tetap memaksakan kehendak, Desmber 2011 nanti kami adakan KLB lagi ( ganti Djohar ) ! Begitulah kira2 tekad mereka di ILC ( 25/11/2011 ). Nggak abis-abis ..

Seorang wartawan senior berkata, AP, GT dan NB yang gila bola, lebih pintar mengurus kalau caranya begini. Yang ngurus bola, mesti yang gila bola dan duitnya banyak. Kalau tidak, percuma ..

Tercetus, kalau 6 klub yang dicangkokkan ke liga utama ( tanpa melalui kompetisi ketat selama setahun seperti yang dijalani 18 klub lainnya ) adalah kompromi PSSI dengan LPI yang digulirkan AP ( menindaklanjuti kesepakatan mengakomodir kubu AP sebelum KLB Solo kemarin ).

Lagi2, semua pihak yang berseteru, sebenarnya bermaksud baik. Hanya kurang mendengar kegelisahan ( kesulitan ) pihak lainnya. Di akhir acara disimpulkan, jika pun ada kongres lagi, yang dibahas adalah statuta PSSI yang benar ( berdasarkan 4 dokumen statuta FIFA ). Siapa pun ketuanya, jika tidak paham statuta yang benar, akan ricuh lagi ujungnya. Timnas kita di posisi buncit dalam klasemen penyisihan zona Piala Dunia 2014 ( setelah pelatih Alfred Riedl diputus kontraknya di tengah jalan tanpa ba-bi-bu ( kompensasi ), alasannya dipilih oleh manajemen lama dan menolak LPI ). Bagaimana prestasi timnas kita di SEA Games nanti ? ( 11-22 November 2011 di Palembang, Jakarta dan Jawa Barat. Tanggal 7/11 sudah mulai melawan timnas Kamboja ). Apa mereka bisa konsentrasi mendulang medali di tengah kisruhnya manajemen PSSI ?

Pembukaan Sea Games di lokasi situs imperium Sriwijaya ini, apakah menjadi yang termegah sepanjang sejarah SEA Games seperti yang dijanjikan penyelenggara ? ( dan Indonesia menjadi juara umum seperti terakhir kalinya tahun 1997 ). Mohon mereka yang protes di PSSI, rukun sejenak demi ketenangan dan prestasi para atlet kita. Mari memandang Gelora Sriwijaya bersama-sama, dalam satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa. Kebanggaan dan tekad memajukan Indonesia bisa jadi mulai dari sini, para pemuda.

Hopefully … ( we’re the champion ).


Ditulis oleh Savitri

4 November 2011 pada 14:52

Ditulis dalam ekonomi, keamanan, konservasi, NKRI, politik, puspa ragam

Dikaitkatakan dengan , ,

KPK dalam persimpangan. APBN & APBD minim. Tokoh Papua berdialog damai di TV. Why not ?

tinggalkan komentar »

Busyro Muqoddas di depan Gedung ( putih ) KPK. Kita harap pakar hukum pidana yang cool ini bisa meneguhkan KPK lebih kuat dalam meringkus koruptor. Nilai hukum tertinggi di sebuah negara adalah menjaga kami ( rakyat ). Bukan merampok kami. Jika KPK diringkus orang kuat, rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi di negeri ini, pun bisa meringkus orang kuat tsb. When no one answer your calling, just call the I team. Indonesian people. ( foto : faktapos )

KPK. Apa kabar ? Biangnya anti korupsi di negeri ini tengah dipertanyakan banyak pihak. Ada yang bilang disorientasi. Bahkan, ada yang membuka wacana pembubaran. Dia, Fahri Hamzah. Mengejutkan, ada yang berani menantang jutaan orang Indonesia yang kadung cinta sama KPK. PKS, gitu loh. Kok, bisa ?

Di Rapat Konsultasi DPR, KPK, Polri, Kejaksaan Agung ( 3/10/2011 ), terlihat ( seperti ) Fahri tidak suka dengan Busyro Muqoddas. Tapi, herannya, saya suka. Busyro  terlihat wibawa, cerdas, tangkas menjawab, tandas ( tidak meladeni gertakan ), juga elegan berguyon. Cool.

Dengan karakter demikian, Busyro bisa menenangkan dan membangkitkan kembali rasa percaya diri 4 komisioner lain yang sempat gamang setelah terdera adegan2 kriminalisasi pimpinan2 KPK beberapa waktu yang lalu. Saya mengerti jika pansel  ingin mempertahankan Busyro untuk menemani 4 pimpinan KPK yang akan dipilih berikutnya. Ada kontinuitas. Pakar hukum pidana pula. ( Dr. Busyro Muqoddas, SH, M.Hum, ahli hukum pidana dan hak asasi manusia Universitas Islam Indonesia (UII ). Peserta JLC tempo hari pernah mempertanyakan , kenapa di jajaran pimpinan KPK tidak ada pakar hukum pidana ? padahal yang diurusi tindak pidana khusus ( korupsi )). So, Busyro is the answer.

Apakah Busyro pilihan ideal ? Ada kasus Century yang masih bikin gregetan. Ada 26 anggota DPR yang dijerat kasus cek perjalanan, sementara pemberi ceknya, Nunun dan MG malah kedapatan lagi shopping di Singapura ( RT pernah cengengesan berkata, ada uang dari banknya untuk membantu pemilihan MG ). Untouchable. Ada 4 pimpinan Banggar DPR diklarifikasi sebagai saksi, sementara orang2 yang disebut MN seperti tak terendus dan dibiarkan menggantung.

Fahri, Busyro, DPR, KPK, we love you ..

Orang2 kritis di negeri ini ( mungkin juga Busyro  ) tahu, 3 kasus besar ini menuju kemana. Antasari dan Susno yang terdampak, masih berjuang menuntut keadilan. BS saya baca sudah ‘rest in peace’ di koran beberapa minggu lalu. So, Busyro adalah pilihan realistis saat ini ( sampai 2014 ). Sampai terpilih pemimpin yang betul2 kuat, yang bisa mengalahkan orang2 kuat yang membekingi perampokan uang rakyat selama ini.

Anda lihat pungli di jalur angkutan umum ? Penjebakan dan pemerasan terhadap pedagang di pusat perbelanjaan ? Pencurian pulsa ( yang nilainya bisa melebihi bail out Century ) sejak tahun 2005 yang ditengarai melibatkan content provider dan operator seluler  ? ( yang saham terbesarnya dimiliki Qatar, Malaysia, Hongkong, dll ). Properti2 yang gagal pembangunannya karena kehabisan uang dan menewaskan penanggungjawab kreditnya ? Rp 6000 triliun kekayaan alam kita yang disedot perusahaan asing setiap tahun yang ( seperti ) tak bisa kita hentikan ? Mereka menyawer  panja dan pansus, kata Permadi  ( juga aparat penegak hokum ) sehingga pada ‘masuk angin’  sebelum rakyat mendapat keadilan. It’s huge, man.

Kebobrokan lebih 32 tahun ini tak bisa dijatuhkan ke pundak KPK ( dan disalahkan jika belum beres setelah 9 tahun ) dengan sewaktu-waktu dikriminalisasi, dipancing-pancing datang untuk dijebak, dibonsai, dan diancam dibubarkan.  Ingin senyap, butuh kepastian hukum dan ketenangan bekerja. Kepolisian (  lebih 300 ribu orang ), kejaksaan ( lebih 200 ribu orang ), pengadilan ( lebih 100 ribu orang ) = lebih 600.000 orang. KPK = 700 orang. Dari jumlah personel saja, KPK sudah terintimidasi. Coba anda berdiri di tengah ( dasar ) tambang Freeport. Anda akan merasa kecil ( terintimidasi ) dengan dinding cadas setinggi lebih 110 meter ( lebih tinggi dari gedung 28 lantai ). Padahal dinding itu tidak memenjarakan anda di mako atau menyetrum kemaluan Williardi.

Indonesia bukan Hongkong, yang dalam 3 tahun KPK-nya bisa selesai ( memberantas korupsi ). KPK di sana didukung pengadilan dan hakim2 Inggris yang saklek. Anda tahu sendiri, keganjilan2 yang terjadi di ruang pengadilan Indonesia. ( dari survey, 3  institusi yang kurang dipercaya publik, adalah kepolisian, kejaksaan dan pengadilan ). Bandingkan KPK dengan negara yang presidennya ( korupsi ) menjabat lebih dari 30 tahun. Betapa krusialnya moral, kecerdasan dan keberanian seorang pemimpin, kita lebih sadari kini.

Berkampanye atau minta dukungan ? Beda ..

Jadi, para pimpinan KPK itu bukan sedang berkampanye. Mereka sedang meminta dukungan publik atas rasa unsecure  akibat serangan bertubi-tubi yang menimpa mereka. ( soal 55.000 kasus korupsi yang menunggu ditangani, Busyro sudah minta bantuan strategi kepada forum rektor yang dulu mengusulkannya maju ).

Saya pernah mencoba ( seperti Fahri ), memberitahu kekurangan seorang internet marketer di FB. Segera saya, dia hadapkan pada ribuan pendukungnya. ( mekanisme pertahanan psikis ). Seperti umumnya orang Indonesia, konten saya tidak direnungkan. Saya pun ingin pikiran saya dijinakkan dengan argumen yang lebih berbobot ( untuk membuktikan kalau dia lebih pintar dari saya ). Jika Fahri di-attack  ( serang ) pribadinya, saya dianggap angin lalu ( invisible, did not exist ). Tapi Busyro masih menjawab di batas kewajaran. Ia masih peduli dengan pernyataan anda, dan menjawab ( menghargai kehadiran anda ). He much much better.

Saya pun suka Fahri, dari sisi menggugat tradisi ilmiah yang belum membudaya di kita. Kegelisahannya atas kinerja KPK yang belum optimal ( mengacu UU KPK tahun 2002 ). Kepedulian terhadap sistem penegakan hukum yang mengalami kontraksi panas dingin setelah banyaknya lembaga2 ad hoc yang dibentuk ( akibat ketidaktegasan pemimpin ). Juga, idenya tentang audit KPK ( setelah DPR kemarin di audit BPK dan dilaporkan Hadi cukup banyak penyimpangannya  ). Apa DPR : KPK akan 1 : 1 ? ( .. to be continued ).

Buah manis di puncak gunung. Mari sama2 mendaki ..

Saya suka interaksi antara DPR dan KPK di rapat konsultasi tsb. Sesuatu yang musykil terjadi jika saja tak ada Reformasi 1998. Yang muda mengritisi yang senior di depan publik ( melalui awak pers yang menyimak dengan rasa ingin tahu yang besar di belakang kursi para pembicara ). Mereka melakukan dengan emosi terkendali, diselingi kelakar segar, meski yang dibicarakan adalah hal sensitif ( pemeriksaan terhadap pimpinan Banggar DPR RI versus pembubaran KPK ). Demokrasi kita mulai beranjak dewasa.

Bahkan, saya suka Alfito Deannova yang terus mengejar pernyataan nara sumber ( mewakili rasa ingin tahu dan pertanyaan publik ). Kenapa Fahri berani ( bicara ) beda ? Juga, ketika Alfito bikin sebah Panji Gumilang yang terus ditanyai soal NII. Begitulah reporter  ( pers )  menjadi perpanjangan mata dan telinga publik. Menghadirkan sebenar-benarnya fakta, sehingga rakyat yang memerintah ini tidak salah mengambil keputusan. So, thank you..

Mungkin Fahri, Busyro, Alfito, DPR, KPK bisa tak menyukai satu sama lain. Tapi, saya suka mereka semua ( ..blogger yang aneh ). Saya suka kita berproses seperti ini, meski tertatih-tatih, jatuh bangun dengan rasa sakit dan penuh memar, namun keyakinan merah putih di dada, membuat kita terus mendaki, sesulit dan seterjal apa pun jalan meraih takdir Indonesia. Ketika sampai di puncak dan bisa melihat jernih seluruh pemandangan, saya yakin kepuasan yang diperoleh akan berlipat ganda. Juga, syukur  tiada tara yang kita panjatkan pada Ilahi.

Chandra dikerjain lagi ? Pergarang ekspresimu ..

Yang mengemuka dari Indonesia Lawyer Club ( ILC, 18/10/2011 ) di Makassar, adalah soal kemungkinan KPK mengeluarkan SP3 ( penghentian penyidikan ) seperti kewenangan yang dimiliki kepolisian. Ketika KPK bersih dari intervensi ( sebelum Antasari dst dikriminalisasi ), SP3 menjadi hal tabu. Jika sudah tahap penyidikan, jaksa KPK harus benar2 yakin dengan tuntutannya, karena mereka yang akan bertarung di pengadilan Tipikor, kata Bibit tempo hari. Mereka orang pilihan ( terbaik di kepolisian, kejaksaan ). Tetapi setelah kasus2 kriminalisasi terjadi, apakah KPK masih independen ? ( baca : perlu SP3  jika kasus tidak layak diteruskan, akibat berbagai tekanan ?  ).  Saya memilih terus menguatkan KPK ( dan melemahkan orang2 kuat pembeking koruptor ).  Jangan sidik, jika tidak yakin.

Pengeritik KPK terlihat keras berkoar, berteriak-teriak, bahkan menghujat. Apakah mereka berani pada orang kuat yang meringkus KPK, menjadi disorientasi ? Ingat sebelum Antasari dijebak, prestasi KPK meringkus koruptor besar cukup fenomenal. Hal yang kini masih terjadi di sejumlah daerah, termasuk Makassar. Mereka masih lebih percaya KPK daripada institusi penegak hukum lainnya.

Saran dari sejumlah pihak, termasuk Ketua Komite Etik KPK Abdullah Hehamahua ( yang kemarin dihadiahi badik oleh orang Makassar, agar lebih berani melawan koruptor dan para pembelanya  ), agar KPK punya road map dan strategi yang jelas. Mempertajam supervisi dan koordinasi untuk men-trigger  kinerja kepolisian, kejaksaan dan pengadilan dalam melakukan penindakan yang lebih berkualitas. KPK lebih mengambil peran dalam pencegahan korupsi.

Mengenai  Chandra Hamzah yang dituduh ( bersalah ) melakukan 4 pertemuan dengan MN, harap para pengamat dan pembicara memperhatikan detail dan kesinambungan peristiwa. Chandra melakukannya dalam selang tahun berbeda, jauh sebelum MN ( terendus ) terkait kasus dugaan suap Sesmenpora. Tuduhan itu tidak sesuai dengan integritas Chandra.  Namun, saya berharap para pemimpin KPK bisa seperti Busyro, yang tak kalah menggertak jika ia digertak. Bagi para kriminal, orang yang baik dan santun, mereka anggap lemah ( mangsa empuk untuk diintimidasi, dikerjain dan dikadalin ). Kita perlu segarang macan jika berhadapan dengan penjahat yang mengancam ( karena bahasa kekerasan boleh jadi satu-satunya bahasa yang mereka pahami untuk mencapai tujuan tamak mereka, juga menghentikannya. Mereka keok jika kita lebih ‘kuat’ dari mereka  ). Kita harus lebih berani, agar setan di sekeliling penjahat itu menciut nyalinya.

Soal CCTV rekaman Chandra ke rumah MN, saya kuatir bernasib seperti rekaman pembicaraan Ade Rahardja dengan Ary Muladi yang dilaporkan BHD di RDP DPR-Kapolri pada kasus kriminalisasi Bibit-Chandra tempo hari. Tak pernah bisa ditunjukkan sampai hari ini. Tapi, Bibit-Chandra terlanjur kena penjara dan deponeering serta terus dikecilkan sebagai ‘masih tersangka’. Pengulangan taktik. Hari2 kemarin keduanya diperiksa Komite Etik bersama para pimpinan KPK lainnya. Mereka juga ( Komite Etik KPK ) masih terus dihujat ( gara2 nyanyian MN plus klaim memiliki rekaman CCTV ), setelah disimpulkan tidak bersalah.

Kedengkian muncul bukan karena KPK superbody atau special body dengan dana memadai. Dari pengalaman saya, dengki orang terhadap saya timbul karena saya dianggap lebih mampu dan dipercaya, meski pendengki lebih berkecukupan dari saya. Dan untuk KPK, saya rasa, para pendengki bukan iri dengan dana memadai, atau KPK lebih dipercaya, tetapi lebih karena mereka tak ingin kejahatan mereka ( deretan orang2 ‘kuat’ tsb ) terungkap oleh KPK.

Saya di sini, sebagai blogger dan warga RI, tetap butuh KPK, mendukung kinerja KPK lebih optimal dan membela eksistensi KPK, sampai semua lembaga penegak hukum kita bisa diandalkan dan memberi rasa keadilan publik. KPK teruslah maju, kami ada di belakangmu. We care ..

Skill daerah mengelola APBD perlu ditingkatkan. Pembangunan akan lebih terlihat, juga di Papua.

Beberapa tokoh Papua menolak Kongres Rakyat Papua III yang mendeklarasikan negara federal Papua Barat, Kamis, 20 Oktober. Mereka adalah pengamat Papua, Frans Ansanay, tokoh adat Papua Barat, Usmar Askad Sabuku, tokoh keluarga pejuang Papua Indonesia, Hemskercke Bonay, serta Ramses Ohee. Sesudah reformasi 1998, rakyatlah yang memerintah. Kami ( pemerintah ) hanya fasilitator saja, kata wapres Boediono. Nah, bagaimana kalau tokoh2 tanah Papua tampil dalam dialog2 di media massa ( media rakyat ), seperti di televisi berita kita : MetroTV dan TVOne. Apa sih keinginan warga Papua sebenarnya ? Sepanjang masih dalam kerangka NKRI, kita akan sama2 mencari jalan keluar untuk kebaikan dan kemajuan bersama. Juga, tokoh2 warga Maluku, 92 pulau terdepan, dan daerah perbatasan RI, silakan tampil. Suarakan pikiran kalian. We hear ..

Ketua Kaskus Papua mengatakan ‘keinginan itu’ sudah merata di masyarakat Papua. Otonomi khusus seperti berjalan di tempat. Tinggal bungkusnya saja. Ruhnya sudah pergi. Juli 2011, baru terpilih tokoh2 yang akan ikut berdialog. Sesuatu yang seharusnya sudah dilakukan 2 tahun lalu. Sebelum Papua bergolak, seperti kemarin ( 10/10/2011, yang dipicu protes karyawan Freeport ) hingga sekarang. Yang diinginkan warga Papua adalah berdialog ( dengan presiden ) seperti ini ( diskusi semeja di Kabar Petang TVOne ). Papua akan diapakan ? ( dibangun seperti apa ? ). Kekerasan aparat pada warga Papua jangan terulang lagi. Itu sungguh menyakitkan.

Saya lihat sebagian aparat itu juga warga Papua. Mungkinkah ‘bahasa’ hukuman yang dipahami sebagian warga daerah masih berupa hukuman fisik saja ? Padahal, banyak cara manusiawi  untuk menegakkan aturan dan disiplin warga tanpa melukai perasaan mereka. Pemahaman dan latihan untuk itu perlu diberikan. Di sisi lain, pihak keamanan juga masih kuatir dengan kondisi keamanan di Papua, sehingga presiden beberapa kali urung datang ke Papua, karena salah satu alasan : pertimbangan keamanan tsb.

Ingin tahu satu dari seribu jalan terjal  di depan kita ?

Belanja pegawai, subsidi BBM & bayar hutang mendominasi APBN.

Awal reformasi, krisis finansial di Thailand memicu krisis ekonomi. Juni, 1998, nilai tukar melemah sampai Rp 16.000. terhadap USD. Hutang negara membengkak sampai 148 miliar USD ( karena banyak yang hampir jatuh tempo. Negara harus  berhutang, yang separuh lebih berasal dari sektor swasta. Porsi terbesar pada belanja rutin yang diperbesar 2 kali lipat untuk membayar hutang dan subsidi ( BBM meningkat 3 kali lipat menjadi Rp 28 triliun ). Masa Abdurrahman Wahid dan Megawati bahkan sampai 40 % APBN untuk membayar bunga hutang.

Pelaksanaan otonomi daerah sejak tahun 2001 mengurangi porsi belanja pembangunan karena ditransfer untuk belanja daerah ( rata2 meningkat 29 % dari masa pemerintahan sebelumnya ). Otonomi daerah menyebabkan tugas kementerian Pekerjaan Umum, Perhubungan, Pertanian dan Kesehatan dipreteli lalu diserahkan ke daerah. Dana pembangunan masa Abdurrahman Wahid / Megawati rata2 19 % dari belanja negara. Masa SBY hanya 1/10 dari total belanja negara sebesar Rp 511 triliun. Terendah sepanjang sejarah pemerintahan.

2/3 belanja pemerintah pusat ( 2005 – 2011 ) untuk pelayanan umum ( membiayai kebutuhan legislatif, eksekutif atau pinjaman pemerintah ). Infrastruktur sekarang masuk sub sektor transportasi dengan porsi 12 % belanja Negara dalam APBN 2011. Jadi, sebagian petani yang merasa keberatan dengan berbagai pungutan pemda tanpa mendapat timbal balik yang sepadan ( kontribusi pemda, seperti penyuluhan, pemberian bibit, dll ) tahu sekarang, kenapa demikian. Kemampuan keuangan pemerintah masih minim, karena masih mencicil hutang negara. Kepala daerah terpilih terkendala balas jasa usai pilkada ( merekrut anggota tim suksesnya menjadi pegawai dengan tunjangan khusus sehingga membebani anggaran negara. Ke depan tak ada lagi pengangkatan PNS, kecuali menggantikan yang pensiun ). Skill daerah untuk mengelola APBD juga masih rendah.  Apalagi daerah2 yang terus memekarkan diri. So, bersabarlah kalian ( seraya banyak membaca, belajar otodidak dan memerangi korupsi di daerah masing2 ).

Hanya satu, mari singsingkan lebih tinggi dalam semangat persatuan dan persaudaraan. Indonesia berkarya.

Ditulis oleh Savitri

24 Oktober 2011 pada 15:15

Ditulis dalam ekonomi, keamanan, layanan publik, NKRI

Dikaitkatakan dengan , , ,

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.